Desember 2, 2022

4 thoughts on “Kurikulum 2013 : Catatan Kritis

  1. Kalo menurut saya pribadi, tujuan Kurikulum 2013 sudah sangat bagus, tidak perlu kita ikut-ikutan meng-kritik buta tanpa faham esensinya.

    * sekolah2 negeri minim pelajaran agama
    * KTSP terlalu memberatkan guru dlm hal administrasi/perangkat, tidak mengutamakan strategi pembelajaran.
    * Kurikulum perlu dibenahi, direvisi, diupdate, minimal 5 tahun sekali
    * pelajaran di sekolah2 terlalu banyak dan isinya terlalu padat dan tinggi untuk tngkat SD

  2. Apakah Anda MERASA lebih paham esensi Kurikulum 2013 sehingga menganggap saya mengritik buta?
    Sekedar untuk Anda pahami, SEMUA tujuan kurikulum SELALU BAGUS. Jadi sekedar menyatakan bahwa tujuan Kur 13 itu bagus samasekali tidak cukup. Tujuan dari kurikulum -kurikulum sebelumnya JUGA BAGUS.
    Jika Anda menganggap pelajaran agama kurang maka coba tunjukkan hasil studi yang menyatakan bahwa kurangnya pelajaran agamalah yang membuat siswa sering tawuran, krisis moral, dlsb dan solusinya adalah dengan menambah pelajaran agama. Membuat kurikulum tidak boleh hanya mengandalkan pendapat berdasarkan common sense belaka.
    Begitu juga dengan kritik Anda terhadap KTSP. Jika yang kurang adalah strategi pembelajarannya lantas mengapa mengubah kurikulumnya? Ubah saja strategi pembelajarannya. Lagipula apakah ada jaminan bahwa Kur 13 ini akan dapat membuat guru lebih ringan pekerjaannya tapi lebih efektif dan bermakna dalam mengajarnya? Siapa yang berani menjamin? Sedangkan Kur 13 ini baru konsep dan belum pernah diujicobakan sebelumnya.
    Bagaimana pun, terima kasih atas tanggapan Anda. Saya tunggu komentar berikutnya.

  3. sebagai orang tua saya mengidamkan sebuah kurikulum yang menghargai manusia : bahwa manusia itu unik, dengan bakat dan minat yang berbeda-beda

  4. diambang batas keputusasaannya untuk memahami kurikulum baru, seorang guru dipelosok desa tidak pernah peduli apapun kurikulum yang sedang diberlakukan saat itu. dia mengajar dengan cara yang sama seperti yang pernah dilakukan oleh gurunya tempo dulu.
    Begitu pula halnya dengan pengawas sekolah yang menyantroni sang guru tadi. Tidak bisa komentar apa-apa tentang apa yang dilakukan guru binaannya. Sekalinya dia berkomentar, hanya membuat sang guru binaannya semakin bingung, sebab dia sendiri tidak mengerti apa yang sudah diucapkannya.
    Demikianlah, Pak Satria, kurang lebih kenyataan yang ada di lapangan..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *