Selasa, 22 Januari 2019
Just another WordPress site
PENGHARGAAN LITERASI: AGAR TIDAK MENJADI PROGRAM HANGAT-HANGAT TAHI AYAM

Surabaya ini memang luar biasa…! Surabaya adalah kota pertama di Indonesia yang mendeklarasikan dirinya sebagai Kota Literasi. Walikota Surabaya, Ibu Tri Rismaharini, benar-benar paham tentang apa itu literasi, betapa pentingnya budaya membaca dan menulis bagi masyarakatnya, sehingga beliau bertekad bulat untuk menggerakkan masyarakatnya untuk gemar membaca dan menulis. Untuk itu beliau mencanangkan Surabaya Kota Literasi pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2014 yang lalu di halaman Taman Surya.

Ibu Tri Rismaharini punya visi yang jelas tentang budaya literasi ini. Ibu Risma memahami benar betapa pentingnya pustakawan dalam upaya menumbuhkan budaya baca masyarakat dan beliau tahu betul bahwa sekolahlah tempat paling tepat untuk menumbuhkan budaya baca secara mendasar. Selama ini sangat sedikit sekolah yang punya perpustakaan yang benar-benar bisa dimanfaatkan untuk menumbuhkan budaya baca siswa. Perpustakaan sekolah selama ini bahkan adalah gudang tempat paling gelap, kotor, dan tidak terurus di sekolah. Bahkan perpustakaan dijadikan sebagai tempat ‘buangan’ bagi guru atau staf sekolah yang dianggap ‘perlu dibina atau dibinasakan’. Perpustakaan telah menjadi tempat yang paling ‘neglected’, tidak pernah disentuh dalam sistem pendidikan kita. Tapi di tangan Bu Arini, Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya, konsep ini diubah. 500 lebih sarjana berprestasi dari berbagai jurusan diseleksi ketat, diangkat sebagai karyawan kontrak, dilatih, dan kemudian diterjunkan ke SDN-SDN dan komunitas-komunitas untuk menggerakan program membaca pada siswa SD.

Dengan adanya ratusan pustakawan yang telah dilatih dan diterjunkan langsung ke sekolah-sekolah untuk menghidupkan kembali marwah perpustakaan dan menjadikan perpustakaan sebagai sebagai tempat belajar paling nyaman dan menyenangkan bagi anak-anak maka terjadilah keajaiban…Ya, keajaiban…!

Anak-anak berbondong-bondong datang ke perpustakaan untuk mengikuti program belajar yang dilaksanakan oleh para pustakawan ini. Para pustakawan ini menjelma menjadi ‘guru kedua’ bagi anak-anak yang sesinya sangat ditunggu karena menarik dan menyenangkan. Mereka sangat menikmati program belajar dan membaca yang dilaksanakan para pustakawan ini dan selalu berebut untuk bisa berada di perpustakaan selama mungkin. Setiap hari saya mendapatkan laporan dan foto-foto bagaimana anak-anak belajar dan memanfaatkan perpustakaan di TBM-TBM. Mereka nampak begitu menikmati kegiatan belajar yang baru ini. This is the kind of miracle I would like to see in my country.

Baca juga:  MISTERI GUA HIRA’ DAN TRAGEDI BANGSA KULI

Kini bahkan para mahasiswa UINSA telah turut andil masuk ke madrasah-madrasah melalui program KKN Literasi mereka. UINSA adalah pelopor dalam Program KKN Literasi yang belum pernah ada selama ini. (Kapan kampus Anda mau ikut andil dalam upaya menumbuhkan budaya literasi baca dan tulis bagi bangsa ini? Just let me know if you’re interested. I can help)

Sejak tahun 2013 melalui Dinas Pendidikan dikeluarkanlah surat edaran kepada SEMUA KEPALA SEKOLAH di kota Surabaya untuk menyisihkan atau menyelipkan waktu minimal 15 MENIT SETIAP HARI khusus untuk membaca. Ini kebijakan yang sangat penting yang jarang dipahami oleh para stakeholder pendidikan. Membaca dan menulis itu adalah sebuah ketrampilan yang hanya akan bisa dikuasai oleh anak jika mereka berlatih secara terus menerus dengan tekun dan konsisten. Ibarat berenang, Anda tidak akan mungkin bisa berenang tanpa nyemplung ke air dan berlatih berenang sampai bisa. Dengan kegiatan rutin membaca selama 15 menit setiap hari (Sustained Silent Reading) maka siswa akan menjadi terbiasa untuk membaca (it becomes a habit) dan secara otomatis akan meningkatkan pemahaman dan kemampuan membaca siswa karena dilakukan secara rutin. Selama ini siswa kita selalu jeblok dalam ujian nasional mereka jika dihadapkan dengan teks bacaan. Dan ini jelas karena rendahnya kemampuan memahami dan kecepatan baca siswa. Dengan berlatih membaca buku minimal 15 menit sehari maka secara otomatis kecepatan baca dan kemampuan memahami siswa akan meningkat. Hanya latihan membaca setiap hari yang bisa meningkatkan kecepatan baca (speed reading) dan kemampuan memahami siswa (reading comprehension).

Kota manakah yang bisa mengikuti jejak Kota Surabaya ini…?!

(Kapan Kabupaten/Kota/ Propinsi Anda mau ikut andil dalam upaya menumbuhkan budaya literasi baca dan tulis bagi bangsa ini? Just let me know if you’re interested. I can help)

Baca juga:  CADAR OR NOT (Part 3)

Untuk segala upaya dan keseriusan beliau membangun budaya membaca dan menulis di Kota Surabaya itu, IKAPI menganugrahi Literacy Award 2014 kepada beliau. Penghargaan ini diberikan pada seremoni pembukaan Indonesia International Book Fair 2014 (IIBF) yang dilaksanakan pada Sabtu (1/11/2014) di Jakarta. Sejak itu program Surabaya Kota Literasi semakin bergema dan bahkan Surabaya dijadikan model nasional bagi pemerintah dalam program Gerakan Literasi Sekolah yang akhirnya dijadikan sebagai Permendikbud 23/2015. Gerakan ini akhirnya menasional dan satu demi satu kota/kabupaten/propinsi mencanangkan diri sebagai Kota/Kabupaten/Propinsi Literasi.

Pagi ini saya mendapat undangan dari Walikota Surabaya untuk mengikuti Peringatan HUT ke- 71 Kemerdekaan Republik Indonesia dan sekaligus untuk mendapat penghargaan sebagai Warga Surabaya Berprestasi 2016 di Taman Surya Surabaya. Alhamdulillah ternyata dapat Piagam Penghargaan atas Dedikasi, Loyalitas, dan Inisiasi dalam Pengembangan Budaya Literasi di Kota Surabaya. Penghargaan ini adalah berkat usulan Ibu Arini Pakistyaningsih, Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya, yg telah mengajukan dan memperjuangkan nama saya utk mendapat penghargaan ini. Saya tentu saja berterima kasih pada beliau meski pun saya pikir semestinya beliaulah yang berhak untuk mendapatkan penghargaan ini mengingat begitu gigihnya beliau memperjuangkan program Surabaya Kota Literasi ini. Beliau adalah contoh seorang pemimpin yang benar-benar total, professionally and personally, melaksanakan tugasnya bagi negara. Beliau begitu total dan seriusnya seolah program ini adalah pertaruhan hidup dan mati. J Saya seolah menemukan ‘ a perfect partner’ dalam menjalankan literasi dalam sosok beliau ini. Program literasi di Indonesia tidak akan seperti sekarang ini jika saya tidak menemukan beliau dan kemudian bersama-sama menggerakan dunia literasi selama bertahun-tahun selama ini. Beliau benar-benar mempercayai saya dan menerima masukan apa saja program literasi yang saya sodorkan. Beliau memasok program dan masukan-masukan pada Bu Risma dan oleh Bu Risma, yang memang sangat peduli pada program literasi, langsung mempercayai beliau dan memberikan amanah yang lebih besar. “Just do your best. Make your program bigger, better, and involving more people”, begitu kira-kira dukungan Bu Risma.

Baca juga:  100+ Nasihat Terbaik

Bagi saya pribadi mereka berdua, Bu Arini dan Bu Risma, adalah sosok-sosok luar biasa yang mungkin memang dihadirkan untuk menjadi tempat curahan ide-ide saya selama ini yang tidak mendapatkan tempat. Dan itu bisa terjadi karena mereka sendiri benar-benar paham apa pentingnya literasi bagi bangsa.

Lepas dari karena saya memperoleh penghargaan ini, saya sungguh berharap bahwa Pemerintah melalui Kemdikbud atau kabupaten/kota/propinsi lain mulai melakukan hal yang sama, yaitu memberikan penghargaan pada sosok-sosok yang memiliki dedikasi, loyalitas, dan inisiatif dalam pengembangan budaya literasi di daerah masing-masing. Saya yakin bahwa penghargaan semacam ini akan membuat masyarakat semakin sadar bahwa membudayakan literasi membaca dan menulis adalah sebuah kegiatan yang harus terus menerus digelorakan dan tidak boleh hangat-hangat tahi ayam. Membudayakan literasi membaca dan menulis membutuhkan proses jangka panjang yang bahkan puluhan tahun agar benar-benar tertanam sebagai budaya. Dan itu benar-benar membutuhkan konsistensi, daya juang, kesabaran, stamina, pengorbanan, semangat tinggi, pemahaman yang mendalam, consensus, dan berbagai hal dari semua pihak.

Membudayakan literasi itu suatu KEHARUSAN bagi bangsa yang tidak bisa ditawar dan ini membutuhkan perjuangan dan pengorbanan besar dari semua elemen masyarakat. So let’s do it together…! 🙂

Surabaya, 17 Agustus 2016

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *