Senin, 02 Juni 2020
Just another WordPress site
MENCINTAI YANG KAFIR SEPERTI NABI

Apakah benar bahwa Nabi Muhammad mencintai orang kafir? Tentu saja. Oleh sebab itu kita juga harus mencontoh Nabi dalam hal mencintai orang kafir ini. 😊

Tapi mari kita ngobrol-ngobrol dulu… 🙏

Dulu waktu saya masih kuliah (tahun 1980-an) saya sambi mengajar di bimbingan belajar. Ada seorang teman mahasiswa ITS sesama tentor yang anak orang kaya. Dia bercerita bahwa dia semalaman tidak bisa tidur karena AC kamarnya mati. Saya yang masih anggota Kaypang waktu itu tentu saja takjub. Gila nih temen…! Kamarnya pakai AC. Waktu itu hanya kamar hotel berbintang yang pakai AC. Yang membuat saya heran adalah lha wong AC mati aja kok gak bisa tidur. Lha saya yang tidur di kamar berdesakan dengan adik saya tanpa kipas angin pun bisa mak bleg sek. Apakah dia hanya nggedabrus dengan ceritanya gak bisa tidur tersebut? Apa dia mau nyombong kalau dia anak orang kaya dan kamarnya pakai AC?

Ya begitulah orang kalau menilai sesuatu hanya berdasarkan pengalamannya sendiri. Dipikirnya pengalaman dan perasaannya sendiri itu universal dan yang berbeda dengannya adalah salah. Sekarang saya ketularan tidak bisa tidur kalau mati lampu dan AC tidak menyala. Tibakno koyo ngene rasane urip tanpo AC. 🙄

Intinya, hidup saya sekarang sangat bergantung pada AC, yang dulunya saya cemoohkan sebagai kemewahan seorang borjuis. 😀

Tapi bukan hanya pada AC ketergantungan saya saat ini. Tanpa mobil, komputer, handphone, internet, kulkas, dll maka hidup saya akan jelas sengsara. Coba saja jika tiba-tiba HP Anda mati pet dan Anda tidak bisa melakukan apa-apa yang selama ini Anda lakukan dengan HP tersebut. Dunia akan langsung sumpek dan kita akan ngowoh merana berhari-hari sampai HP tersebut hidup lagi.

Hidup kita ini jelas penuh dengan kenikmatan dan kemudahan karena penemuan-penemuan dan produk-produk yang dihasilkan oleh ‘orang kafir’. Setahu saya bukan orang Islam yang menemukan AC, komputer, mobil, kulkas, listrik, internet, Youtube, WA, Facebook, dan banyak lagi produk yang membuat hidup kita menjadi begitu nyaman dan mudah. Semua penemu-penemu produk tersebut pada hakikatnya adalah ‘orang kafir’ belaka. Oleh sebab itu kita HARUS BERTERIMA KASIH pada orang-orang kafir tersebut.

Baca juga:  BERDEBAT ATAU BERBEDA PENDAPAT?

Ya sudah sangat wajarlah kalau kita harus berterima kasih pada ‘orang-orang kafir’ yang telah berjasa dalam kehidupan kita dengan menghasilkan produk-produk yang membuat hidup kita nyaman dan sejahtera.

Lagipula begitulah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad…

Lho, mana ada ajaran Nabi yang menyuruh kita harus berterima kasih pada orang kafir? Ya jelas ada dong. Dalam hidup beliau Nabi itu sangat berterima kasih dan bahkan sangat menyayangi orang kafir yang telah sangat berjasa dalam kehidupan beliau. Kalau kamu tidak tahu sini kuceritain… 😀

Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad, ada seorang paman beliau yang bernama Abu Thalib. Dia seorang paman yang paling membela Nabi dari kekejaman kaum Quraisy. Dia adalah ayah dari Khalifah Ali r.a.

Abu Thalib nama aslinya adalah Abdul Manaf. Dialah yang merawat Nabi Muhammad sejak yatim piatu pada usia 8 tahun. Meski bukan anak kandung, Abu Thalib sangat menyayangi Muhammad. Bahkan sejak kecil, Muhammad selalu tidur di samping Abu Thalib. Ke mana pun Abu Thalib pergi, Muhammad kecil selalu ikut dan diajak..

Ketika Nabi mendapatkan wahyu dan harus menyebarkan agamanya, warga kafir Quraisy sangat menentang dan terus menerus menyakiti Nabi Muhammad. Abu Thalib selalu membela Nabi Muhammad dari kekejaman perilaku kaum kafir Quraisy yang sangat membenci Nabi karena dakwahnya.

Pada suatu hari, para petinggi kaum Quraisy berkumpul untuk mencari cara agar Nabi Muhammad berhenti menyebarkan Islam. Namun segala macam terror dan bujukan tidak mempan. Cara terakhir pun ditempuh yakni memengaruhi Abu Thalib yang selama ini melindunginya. Para petinggi Quraisy seperti Abu Lahab dan Abu Jahal mendatangi Abu Thalib agar membujuk Muhammad berhenti menyebarkan Islam. Jika tidak maka kaum Quraisy akan membunuh Muhammad.

Baca juga:  PROF. DR. ARIEF RAHMAN DAN UJIAN NASIONAL

Kepada Abu Jahal dan Abu Lahab serta rombongan petinggi Quraisy yang memintanya tidak melindungi Nabi, Abu Thalib menegaskan bahwa dia akan terus membela serta melindungi Muhammad. “Kenapa dakwahnya dipermasalahkan? Toh dia tidak pernah memaksa kita untuk mempercayainya. Ia (Muhammad) juga tidak marah kalau kita tidak menjadi pengikutnya. Saya sendiri pamannya yang memeliharanya masih tetap memeluk agama nenek moyang kita. Muhammad tidak pernah memaksaku untuk memeluk Islam,” kata Abu Thalib. “Muhammad hanya menyembah Tuhannya. Apakah itu suatu kesalahan?” tambahnya. “Langkahi dulu mayatku, kalau berani mengganggu keponakanku”.

Begitulah… Upaya kaum Quraisy untuk menjegal dakwah Nabi Muhammad SAW gagal karena ada Abu Thalib, paman yang selalu membela Nabi Muhammad, meski tak sempat memeluk Islam hingga wafatnya. Abu Thalib tetap kafir sampai akhir ajalnya.

Tentu saja Nabi Muhammad SAW sangat kehilangan saat Abu Thalib wafat. Nabi Muhammad jelas sangat menyayangi dan berterima kasih pada pamannya yang meski kafir, tapi sangat berjasa kepada beliau tersebut. 🙏😞

Selain menyayangi dan berterima kasih pada Abu Thalib, pamannya yang kafir tersebut. Nabi Muhammad juga menyayangi dan berterima kasih pada Raja Mukaukis, dari Iskandariah, Mesir. Raja Mukaukis adalah raja dari kelompok Kristen Koptik. Ketika menerima surat dari Nabi SAW, dia mempelajari profil Nabi SAW dan bertanya tentang ajaran Islam yang dibawanya. Sang Raja sangat terkesan dengan ajaran Nabi. Dia menemukan bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad sesuai dengan informasi dan indikasi yang disebutkan para pendeta Koptik.

Meskipun dia tidak memeluk Islam, namun dia mengakui keberadaan Nabi SAW dan mengirimkan berbagai hadiah pada Nabi. Selain hadiah yang demikian berharga, Raja Mukaukis juga mengirim dua orang budak wanita kakak beradik. Budak wanita yang bernama Sirin dihadiahkan Nabi kepada seorang sahabat untuk dimerdekakan. Sedangkan budak yang bernama Maria Al-Qibtiyah, dimerdekakan dan ditawarkan pilihan jadi isteri Nabi atau untuk pulang ke Mesir. Maria memilih untuk menjadi isteri Nabi SAW.

Baca juga:  1000 BUKU SEBELUM BERSEKOLAH

Tentu saja Nabi sangat berterima kasih pada pemberian dari Raja Mukaukis yang tetap tidak meninggalkan agama lamanya tersebut. Nabi Muhammad tidak membenci orang yang tidak mengikuti agamanya dan bahkan berterima kasih pada mereka karena jasa-jasanya pada beliau.

Jadi…sudahkah Anda berterima kasih dan menyayangi orang-orang non-muslim yang telah berjasa dalam kehidupan kalian selama ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW …?! 🙏😊

Surabaya, 8 Mei 2020

NB: Jika ingin mendapatkan pencerahan sila tonton video ceramah dari K.H. Abdul Syakur Yasin, MA. atau biasa disapa dengan Buya Syakur Yasin, dari Pondok Pesantren Cadangpinggan, Indramayu. Beliau adalah salah satu kyai favorit saya. Katanya Gus Dur pernah mengatakan kalau di Indonesia cuma ada tiga orang yang berpikir analitis dalam memahami Islam, Quraish Shihab, Pak Syakur, Cak Nur.. 🙏😊

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *