Jumat, 23 Oktober 2020
Just another WordPress site
Tuesdays with Morrie

Menanti datangnya ajal hanyalah salah satu di antara yg patut disedihkan, Mitch. Tapi hidup tanpa kebahagiaan lebih menyedihkan.”

Demikian salah satu dialog antara Mitchel Albom dan professor Morrie dalam buku berjudul “Tuesdays with Morrie” yg saya baca pagi ini. Dan dialog ini membuat saya tertegun dan membuat saya harus berhenti mengunyah kalimat-kalimat berikutnya dalam buku yg sangat menarik sejak awal ini. Kalimat ini perlu saya kunyah lebih lembut agar menjadi sari makanan bagi jiwa saya pagi ini.

“Tuesdays with Morrie” adalah buku ketiga karya Mitch Albom yg saya baca setelah “The Five People You Meet in Heaven” dan “For One More Day”. Kedua buku tersebut sangat menarik dan membuat saya berpikir dan termenung.

Buku-buku karya Mitch Albom sangat menarik dan dalam. Kisah-kisahnya akan membuat kita terpaku, tersedot, dan tak mampu lepas. Bahkan berhari-hari setelah selesai membacanya kesan mendalam yg ditinggalkannya tidak akan hilang dan akan terus bergantung di benak kita dan menjadi semacam perenungan pribadi. Ini jenis buku yg ‘saya banget’ kalau pakai istilah anak-anak jaman sekarang. Tapi “Tuesdays with Morrie” adalah karya Mitch yang paling fenomenal nampaknya karena pada kedua buku yg lain selalu tertulis “Mitch Albom, Pengarang Tuesdays with Morrie”

“Tuesdays with Morrie” adalah buku ‘Pelajaran tentang Makna Hidup’, demikian tertulis di sampul depannya. Jelas ini buku yg ditulis utk saya. 🙂

Segala hal tentang makna hidup semakin hari semakin menarik bagi saya belakangan ini.

Gunawan Mohamad sendiri menulis di Capingnya di Tempo sbb : “Morrie tahu ia jadi korban nasib yg tak ada alasannya. Yang menarik ialah bahwa ia tak memilih untuk menjadi marah dan membuat orang lain menjadi korban. Harapan, baginya, adalah ketika ia memberi. Mungkin dengan sedih dan getir dan rapuh. Tapi akhirnya ia memberitahu kita: tetap saja ada orang yg berbuat baik, juga dalam kekalahannya. Bukankah itu juga harapan?”

Saya tidak sependapat dengan Gunawan Mohamad soal rasa ‘sedih, getir dan rapuh’ tersebut. Morrie memang didera penyakit ALS alias Lou Gehrig (yg belakangan menjadi populer karena aksi Ice Bucket Challenge yg dilakukan oleh para selebriti di seluruh dunia itu) yg membuat tubuhnya jadi lumpuh secara bertahap sampai tidak bisa bergerak sama sekali di kasur. Tapi pikirannya tetap sehat dan bahkan menjadi semakin kuat dan mampu memberikan semangat pada orang-orang yg masih sehat dan segar bugar melalui ceramahnya. ‘Sing lara nuturi sing waras’ begitu kira-kira.

Baca juga:  Rektor Icebreaker (Part 3) : Lebih Bodoh daripada Keledai?

Profesor Morrie Schwartz tahu bahwa hidupnya tinggal sebentar. Yg lebih menyedihkan adalah kenyataan bahwa tubuhnya akan mati pelan-pelan yg dimulai dengan kelumpuhan kakinya secara bertahap sampai ia akan tidak mampu mengunyah makanan dengan baik dan akan sering tersedak sewaktu makan. Namun ia pantang menyerah. Ia melatih pikirannya utk tetap hidup dan bergairah. Ia menuliskan pemikiran filosofisnya setiap hari seperti: “Terima apa pun yg sanggup kaukerjakan dan apa pun yg tak sanggup kaukerjakan”; “Terimalah masa lalu sebagai masa lalu, tak usah menyangkal atau menyingkirkannya”; “Belajarlah memaafkan diri sendiri dan memaafkan orang lain”; “Tak ada istilah terlambat utk mulai”, dll.

Apa yg akan Anda lakukan jika Anda yg mengalami hidup seperti itu, divonis mati oleh penyakit yg belum ada (belum ditemukan) obatnya dan bakal lumpuh jadi ‘kembang amben’?
“Waktu semua ini dimulai, aku bertanya pada diriku sendiri, ‘Apakah aku akan menarik diri dari dunia sebagaimana diperbuat oleh banyak orang, atau terus hidup?’ Aku memutuskan utk terus hidup – atau setidaknya mencoba utk terus hidup – dengan cara yg aku inginkan, secara bermartabat, dengan keberanian, dengan rasa humor, dengan mantap.
Betul. Ada kalanya aku menangis, berduka atas penderitaanku sendiri. Ada kalanya aku begitu marah dan kecewa. Akan tetapi itu tak terlalu lama. Aku segera bangun dan berseru, ‘Aku ingin hidup…’ Demikian kata Morrie ketika diwawancarai oleh Ted Koppel, pembawa acara “Nightline” di ABC-TV

Pernahkah Anda berhenti sejenak dari keriuhan dan kebisingan rutinitas pekerjaan Anda dan mulai berpikir tentang ‘makna hidup’…?! Sejujurnya ‘makna hidup’ adalah topik yg selalu menarik saya dan selalu menjadi perenungan saya. Hidup yg bermakna adalah hal yg selalu menjadi tujuan yg saya cari dan upayakan. Tapi kita tidak akan pernah paham apa artinya ‘hidup yg bermakna’ jika kita tidak mengenal apa arti ‘kematian’. Untuk mengenal ‘kehidupan’ kita juga harus mengenal dan menghormati ‘kematian’, demikian kata orang bijak yg pernah saya baca. Kita tidak akan pernah menghargai hidup jika kita tidak mengenal dan menghargai kematian. Kematian bukanlah sesuatu yg harus ditakuti karena ia pasti akan datang. Kematian harus diterima sebagai sebuah kenyataan hidup yg harus disambut dengan hidup yg bergairah

Baca juga:  BAHKAN MUSA TIDAK MEMBERONTAK PADA FIRAUN

Beberapa waktu belakangan ini saya menerima berita kematian yg beruntun dari teman, tetangga, orang tua teman, baik yg meninggal karena sakit yg berkepanjangan atau karena kecelakaan yg mendadak. Hampir seminggu ini saya dua kali sehari mengunjungi adik saya yg terbaring di RS Husada Utama karena kena kanker paru-paru dan harus dikemotrapi. I feel that death is so close and so familiar. I’m not afraid of death. I just honor life more and more.

Apa arti kematian bagi saya, baik kematian orang-orang di sekitar saya atau pun kematian saya sendiri…? Saya rasa saya akan banyak belajar dari Profesor Morrie yg telah memberikan pelajaran tentang bagaimana menghadapi maut dengan bermartabat, dengan gagah berani, dengan rasa humor, dengan mantap, dan – kalau boleh saya tambahkan – dengan suka cita.

Surabaya, 25 Agustus 2014

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *