Oktober 5, 2022

5 thoughts on “TRAGEDI NOL BUKU: TRAGEDI DI DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA

  1. Kalau jaman dahulu kita tidak pernah baca buku karena kita miskin dan tidak mampu membeli buku, tapi sekarang kita tidak baca buku karena sibuk membaca gadget, karena memang harganya terjangkau oleh siapa saja, social network, facebook dan sejenisnya lebih menarik dibanding buku sastra ataupun buku tentang ilmu pengetahuan. Barangkali ini yang disebut pembodohan melaui novus ordo seclorum, tatanan dunia baru, imperialisme modern, karena memang itu tujuan kaum zionis seperti yang tertera dalam protokolat yahudi.

  2. Saya setuju dgn pa Taufiq Ismail. Tragedi itu sedang berlangsung terus di negeri sampai pemberlakuan kurikulum 2013. Kurikulum BI 2013 sangat mwnonjolkan pembelajaran berbasis teks. Hanya saja tidak disetting dlm kurikulum tersebut waktu khusus utk peserta didik membaca di Perpustakaan sebagai suatu kebiasaan (habit). Harus ada satu hr khusus utk membaca di perpustakaan. Hal ini dimulai dr SD-PT. Semoga para pakar pencetus kurikulum 2013 menyadari akan hal yang kecil ini.

  3. Semampunya akan dicoba untuk tidak nol buku. Dimulai dari nol koma satu, membaca 2 buku untuk diri sendiri dan keluarga. Tulisan yang sederhana tapi menyadarkan betapa membaca itu adalah hal kecil yang bisa menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar.

  4. Iya yah, betul juga. Dari dulu waktu SD sampai SMA, saya tidak dididik untuk senang membaca, saya hanya dididik untuk menjawab soal UN, cara cepat, trik cepat, ini itu. Akhirnya saya akui saya kurang membaca.
    Walaupun sekarang saya mulai senang membaca, tapi saya belum kecanduan. Saya masih bisa tidak membaca buku, masih sering malas. Begitu pula dengan menulis.
    Ayo kita mulai membaca dan menulis, hidup sastra yeeaaaaa…!!!!

  5. saya pernah menuliskan pemikiran saya mengenai buruknya kualitas pembelajaran bahasa indonesia. padahal saat itu saya baru dua bulan lulus dari smk.

    untuk minat baca, saya harus berterima kasih pada keingintahuan saya yang luar biasa besar. sehingga saya tidak perlu “dipaksa” membaca.
    dan, masa-masa keemasan minat baca saya terjadi hanya selama sekitar dua tahun, saat akhir kelas 4 sampai akhir kelas 6 sd. itu pun karena saya “menemukan” perpustakaan sd tempat saya pindah terbengkalai. membuat saya leluasa keluar-masuk perpus dan meminjam buku sesuka hati. setelahnya (di smp, smk), kembali saya harus gigit jari karena sedikitnya bahan bacaan. faktor yang pada akhirnya sedikit-banyak mengubah model membaca saya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.