Senin, 10 Desember 2018
Just another WordPress site
SAFARI LITERASI DI ACEH (Bag.2) : Menggugah Kesadaran akan Pentingnya Gerakan Literasi di Sekolah

KUALA SIMPANG, ACEH TAMIANG

Kami bangun dengan segar setelah beristirahat cukup di Grand Arya Hotel, Kuala Simpang (actually it’s not grand at all). Setelah sarapan kami langsung menuju ke aula SKPD, gedung pertemuan terbesar yg ada di Aceh Tamiang (katanya). Itu pun ternyata tidak mampu menampung semua petinggi dinas pendidikan dan kepala sekolah Aceh Tamiang yg diundang. Soalnya kapasitas gedung hanya 250 org sedangkan peserta nampaknya lebih dari itu. Seminar di Aceh Tamiang bertajuk “Seminar Sehari ttg Literasi Sekolah” (one day seminar? Cuma half day, kok…!) dibuka langsung oleh Wabup. Hadir selain para kasek adalah anggota DPRA, perwakilan USAID Prioritas, Kakan Perpustakaan, para Kabid, majlis pendidikan daerah, dan jajaran lainnya. Satu hal yg menyenangkan adalah bahwa acara ini diselenggarakan secara swadana dengan sponsor dari Penerbit Erlangga (minimal di spanduknya). Kalau penerbit sudah turun tangan maka urusan buku biasanya pasti akan tertangani. Mudah-mudahan…

Kadisdiknya sangat bersemangat dan nampak sangat berkomitmen dengan tugasnya. Beliau bahkan menganjurkan para guru utk berkonsentrasi pada acara seminar dgn mematikan HP dan tidak merokok. Sungguh senang menemui pejabat yg berkomitmen seperti beliau. Para guru dan kasek perokok di Aceh ini nampaknya belum sadar bahwa asap rokok mereka mengganggu dan bahkan merusak kesehatan orang di sekitarnya. Di ruang tertutup pun mereka merokok dengan khidmatnya.
Selain Kadisdik, ada juga sambutan dari Wabup dan seorang ibu anggota DPRA. They all talked long. Alhasil acara sambutan baru selesai pd pukul 10:30. Jadi sambutan dan ubo rampenya saja 1,5 jam. Tapi saya sdh terlatih utk mempersingkat materi presentasi saya sehingga tidak kuatir kehabisan waktu. Seperti biasa setelah presentasi maka berebutlah peserta utk bertanya. Apalagi kami membawa oleh-oleh majalah “Potret” dan “Anak Cerdas” produksi Pak Tabrani di CCDE, Banda Aceh yg kami bagikan pada setiap peserta yg bertanya. Ini mendorong para peserta utk berebut bertanya.

Kadang-kadang muncul pertanyaan yg ‘nyleneh’ dari peserta. Salah satu contohnya adalah “Mengapa dalam presentasi yg dimunculkan hanya pendapat orang asing dan bukan pendapat tokoh pendidikan sendiri, seperti Ki Hajar Dewantara umpamanya?”, Jadi saya jawab dg bertanya balik, “Apa kira-kira pendapat KHD soal literasi? Saya ingin masukkan dalam presentasi saya nanti.” Tentu saja si penanya tidak siap utk ditanya balik spt itu. Ada juga pertanyaan “Kata Ki Hajar Dewantoro ‘banyak membaca banyak lupa’, jadi apa sebaiknya tidak usah banyak membaca?”
Pertanyaan ngasal begini saya jawab ngasal juga, “Apakah sebaiknya kita tidak pernah menikah supaya tidak mungkin bercerai? Atau apakah sebaiknya kita tidak pernah jatuh hati supaya tidak pernah patah hati? Apakah sebaiknya kita tidak pernah berharap agar tidak pernah kecewa?”. Tentu saja kita bisa menjawab, “Lebih baik banyak lupa tapi juga banyak tahu daripada tidak pernah lupa karena tidak tahu apa-apa.”. Tapi itu semua menunjukkan kualitas bertanya para guru (dan kasek) kita. Kualitas pertanyaan yg kita lontarkan jelas menunjukkan kualitas pemahaman kita. Seorang pengawas yg terlalu bersemangat bahkan ‘menceramahi’ para peserta ttg pentingnya budaya literasi dengan panjang lebar sehingga mendapat “Huu…” dari para peserta seminar.

Baca juga:  KATANYA BUDAYA BACA HARUS KITA TUMBUHKAN...

Itulah dinamika yg saya temui selama melakukan safari literasi. Tapi secara umum semua peserta merasa terkesan dan terinspirasi setelah mendengarkan presentasi literasi ini. Mereka semua menyatakan puas datang dan mendengarkan materi presentasi saya.

Setelah makan siang dengan menu ikan gurami bakar yg sungguh maknyus bersama Kadisdik Aceh Tamiang beserta para jajarannya kami pun berangkat ke kota tujuan berikutnya, yaitu kota Langsa. Kota Langsa hanya berjarak sekitar 30 km dari Aceh Tamiang dan arahnya balik menuju Banda Aceh. Jadi kami santai-santai saja. Kami sempatkan mencari masjid yg indah di sepanjang perjalanan utk melakukan sholat Dhuhur dan Ashar sekaligus. Ada banyak masjid yg indah di Aceh karena nampaknya orang Aceh sangat gemar membangun masjid. Mereka juga suka meminta sumbangan pembangunan masjid di tengah jalan seperti orang Madura.

Tiba di Langsa kami mendapat fasilitas hotel yg ‘wah’, yaitu di Hotel Harmoni. Ini hotel terbaru dan terbesar nampaknya di Langsa. Fasilitasnya juga lengkap dengan kulkas mini dan pemasak air utk bikin kopi atau teh.
Malamnya kami ditraktir makan oleh Pak Amir, Kabid Dikmenum Aceh Tamiang yg kebetulan rumahnya di Lhangsa. Beliau ini tulang punggung dinas pendidikan di Aceh Tamiang karena lamanya beliau bertugas di sana. Kata seorang staf, tanpa Kadisdik tugas akan jalan terus tapi tanpa Pak Amir bisa berantakan semua tugas Disdik Aceh Tamiang.

LANGSA

Langsa adalah salah satu kota besar di Prop. Aceh. Sebelumnya Langsa adalah ibukota Aceh Timur. Tapi dengan pemekaran wilayah maka ibukota Kab. Aceh Timur dipindahkan ke Idi yg berpenduduk sekitar 35 ribu orang. Langsa akhirnya berdiri sebagai Kota yg dipimpin oleh seorang Walikota.

Baca juga:  PENGHARGAAN LITERASI: AGAR TIDAK MENJADI PROGRAM HANGAT-HANGAT TAHI AYAM

Presentasi pagi ini Kamis, 30/10/14, dilakukan di gedung SMKN 3 yg dulunya bekas SMPP. Kapasitasnya sekitar 250 orang tapi yg hadir sekitar 160 org yaitu para kasek SD/SMP/SMA/SMK dan sekolah-sekolah di bawah jajaran Kemenag seperti MI/MTs/MA. Nampaknya tidak semua kasek diundang mengingat ada banyak kegiatan pelatihan pada akhir tahun seperti ini.
Acara dibuka oleh Pak Saefuddin, Kadisdik Langsa yg nampak ramah dan sekaligus berwibawa. Ternyata beliau pernah menjabat sbg Wawali Kota Langsa selama lima tahun sebelumnya. Beliau juga mendengarkan presentasi saya sampai selesai.
Sambutan dari peserta sangat mengesankan. Bahkan ada seorang kasek SMP yg berjanji utk melaksanakan program sekolah literasi tiga minggu mendatang. Saya sangat terharu mendengar ini. Rasanya seperti mendapat siraman air segar di hari yg terik. Menyejukkan. Jika sekolahnya berhasil maka sekolah lain bisa terinspirasi utk melakukan hal yg sama. Bola salju mulai menggelinding…

KAB. BIREUEN

Kabupaten Bireuen adalah tujuan safari literasi terakhir kami. Semestinya masih ada tujuan lain, yaitu di Univ. Al-Muslim, Matang, Bireuen. Tapi nampaknya ada kegiatan lain di kampus tsb sehingga acara ke sana dibatalkan. Itu artinya saya dapat ‘break’ sehari tidak berpresentasi. Alhamdulillah…! Selama safari ini saya banyak nyetir selama berjam-jam dari satu kota ke kota lain. Padahal kalau di Jawa saya menghindari nyetir sendiri dan selalu mengajak teman utk menjadi sopir. Entah berapa ratus kilometer yg saya lalui sebagai sopir selama safari ini. Tapi ternyata kesehatan saya baik-baik saja dan juga tidak merasa kelelahan. I’m just fine. Thanks God!

Hal yg unik adalah bahwa acara di Bireuen ini diselenggarakan oleh PGRI. Jadi meski pun pembicaranya adalah Ketua Umum IGI tapi PGRI-lah penyelenggaranya. Kami bahkan dijamu oleh Pak Zainuddin, Ketua PGRI Kab. Bireuen, dan Pak Jafar, Ketua Kobar GB Kab Bireuen. Di Bireuen semua organisasi guru kompak dan selalu bersatu bahu membahu dalam setiap acara ttg pendidikan. Saya sampai terharu melihat betapa mereka begitu tulus saling membantu dan tidak saling bersaing, apalagi menjegal. Inilah teladan yg perlu dicontoh oleh organisasi guru di seluruh Indonesia. Seandainya saja sikap PGRI Kab Bireuen ini ditiru oleh organisasi guru lain maka dunia pendidikan Indonesia akan jauh lebih cerah.

Baca juga:  KISAH MUSA

Acara seminarnya diselenggarakan di gedung pertemuan sekolah Sukma milik Surya Paloh yg berkapasitas 250 orang tapi nampaknya tidak semua kursi terisi. Tapi presentasi ini dihadiri oleh anggota DPRA dan Ketua MPD (Majlis Pendidikan Daerah).
Meski presentasi saya terganggu oleh buruknya LCD dan padamnya listrik beberapa kali tapi secara umum acara berlangsung sukses. Para kasek dan guru merasa tersentuh dan terinspirasi oleh materi yg saya berikan. Mereka seolah baru menyadari makna dari ayat Iqra’ yg selama ini telah mereka ketahui sejak kecil. Mereka seolah disentakkan oleh pemahaman baru ttg pentingnya membaca dalam pendidikan dan kehidupan.
Beberapa kepala sekolah menyatakan bhw mereka juga sdh mulai melaksanakan program membaca (Al-Qur’an) secara rutin di sekolah mereka. Tapi presentasi saya menyadarkan mereka bhw apa yg mereka lakukan masih jauh dari ideal. Kadisdik Bireuen yg diminta utk memberi sambutan pada akhir acara mengajak semua kasek utk secara serius melaksanakan program membaca secara rutin di sekolah masing-masing. Beliau sangat berterima kasih atas presentasi yg menggugah ini dan berharap saya bersedia utk datang lagi kali lain utk berpresentasi pada kasek dan guru yg lain. Saya menyatakan kesanggupan saya pada beliau. Saya memang sudah merencanakan utk melakukan road-show atau safari literasi berikut bersama Pak Imran ke Aceh bagian Barat dan Selatan suatu kali nanti. Ada banyak rencana yg kami susun setelah ini termasuk beraudiensi ke Komisi E Prop. Aceh. Kami semua menjadi semakin bersemangat dengan keberhasilan yg kami capai pada Safari Literasi kami kali ini. Ada banyak harapan dan optimisme utk kemajuan literasi di Prop. Aceh.

Setelah presentasi kami pun balik ke Banda Aceh. Di tengah perjalanan kami menjemput adik-adik Pak Imran yg akan ikut ke Banda Aceh di Pidie. Saya bergantian menyetir dg Pak Imran. Alhamdulillah kami berhasil tiba di Banda Aceh dan masuk ke hotel Makkah pada jam 7:30. Besok siang kami akan terbang kembali ke Surabaya. What a wonderful journey I have…!

Demikianlah kisah perjalanan Safari Literasi saya ke beberapa kabupaten dan kota di Propinsi Aceh. Mudah-mudahan ada kesempatan saya utk bersafari ke propinsi lain (ada yg mau bantu? Saya akan bayar sendiri semua biaya saya nantinya).

Terima kasih telah bersedia membaca kisah ini.

Banda Aceh, 1 Nopember 2014

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *