November 30, 2022

0 thoughts on “SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL ADALAH PROGRAM YANG SALAH KONSEP DAN 90% PASTI GAGAL

  1. setuju pak.
    paling mencolok klo di balikpapan yang ke delapan

    masa mau masuk sekolah(SMK) sbi mesti pnya laptop.

    Ancaman yang di dapat jika tidak memiliki laptop sesuai dengan perjanjian yaitu di liburkan dari sekolah sampai murid tersebut memiliki laptop

    walah….

    Padahal banyak sekali murid2 yang pintar namun keadaan ekonominya tidak mendukung untuk memiliki secara wajib sebuah laptop.

    Saya sendiri juga bingung sekolah SBI ini target ke depannya kemana.
    Apa hanya sebagai ajang keren-kerenan sekolah ??

  2. Pemikiran tentang “bertaraf” internasional itu menunjukkan bahwa sekolah kita masih ketinggalan di sana sini. Jika diikuti konsep itu, maka bukan berarti kita akan maju pesat, melesat, melainkan semakin jauh kita ketinggalan….
    Praktik permainan konsep itu meluas sampai pada “sekolah bertarif internasional”. Masuk sekolah sulit, mahal pula. Mau dikemanakan anak didik jika diproses ala internasional? Pertanyaan yang mendasar tampaknya perlu dijawab oleh hati nurani, yaitu adakah perubahan dan atau perbedaan yang signifikan pelaku-pelaku yang bernaung di bawah “bertaraf internasional”?
    Saya khawatir SBI dan RSBI dan sejenisnya hanyalah permainan istilah yang tidak sesuai dengan content-nya!!!!!

  3. Dari konsep diatas ,saya sangat setuju utk meninjau kembali label internasional pada sekolah-sekolah kita, kita harus memiliki kepercayaan diri dalam mengembangkan pendidikan nasional kita tanpa diembel2 internasional semu. mengapa sy katakan semu karena banyak faktor yang ditinggalkan dari ciri khas sekolah2 kita demi mengejar label internasional ??. padahal tanpa ada embel2 internasional sekolah kita bisa berkembang dengan ciri dan keunggulan lokal . mohon dievaluasi buka ego birokrasi namum perhatikan nasib anak bangsa kedepan,jangan setiap periode pergantian menteri, berganti kebijakkan terus menerus . semoga lebih maju pendidikan kita

  4. Pendidikan sekarang bukan malah tambah maju (harganya=maju), tapi kwalitas jadi tidak mempunyai “tujuan pasti”. (ngawur ngalor – ngidul …jawa).
    Guru produk sekarang bukan “mendidik” tapi hanya “mengajar”. Yang diusung adalah Prestise bukan Prestasi.
    Apakah ada jaminan misal ; bahwa yang masuk SMP RSBI itu pasti masuk kembali ke SMA RSBI. Jelas tidak ada jaminan.
    Tetapi dari semua itu, apakah orang tua wali (saya) dapat memilih sekolah mana yang bukan RSBI, Semua ingin menjadi RSBI, apa daya sebagai orang tua wali mau tidak mau harus masuk ke sekolah SMP 1,2,3,4 dst atawa SMA 1,2,3,4 dst. menyatakan dirinya RSBI.
    Nah kalo sudah begini, harus bagaimana orang tua wali (saya) memilih sekolah selain RSBI tetapi yang NEGERI.
    Kepada siapa orang tua wali (saya) mengadu dan memilih sekolah baut putar/putrinya. Kemana…………..DEPDIKNAS…kayaknya sudah tidak peduli lagi tuh. Klo mau ya masuk sini, Klo gak ada uang ya silahkan pilih sekolah lain. Pasti itu jawaban terakhir dari panitia…
    Mohon maaf, memang begini keadaan Pendidikan @ Indonesia. Semakin lama semakin NGAWUR…………….
    Sekali lagi Maaf dengan sangat atas tulisan ini.

  5. saya memang kurang mengerti tentang dunia pendidikan, tetapi belakangan ini saya amati memang banyak kalangan mengeluhkan tentang tingginya biaya pendidikan, apalagi di SEKOLAH NEGERI, apakah ini memang menjadi kebijakan pemerintah,,, Tetangga saya pun juga ditolak masuk ke sekolah (SMK) negeri hanya karena tidak ada biaya untuk membeli Laptop, padahal NILAI UJIAN AKHIR NASIONALNYA bagus.. akhirnya ia masuk ke sekolah swasta.. apakah dunia pendidkan di negara kita tidak bisa diperbaiki dari segi Biaya / Pembayaran.. Kata Yth. Bpk. Presiden anggaran untuik pendidikan sudah ditingkatkan, tetapi mengapa justru BIAYA MASUK SEKOLAH SEMAKIN NAIK…
    Cukup[ sekian komentar saya, mohon maaf dan trima kasih..

  6. keren banget pendapatnya. skolah sya saat ini jg “bergelar” RSBI. Dan betapa saya merasakan keganjilan2 dari program tsb. Fasilitas yang dielu2kan dsb. yah. pkoknya byk yg mengganjal di hati. yah. . .semoga pendidikan di Indonesia akan membaik dg sistem yang tidak salah kaprah mengingat potensi2 baik anak indonesia.

  7. saya setuju RSBI itu sebaiknya tidak ada…. lebih baik kualitas guru dan pengelola sekolahnya dulu yang ditingkatkan…jangan juga melupakan perpustakaannya šŸ™‚

  8. saya seorang guru di sekolah rSBI, ada 2 sekolah rsbi dikota ini dan akan ada lagi 2 sekolah yg akan menjadi rsbi. Rasanya dinas pendidikan tdk perduli dgn perkmbangan rsbi tsb. Yg penting bagi mereka adalah proyek dan uang. Sementara disini kami menghadapi masalah yg tidak kunjung selesai dgn memiliki label sbi.
    Program SBI mengundang banyak Pemda untuk mengambil ksmpatan ini dan menjadikanny proyek tanpa melihat kedepan apa dampak yang akan terjadi.

  9. Memang betul, dan sebenarnya yang diperlukan oleh anak-anak kita itu bukan sekolah bertaraf internasional, tapi sekolah yang benar-benar memberikan bekal bagi masa depan mereka. Bukan sekolah yang sekadar memberikan pengetahuan dan latihan untuk menghadapi tes atau ujian. Kita butuh sekolah yang:
    – mengajarkan agama dan membuat siswanya bertaqwa
    – mengajarkan etika dan membuat siswanya beretika
    – mengajarkan nasionalisme dan membuat siswanya tidak merusak negara
    – mengajarkan bahasa danmembuat siswanya mahir berbicara dan menulis dengan bahasa yang baik dan benar
    – mengajarkan ilmu pengetahuan yang kelak dia pakai untuk meningkatkan keterampilannya

  10. Itulah yg buat bangsa ini gak maju2.
    – tidak bangga dg budayandiri
    – selalu ingin terlihat hebat, salah niat.
    – menjadikan sgla ssuatu adalah peluang materi
    – khusus pendidikan: ortu, guru, masyarakat, dan pemerintah hanya bangga dg prestasi akademik, tp hati anak didiknya gersang, tidak ada tindakan.

  11. Pak Satria Dharma kok hebat sih? saya sangat suka dengan opini- opini bapak yang betul-betul contextual dan nyata terjadi di masyarakat kita, bahkan sering pula Bapak sudah berpikir jauh ke depan tentang dampak yang mungkin terjadi akibat permasalahan yang terjadi saat ini, terutama di dunia pendidikan anak-anak bangsa. Salut Pak. Semoga Allah senantiasa menjaga kejernihan berpikir Bapak.

  12. saya sangat setuju dengan ulasan Bapak, klo begitu pada faktanya memang Sekolah RSBI = Sekolah Mahal artinya orang miskin jangan sekolah,

  13. Saya berterimakasih atas tulisan ini membantu membuka pikiran saya terhadap permasalahan PendikNas kita terutama program SBI.
    Saya juga mengajar sebagai dosen di salah satu kampus swasta yang berlabel “Internasional”, namun itu hanya tulisan nama semata tidak ada hubungan sama sekali dengan bahasa, kurikulum, dan prakteknya label internasional hanya menjual produk saja.
    Rasanya pembahasan tentang “standar internasional” harus dikaji lebih jauh lagi.

  14. Setuju Pak, lebih baik dilakukan pemerataan kesempatan belajar kepada semua anak dan pemerataan fasilitas pendidikan di seluruh pelosok negeri ini sehingga kesempatan untuk belajar menjadi sama bagi semua anak bangsa sebagaimana diamanatkan UUD 45 – fokus pada pembenahan kebutuhan dasar pendidikan di seluruh negeri akan lebih bermanfaat daripada pemunculan istilah istilah di pendidikan yang malah tidak ada acuan dan tujuan yang jelas. Orang pandai di negeri ini saking pandainya malah membodohi masyarakat dan bangsa ini – kita sudah hidup di dunia yang hampir tidak ada batas demografinya dan sudah sering para cerdik pandai serta pejabat negeri ini ber-study banding ke negara negara maju, tapi apa yg mereka dapat? NOL besar dalam berkonsep. Usul sederhana saja, kita minta ijin pemerintah negeri balkan ( yang konon terkenal dengan sistem pendidikan dasarnya ) lalu kita pelajari dengan seksama terus kita lihat apa yg sebenarnya mereka lakukan dan langkah terakhir yg gampang adalah menc-copy serta mem-paste sistem mereka yg relevan di sini untuk diterapkan. simple dan mudah serta telah terbukti membuat negera-negara balkan tersebut maju di teknologi serta makmur rakyatnya..tidak banyak menghamburkan uang untuk study, diskusi panel, seminar, dll
    saya yakin guru-guru kita mampu jika memang sistem yg diterapkan adalah baik dan di dukung 100000% oleh pemerintah.
    Mohon ijin untuk copy & paste tulisanya, terima kasih

  15. Salam, wah..sy rupanya telat masuk di Blog ini, tp gpp..dr pd g tau sm skali..mengomentari tentang SBI (skolah BERTARIF internasional) salah ya?, hahaha..tp itu lah yg terjadi saat ini.yg Internasional di skolahnya bukan kwalitas pendidikan, melainkan FASILITAS penunjangny..Ruang ber AC salah satu nya, pdahal itu bkn lah catatan penting..salam kenal untuk smua dr saya.Salam..

  16. penulis blog ini sebetulnya orang yang ketakutan dengan program RSBI atau alergi sama bahasa Inggris sih? pola pikirnya masih sangat kolot, termasuk memelajari bahasa paling baik mulai usia 6 – 12 tahun, setelah 12 tahun itu sulit, sehingga RSBI yang memakai bahasa Inggris akan menyulitkan siswa dst, dst, dst. besok kalau ada program bahasa Inggris mulai kelas 1 SD, penulis blog ini pasti protes juga dengan alasan, anak-anak belum saatnya belajar bahasa Inggris.

    jadi dengan segala alasan konspiratif tersebut di atas, penulis blog ini cuma orang yang paranoid terhadap bahasa Inggris sehingga menafikkan potensi RSBI di Indonesia. berdasarkan pengalaman, tingkat kecerdasan siswa itu berbeda-beda dan sifatnya bakat. artinya siswa yang berbakat akan menunjukkan prestasinya. siswa yang bakatnya olahraga akan berprestasi dalam bidang olahraga, siswa yang bakatnya berhitung akan berprestasi dalam bidang matematika dan akuntasi, siswa yang bakatnya akting akan berprestasi dalam bidang drama dan teater, dsb.

    siswa yang tidak berbakat di suatu bidang akan memiliki prestasi yang biasa-biasa saja. kalau seandainya di suatu sekolah seluruh siswanya tidak berbakat berbahasa asing, tentu prestasi mereka dalam bahasa asing akan biasa-biasa saja. dan untungnya tidak semua siswa tidak berbakat berbahasa asing. siswa seperti inilah yang akan membantu perkembangan pemanfaatan bahasa asing dalam semua pembelajaran. siswa yang kurang berbakat akan belajar bersamanya. demikian juga siswa ini bila kurang berbakat dalam bidang lain ia akan belajar bersama siswa berbakay dalam bidang lain tersebut. sehingga akan terjadi saling mengisi antar siswa

    lalu apakah pembelajaran non bahasa Inggris menggunakan sistem bilingual menyulitkan siswa? anda perlu penelitian lagi, yang langsung bertanya kepada siswa, tidak hanya melihat catatan raport atau nilai UN. itu tidak obyektif dan tidak menggambarkan pola pikir siswa yang sesungguhnya.

    sekali lagi, apakah sistem bilingual menyilitkan siswa? jawabannya TIDAK. sudah setahun ini saya menerapkan bilingual, dan hasilnya tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya yang masih berbahasa Indonesia. artinya bahasa tidak memengaruhi kualitas belajar siswa. siswa yang berbakat dalam Science, apapun bahasa pengantarnya akan tetap berprestasi, sebaliknya siswa yang tidak berbakat dalam Science, diajari dengan cara apapun prestasinya tetap biasa-biasa saja

    jadi kenapa masih takut dengan RSBI, takut dengan bilingual, takut dengan TIK?

  17. Walaupun saya nanti kaya, saya tak mau menyekolahkan anak saya di RSBI. mending di sumbangkan pembiayaan itu buat anak-anak yg kurang mampu untuk sekolah. Toh materinya juga sama, cuma pake bilingual.

    Utk Science Teacer, ini bukan masalah takut atau gak bung. tapi mnurutku penggunaan bahasa inggris di seklah itu pun gak maksimal, ngapain juga kita berkiblat pakai bahasa inggris, toh itu bisa dipelajari di rumah atau kursus.

    hanya katena bilingual TOK, kita harus mengeluarkan biaya 2x lipat. sangat boros dan pantas kesenjangan di Indonesia terlihat jelas. wong guru2nya saja (kayak anda) tak melihat kondisi ekonomi pendidikan di indonesia -_-

  18. saya setuju dengan Sdr/i Elly, klo cuma utk tiap belajar pake bhs inggris aja disekolah kenapa harus pake RSBI, lebih baik anak saya di kursuskan ditempat yg memang bonafit di bidang BHS inggris (kenapa harus disekolahnya) trus dapet legalitas sertifikatnya dengan kualifikasi matapelajaran yg memang sudah terakreditasi dari lembaga tsb…lalu klo cuma tiap siswa minat dimasing masing mata pelajaran, lebih baik kita arahkan untuk bidang tersebut diluar daripada didalam sekolahnya, dibimbing dengan orang luar lebih baik daripada didalam sekolahnya

  19. Itulah orang indonesia, ingin menguasai semuanya tapi otaknya kagak mampu, kan percuma buang2 waktu. Coba sekolah itu dari SMP sudah dijuruskan pada kemampuan siswa masing2, kan nanti siswa jadi handal dalam bidang yg ia sukai.,tidak setengah2 seperti ini. Contohnya saya, kluar dari SMA bingung entah apa yg saya bisa andalkan, smua pelajaran saya kuasai hanya setengah saja. Bdaa dgn teman saya yg ada di amerika,dia kluar dari SMA sudah andal dalam bidangnya lalu ia lanjut kuliah hanya untuk memantapkan dan meraih gelar saja. Sampai kapan pun indonesia akan selalu jadi negara yg bobrok kalau tidak merubah sistem pendidikannya. Tidak perlu Selogan RSBI, yg penting sistemnya yg diperbaiki.

  20. Saat ini, saya dan istri sedang mencari sekolah untuk anak kami. Tulisan ini dalam banyak hal telah memberikan informasi yang bermanfaat. Terima kasih.

  21. Guru Science sejati semestinya tidak paranoid dan tidak alergi dengan bahasa asing apalagi bahasa Inggris dan bahasa Latin dalam pembelajaran. Sebab hampir semua referensi Science tersedia dalam bahasa Inggris (selain Jerman, Perancis, dan Latin). So, apalagi kalau bukan paranoid. Apakah Anda semua menganggap belajar bahasa Inggris cukup lewat kursus? Saya yakin Anda yang bilang begitu tidak pernah secuilpun mengikuti kursus bahasa Inggris. Berapa durasi pertemuan kursus bahasa Inggris? Bandingkan dengan sekolah. Ibarat bumi dengan langit. Semestinya, di sekolah belajar bahasa Inggris masih ditambah kursus bahasa Inggris. Itu baru joss.

    Sebetulnya tidak ada yang komplain dengan RSBI kecuali pada bahasa Inggrisnya. mereka lebih suka mendengar anaknya berkata: ” Maa, aku pusing sekolah pakai bahasa Inggris”, ketimbang ” Maa, ternyata belajar pakai bahasa Inggris menyenangkan”

  22. Hihihi….
    cukup tergelitik membaca tulisan ini beserta komentar2 yang sudah masuk,
    seolah olah isinya tentang kisah seorang guru bahasa inggris yang curhat tentang susahnya mengajar bahasa inggris, apalagi mengajar mapel sains dengan bahasa inggris… O.o
    Hihihi, selesai baca artikel ini saya sebagai pembaca menangkap isinya jadi seolah-olah ada orang yang punya pengalaman buruk dan mungkin amat sangat buruk dengan pelajaran sains dikombinasikan dengan pendapat kalo belajar pakai bahasa inggris itu susah (cuma orang malas yang punya pendapat kayak gini), dibumbui dengan contoh2 buruk pelaksanaan RSBI.
    ya… Jadinya seperti RSBI diserang habis habisan, seperti orang yang sudah taklid akan keburukan RSBI, jadinya seolah olah RSBI itu tidak ada baiknya….
    setelah baca di bagian paling bawah artikel ada identitas kalau si empunya tulisan punya jabatan sebagai ketua, tambah geleng geleng kepala saya…
    padahal yang kurang disukai di masyarakat dari rsbi tidak banyak, seperti
    –> Biaya mahal
    –> Bagi yang punya anak malas pasti bosen denger anaknya susah belajar pake bahasa inggris
    –> Guru yang malas mengUpgrade skil mengajarnya pasti ogah belajar mengajar pake bahasa asing
    –> Iri gara gara gagal diterima masuk rsbi/sbi terus jadi ilfeel sama yang namanya rsbi

    Hihihi….
    faktanya RSBI adalah produk prematur tak bisa di elakkan. namun juga tidak senaif yang dituliskan artikel diatas…
    faktanya bicara memang mudah, ngrasani juga memang enak… Tapi kalau kita sudah/sedang berkecimpung dalam RSBI mungkin kita pikir mau bicara buruk-baik masalah rsbi, soalnya Kita bicara buruk, artinya kerja kita gak bener, kalo bicara baik, Ya.. kurang pantas lah masak muji2 hasil kerja sendiri…
    dan mungkin akan lebih baik jika si empunya tulisan memberikan ide/ gagasan bagaimana cara mengembangkan dan menyempurnakan program RSBI yang ada di indonesia, bukan cuma menulis opini dan menghujat, seolah olah punya ide paling benar dan berlagak sebagai peramal bilang “besok ini pasti gagal bung”… -,-
    bad ending untuk tulisan yang ditulis oleh seorang yang menyangdang predikat ketua organisasi profesi.

  23. salut untuk yg menulis artikel atau petisi ini..ini perlu jadi kritikan buat pendidikan negeri ini….ia….memang di sby sendiri ..masih dragukan bahkan menutup sekolah rsbi bila memang tak mampu menghasilkan kualitas lulusan yang sama dengan luar negeri….untuk teacher science.maaf…mungkin anda tak menemukan ada fenomena di daerah jauh dari ibukota memang sangat lambat untuk mau belajar bahasa lagi…karena beban mereka sudah terfokus untuk pengembangan profesi mapel mereka sendiri….sehingga sedikit skali perhatian untuk blajar kemampuan di luar mereka….seperti bahasa inggris….tak ada salahnya memang tak harus berbahasa inggris….kita memang harus melestarikan bahasa indonesia sendiri….tanpa meninggalkan kualitas pendidikan terbaik….

  24. Kalau memang ada saya ingin sekali mendatangi SEKOLAH NEGERI yang mengajarkan science dalam bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Kalau pun ada pasti gurunya pinjam dosen yang pernah ke luar negeri bukan guru asli sekolah itu. Kalau sekolah internasional yang elit-elit itu saya percaya karena baik guru dan siswanya biasanya memiliki kompetensi bahasa Inggris yang bagus . Kalau ngajarnya pakai bahasa Indonesia lalu dicampur-campur sedikit bahasa Inggris, itu bukan bilingual namanya Mas/Mbak! Saya pernah mengajar bahasa Inggris di PT 2 tahun, di perusahaan 10 tahun, dan di sekolah menengah 7 tahun, genap 19 tahun tapi belum pernah melihat guru science mengajar dalam bahasa Inggris. Yang sering saya temui adalah guru bahasa Inggris tapi bahasa Inggrisnya “belepotan atau pating pecotot gak karuan” dan itu mestinya yang harus diperbaiki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *