Senin, 16 Desember 2019
Just another WordPress site
GENDENG MANGAN SEMIR

Suatu kali ada orang yang minta bantuan pada saya untuk membelikan sepeda seorang anak karena anak tersebut sekolahnya jauh dan dia harus jalan kaki ke sekolahnya. Saya tanya seberapa jauh jarak rumah ke sekolahnya. Satu setengah kilometer, katanya.

Whaaat…?! You call that far…?!” Kata saya tanpa bisa saya tahan.

Bersekolah jalan kaki dengan jarak satu setengah kilometer itu rasanya seperti rekreasi saja bagi saya.  Dulu saya tinggal di Jl. Darmokali dan saya bersekolah di SMPN 2 jl. Kepanjen Surabaya. Itu jaraknya sekitar 8 kilometer dan saya biasa jalan kaki pulang pergi. Dan itu totalnya adalah 16 kilometer yang kalau seandainya saya lakukan dengan metode tertentu maka mungkin saat ini saya sudah menjadi mantan atlit, atlit jalan kaki ke sekolah.

Apakah saya menikmati berjalan kaki sebanyak 16 kilometer setiap hari yang ketika pulang sekolah di siang hari yang terik ubun-ubun terasa seperti dipanggang? Ah, biasa saja. (Ini jawaban versi sok hebat. Kalau mau jawaban arek Suroboyo yang jujur ya, “Matamu, Cuk…! Sopo sing menikmati mlaku wolung kilo soko Kepanjen nang Darmokali awan-awan…! Gendeng mangan semir tah…?!”)

Saya bukan ‘gendeng mangan semir’ ketika itu (kenapa ya arek Suroboyo mengira orang gila itu selalu makan semir? Selama hidup saya tinggal di Surabaya belum pernah saya melihat ada orang gila yang makan semir). Saya melakukan itu karena terpaksa.

Terpaksa…?! Ya.

Waktu SMP kehidupan keluarga saya sungguh berlimpah, berlimpah saudara maksudnya. Waktu itu saya  sudah punya 9 orang saudara (dan ketika saya di SMA emak saya melahirkan lagi seorang adik bagi saya agar jangkep menjadi 11) Sayang sekali bahwa tidak pernah ada pelatih sepakbola yang tertarik untuk merekrut kami untuk menjadi tim sepakbola kampung saat itu. Padahal saya yakin kami bisa jadi tim yang kompak. Lagipula alangkah hebohnya jika ada tim sepakbola bersaudara mulai dari kiper, bek, gelandang, sampai ujung tombaknya. Saya yakin Kick Andy akan tertarik untuk mengundang kami ke studionya (dengan syarat jalan kaki dari Surabaya ke Jakarta).

Karena ayah saya hanya seorang staf biasa di Dinas Pendidikan Propinsi Jawa dan tidak pernah berpikir untuk nggasak uang kantor maka kehidupan kami tentulah sedikit memprihatinkan (gak perlu lebaylah dengan mengatakan menderita atau dalam kondisi yang mengenaskan. Biasa ae, Bleh!). Karena situasi ekonomi keluarga saya waktu itu memang begitulah jadi tidak selalu tersedia uang transport untuk berangkat ke sekolah, apalagi uang saku! Lha wong untuk makan sehari-hari saja susah, Jek!

Baca juga:  LEBARAN

Jadi kalau saya  berangkat sekolah diberi uang transport berapa pun jelas status profil saya adalah Alhamdulillah. Seringkali ibu saya sama sekali tidak punya uang sehingga tidak bisa memberi saya uang transport samasekali. Jadi pilihannya adalah berangkat ke sekolah jalan kaki atau tidak usah bersekolah pada hari itu. Tentu saja saya tidak mau bolos sekolah hanya karena tidak ada biaya transport. Mending saya jalan kaki ke sekolah pulang pergi ketimbang membayangkan diri saya menyerah tak berdaya hanya karena tidak diberi uang transport. Tidak berangkat ke sekolah hanya karena tidak punya biaya transport bagi saya adalah sebuah sikap cemen fatalis yang pantang saya lakukan. Saya sudah terlanjur banyak membaca buku tentang kepahlawanan Old Shatterhand, Winnetou, Sukarno-Hatta, Jendral Sudirman, Jokotole, Nabi Ayub, Bukek Siansu, Pendekar Rajawali, Barda Mandrawata, Salahudin Al-Ayyubi, Nasruddin Hoja, dlsb sehingga tahu benar bahwa saya pasti akan diketawai oleh para tokoh tersebut jika saya menyerah tidak sekolah hanya karena tidak punya uang transport. “Ojok ngisin-ngisini opo’o, rek! Gak duwe duwik yo mlaku…!”Demikian kata mereka pada saya waktu itu.

Kadang-kadang untuk berangkat ke sekolah, Emak saya almarhum hanya membekali saya uang transport naik bemo satu kali berangkat . Jadi hanya sejumlah ongkos sekali perjalanan saja. Jumlahnya Rp. 20,- seingat saya. Saya boleh pilih mau naik bemo berangkatnya atau pulangnya. Kalau saya memilih naik bemo berangkatnya maka pulangnya saya harus cari upaya sendiri. Tapi saya hampir selalu memilih jalan kaki berangkatnya supaya pulangnya saya bisa naik bemo. Kalau berangkat sekolah masih pagi jadi udara masih segar sedangkan kalau pulangnya siang yang bukan main panasnya. Apalagi sepatu saya waktu itu adalah sepatu karet yang naujubillah panasnya kalau dipakai berjalan siang hari.

Biasanya ada sopir bemo yang kasihan dengan anak SMP culun seperti saya dan bersedia saya beri ongkos bemo hanya separoh (Rp. 10,-). Tarif spesial pelajar. Jadi separohnya lagi saya pakai untuk pulangnya.  Tapi hidup memang tidak selalu mulus. Selalu ada tokoh antagonis yang berperan sebagai penjahat dan merintangi jalan si tokoh dalam mencapai tujuan hidupnya yang mulia. Dalam kisah saya tersebut ada beberapa sopir bemo yang menolak menerima ongkos hanya separoh. Mereka menuntut dan sekaligus marah-marah agar saya membayar ongkos penuh. “Gak onok tarif pelajar. Bayar penuh…!” kata mereka sambil mendelik. Tentu saja saya akan misuh-misuh ala Suroboyoan sambil memberikan semua duit ongkos transport saya hari itu. Tapi misuhnya hanya dalam hati. Bagaimana pun saya masih ingat bahwa saya adalah tokoh protagonis dalam kisah tersebut dan si sopir jancuk tersebut adalah tokoh antagonis. Tokoh antagonis memang ditakdirkan untuk menjadi jancukan. Bukankah begitu…?! Kalau situasinya menjadi demikian maka jelas adegan selanjutnya adalah saya harus mencari tumpangan untuk pulang ke Darmokali (yang sangat jarang ada) atau yang lebih jelas adalah jalan kaki di siang hari sejauh delapan kilometer.  Walking home under the hottest  sun of Surabaya…

Baca juga:  CADAR OR NOT (Part 2)

Oleh sebab itu saya harus mengingat-ingat bemo mana yang tidak bersedia menerima pembayaran ongkos hanya separoh dan mana yang bersedia. Salah satu sopir yang paling sengit nama bemonya PT Pulau Dewata. Sekedar informasi, semua bemo waktu itu punya nama di lambungnya. Saya sudah tidak ingat apa saja nama-nama bemo yang ada waktu itu tapi bemo PT Pulau Dewata ini harus saya ingat betul karena sopirnya adalah tokoh gendut antagonis yang bakal menyusahkan hidup lakone dalam kisah hidup saya. Kalau saya salah cegat dan kebetulan bemonya adalah bemo kelompok antagonis macam PT Pulau Dewata ini artinya nasib saya sudah ditentukan bahwa pulangnya harus jalan kaki. As simple as that…

Bagaimana rasanya jalan kaki sejauh delapan kilometer bagi siswa SMP di terik matahari Surabaya yang begitu indah? Sebaiknya Anda tidak bertanya pada saat itu karena pasti Anda akan saya pisuhi ala Suroboyoan. Kira-kira akan begini jawaban saya, “Yo panas, Cuk…! Ayo mreneo mlaku ngancani aku ben awakmu gak takon ae.”  Tapi sebagai tokoh protagonis yang sadar betapa pentingnya bersikap cool under pressure tentu saya akan menjawab dengan senyuman yang paling manis,”Ah, biasa saja kok! Tiap hari juga begini.” (Ayo, aku uncalono duwik rek…!)

Dengan situasi hidup yang demikian saya jadi terbiasa dengan jalan kaki ke sekolah pulang pergi sepanjang enam belas kilometer setiap hari. Percayalah,  jika kita sudah menjalani kesulitan setiap hari maka ia bukan lagi kesulitan tapi sekedar rutinitas. Sama membosankannya dengan pulang pergi naik mobil Mercy ber-AC. Ia tidak lagi berat apalagi menyiksa. Ia menjadi standar hidup sehari-hari. Jadi kalau suatu hari ketika Tuhan sedang berbaik hati pada keluarga saya dan saya diberi uang transport oleh ibu saya sebanyak perjalanan pulang pergi (tetap tanpa uang saku) maka saya menganggap itu sebagai ‘riyoyoan’ atau hari raya. Itu akan membuat hari saya sangat menyenangkan. It’s such a big day…! Pada hari itu saya punya banyak pilihan. Saya bisa naik bemo pulang pergi sebagaimana layaknya pelajar normal yang lain, saya juga bisa memilih naik bemo pulang atau perginya dan sisanya saya pakai sebagai uang saku. Sesekali saya pingin juga rasanya njajan di kantin sebagaimana siswa normal lainnya. Lagipula kalau pas hari itu ada pelajaran olahraga maka sungguh haus rasanya setelahnya. Minum air keran terus kok ya gimana gitu.

Baca juga:  Cocacola dan Yahudi

Tapi biasanya kalau saya diberi uang transport oleh Emak saya maka saya memilih tetap berjalan kaki pulang pergi dan merasa kaya raya karena punya uang untuk makan minum di kantin. Berjalan kaki pulang pergi ke sekolah sudah terasa normal tapi hari itu saya punya uang saku yang bisa saya pakai untuk makan dan minum sebagaimana layaknya pelajar-pelajar yang lain. Saya akan merasa gagah dan percaya diri berjalan ke kantin sekolah dan mencomot beberapa kue dan minuman karena saya punya uang di saku saya. It feels so good…! Oh ya, tentu saja saya juga melakukan praktek umum yang terjadi saat itu, yaitu ‘mangan telu bayar siji’ alias makan tiga kue tapi hanya ngaku satu. Percayalah, itu praktek yang umum dilakukan oleh anak-anak sekolah yang di kelasnya tidak dapat peringkat. Alhamdulillah saya memang tidak pernah berprestasi di sekolah sehingga tidak mungkin mendapat peringkat. Jadi ‘mangan telu bayar siji’ itu termasuk praktek yang legal bagi saya. Hal ini pernah saya tanyakan pada para pahlawan dalam buku-buku yang saya baca seperti Old Shatterhand, Winnetou, Sukarno-Hatta, Tarzan, Deni si Manusia Ikan, Pendekar Tengkorak, Jendral Sudirman, Jokotole, Nabi Ayub, Bukek Siansu, Pendekar Rajawali, Barda Mandrawata, Salahudin Al-Ayyubi, Nasruddin Hoja, dlsb. tapi mereka cuma senyum-senyum saja. Tak seorang pun di antara mereka yang menghakimi saya. Tidak ada…! Itu saya terjemahkan sebagai ijin untuk melakukannya dengan alasan darurat. Kalau ada siswa SMP jalan kaki ke sekolah pulang pergi sejauh enam belas kilometer apa nggak darurat namanya heh…!

Wis ojok kakehan dalil karo aku….

Surabaya 25 Desember 2015

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *