Senin, 02 Juni 2020
Just another WordPress site
TUHAN AJA GAK MAKSA, BRO…!

Beberapa waktu yang lalu saya terlibat dalam diskusi dengan seorang teman yang ustad di FB. Saya sampaikan bahwa hendaklah ia bisa menerima kenyataan bahwa Prabowo kalah dan Jokowi yang bakal menang dalam pilpres ini. Saya sampaikan bahwa itu semua adalah kehendak Tuhan. Sama dengan kalahnya Ahok oleh Anies Baswedan. Sebagai muslim kita hendaknya melihat ini sebagai sebuah ketentuan Tuhan. Kita telah berusaha tapi pada akhirnya ketentuan Tuhan jugalah yang akan berlaku. Kalau Tuhan mau memenangkan Prabowo maka securang apa pun orang terhadapnya maka Prabowo akan tetap menang. Apa pun rekayasa dan tipu daya yang dilakukan orang padanya maka rekayasa Allah jauh lebih hebat. Allah adalah pembuat rekayasa terbaik. ‘Wallahu khairul maakiriin’(Surat Ali Imran (3: 54). Begitu juga dengan Jokowi. Sehebat apa pun fitnah dan goyangan yang ditujukan kepadanya tapi jika Tuhan ingin memenangkannya maka Jokowi akan menang juga. Itu adalah ketentuan Tuhan yang terserah Anda mau menerimanya atau tidak.

Rupanya teman saya tadi tidak terima dan ia membalas bahwa Firaun, Hitler, dan para diktator dunia lainnya juga berkuasa karena kehendak Tuhan. Intinya dia tidak mau menerima dan mungkin mau menyatakan bahwa Jokowi adalah diktator dan diktator harus dilawan dan digulingkan, meski pun ia berkuasa karena ketentuan Tuhan.

Ada satu hal yang mungkin luput dipahami oleh teman ustad saya tersebut. Meski Firaun adalah seorang diktator kejam keliwat-liwat, dan bahkan menganggap dirinya adalah Tuhan, tapi Tuhan sama sekali tidak meminta Nabi Musa untuk menggulingkannya. Tuhan tidak menyuruh Musa untuk membangun pasukan tandingan, menyerukan ‘people power’, dan kemudian berupaya menggulingkan kekuasaan Firaun. Tidak…! Berupaya menggulingkan kekuasaan Firaun adalah PERBUATAN MAKAR yang dilarang oleh Allah. Bagaimana pun Firaun adalah ULIL AMRI yang berkuasa pada saat itu dan Tuhan tidak menyuruh Musa untuk menggulingkan Firaun.

QS 20:42-44 Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku;
Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas;
Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Mudah-mudahan ia mau menerima peringatan atau bertaqwa pada Tuhan)

Pada ayat di atas Tuhan memerintahkan Nabi Musa dibantu oleh Harun, saudaranya, untuk berdakwah pada Fir’aun, raja Mesir saat itu yang sangat kejam dan lalim.

Baca juga:  TOO BIG TOO FAIL

Apa tugas Nabi Musa dan Nabi Harun? Mereka diutus untuk berdakwah pada Fir’aun seorang raja yang sangat berkuasa, sangat kejam dan sewenang-wenang. Ini tugas yang luar biasa berat dan berbahaya. Semacam ‘mission impossible’ yang kemungkinan keberhasilannya mendekati nol. Padahal taruhannya adalah nyawa mereka berdua. Kalau bisa ditolak ya pasti akan ditolak. Tapi tugas kenabian mana bisa ditolak…?!

Lantas apa modal Nabi Musa untuk menghadapi Fir’aun ‘The Fierceful’ ini? Nabi Musa diberi asisten khusus, yaitu Nabi Harun, yang disebut lebih fasih dalam berbicara. Kepandaian berkomunikasi dan berdiplomasi adalah modal besar untuk menghadapi orang yang akan dipengaruhi. Dengan adanya Nabi Harun maka kekurangan Nabi Musa dalam kemampuan berkomunikasi, berdiplomasi dan berargumentasi jadi tertutupi.

Rupanya Nabi Musa kurang pede dengan kemampuannya berkomunikasi. Lha gimana ini…?! Nabi kok kurang pandai berkomunikasi…! Sebelum ini sebenarnya Nabi Musa sudah melayangkan permintaan khusus kepada Tuhan supaya dilapangkan dadanya dan dimudahkan tugasnya dengan ‘menghilangkan buhul (ikatan) dari lidah’nya. Maksudnya ya supaya lancar berbicara dan mereka paham dengan apa yang disampaikannya. Doa Nabi Musa ini adalah doa yang dulu diajarkan oleh sekolah kami di SD dulu dan harus kami baca sebelum kami memulai pelajaran. Waktu itu saya tidak paham apa artinya tapi saya sangat hafal karena setiap hari kami baca bersama-sama.

[QS20:25-28] “Rabbisyrah lii shadrii wayassir lii amrii
wahlul ‘uqdatan min lisaanii yafqahuu qawlii”
“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”

Meski Tuhan telah mengabulkan permintaan Nabi Musa ini tapi nampaknya beliau belum pede. Beliau meminta seorang asisten yang akan menemani beliau dalam menjalankan tugas kenabiannya, yaitu adiknya sendiri yang bernama Harun. Tuhan juga mengabulkan permintaannya ini.

Cukup…?! Belum.

Nabi Musa juga dibekali dengan mukjizat, yaitu kemampuan utk mencengangkan orang agar timbul rasa segan dan takut padanya. Perlu dipahami bahwa Nabi Musa hidup di jaman ketika ilmu sihir sangat merajalela. Para ahli sihir sangat disegani dan ditakuti. Oleh sebab itu Nabi Musa dibekali juga dengan mukjizat yang akan bisa membuat orang terpana dan tunduk padanya. Tongkat yg dibawanya bisa menjadi ular jika dilepaskan dan jika tangannya dikepit di ketiaknya akan mengeluarkan cahaya seperti bersinar. Siapa yang tidak takut melihat ular, apalagi ular berbisa dan ganas?

Baca juga:  Sekolah Islam, Olahraga, dan Seni Budaya

Apakah semua modal ini cukup? Ternyata Nabi Musa masih grogi…

Beliau takut kalau-kalau Fir’aun langsung menindak mereka tanpa mau mendengarkan argumentasi mereka berdua. Beliau takut kalau-kalau Fir’aun tidak terkesan dengan mukjizat yg dimilikinya dan langsung menghukum mereka berdua.
Oleh Tuhan Nabi Musa ditenangkan dan dijanjikan keselamatan Allah berfirman:
(QS [20:46] “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”.

Disini kita bisa melihat bahwa bahkan seorang nabi yang memiliki begitu banyak keistimewaan dan kelebihan toh masih memiliki rasa takut dan was-was dalam menghadapi tugas berat dan berbahaya. Padahal berdasarkan riwayat Nabi Musa bukanlah seorang penakut dan bahkan dengan sekali tinju ia bisa membunuh orang (bandingkan dengan Mike Tyson yang butuh berkali-kali pukulan untuk menjatuhkan lawannya, bukan membunuh lho!). Jadi rasa takut dan pesimis dalam menghadapi tugas berat, apalagi berbahaya, itu sebenarnya hal yang sangat manusiawi (dan dalam hal ini juga nabiwi). Tapi dengan memohon kekuatan mental pada Tuhan maka kita akan bisa mendapatkan keberanian utk menghadapi tugas yang maha berat dan sangat berbahaya.

Dengan modal tersebut maka berangkatlah mereka berdua menghadap ke Fir’aun dengan misi berdakwah untuk mengajaknya kepada kebenaran. Tentu saja mereka masih merasa takut tapi oleh Tuhan ditenangkan dan dijanjikan akan selamat karena dalam pengawasan Tuhan.

Apalagi modal yang diberikan oleh Tuhan kepada Nabi Musa dalam menghadapi ‘the most fearful pharaoh’ ini? Tuhan memberinya sebuah METODE KHUSUS dalam berdakwah, yaitu ‘berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut’. Berdakwah dengan ‘qaulan layyinan’, kata-kata yg lemah lembut’.

Qaulan layyinan, kata-kata yang lemah lembut…

Jadi bahkan pada orang yang paling kejam dan jahat pun Tuhan meminta nabiNya untuk menyampaikan dakwahnya dengan lemah lembut, bukan diclathu alias dihardik, apalagi pakai bawa pentungan dan golok (emang lu berani main hardik sama Firaun…?! Hehehe…!)

Teman-teman para da’i yang selama ini giat berdakwah tentu paham belaka bahwa model berdakwah salah satunya adalah Qaulan layyinan, kata-kata yang lemah lembut. Kalau ada orang yang berdakwah (atau ngakunya berdakwah amar ma’ruf nahi mungkar tapi menggunakan kata-kata yang kasar, keji, muka merah padam, apalagi sambil bawa pentungan dan golok, maka percayalah bahwa mungkin mereka belum membaca episode Nabi Musa dalam Al-Qur’an ini.

Baca juga:  SCARY KHILAFAH (BAGIAN 3)

Apalagi yang menarik dari ayat ini?

Ternyata Tuhan menggunakan frase ‘mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Mudah-mudahan Fir’aun mau menerima peringatan atau bertaqwa pada Tuhan)’. Lho…, kok mudah-mudahan?! Emangnya Tuhan tidak tahu apa yang akan terjadi setelah Fir’aun didakwahi oleh Nabi Musa? Lha kalau Tuhan memang ingin agar Fir’aun sadar dan bertobat apa susahnya sih membuat Fir’aun bertobat…?! Kan Firaun itu hanya mahluk ciptaanNya belaka yang tidak ada dayanya dibandingkan Tuhan. ..?! Kan tinggal ‘Kun Fayakun’ aja…?!

Pada akhirnya Firaun memang tetap membangkang dan tidak mau menerima kebenaran yang dibawa oleh Nabi Musa. Ia malah menantang Nabi Musa untuk adu kesaktian sihir dengan memanggil para tukang sihir paling top di Mesir saat itu (Semoga keselamatan, berkah, dan rahmat Tuhan bagi para tukang sihir tersebut).

Jadi meski pun Nabi Musa telah dibekali dengan berbagai macam ilmu dan mukjizat tapi tugasnya untuk membuat Fir’aun beriman ternyata tetap gagal (tugasnya menyelamatkan Bani Israel sih berhasil). Ini artinya bahwa manusia sekelas nabi pun bisa gagal dalam mengemban tugas meski pun telah mendapat mandat dan bekal langsung langsung dari Tuhan (apalagi cumin sekelas elo ama gue, Bro!). Jadi tidak perlu merasa ‘ancur-ancuran’ kalau gagal dalam sebuah tugas. Tenangkan hati kita dengan mengatakan, “Sabar, Bro. Cobaan elo mah belum seberapa. Tuh Nabi Musa aja gagal.” Hehehe…!

Kisah ini juga memberi kita pelajaran bahwa urusan beriman atau tidak itu memang sepenuhnya hak prerogatif Tuhan. Jadi gak usah heran deh kalau banyak orang di sekitar kita gak beriman. Kita juga gak usah maksa-maksa siapa pun untuk beriman lha wong beriman atau kagak itu urusan Tuhan. Urusan kita cuma berusaha. Berhasil atau tidak serahkan sama yang Tuhan yang menentukan aja.

Selamat menikmati puasa hari 16.

Surabaya, 9 Mei 2020

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *