Senin, 18 Oktober 2021
Satria Dharma's Weblog
MATEMATIKA YANG TIDAK ADA MATEMATIKANYA
Ilustrasi

Ilustrasi

Sobat ambyar saya, Ahmad ‘Sunanang’Rizali, mencak-mencak melihat seorang artis sinetron Prilly mengajar matematika di video Ruang Guru yang oleh para teman-teman matematikawan dianggap ‘mengajar matematika yang tidak ada matematikanya’. Jadi semacam mie ayam yang tidak ada ayamnya. Dan saya tertawa ngakak… Sepurane yo, bro.

Ente iki terlalu bersemangat nggebuki Kemendikbud sehingga lupa bahwa masalah ‘mengajar matematika tanpa matematika’ kan memang sudah lama kita gebuki bersama dulu ketika kita masih gagah dan menyoren pedang. Peno sampai sekarang masih menyoren pedang makane sik kudu ngamuk ae. Wakakakak…! Aku ngakak maneh yo, bro.

Begini lho, bro….

Ingat nggak ketika kita dulu beramai-ramai menggugat Kemdikbud untuk menghapus Ujian Nasional? Kita bersama belasan pendekar pendidikan malah bikin buku khusus dengan judul “Buku Hitam Ujian Nasional” yang diterbitkan oleh Penerbit Resist pada tahun 2012. (Sekedar informasi bagi yang lain Ini adalah buku keroyokan yang ditulis oleh banyak aktivis pendidikan yang anti pada ujian nasional. Buku ini diterbitkan oleh Resist Book, Yogyakarta pada tahun 2012 dan tebalnya 387 halaman. Buku ini adalah ungkapan penentangan kami, para aktivis pendidikan seperti Dr. Ahmad Muhlis (ITB), Iwan Pranoto PhD (ITB), Ir. Ahmad Rizali MSc (Pertamina Foundation), Dhitta Putti Saraswati, Heru Widiatmo PhD (Iowa University), Elin Driana PhD (Ohio University), Prof. Dr. H. Soedijarto MA, Prof. Dr. Daniel Rosyid PhD (ITS), dll pada Ujian Nasional. Tulisan-tulisan di buku ini sangat pedas dan tanpa tedeng aling-aling dalam mengecam pelaksanaan Ujian Nasional.)

Salah satu alasan mengapa kita menolak Ujian Nasional adalah karena UN telah mereduksi tujuan pendidikan. Anak-anak kita tidak bersekolah untuk benar-benar belajar tapi kita belokkan tujuannya hanya sekedar untuk bisa mengerjakan soal ujian agar lulus. Kan kita protes kalau cuma untuk bisa mengerjakan soal UN bahkan siswa tidak perlu sekolah. Serahkan saja ke bimbingan belajar! Apakah itu yang kita inginkan (menyuburkan bimbingan belajar)? Akhirnya bukan proses pembelajaran yang diberikan pada siswa tapi kiat-kiat untuk mengerjakan soal UN. Ini akhirnya membuat sekolah-sekolah menjadi bimbingan belajar UN semua dan tidak mengajarkan ketrampilan hidup untuk bekal mereka di masa depan. Mereka akhirnya hanya mengajarkan kiat-kiat untuk mengerjakan soal UN. (Dan itulah yang dicontohkan oleh Prilly di videonya…!) Jelas bahwa UN ini telah membuat kita mereduksi tujuan pendidikan. Kita sudah tidak perduli lagi dengan tujuan pendidikan dan bagaimana proses tersebut dilakukan. Yang penting bagaimana agar siswa kita semua bisa lolos dari UN tersebut. Semua hasil kerja siswa selama tiga tahun, betapapun baiknya, tidak akan kita perdulikan jika ia tidak mampu lolos dalam UN. UN telah menjadi tujuan pendidikan itu sendiri. Dan ini justru sangat kita tentang bersama. Bimbingan belajar akhirnya menjadi tempat belajar siswa untuk bisa lulus UN. Di Bimjar para gurunya hanya akan mengarahkan upayanya agar siswa dapat memilih jawaban yang benar dari pilihan yang tersedia. Jika ini dilakukan di sekolah maka akibatnya adalah akan membuat sekolah mempersempit kurikulumnya hanya pada materi yang akan diujikan saja dan membuat guru dan siswa berkonsentrasi untuk mengingat-ingat jawaban tertentu. Bimbingan Belajar tidak akan mengembangkan kemampuan berpikir siswa yang fundamental maupun yang lebih tinggi. Dan itulah yang ditunjukkan oleh Prilly di videonya di Ruang Guru yang peno tentang sebagai Bimbingan Belajar Digital.

Baca juga:  HTI YANG DISAYANG DAN YANG DITENDANG (PART 2)

Waktu itu Depdikbud masih rancu dan mengidentikkan antara KUALITAS PENDIDIKAN dengan UJIAN NASIONAL. Dikiranya kalau nilai UN siswa meningkat maka mutu pendidikan juga meningkat. Net not…! Jangankan mutu pendidikan, mutu pembelajaran akademik saja tidak. Peningkatan mutu akademik jelas bukan terletak pada tingginya nilai UNAS, demikian kata kita. Peningkatan mutu pendidikan melainkan pada banyak sekali aspek lain yang harus digarap secara telaten dan dalam jangka panjang, baik aspek-aspek yang terkait langsung dengan pendidikan ataupun dengan kehidupan bangsa kita secara lebih luas. Selama kualitas pendidikan dan pelatihan guru buruk, gaji guru kecil, sarana pendidikan miskin, manajemen sekolah amburadul, kurikulum tak tepat guna, korupsi merajalela-sehingga dunia pendidikan pun korup, buku teks masuk sekolah lewat jalan menyuap, sekolah cukup memberi pelicin untuk dapat akreditasi baik, dan lulusan sekolah tak merasa perlu berkualitas karena toh dengan nyogok bisa sukses juga dalam hidup-dan masih amat banyak lagi faktor, UNAS tak akan ada manfaatnya dan justru malah merugikan. Masalahnya adalah menurut laporan Balitbang Depdiknas sendiri hanya sekitar 30 persen dari keseluruhan guru SD di Indonesia yang memiliki kualifikasi untuk mengajar. Hal yang sama juga terjadi di satuan pendidikan menengah, terutama di lingkungan sekolah Depag. Data Departemen Agama (2006) menyebutkan bahwa sekitar 60 persen guru madrasah tidak mempunyai kualifikasi mengajar. Jadi inilah sebenarnya akar persoalan pendidikan kita, buruknya mutu guru yang mengajar, dan bukan karena mereka perlu ujian yang berstandar nasional.

Dan ini yang kita usulkan waktu itu. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah banyak hal yang perlu dilakukan a.l :
– meningkatkan kualitas dan kuantitas gurunya
– memberi fasilitas belajar yang layak
– memberikan buku-buku pelajaran dan bacaan yang berlimpah
– memperbaiki manajemen sekolah
– membuat sekolah menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan bagi siswa untuk belajar
– memberikan akses seluas-luasnya bagi anak tidak mampu untuk bisa bersekolah
– mengembangkan kurikulum yang relevan dengan dunia masa kini
– dll

Baca juga:  Hilangnya Kesenangan (dan Nalar) dalam Matematika

Jadi itu semua sudah kita usulkan belasan tahun yang lalu dan bukunya terbit pada tahun 2012.

Tak ilingno mbok menawa peno wis lali. Soale pancen wis suwi…

Jadi mengapa peno heran dengan ‘matematika yang tidak ada matematikanya’ ? Lha wong jelas-jelas selama ini kita mengajar bahasa yang tidak ada ketrampilan berbahasanya, sains yang tidak ada mikirnya, pelajaran olahraga yang tidak membuat anak suka bergerak, pelajaran musik yang tidak ada nadanya, anak bersekolah yang tidak ada pendidikannya, menjadi hafiz tanpa mengerti artinya, dst.

Ujian Nasional baru saja dikalahkan oleh Covid 19. Jadi tidak akan ada lagi UN yang bertahun-tahun kita gempur tanpa hasil itu. Mari kita bersama-sama mengajak Kemendikbudristek untuk benar-benar mengubah pola pembelajarannya yang selama ini superficial dan hanya diarahkan untuk menjawab soal ke pola pembelajaran yang benar-benar membuat siswa belajar untuk bekal masa depannya.

Halaaah…!Aku kok mulai nggedabrus maneh koyok yok-yok’o.

Surabaya, 12 Juli 2021

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *