Jumat, 08 Agustus 2020
Just another WordPress site
Anak TK Tidak Boleh Diajari Membaca?

Pagi ini ada acara silaturrahmi orang tua siswa sekolah anak kami dan salah satu acaranya adalah ceramah tentang pendidikan yang disampaikan oleh Prof Suharyadi dari UI. Ceramahnya disampaikan dengan sangat menarik karena beliau pandai berkomunikasi dan suka humor.

Tapi ada hal yang disampaikan beliau yang mengganjal pikiran saya. Sebetulnya saya pingin berdiskusi dengan beliau tapi beliau terburu-buru ada acara lain sehingga pertanyaan saya ini terpaksa saya lemparkan ke milis ini. Saya berharap bisa memperoleh jawaban.

Pada ceramahnya beliau mengatakan bahwa batas usia masuk SD yang ideal adalah 7 tahun. Yang menjadi pertanyaan saya adalah : Apa dasar penentuan usia tujuh tahun tersebut? There should be argument behind this. Sebenarnya pertanyaan ini sudah lama menggoda saya tapi belum pernah dapat jawaban yang memuaskan. Tentunya penentuan batas usia tersebut tidak muncul begitu saja tapi memiliki argumen di belakangnya. Mungkin ada teman milis yang bisa menjawabnya. Terus terang pada saat ceramah argumennya tidak muncul sehingga pertanyan ini kembali menggoda saya.

Selain itu ada pernyataan beliau yang juga menggoda saya. Beliau mengatakan bahwa jika ada anak yang sampai usia tujuh tahun belum bisa membaca maka para orang tua semestinya berbahagia karena itu yang benar. Pernyataan ini tentu saja sangat provokatif dan mungkin bertujuan untuk ‘menenangkan’ sebagian orang tua yang mungkin anaknya belum juga bisa membaca meski sudah berusia tujuh tahun. Saya sulit menebak kemana arah dari pernyataan tersebut dengan Sayang sekali bahwa tidak terjadi diskusi mengenai hal ini setelah ceramah tersebut.

Pernyataan lain yang juga saya anggap ‘provokatif’ adalah bahwa sebelum usia tujuh tahun anak jangan diajarkan untuk membaca karena akan membuat otak anak justru tidak bisa berkembang dengan optimal. Saya tentu tidak meragukan kemampuan intelektual beliau apalagi beliau adalah dosen UI dengan gelar professor tapi pernyataan semacam ini tentunya membutuhkan argumen yang bersifat akademis, yang sayangnya tidak muncul karena memang bukan forumnya. Saya terus terang jadi penasaran.

Baca juga:  MENGAJAR KEWIRAUSAHAAN ATAU MENCETAK WIRAUSAHAWAN...?! (Part 1)

Penelitian tentang kecerdasan anak belakangan ini semakin lama semakin meneguhkan adanya masa ‘usia emas 1 s/d 5 tahun’ bagi perkembangan otak anak, baik otak belakang-muka, kiri maupun kanan dan orang tua yang meyia-nyiakan masa usia emas tersebut dianggap akan merugikan perkembangan mental anak di masa-masa berikutnya. Tentu saja pro dan kontra tentang ini sangat riuh-rendah dan banyak diantara kita yang bersifat ‘wait and see’ dan banyak yang bersikap ambil aman daripada terjadi apa-apa nantinya. Tetapi pernyataan bahwa anak baru siap dididik pada usia tujuh tahun bagi saya adalah ‘out of date’ dan patut dipertanyakan argumentasinya.

Pernyataan ini mungkin dipicu oleh keprihatinan dalam melihat betapa sekolah sebagai tempat belajar secara formal ternyata telah menjadikan proses belajar menjauh dari proses bermain yang sebenarnya merupakan sumber inspirasi dalam belajar bagi anak-anak. Anak-anak telah dipisahkan dari proses bermain yang merupakan wahana bagi mereka dalam belajar dan meningkatkan kecerdasan. Dengan menekankan rasionalitas dan logika semata dalam proses belajar , terutama pada anak-anak, memang akan mengerdilkan kemampuan anak dalam belajar. Anak-anak di Taman Kanak-kanak (Kindergarten) belajar melalui bermain. Bermain bukanlah konsep yang terpisah dengan belajar.

Pernyataan beliau bahwa otak belakanglah yang menentukan kecerdasan seseorang juga perlu dipertanyakan. Kecerdasan nampaknya lebih ditentukan oleh otak bagian depan, yang kita kenal dengan otak kiri dan otak kanan. Otak bagian belakang ‘cuma’ berperanan penting dalam mengatur pernapasan dan koordinasi gerakan tubuh, atau yang disebut dengan ‘kegiatan vegetatif’ (“Revolusi IQ/EQ/SQ : Antara Neurosains dan Al-Qur’an. Taufiq Pasiak hal 72). Menurut ‘Tiga Otak’ Paul McLean otak belakang termasuk dalam Otak Reptil (Batang Otak) yang memiliki fungsi motorik sensoris, kelangsungan hidup(makan, minum,reproduksi, tempat tingal), dan respon lawan atau lari (ibid. hal 134).

Baca juga:  GERAKAN LITERASI SEKOLAH DI SMPN 1 MADIUN

Mungkin yang dimaksudkan oleh beliau adalah bahwa keberhasilan dalam pemikiran dan akal dikemudian hari ditentukan pada tahap perkembangan motorik yang banyak ditentukan oleh otak belakang ini. Tahap perkembangan motorik memang memiliki pengaruh yang sangat besar dalam tahapan perkembangan dalam berbicara, membaca, atau pemikiran logis lainnya.

Satu hal lagi yang menjadi pertanyaan saya adalah ketidaksetujuan beliau terhadap anak TK yang belajar membaca. Meski ini bukan hal yang aneh tapi tidak jelas apa yang menjadi keberatan beliau. Apakah karena materi belajar membaca (mengenal huruf sampai bisa membaca kalimat dan paragraf) dianggap belum mampu untuk dicerna oleh intelektualitas anak sehingga dikuatirkan akan dapat membuat otak anak menjadi terforsir dan dapat menjadikannya kelelahan (fatigue) dan memperngaruhi perkembangan intelektualitas mereka kelak, ataukah proses dalam belajar membaca tersebut dikuatirkan akan menjadi begitu formal dan terstruktur sehingga seolah tercerabut dari dunia anak yang semestinya lebih kepada bermain, suatu proses yang ‘memaksa dan’membebani’ anak secara mental? Kita mesti jelas dalam hal ini agar kita tidak salah dalam menganalisa permasalahan. Sekedar mengingatkan, otak kita telah berkembang 80% pada usia 5 tahun dan dianggap telah mencapai sempurna 100% pada usia 8 tahun sehingga menunggu otak berkembang sampai sempurna dulu baru dilatih tentu merupakan hal yang mubazir.

Satu hal yang paling ‘mengganggu’ saya adalah pernyataan bahwa ada peraturan yang menyatakan bahwa anak TK TIDAK BOLEH diajar untuk membaca. Sayang sekali tidak jelas peraturan tersebut tercantum dimana karena tentu saja peraturan tersebut patut dipertanyakan. Apakah memang benar ada peraturan tersebut dan dimana kita bisa melihatnya?

Sekedar untuk menutup ‘uneg-uneg’ saya perlu saya sampaikan bahwa Prof. DR. Dedi Supriadi, Guru Besar Universtas Pendidikan Bandung, dengan tegas menjawab bahwa anak usia dini dapat diajari membaca, menulis, dan berhitung ketika ditanya pendapatnya tentang kontroversi bisa tidaknya anak usia dini diberikan materi pelajaran. Bahkan menurutnya anak usia dini dapat diajar tentang sejarah, geografi, dan lain-lainnya. Pertanyaannya bukan lagi apakah seorang balita bisa diajar membaca atau tidak tapi BAGAIMANA MENGAJAR ANAK BALITA MEMBACA. Di Jepang dan negara-negara maju lainnya anak-anak telah diperkenalkan untuk membaca sejak mereka masih Pra-TK dan kita yakin bahwa bangsa Jepang tentu tidak ingin ‘mengorbankan’ anak-anak mereka jika mereka tahu bahwa belajar membaca tersebut akan berakibat buruk bagi anak-anak mereka di masa depan.

Baca juga:  Gerakan Literasi Sekolah di Subang

Wallahu alam bissawab.

Komentar dan pendapat teman-teman saya harapkan.

Wassalam

SD

0 tanggapan untuk “Anak TK Tidak Boleh Diajari Membaca?”

  1. agorsiloku berkata:

    anak saya belajar membaca umur 4-5 tahun, sebelum masuk TK. Pingin sendiri, ayah dan ibunya juga “bosan” terus harus membacakan cerita untuk anaknya. TK umur 5 tahun sudah mulai bisa baca. Lha, anak saya kok nggak bodo-bodo amat. Kemarin ikutan test pra toefl sih di lembaga penyelenggara. hasilnya lumayan, dapat 643, padahal nggak pernah ikut kursus bahasa. Bapaknya nggak bisa ngajarin, karena cuma bisa basa medok daerah saja. Jadi, kesimpulan saya, biarkan anak memilih yang disukainya. Belajar membaca karena suka dan menikmatinya….

  2. Farida ch berkata:

    Mungkin saja pak prof itu menyoroti pend. Tk yang kini kelewat batas, karena banyak TK yang membebani anak dengan ‘bacaan’ tak bermakna minus gambar ditambah diberi PR hitungan dan menulis sampai harus rapi banget…Coba aja tengok anak-anak TK sekarang. Sibuknya sudah kayak anak SD. Tapi…kalau pernyataan pak prof itu ditafsirkan langsung seperti apa adanya, saya juga ga setuju. Saya pernah baca, bahwa sejak dini..malah dari sejak bayi harus dikenalkan dengan bacaan. Tentu bukan membaca huruf..tapi diberi gambar-gambar menarik yang sesuai dg dunia mereka. Efek pengenalan itulah yang membuat mereka merasa perlu bisa baca sendiri. Jadi tak ada paksaan dan target tertentu. Yang terjadi skrg ..banyak SD yg ga mau nerima kalau lulusan TK belum bisa baca. Mgkn itu yang bikin pa prof buat pernyataan kontroversial.

  3. dewi berkata:

    sekarang sudah ada cara mengajar balita membaca dan berhitung sambil bermain. orang tua pun hanya perlu waktu kurang dari 10 menit sehari untuk melakukan aktifitas ini. Cara yang fun dan membuat anak lebih cerdas dengan metode sangat sederhana. Silakan mampir ke kartupintar.blogspot.com

  4. Riri berkata:

    Saya tinggal di Switzerland dan anak saya waktu ditaman kanak-kanak mendapat peraturan seperti itu, orang tua tidak diperbolehkan mengajar anak membaca atau menulis dan itu peraturan pemerintah loh. Tetapi anak saya sangat berkeinginan dan mencoba mengenal huruf dimasa taman kanak-kanak karena sejak umur setahun kami selalu membacakan buku untuknya dan juga pada usia 4 tahun kami membacakan buku cerita anak sebelum tidur. Di sini anak masuk kelas satu pada usia 7 tahun dan anak-anak yg memulai tanpa mengenal huruf dan angka sebagian besar menjadi masalah karena terlalu berat untuk anak tsb karena di TK hanya bermain. untuk sementara menjadi topik oleh pemerintah untuk mengenal huruf dan menulis sejak taman kanak-kanak. Pendapat saya sebagai ibu kita tidak boleh memaksa anak untuk belajar tetapi kita dapat mengarahkan anak untuk mengenal huruf dan angka serta belajar sambil bermain sehingga anak itu tidak merasa terpaksa, dimana paksaan atau tekanan menyebabkan anak menjadi pasif atau tidak kreatif. Pada saat disekolah mereka tidak dapat belajar berdiri sendiri sehingga selalu harus dibantu oleh orang tua, yang sebenarnya anak itu dapat belajar dengan sendirinya. Dan setiap anak mempunyai kepandaian yg berbeda beda karena antara aktif di otak kiri atau di otak kanan ada juga kedua-duanya. Bila anak semasa satu sampai lima tahun kita sebagai orang tua tidak boleh terlalu mengkritik atau melarang didalam hal yang positif. karena dapat membuat anak tersebut tidak termotifasi dan tidak kreatif. kita dapat mengarahkan anak untuk senang membaca dan menyukai masuk sekolah. apabila kita menyiapkan dan mengarahkan tanpa memaksa anak untuk belajar menghitung atau membaca anak akan termotifasi untuk bertanya akan keingintahuan dan anak tidak merasa terpaksa untuk mempelajari sesuatu. tanpa pengarahan juga membuat anak hanya bermain sampai usia 7 tahun ada efeknya anak tersebut tidak dapat duduk diam konsentrasi dan tidak tertarik terhadap sekolah dan merasa terbeban untuk belajar membaca, menulis dan menghitung. anak tersebut menjadi nakal dan motorik juga terlambat. pengertian didlm komunikasi juga terhambat. dan anak diusia satu sampai lima sangatlah berperan jangan dimanja denga materi atau kasih sayang yg berlebihan. anak diusia ini masa untuk memberikan kelembutan rasa nyaman, perhatian dan batas-batas dimana sebagai usia tersebut untuk belajar apakah diperbolehkan atau tidak, berbahaya atau tidak pada usia inilah sangat diperlukan dan banyak menjelaskan atau menerangkan karena anak dapat belajar tanpa dipukul atau dibentak. kemanjaan hanya membuat anak tidak hormat pada orang tua atau pada orang lain hanya membuat egois dan lemah. Sekian pengalaman saya sebagai ibu dg dua anak. Di eropa byk org tua yg tidak punya waktu untuk anak dan banyak anak yg dimanja dengan materi dan pada usia 1-5 tahun tanpa batas akibatnya banyak anak yang kurang ajar dan tidak hormat pada orang tua dan guru.
    dan banyak juga orang tua yang membirkan anak menonton TV dan Main Nitendo itu juga mempunyai efek sampingan tidak mempunyai perasaan/ rasa simpati. banyaknya kebrutalan pada usia remaja. menurut saya kunci untuk membuat anak lebih cerdas berilah perhatian dan kasih sayang lahir dan batin bukan dengan harta benda serta waktu untuk bersama-sama dan bukanlah orang tua yang berkuasa tetapi menjadi pantun untuk sianak.

  5. Satria Dharma berkata:

    Sayang sekali tidak dijelaskan alasan akademis mengapa anak TK tidak boleh diajari membaca di Switzerland. Saya juga bertanya-tanya bagaimana orang tua kok DILARANG mengajar anaknya yang masih TK (dibawah 7 tahun) untuk membaca. Mana mungkin ada peraturan yang membatasi seperti itu? Mungkin yang dimaksudkan adalah agar orang tua tidak memaksakan anaknya untuk membaca. It makes more sense.

  6. Reza Erdiansyah berkata:

    saya seorang mahasiswa tingkat akhir yang saat ini kebetulan sedang melakukan brbagai macam penelitian untuk tugas akhir yang kebetulan memiliki tema yang sama.
    saya sangat setuju sekali apa yang pa prof utarakan. apa yang beliau katakan semua tedapat di dalam beberapa buku psikologi perkembangan yang merupakan hasil pemikiran dari tokoh tokoh-tokoh besar psikologi perkembangan anak seperti plato, piagiet, jhon amus commenius dan masih angat banyak tokoh tokoh terkenal lainya.
    jadi menurut saya anda sbaiknya mencoba membaca beberapa buku psikologi sbagai refeensi shingga unek-unek selama ini bisa terjawab.

    -terima kasih-

  7. Sari berkata:

    Sebetulnya di Indonesia ini semua serba dilematis, disatu sisi tidak boleh, tapi disisi lain SD menuntut lulusan TK harus bisa membaca. Kebetulan saya mengajar di sebuah TK, dan itu terjadi di TK saya. banyak orang tua bingung Kebetulan TK saya tidak menekankan siswanya utk bisa membaca, tetapi ada yg perlu digaris bawahi bahwa TK saya memberi rangsangan kepada semua anak tentang huruf dan suku kata-suku kata, label atau logo dan hurufnya. kemudian memberitahukan mereka apa sich manfaat membaca, ketika anak sudah terstimulus, otaknya mulai terbuka sehingga dapat mudah menerima pemahaman akan perbedaan bunyi. Jadi mengapa di LN dilarang diajarkan membaca, karena membaca berkaitan dengan pemahaman logika, dan ini baru dimiliki oleh anak usia 6 s/d 12 thn. Tapi kita boleh memberi rangsangan dengan melalui tahapan2 sehingga anak tidak “belajar” tapi “bermain” tanpa sadar mereka akan paham perbedaan bunyi tersebut, yg merupakan gerbang awal utk membaca. Lebih bagus lagi kalau anak mulai diajarkan membaca iqro, karena disitu juga diajarkan perbedaan bunyi. Berdasarkan pengalaman, jika anak pemahamn iqronya bagus, maka membaca akan mudah dilakukan. Alhamdulillah di TK saya semua naka yg masuk jenjang TK B tanpoa sadar mereka sudah bisa membaca. Jadi kesimpulan saya kita sebagai ortu harus banyak memberi rangsangan tanpa anak merasa terbebani sampai mereka menyenangi dan paham bahwa membaca itu menyenangkan. selamat mencoba

  8. Mas Djo berkata:

    Assalaamu’alaikum
    Sebenanya sih sejak umu 1,5 tahun anak sudah bisa diajar membaca. Anakku umur 1tahun 10 bulan sudah tahu mana gambar kelinci, pepaya, nanas, sapi dll. Artinya anak sudah bisa membaca lambang. Huruf kan juga sebuah lambang to.
    Kami sedang mengembangkan metode pengajaran membaca (huruf latin) yang cocok untuk anak usia dini. Sebenarnya sih sudah diterapkan di paud dan tk temen, tetapi disini ada perubahan-perubahan.
    Intinya pengenalan bukan huruf per huruf, tetapi suku kata
    Salah satu contoh : a da ma ta
    namun di awal kita jangan langsung memaksa anak membaca kata. Tunjukkan dengan kartu atau board a, da, ma, ta. Di bolak-balik urutannya. Sehari cukup 5 sampai 10 menit (klasikal). Selanjutnya dikenalkan melalui permainan-permainan terintegrasi dengan kegiatan pengajaran di tk. Contoh, melompat. Buat 5 kotak di lantai dan ditulis suku kata a, da, ma, ta. anak duduk di kotak tengah, kemudian diberi aba-aba “lompat ke da, a dst.
    Dari pengalaman kami dan dalam waktu 3 bulan anak sudah bisa diberi bacaan (sesuai suku kata yang sudah dikenalkan). Ingat 3 bulan pertama tidak kita kenalkan ke buku, hanya lewat permainan-permainan.
    Alham dulillah buku panduan sudah hampir selesai disusun. Insya Allah akan kita cetak dan dipublikasikan supaya bermanfaat bagi orang banya

    Wassalaamu’alaium ww.
    Mas Djo

  9. Mas Djo berkata:

    email ku ingin tahu lebih banyak : kirim ke agrodjo@yahoo.com

  10. Lidya berkata:

    Anak balita (dibawah 7 tahun) belum boleh dipaksa belajar calistung karena pd usia tsb, anak2 masih masanya untuk bermain. Karna itu, terapkan saja metode belajar sambil bermain sehingga belajar menjadi hal yg menyenangkan & tdk membosankan. Biarpun belum usianya belajar calistung, tp kalau kita selipkan unsur2 belajar calistung saat bermain..berarti secara tidak langsung si anak sdh mengenal calistung. Kesiapan anak utk menerima materi bukan ditentukan oleh faktor usia semata. Tapi kejelian org tua mendeteksi potensi & kondisi anak sehingga pendidikan bisa diberikan secara tepat & optimal.

  11. sri wahyuni berkata:

    Saya seorang dosen bahasa Indonesia di Universitas Islam Malang yang saat ini sedang menempuh program doktor di Universitas Negeri Malang. Saya termasuk salah satu orang yang sangat menyenangi dunia baca. Oleh karena itu, sejak dini anak-anak saya sudah berikan keterampilan membaca. Kalau menurut saya masalahnya bukan ‘apakah anak TK boleh diajarkan membaca’ tetapi yang terpenting adalah “bagaimanakah cara yang tepat mengajarkan anak membaca”. Anak saya pertama dapat membaca pada usia 4 tahun, anak saya kedua dapat membaca pada usia 4,5 tahun,dan anak saya ketiga dapat membaca pada usia 3 tahun. Saya membelajarkan mereka sesuai dengan KEMAMPUAN dan KEMAUAN mereka. Saya kira kemampuan membaca dapat dilatihkan pada anak sejak dini, bahkan sebelum mereka memasuki TK. Menurut penelitian Glenn (1998), membaca sudah dapat diajarkan pada balita, bahkan lebih efektif daripada sudah memasuki usia sekolah. Ia menemukan fakta, bahwa anak umur 4 tahun lebih efektif daripada umur 5 tahun, dan umur 3 tahun lebih mudah daripada 4 tahun. Jadi, makin kecil (usia balita) makin mudah untuk diajar karena balita bisa menyerap informasi secara luar biasa. Saat ini saya sedang menyusun buku membaca untuk balita dan anak dengan menggunakan paduan metode suku kata dan metode lembaga kata. Dengan metode ini,anak akan cepat membaca dalam waktu singkat dan tanpa paksaan.Buku ini saya program 2 bulan lancar membaca. Semoga buku ini nanti berguna khususnya bagi guru atau orang tua yang menginginkan anak mampu membaca sejak dini untuk menyiapkan generasi literat handal di masa mendatang. Dan semoga dengan kemampuan yang dimiliki ini merupakan jalan yang akan mengantarkan mereka mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna.

  12. dhamayanti berkata:

    Menarik bahasan dari bpk SD ini,mungkin sekedar berbagi pengalaman kepada teman teman yang lain, saya kebetulan mendirikan semacam tempat belajar untuk anak2 yang kurang mampu untuk ke TK krn masalah biaya, dan alhamdulillah saya mempunyai 100 anak didik, mereka rata usia 3 sd 6 tahun, kmdian saya dan teman membagi klas berdasarkan usia, anak 3 tahun dengan anak 3 tahun , 4 dan 5 dengan seusianya pun untuk anak usia 6 thn yang akan masuk SD. Hasilnya anak yang usia 3,4 cenderung lebih cepat membaca dibanding usia 5 tahun keatas. Kami tidak menggunakan metode2 yang muluk2, kami hanya membrikan kondisi yang nyaman saja buat anak ketika jam membaca mulai, hasilnya ketika jam membaca mulai anak2 dengan sendirinya mengantri kadang sampai rebutan karena mereka ingin membaca tidak 1 halaman saja tapi lebih.Semoga pengalaman ini bisa berguna buat teman2 karna bagaimanapun mengkondisikan anak yang akan kelak hobby membaca pun, itu lebih baik di mulai sedini mungkin.

  13. satriadharma berkata:

    Mbak Dhamayanti, sebaiknya pengalaman Anda ini ditulis dan dijadikan buku agar bisa dipakai oleh guru-guru atau orang tua lain yang ingin melakukan hal yang sama. Catalah perkembangan dari setiap anak sehingga ada dokumentasinya. Kalau bisa ambil foto-foto sebagai ilustrasi nantinya.
    Saya yakin buku tersebut akan laris. 🙂
    Salam
    Satria

  14. asih sofii berkata:

    yuk sharing2 di webku juga

  15. Warindra berkata:

    Salam kenal.. Meski saya telat nimbrung, tapi saya menganggap tema ini tdk pernah basi. Selalu ada update pendapat, teori, dan praksis. Mbak Damayanti, Mas Satriadharma, atau siapa pun boleh loh nulis pengalamannya. Saya mau dikirimi gagasan dasarnya dulu. Trus, kita diskusikan, nanti setelahnya baru ditulis. Tidak usah jadi buku tebal. Cukup 15.000 kata. Ini bakal jadi buku ringan untuk dibaca ortu sibuk sekalipun. Oh ya, saya editor buku keluarga dari sebuah penerbit di Yogyakarta. Kontak saya: keluarga-red@kanisiusmedia.com

  16. andre berkata:

    menurut saya anak TK nda’ pa2 di ajar membaca karena membaca dapat menambah pengetahuan anak dari tidak tahu menjadi tahu dan ada baiknya bila pengajaran tersebut dilakukan sejak dini.

  17. herman berkata:

    Saya seorang ayah,saat ini anak saya dikelas TK A,sampai saat ini anak saya masih sulit untuk bisa mengenal huruf dan angka secara lancar.Saya tertarik tentang buku yang ibu utarakan,dimana saya bisa memperolehnya

  18. aisyh berkata:

    kbtln saya juga slh satu pengajar di sbuah lmbga pendidikan kursus 3M (membaca, menulis, mtk) usia 3 – 6 thn yg berbasis teknologi. sbnrnya anak2 usia pra tk sampai tk boleh di ajarkan untuk membaca, kembali kpda fungsi dari seorang guru dan orangtua tidak memaksakan anak untuk bisa membaca krn setiap anak memiliki daya ingat yg berbeda, ada yg cpt menangkap ada yg lambat artinya buatlah seenjoy mngkn untuk mengajarkan membaca kpda anak shnga anak merasa apa yg diberikan ortu dan guru adalah bkn sebuah beban yg besar buat dirinya, justru di sini anak bisa lebih mengembangkan daya pikirnya dan beranggpn apa yg diberikan ortu dan guru adalh hal yg menyenangkan buat dirinya, bisa dgn berbagai cara yaitu permainan, nyanyian, visualisasi, dongeng dan yg lainny

  19. deby berkata:

    Anak saya umur 5 thn Tk B,termasuk anak yang teramat aktif dan tidak betah duduk di tempat, sedangkan di tk pelajaran nya begitu banyak dari jam 07.15 s/d 12.00.jadi anak saya sering bolos pada jam pelajaran malah main sepeda, saya keluarkan anak saya dari tk karna tidak ada kemajuan dan saya masukkan di kursus seminggu 4 kali,yang hanya ada 3 materi membaca menulis,berhitung dan bhs inggris dalam bentuk nyanyian,ada kemajuan sudah pintar menulis huruf2 dgn baik tanpa bantuan namun membaca dalam penyambungan kata belum bisa, yg saya mau tanyakan apakah saya salah mengeluarkan anak saya dari tk,dan bagaimana cara mengajarkan anak supaya dia dapat membaca ejaan nya karna anak saya sangat aktif.
    Anak saya betah berjam2 kalo kutak atik komputer dan hafal program nya,apakah baik buat anak yg senang berlama2 di komputer.
    Mohon bantuan nya,trimakasih.

  20. deby berkata:

    Manakah sekolah yang cocok untuk anak aktif apakah home scholling atau SD, saya agak bingung karna umur 6 thn rencana akan masuk sekolah dasar, karna anak saya sudah kepingin sekolah dan anak saya senang bermain dan agak jail dengan teman2nya dalam bentuk bercanda, dan suka mengkritik guru nya.Mohon bantuan,trimakasih.

  21. rakasatya berkata:

    Definisi membaca dan menulis itu apa ?
    Jika membaca itu berarti mengucapkan abjad a-z dan rangkaiannya hurufnya dan menulis itu menuliskan ulang abjad a-z dan rangkaiannya maka saya setuju dengan pendapat Prof Suharyadi dari UI.

    Apa hebatnya sih anak TK bisa menulis dan membaca ? Menambah pengetahuan ? pengetahuan apa yang maksimal diserap anak usia pra sekolah ? Paling kan hanya ranah pemahaman dan pengertian ? bukan analisa kan !

    Karena TK bukan Sekolah (pra sekolah) maka yang perlu diciptakan adalah kebiasaan2 yang nantinya bermanfaat di Sekolah (SD), misal : tanggung jawab, toleransi, disiplin, kerjasama dll.

    Yang harus dikembangkan oleh anak pra sekolah adalah kemampuan bertanya dan berpendapat. bereksploarasi dan berkreasi. Anak TK harus “fun and enjoy” kalaupun ada menulis dan membaca itu hanya pengenalan bukan kewajiban apalagi tuntutan.

  22. AYU WAHYUNINGTYAS berkata:

    Saya mahasiswi PGTK UNESA. Sebagai calon guru TK saya lumayan binggung juga menentukan sikap dalam menghadapi masalah pengajaran membaca pada anak TK.Namun menurut saya mengajarkan membaca pada anak TK itu sah-sah saja TAPI jangan sampai pengajarannya membuat tekanan bagi anak.Jadikan APE sebagai fasilitator jadi anak tetap bisa Belajar sambil bermain,Bermain seraya Belajar……………

  23. fiedra berkata:

    saya sangat setuju dengan pendapat prof UI yang mengatakan bhw anak ketika usia matang memasuki SD dan diajarkan baca tulis sesuai dengan beberapa penelitian para ahli. namun tidak dapat dipungkiri bhw anak yang memiliki tingkat responsivitas tinggi terhadap stimulus yang diberikan oleh guru atau orang tua akan membuat anak lebih dini untuk belajar membaca dan menulis. trend orang tua yang bangga ketika lebih dini anak bisa membaca dan menulis yang seperti itulah yang harus pelan-pelan diubah jika stimulus terhadap anak juga kurang. mereka pada umumnya membebankan tugas belajar anak kepada guru, padahal kita tahu bahwa anak berada di sekolah (TK) hanya 2 jam dan kebanyakan di rumah. beberapa penelitian membuktikan bahwa anak yang hidup di lingkungan atau suasana yang kaya dengan benda-benda cetak akan membuat anak terkondisikan tertarik dengan literasi (baca-tulis-pikir)
    “Buah kelapa jauh tidak jauh dari pohonnya”.Kalo orang tua senang membaca dan dilengkapi dengan fasilitas dan stimulus buat anak, WHY NOT?

  24. kaffah berkata:

    assalamu alaikum.
    menanggapi masalah anak Tk boleh atau tidak di ajari membaca memang sangat dilematis. karena banyak sekolah Tk di Indonesia sistem pengajaran mengajarkan membaca, menulis dan berhitung (CALISTUNG). kalau menurut hemat saya seorang anak haruslah enjoy dengan keadaannya maksudnya sesuai dengan tingkatan berpikir, bertindak dengan taraf sesuai dengan perkembangan pribadi anak. semua ada tahapannya. memang sebahagian pakar pendidikan menganjurkan agar anak usia TK belum saatnya di ajari calistung. adapun mengajarkan Aspek pembelaqjaran lainnya, seperti yang dituliskan geografi, sejarah, biologi dll. hanya sebatas introduction saja. dalam artian pengembangan konsep dasar saja. seperti mengajarkan kerbau misalnya. “ini kerbau, kerbau punya 4 kaki, 2 telinga juaga ada tandukna”. dst.Dan yang harus dingat usia mereka dalam bermain. bermain sambil belajar. jadi menurut saya lalui dengan tahapan. Beberap tahun lalu saya sempat bertanya akan hal itu dari beberapa tokoh diantaranya seorang teman Okupasi Terapis yang menangani anak- anak autis menurutnya bisa saja anak diajari membaca asalkan bukan otaknya yang dijejali maksudnya cukup dikenalkan aja. dan anaknya sudah bisa membaca dengan lancar pada usia 3,5 tahun. tokoh yang lain seorang kandidat doktor pendidikan mngatakan hampir sama dengan prof. suharyadi. dengan alasan riset yang mengatakan bahwa anak usia Tk yang diajari calistung. banyak mengalami gagal belajar pada saat dikelas 3 -5 SD. justru anak yang berkembang secara alami indeks prestasi belajarnya meningkat. memang kalau kita melihat dibeberapa Tk di Indonesia apalagi yang Mengarah kepada Sekolah bertaraf Internasional target pembelajarannya tinggi tidak sesuailagi dengan usia mereka, sehingga ynag terjadi “pemaksaan belajar” padahal dibanyak negara. pembelajaran usia Tk lebih berfokus pada pengembangan yang seimbang antara tiga ranah yang harus diterapkan seperti cognitive, affection & psychomotor. Ini yang harus dipersiapkan untuk anak-anak kita yang akan lanjut ke SD nantinya. Yang terpenting adalah motivasi kepada anak dan mengedepankan sistem belajar yang joyfull, smart & creative.

  25. 46er4ever berkata:

    Saya sih nggak banyak tahu teori mendidik anak. Saya sendiri ibu 2 orang anak. Saya cenderung membiarkan anak melakukan apa yang mereka suka, tapi saya sebagai orang tua tetap mengarahkan. Anak pertama saya tergolong cepat belajar membacanya, padahal dia baru bisa bicara di usia 3 tahun lebih, tapi anaknya sendiri memang ingin banget bisa baca dan proses belajar dari mengenal huruf hingga lancar baca terbilang singkat. Alhasil pada ulang tahun ke 5 si abang sudah lancar baca. Sementara adiknya lebih suka menggambar, termasuk menggambar huruf (menulis) jadi secara tidak langsung dia telah belajar mengenal huruf pada usia 3 tahun. Tapi karena sia adek tidak punya keinginan yang semenggebu si abang, ya sampai sekarang si adek belum bisa baca, tapi telah mengenal huruf.

  26. Hani berkata:

    Saya setuju dengan komentar bu Sri Wahyuni, bahwa yang terpenting adalah “bagaimanakah cara yang tepat mengajarkan anak membaca”. Sekarang ini sudah ada VCD atau software interaktif membaca usia TK, mengapa tidak dicoba menggunakan media tersebut yang sudah multimedia. Kalau VCD ada beredar di toko-toko, namun untuk software interaktif masih sedikit.

    Untuk software interaktif belajar membaca, saya menemukannya di http://www.mediabelajarplus.com
    Isinya memadukan antara belajar membaca dengan permainan, di samping itu untuk versi yang berbeda menerapkan metode IQRA tetapi lebih menarik dari buku karena di dalamnya memasukan multimedia (teks, suara, gambar/animasi/video)yang terkait dengan bacaan baik kata atau kalimat. Gambar/animasi itu sangat menarik bagi anak. Gambar/animasi merupakan pengenalan objek benda dan jelas akan menambah wawasan dan pembendaharaan kata bagi anak. Anak akan termotivasi dengan sendirinya untuk mulai belajar membaca dari objek-objek gambar/animasi tersebut. Setiap objek tersebut tentunya terkait dengan kata-kata/kalimat yang bermakna. Jadi tidak pelu lagi paksaan yang mungkin akan berdampak negatif bagi anak.

    Dengan demikian saya setuju, bahwa yang terpenting adalah “bagaimanakah cara yang tepat mengajarkan anak membaca”.

  27. Saya sedang merintis program sekolah buat Balita.. Saya punya murid bimbel Tk.. Di sekolahnya ketika saya perhatikan pelajarannya sudah sperti di SD.. Namun ketika saya ajak mereka belajar… Mereka hanya mampu konsentrasi 15 menit saja.. Sebetulnya dalam mendidik anak dimaulai dari dalam kandungan.. namun jangan diartikan sempit bahwa harus mengajarkan mereka sekedar baca tulis saja.. namun harus diartikan dalam arti luas..

    Melatih anak agar suka dengan buku supaya nantinya terbiasa membaca, maka orang tua dalam hal ini Ibu.. Sejak menganung harus terbiasa membaca walaupun hanya beberapa menit saja.

    Melatih anak sesudah dilahirkan… dengan mendengarkan bacaan-bacaan.. entah itu music, cerita, atau apa saja yang sifatnya mendidik dengan menggunakan media kaset, radio, televisi dll. karena bayi meski belum bisa bicara, mereka sudah bisa merekam setiap kata demi kata atau kalimat.

    Untuk melatih anak yang sudah menginjak 1 tahun… ndak masalah diberikan buku2 bacaan yang ada gambar-gambarnya.. dan ketika mereka sudah bisa bicara.. latih mereka dengan cara hafalan kosa kata.. seperti ba bi bu be bo dll… Keponakan saya di usia 2 tahun sudah hafal kosa kata dari ba bi bu be bo sampai ya yi yu ye yo..

    Nah baru ketika usia 3 tahun.. mulai diperkenalkan huruf demi huruf…

    Namun buat suasana belajar mereka menyenangkan, agar mereka tidak merasa terpaksa belajar…..

    Jadi sejak usia dini tidak apa-apa mulai belajar.. namun kalau bisa mesti bertahap. agar anak tidak merasa terbebani.

    Hal ini berdasar pengalaman saya saja.

  28. Oya buat Bu dhamayanti boleh donk share pengalamannya di email saya.. rb.bumicendekia@gmail.com

  29. zefira berkata:

    ass menurut sy kapan seseorang itu bisa membaca bukan hal yang penting karena tidak pernah ada menanyakannya ketika dewasa nanti. Karena itu sy lebih memilihkan anak saya sekolah di tk yang nantinya menjadi tempat bermain yang menyenangkan,tempat pertama yang mengajarkannya menjadi anak yang percaya diri,dan kreatif. Dan sampai saat ini anak saya belum mengenal PR. Karena sy tidak mau menciptakan robot yang hanya bisa menghapal tapi anak yang pintar dan bermental kuat.

  30. LISNAWATI RUHAENA berkata:

    saya ikut nimbrung juga nih…. karena topiknya terkait dengan bidang yang saya dalami dalam pendidikan S3 saya. Menurut penelitian-penelitian di jurnal yang saya pelajari trend saat ini lebih menekankan pentingnya stimulasi kemampuan baca tulis secara dini oleh orangtua dirumah agar anak lebih siap mengikuti pembelajaran baca tulis secara formal di sekolah. Paandangan filosofinya adalah perkembangan berkelanjutan (developmental continuum). Dengan demikian distimulasi minat dan potensi anak secara dini memang harus bersifat menyenangkan dan sambil bermain.
    Sedangkan pandangan yang mengatakan anak tidak boleh diajarkan baca sampai usia 7 tahun, mereka lebih mengikuti pandangan filosofis kesiapan membaca (reading readiness) yang menekankan anak harus matang dulu sebelum belajar mbaca.
    Saya sendiri lebih setuju dengan filosofis perkembangan berkelanjutan, dan saat ini sedang meneliti bagaimana perkembangan baca tulis awal/dasar yang istilahnya disebut emergent literacy pada anak prasekolah.
    Kontroversi ini memang tterjadi juga pada para peneliti dan pakar pendidikan baca tulis anak.

  31. indah yuliani berkata:

    “Di Jepang dan negara-negara maju lainnya anak-anak telah diperkenalkan untuk membaca sejak mereka masih Pra-TK dan kita yakin bahwa bangsa Jepang tentu tidak ingin ‘mengorbankan’ anak-anak mereka jika mereka tahu bahwa belajar membaca tersebut akan berakibat buruk bagi anak-anak mereka di masa depan.”

    Saya bermaksud untuk meluruskan mbak, berdasarkan pengalaman saya membesarkan anak2 usia TK/pra SD di jepang.
    Mungkin lebih tepat kalau, di Jepang anak-anak diperkenalkan dengan buku sejak mereka masih Pra-TK, dan buku-bukunya adalah buku bergambar (e-hon), yang isinya hewan-hewan, kebiasaan-kebiasaan baik, budi pekerti. Jadi menimbulkan kecintaan anak pada buku. Bukan membaca alfabet.
    Buku2 bergambar utk anak2 tsb biasanya di cover depannya ada panduannya untuk anak usia berapa. Banyak juga buku utk anak usia 0-1thn. Ada juga yang disertai dengan bunyi2an, misalnya e-hon hewan disertai dgn bunyi2an gonggongan anjing or suara hewannya.
    Pada anak usia 6 bln, program pemeriksaan kesehatan balita yang diadakan di pusat kesehatan ibu anak (gratis), setelah pemeriksaan kesehatan anak diberi sebuah buku bergambar gratis, dan orang tua diajari bagaimana caranya membacakan buku pada sang anak.
    Di sekolah TK dan Daycare (youchien dan hoikuen) tiap bulan anak2 membeli buku e-hon via sekolah (mimichan, hikari no kuni dsb). Dan materi utamanya adalah pembiasaan kebiasaan2 baik dalam kehidupan sehari-hari.
    Sekali lagi bukan “membaca” sebagaimana anak2 TK dan pra-SD wajib baca-tulis seperti di Indonesia.

  32. indah yuliani berkata:

    maaf, ata kesalahan penyebutan “mbak”

  33. wahyu berkata:

    Anak saya 4, tiga diantaranya ‘dipaksa’ membaca pada usia dini, ketika masih di tk ( dan sempat stres ! ). Itu akibat ibunya khawatir kalau tidak kebagian sekolah favorit, yang rata-rata saling berlomba ‘memanfaatkan’ kesempatan dalam kesempitan, ditengah kebingungan orang tua. Dari sekian puluh comment yang masuk, belum ada yang menyinggung signifikansi korelasi antara ‘bisa membaca’ diusia dini dengan pembentukan karakter di usia dewasa. Padahal, itu lebih esensial dibanding sekedar memperbincangkan cara mengajar anak membaca. Coba mari kita tengok perkembangan mental kepribadian bangsa kita, lebih majukah dibanding para pendahulu2nya, yang dengan susah payah mendirikan republik ini. Padahal, notabene mereka tidak pernah mengenal huruf ketika usia dini. Bahkan kebanyakan baru belajar mengenal huruf di SD ( dulu SR ). Ironisnya, 9 diantara 10 orang tua akan merasa bangga jika anaknya sudah pandai membaca ketika masuk SD, dengan berbagai metode tentunya. Itulah rupanya yang menjadikan pak profesor cemas. Pertanyaannya, dikelas 1 SD mereka belajar apa ? Payahnya lagi kurikulum SD sejak awal memang didisain baru mengenalkan huruf di kelas 1. Kalau toh materi membaca akan diberikan di TK, mestinya institusinya diubah namanya menjadi Sekolah Anak2, bukan TAMAN ( namanya saja taman, tempat bermain ! ). Disini patut disimak pendapat mas rakasatya dan mbak indah yuliani. Jadi, prinsipnya saya setuju dengan sebagian besar pendapat, bahwa pengenalan huruf BOLEH dilakukan pada usia dini, asal dalam atmosfir yang diciptakan secara BERMAIN. Tentu, konskwensinya kondisi lapangan harus disiapkan lebih dahulu, terutama para pengelolanya. Kalau tidak, saya khawatir 10 th kedepan kita hanya akan menciptakan orang2 yang PINTAR tetapi tidak CERDAS sosio kultural-nya ( lihat kasus Gayus dll ), justeri pintar bermain, ketika harus berpikir serius,

  34. Artikel menarik..Blog yang keren…. Senang saya mengunjungi blog anda.
    Saya juga punya sebuah blog yang berisi parenting tips dan kumpulan lagu pendidikan anak. Ada juga lagu untuk belajar membaca dan pelajaran yang lain,. Tentunya untuk membuat anak menjadi lebih cerdas dan kreatif.
    Silakan berkunjung ke blog saya di http://www.lagu2anak.blogspot.com
    Salam kenal. Kak Zepe

  35. Agus Sukyanto berkata:

    Belajar membaca dan berhitung pada usia dini memang sesuatu yang dapat diperdebatkan. Mungkin yang bisa lebih disederhanakan adalah bahwa bagaimana teknik “mengajarkan” calistung pada usia dini tersebut. Bila calistung di usia dini disesuaikan dengan perkembangan psikologi anak, tentu sah sah saja. Ajarkan saja anak calistung sebagai bagian dari kegiatan bermain yang menyenangkan bagi anak, bukan sebagai MATA PELAJARAN sebagaimana anak SD. Berikan pada anak apa yang dia mau dan jangan memebebani anak di luar batas kemapuannya.

  36. nadiya berkata:

    Maaf saya telat bergabung, tapi menarik sekali berbagai pendapat yang ada mengenai hal ini. Yang disayangkan, apapun idealnya pemikiran kita, sayangnya tidak sejalan dengan sistem pendidikan di Indonesia saat ini. Tidak dapat dipungkiri tetap sistem SD yang ada saat ni “memaksa” anak untuk harus bisa baca tulis hitung, sehingga mengajarkan calistung pada anak bukan bersifat “Pengenalan”, tapi “kewajiban “. Ini yang menyedihkan.

    Mohon bantuannya secara statistik, berapa banyak SD yang mau menerima murid baru yang tidak mahir calistung? (baru mengenal huruf dan mengenal angka) ? Apalagi di sekolah SD favorit. Padahal buku-buku SD kelas 1 sudah mewajibkan untuk membaca dan mengerti arti soal yang ada. Mungkin ini yang membuat orang tua saat ini khawatir. Namun demikian, saya setuju pengenalan calistung itu perlu tanpa harus ada dogma bahwa calistung tersebut adalah syarat masuk ke SD

  37. Anita berkata:

    Menurut saya, bukan boleh/ tidak boleh anak diajarkan membaca pada usia TK (pra-SD). Tapi pada siap atau tidak siap anak tersebut belajar membaca (termasuk menulis & berhitung).
    Anak kami (usia 3.5 tahun), saat ini sdh mulai bisa membaca kata sederhana & menulis huruf & angka. Semua ini terjadi krn dia selalu ingin tahu apa yg kami tulis & apa yg kami baca. Dia sendiri yg meminta diajarkan menulis, padahal di sekolahnya (masih playgroup) belum diajarkan menulis & membaca. Apa daya, tidak mungkin saya tolak keinginan seorang anak utk belajar. Karena menurut cerita ortu saya, saya sendiri lancar membaca kalimat di usia 4 thn. Itupun karena saya tertarik sekali dengan komik yang suka dibaca oleh tante saya. Sehingga saya meminta untuk diajarkan membaca. Menurut saya tidak apa-apa jika anak sendiri sudah siap untuk belajar asalkan bukan dipaksakan.
    Untuk kasus anak saya, saya menyimpulkan anak saya sudah siap utk belajar menulis & membaca, karena smua itu keinginan dia sendiri. Karena dalam mendidik anak, saya selalu melihat kesiapan anak. Bahkan karena saya hobi isi TTS anak saya pun tertarik ingin mengisi TTS, terkadang dia ikut mengisi huruf2 pd kotak2 TTS tersebut, walaupun bukan itu jawaban yg benar. Tapi rasa ingin tahunya sangat besar. Rencananya saya sedang menyusun TTS utk anak2 TK.

  38. liza umami berkata:

    wah kalo anak tk ng boleh di ajarkan baca bgaimana ya?saya kurang setuju,ank saya umur 3thn dah bisa baca cerita,dr umur 1thn belajar kmpt mengenal angka,huruf,sampe saya baru sadar bisa baca krn keseringan main kmpt yg di situ di ajarkan pelajaran edukatif,skrg udh umur 4th dan sdh bisa baca cerita pendek,berhitung penjumlahan,(belum masuk tk)jdi saya arahkan untuk ikut TPA dia belajar ngaji tp sekalian bermain krn kalo masuk TK tkt kelamaan jd ank bosen,bnyak ank dimasukin TK 2thn akhirnya ank bosen trus malas untk belajar

  39. hilda muliana berkata:

    Saya ikut nimbrung ya … berbagi pengalaman aja ….
    Saya sangat tertarik dengan pendidikan anak usia dini … Anak saya saat usia 4 bulan sampe sekarang, sangat suka dengan melihat CD2 baby seperti brainy baby, baby einstein dan lain lain… Banyak sekali CD2 baby yang saya beli untuk anak saya, ada 150 CD lebih …
    Dari CD2 baby tersebut, anak saya banyak mengalami perkembangan yg pesat. Usia 18 bulan dia sudah hapal semua warna2 baik bahasa indonesia dan english, serta bisa mengucapkannya. Usia 20 bulan udah hapal abjad dan angka 1-20. Usia 3 tahun dia udah bisa angka sampai 100 dalam bahasa english. Kemudian usia 3 tahun 3 bulan, dia udah bisa membaca, 3,5 tahun udah lancar membaca. Saya sangat senang, krn tdk perlu membacakan buku lagi, dia udah bsa baca buku sendiri. Dan kebetulan anak saya juga menyukai buku shg saya membelikan banyak macam buku2 untuk batita dan balita …

    Luar biasa perkembangan anak 0-3 tahun, sy sangat ngajari anak saya … hasilnya luar biasa …
    Huruf2 hijaiyah dan 10 doa2 serta bbrp surat2 pendek juga dia udah hapal sejak 3 tahun …
    Alhamdulilah sekali …

  40. hilda muliana berkata:

    Jadi menurut saya, manfaatkan usia anak 0-3 tahun sebaik mungkin, selama masih usia emasnya …

  41. drawan kabul p. berkata:

    Perbedaan definisi belajar menjadi pangkal persoalan dalam mempelajari apa pun, termasuk belajar membaca. Selama bertahun-tahun belajar telah menjadi istilah yang mewakili kegiatan yang begitu serius, menguras pikiran dan konsentrasi.
    Selama ini Taman kanak-kanak didefinisikan sebagai tempat untuk mempersiapkan anak-anak memasuki masa sekolah yang dimulai di jenjang sekolah dasar. Kegiatan yang dilakukan di Taman kanak-kanak pun hanyalah bermain dengan mempergunakan alat-alat bermain edukatif. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung tidak diperkenankan di tingkat taman kanak-kanak, kecuali hanya pengenalan huruf-huruf dan angka-angka, itu pun dilakukan setelah anak-anak memasuki TK B.
    Teori psikologi perkembangan Jean Piaget selama ini telah menjadi rujukan utama kurikulum TK dan bahkan pendidikan secara umum. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung secara tidak langsung dilarang untuk diperkenalkan pada anak-anak di bawah usia 7 tahun. Piaget beranggapan bahwa pada usia di bawah 7 tahun anak belum mencapai fase operasional konkret. Fase itu adalah fase, di mana anak-anak dianggap sudah bisa berpikir terstruktur. Sementara itu, kegiatan belajar calistung sendiri didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara berpikir terstruktur, sehingga tidak cocok diajarkan kepada anak-anak TK yang masih berusia balita.
    Piaget khawatir otak anak-anak akan terbebani jika pelajaran calistung diajarkan pada anak-anak di bawah 7 tahun. Alih-alih ingin mencerdaskan anak, akhirnya anak-anak malah memiliki persepsi yang buruk tentang belajar dan menjadi benci dengan kegiatan belajar setelah mereka beranjak besar.
    Pembebanan yang berlebihan justru akan berakibat kontaproduktif bagi perkembangan sang anak. Anak bisa menjadi trauma dengan membaca, menulis, dan berhitung. Jadi, pembelajaran pada anak usia dini mestinya lebih bersifat memberi rangsangan pada anak agar tumbuh minatnya dalam membaca, menulis, dan berhitung. Fauzil Adhim (2006) menyebutnya dengan ‘semangati jangan bebani’.
    Secara fisiologis syaraf mata anak balita belum siap untuk membaca, disebutnya masih kontralateral. Masih terbalik-balik, seperti antara b dan d. Karena itu resiko balita yang diajar membaca untuk terkena kesulitan belajar (baca-tulis) nantinya lebih besar. Informasi yang sama di dapatkan pada buku Jalaludin Rahmat, tentang cara otak belajar. Waktu terbaik untuk belajar membaca sesuai dengan perkembangan otak justru pada usia sekolah dasar
    Beberapa literatur menunjukan bahwa tidak ada jaminan seseorang yang lebih dahulu bisa membaca akan lebih sukses di masa depan daripada mereka yang terlambat. Banyak tokoh sukses yang justru terlambat membaca. Di buku Right Brained Children in a Left Brained World disebutkan tokoh2 Albert Einstein, George S. Patton, William Butler Yeats adalah mereka yang terlambat membaca. Anak2 di Rusia baru membaca di usia 7 tahun, tapi mereka cerdas2.
    Sebuah penelitian menyatakan bahwa akibat memaksakan lancar calistung di usia dini khususnya dibawah 5 tahun. Adalah pemahaman membaca yang kurang. Pemahaman membaca anak-anak usia 9-15 tahun yang sangat minim. kita bisa lihat anak-anak usia sd klas 3-6 dengan pemahaman membaca yang sangat kurang . hal itu salah satunya bisa dilihat dalam menjawab soal cerita, kebanyakan anak2 sd sangat kesulitan, bahkan pertanyaannya kemana… jawabnya kemana… yang dikarenakan tidak paham makna soal yang berupa cerita. hal ini sebetulnya fatal, akibatnya banyak dari kita yang tidak senang membaca, karena membaca merupakan hal yang sulit. akibatnya prestasi anak usia sd dan smp Indonesia rangking 32 dari 34 negara dalam pemahaman membaca dan kompertisi matematika.
    Menurut suatu penelitian di Finlandia, anak yang belajar membaca saat mendapat pendidikan formal di usia 7 tahun memiliki reading achievement (prestasi membaca) lebih bagus dibanding anak lain yang belajar membaca di usia 6 tahun atau sebelumnya. Hal ini diketahui ketika dilakukan tes pada anak-anak tersebut di usia 9 atau 10 tahun.
    Kesimpulannya, tak ada hubungan bahwa anak yang belajar membaca di usia lebih dini akan lebih maju kemampuan membacanya. Jikapun ada yang seperti itu boleh jadi sifatnya kasuistik sehingga tak bisa dipukul rata dan diterapkan sama pada semua anak. yang penting untuk anak usia dini bukanlah mengajar membacanya, tetapi mengajarkan budaya membaca. Belum tentu anak yang bisa membaca lebih dahulu akan suka membaca.
    Persoalan membaca, menulis, dan berhitung atau calistung memang merupakan fenomena tersendiri khususnya di Indonesia. Awalnya memang pelajaran baca tulis mulai diajarkan pada tingkat pendidikan SD. pada perkembangan terakhir, hal itu menimbulkan sedikit masalah, karena ternyata pelajaran di kelas satu sekolah dasar sulit diikuti jika asumsinya anak-anak lulusan TK belum mendapat pelajaran calistung. Sehingga banyak institusi pendidikan SD mentargetkan kemampuan calistung sebagai pra syarat masuk SD, bahkan SD hanya mau menerima anak-anak yang sudah bisa membaca, menulis dan berhitung.
    Hal ini tentu saja mencuatkan kekhawatiran para orang tua dan akhirnya sedikit memaksa anaknya untuk belajar calistung, khususnya membaca. Terlebih lagi, istilah-istilah “tidak lulus”, “tidak naik kelas”, kini semakin menakutkan karena akan berpengaruh pada biaya sekolah yang bertambah kalau akhirnya harus mengulang kelas.
    Karena tuntutan itulah, akhirnya banyak TK yang secara mandiri mengupayakan pelajaran membaca bagi murid-muridnya. Berbagai metode mengajar dipraktikkan, dengan harapan bisa membantu anak-anak untuk menguasai keterampilan membaca dan menulis sebelum masuk sekolah dasar. Beberapa anak mungkin berhasil menguasai keterampilan tersebut, namun banyak pula di antaranya yang masih mengalami kesulitan.

    Lalu apa yang harus kita lakukan ??? menentang arus atau mengikuti arus ??

  42. Mulyono Malang berkata:

    Prof. Suyanto, Ph.D., Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Diknas pada saat menjadi keynote speaker pada acara seminar tentang pendidikan dasar di UPI Bandung seingat saya pada bulan Oktober 2009 mengatakan bahwa saat ini di Indonesia telah berkembang sekolah-sekolah yang mengikuti aliran setan dan iblis. Salah satu bentuk aliran setan adalah melakukan kegiatan pembelajaran yang berlebih-lebihan melampaui batas kelaziman sekolah pada umumnya dan peraturan pemerintah. Contoh sekolah yang mengikuti aliran iblis adalah di tk sudah diajarkan bahasa inggris, bahasa mandarin, ada acara wisuda pakai toga segala macam, Itulah contoh sekolah yang mengikuti aliran iblis. Siapa yang diikuti? Pakar mana yang menjadi rujukan? Saya sebagai pejabar Dirjen Dikdasmen tidak “bertanggungjawab” terhadap berkembangnya sekolah yang beraliran iblis dan setan tersebut”. Itulah ungkapan Prof. Suyanto penuh semangat dengan logat Magetan-nya yang diiringi gemuruh tepuk tangan para peserta. Saya salah satu peserta juga senang mendengarkan ungkapan itu karena masalah tk yang melakukan pembelajaran secara berlebih-lebihan akhir-akhir ini menurut saya sudah melebihi batas kewajaran. Menurut saya Pemerintah perlu harus membatasinya melalui pedoman kurikulum yang wajar berdasarkan kaidah psikologi dan keilmuan lainnya. Para pengelola tk/yayasan, guru maupun orangtua sebagaian besar mereka belum tahu efek samping dari terlalu dininya pembelajaran formal dibebankan kepada anak usia dini. Berdasarkan pengalaman sebagai guru ngaji (TPA/TPQ) sekitar 15 tahun sejak awal ada gerakan TPA tahun 1990an-2005 dan juga sebagai guru privat darii rumah ke rumah di kota Malang sejak 1995-2005, saya menemukan banyak kasus anak-anak yang terlalu dini bisa mengaji dan masuk sd belum usia 7 tahun ternyata akan mengalami down mental belajar di saat memasuki kelas 3-5. Contoh: pada akhir 1995, saya punya murid berinisial “H” yang sudah dapat mengaji 10 juz dan duduk di kelas dua SD yang kategori bagus dengan prestasi tiga besar pada usia 6.5 tahun. Ternyata mulai kelas 3 prestasinya terus merosot dan pada kelas 5 perilakunya suka bermain seperti anak kecil usia 4-5 tahun lagi. Prestasi “H” terus merosot sampai di tingkat SMP dan SMA dia tidak dapat masuk sekolah negeri. Dan sebaliknya saya menemukan beberapa siswa yang sewaktu sd awalnya “dablek” alias masa bodoh saat diajar privat kecuali saya harus mengikuti hobynya lebih dulu seperti sepedaan, menggambar, cerita dll. ternyata setelah SMA mereka menjadi anak-anak berprestasi.
    Yang menjadi pertanyaan mengapa anak sebelum usia 7 tahun tidak boleh terlalu dibebani pelajaran formal seperti calistung?. Menurut hasil kajian saya dari perpaduan pengalaman dan kajian literatur sebagai guru TPA/TPQ dan guru privat sewaktu muda dan dosen yang lama mengajar psikologi pendidikan di Fakultas Tarbiyah UIN Malang, otak anak sebelum umur 7 tahun itu saya ibaratkan bunga (misalnya bunga kangkung atau kecubung yang panjang) itu masih menguncup. Kalau masih dalam keadaan menguncup ini sudah datang kumbang atau beban maka menyebabkan tidak akan sempurna sewaktu berkembang/mekar. Bunga kangkung yang sudah dihinggapi kumbang sebelum mekar bisa jadi akan layu kemudian jatuh. Menurut para ahli psikologi perkembangan otak anak dapat menerima konsep apabila sudah berusia 7 tahun. Pendapat ini persis sama dengan sabda Nabi Muhammad Saw. bahwa ajarilah anak-anak sholat pada usia 7 tahun. Kalau hingga 10 tahun belum mau sholat maka orangtua bisa memukulnya/mencubit agar anak mau sholat. Mengapa Nabi Saw. tidak menyuruh mengajari anak sholat sejak usia dini sebagaimana yang dilakukan guru-guru PAUD dan orangtua yang menginginkan anaknya hebat terlalu dini seperti yang terjadi sekarang ini? Nabi Saw. nampaknya memahami bahwa sholat selain gerakan mengandung konsep, dan anak baru memahami konsep apabila sudah berusia 7 tahun.
    Berdasarkan hasil kajian saya baik di Al-Kitab, Al-Qur’an maupun riwayat orang-orang besar ternyata mayoritas mereka bukan orang hebat “tekun belajar membaca buku’ waktu usia dininya, tetapi anak-anak yang banyak gerak, pengalaman dan kesadaran terhadap lingkungannya. Nabi Saw. bersabda para nabi dan rasul mengawali kariernya “sewaktu masih kecil” sebagai pengembala. Ternyata menggembala pekerjaan yang berat namun sangat menyenangkan perlu gerak fisik dan mental yang kuat (kesabaran dan ketangguhan), sehingga kelak setelah dewasa memiliki fisik dan mental kuat apabila menjadi pemimpin. Berdasarkan hasil kajian tersebut menurut saya pendidikan yang paling tepat untuk usia dini adalah cerita/kisah yang menarik baik secara lesan, VCD, drama dll. pengalaman langsung dan banyak berpetualang/mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan menjadi sumber belajar secara indrawi; dari sinilah fisik dan mental anak terbangun tanpa merasa terbebani. Walaupun saya tidak se-ekstrim dengan pendapat Prof Suharyadi bahwa anak-anak TK tidak boleh diajari membaca, namun semua pihak harus berhati-hati dengan arah kurikulum TK yang saat ini sebagian besar sudah kelewat batas. Setelah saya kaji mengapa sebagian pengelola TK melakukan pendidikan kelewat batas, kok tidak dilakukan oleh mayoritas guru SD? Ternyata karena mayoritas (99,9%) TK/PAUD adalah swasta, untuk dapat menarik peserta didik ditengah-tengah persaingan yang luar biasa seperti ini serta mendapatkan dana sebesar-besarnya (UUD) dari orangtua maka harus menjadi sekolah favorit atau unggulan. Untuk menjadi sekolah favorit maka tentunya harus banyak kelebihan yang harus dicapai, sehingga guru dan murid yang menjadi kurbannya. Kalau sudah mendapat lebel sekolah unggulan maka bayarnya harus mahal. Kalau ini yang menjadi orientasi para pengelola PAUD maka kita akan mendapatkan efek samping (mal praktek pendidikan di TK) salah satu efeknya siswa di SMP dan SMA sudah bosan duduk belajar di bangku kelas, yang ada ingin keluyuran di mal-mal atau tawuran di jalanan, karena mereka sudah bosan sejak usia 2.5 tahun harus dikurung berjam-jam di kelas mengikuti pelajaran formal. Trims ini urun rembug saja semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

  43. eka berkata:

    Saya setuju dengan pernyataan Pak Mulyono di atas. Karena sebagaimana yang dituturkan oleh Ibu saya yang guru SD, anak2 yang di bawah usia 7 tahun sudah bisa membaca dan berhitung, ketika berada di kelas akan menjadi lebih pemalas, karena mereka sudah bisa mengerjakan pelajaran yang ada sehingga mereka akan merasa bosan yang akhirnya menimbulkan rasa malas belajar. Ada lagi satu dampak negatif dari belajar membaca di usia yang terlalu dini. Seperti kita ketahui media sudah sangat berkembang dan bisa menjangkau hampir seluruh lapisan, bahkan sering kali tanpa sensor. Nah, jika anak sudah dapat membaca tapi mereka belum siap untuk mengerti, ketika mereka membaca kata2 yang belum tepat untuk usia mereka, dan ditanyakan kepada orang tua, maka orang tualah yang kalang kabut untuk menjawab pertanyaan itu. Ya, bisa saja mereka melihat kata2 yang tidak baik atau kata2 sulit dimana saja.
    Dan mungkin penjelasan Pak Mulyono bisa menjawab pertanyaan saya selama ini, kenapa anak2 sekarang suka sekali tawuran, kurang tata krama, dan kurang rasa menghormati dan menghargai jika saya bandingkan dengan generasi saya (saya SD thn 1990). Mungkin selain karena pengaruh reformasi juga karena mereka terlalu “pintar”.

  44. yemima pangela berkata:

    bagaimana anda bisa menjelaskan untuk anak TK bisa mengembangkan talentanya sejak dini.

  45. Arin berkata:

    pada dasarnya dunia anak adalah bermain.Sejauh kita bisa mengajarkan apa saja melalui ” bermainnya ” dan anak merasa nyaman / tidak tertekan shah2 saja sy rasa…cari cara yang bisa buat anak nyaman..bisa lewat hobinya…bisa saat ia bermain kita ikut2an nimbrung dg maksud “tersembunyi ” mengajarkan atau mengenalkan sesuatu ke anak…bisa jg dg menenali cara belajarnya…ataupun bisa juga dilakukan pendekatan melalui si anak menonjol/condong di bidang apa…dan msh bnyk cara yg lain lg kan,,,periode emas si anak yg seperti spons menyerap air….tdk mubazir, n juga bisa meminimalisir efek jangka panjangnya….
    semoga bermanfaat…^_^

  46. bunda puji berkata:

    penentuan usia berapa anak masuk SD atau kapan anak boleh diajarkan membaca, saya kira kembali pada teori tahap2 perkembangan anak. dimana dsana menjelaskan perkembangan apa yg muncul dan harus dikuasai pada tahap usia tertentu. dan karena setiap anak pasti berbeda – beda atau unik.maka pada kenyataannya ada anak yg perkembangannya cepat dan ada yg lambat. itu semua bisa dianggap wajar dlm batas tertentu. kadang2 dari anaknya sendiri yang memberikan stimulus bahwa anak tersebut telah siap untuk belajar membaca. misalkan si anak suka menanyakan “ini tulisannya apa?”, “ini huruf apa?”, ” ini artinya apa?,”ini bacanya gimana?” dan lain sebagainya. mulai dari situ kita akan lebih mudah mengajarkannya karena rasa ingin tahu anak sedang bekerja. dibandingkan kita yg lebih dahulu memaksa anak harus membaca. intinya jgn terlalu kuatir, setiap anak ada masanya untuk dia bisa membaca.ok.thanks

  47. sunarto berkata:

    saya mau kasi sedikit perbandingan anak saya dengan anak kakak saya. Anak kakak saya pernah 2tahun di tk, tapi saat masuk sd belum juga bisa baca , berhitung bahkan menulis saja masih rapi anak saya yang umur 4,5tahun. Bahkan kelas 2 sd pun belum bisa baca. Perlu di ingat, anak kakak saya 2tahun di tk,…jadi salahnya di mana. Menurut saya mungkin di tk, anak kakak saya terlalu banyak bermain. Kalo ada pendapat anak (anak usia pra sekolah) tidak boleh di ajari membaca, secara logika saja kita sudah bisa menebak, bagaimana anak kita nantinya jika masuk sd belum bisa baca atau kenal huruf, saya jamin anak kita pasti akan ketinggalan pelajaran atau sulit tuk mengikuti pelajaran. Bukankah buku pelajaran sd di tulis dengan huruf dan angka, bagaimana anak kita bisa menyerap keterangan yang di sampaikan sang guru sedangkan dia sendiri masih sulit tuk membaca buku pelajarannya. Sangat naif dan bodoh orang yang mengatakan anak pra sd tidak boleh di ajari membaca (walau seorang profesor sekalipun), mau jadi apa bangsa kita ini. Saya orang islam, dalam islam sendiri wahyu yang di turunkan pertama sekali adalah dengan kata “BACALAH”. Dan lagi buat apa ada pepatah yang mengatakan “membaca adalah jendela ilmu”. Yang penting kita sebagai orang tua jangan memaksakan diluar kemampuan anak belajar membaca. Tapi jangan pula membiarkan anak yang tidak mau belajar membaca, kenalkan sedikit demi sedikit jangan sampai anak malas dan terlambat tuk belajar membaca, hingga menjadi keterusan sampai dia duduk di bangku sd. Mungkin para doktor dan sarjana yang membaca tulisan saya ini tidak sependapat dan tidak setuju, buat saya bukan masalah, yg penting saya berikan segala kemampuan, upaya dan daya saya sebagai orang tua tuk memberi sesuatu yang baik dan berguna untuk anak saya dalam menyongsong setiap fase pendidikan di masa depan, tentu saja tidak dengan pemaksaan di luar kemampuan dan mood anak saya.
    Secara garis besar negara kita masih mengalami keterbelakangan, janganlah buat negara ini menjadi lebih terbelakang dalam mengejar kemajuan. Pilihan ada pada Kita orang tua , baik atau mundur negara ini di tentukan oleh kita orang tua dalam mendidik dan mengarahkan anak kita, tuk menyongsong masa depannya. terimah kasih

  48. Intan berkata:

    saya sepakat dengan pak mulyono….saat ini juga banyak orang tua yang gila pujian sehingga ia akan bangga jika anaknya bisa calistung di usia dini.

  49. yulikris berkata:

    saya sepakat dgn pak Rakasatya dan pak mulyono….

  50. dedie triono berkata:

    saya sangat setuju degan pak mulyono,terima kasih…

  51. Hasti berkata:

    Saya tertarik dengan pembahasan di atas, saya seorang guru TK yg kurang lebih sudah 7 tahun menggeluti dunia anak2 bawah 5 tahun. Berdasarkan pengalaman saya mengajar, sebutan bahwa semakin dini anak bisa calistung akan semakin baik. Pada kenyataannya hasil tidak menunjukkan spt itu. Banyak anak yg saya ajar sedari usia 3 tahun sudah hafal alfabet dan angka, bahkan mereka hafal doa2 tertentu, tp banyak dari mereka yang kurang aktif dalam berkomunikasi, sosialisasi, bahkan lemah dalam solving/resolving problem (dideketin sedikit mundur, tidak bisa pasang puzzle menangis meraung2, atau ketika berkonflik dengan teman mrk selalu minta bantuan) Dari sekian anak yg saya ajar, kemampuan, minat, dan bakat mereka sangat beragam. Saking uniknya one and each of them saya tidak pernah putus amazed dengan apa yg mereka lakukan.
    Kalau saya sebagai org tua, anak tidak frustrasi ketika pake sepatu sendiri, saya bangga, akan saya umumkan ke org2. Ia sudah bisa makan sendiri saya bangga, sudah bisa memasukkan barang sendiri ketika mau berangkat sekolah, saya bangga. Sudah tidak malu menyapa orang lain saya bangga. Hal2 kecil tsb yg seharusnya dipelajari oleh anak2 usia balita. Bukannya bagaimana merangkai huruf atau menghafal 1+1 = 2 itu dalam 3 jam jg selesai.

    Satu hal yg selalu ditekankan oleh org tua adalah kebanggan ketika anak unggul dalam hal akademis (dalam hal ini) spt membaca, menulis, berhitung. Tapi seringkali menganggap remeh dan kurang apresiatif terhadap hal2 kecil yg mereka lakukan diluar hal kognitif. Contohnya : “mama, aku skr sudah tidak nangis lg kalo gak bisa nutup kotak makanku” atau “mama aku sudah bisa pegang sendok sendiri” atau “pa, tadi aku liat gajah, tp aku gak takut lho”
    Banyak orang tua yg menganggap hal2 diatas sbg hal biasa dan lumrah utk anak seumur mrk. Tp kalo 3 tahun sudah hafal alfabet mereka pasti punya kebanggaan tersendiri thd anak mereka.

    Pertanyaan yg saya selipkan : kira2 di forum ini bapak2 dan ibu2 semua bisa calistung pada usia beragam. Seperti saya baru kenal huruf di usia 5 tapi baru bisa membaca di usia 6 tahun. Ibu2/bapak2 disini mgkn ada yg bisa membaca pada usia 3, usia 5, atau bahkan ada yg baru bisa membaca pada usia 8. Pertanyaan saya: apakah yg membedakan kita saat ini?? Apakah yg sudah bisa membaca dari usia 3 membuat ia lebih unggul dalam bahasa? Dan apakan yg baru bisa membaca di usia 8 tahun jadi org yg terlambat berbahasa?? Belum tentu.

    Saya sangat percaya dengan penelitian perkembangan otak. Kalau bapak ibu menginginkan anak cepat hafal dgn huruf, angka ( menyebut /a/ /b/ /c/ atau menghafal satu, dua, tiga) dan cepat bisa menulis (1 2 3 dan A B C) memang betul bisa diterapkan di usia balita krn mereka cepat sekali bisa menghafal. Tapi apakah mereka sudah bisa paham dengan apa yg mereka hafalkan? Tidak. Apakah mereka sudah bisa paham bahw ABC akan berguna utk membaca? Apakah mereka paham satu dua tiga itu apa? Tidak. ( dijelaskan pun paling mrk ngangguk2 aja atau malah melongo)Yg mereka tau hanya menghafalkannya. Dan seringkali dengan hafalan itu orang tua bilang “anakku sudah hafal alfabet” atau “anakku sudah bisa hitung 1 sampai 10”

    Hafal hal2 diatas belum tentu memahami apa yg mereka hafalkan. Misalnya Ani sudah hafal angka 1-10 namun ketika ibu meminta “Ani, tolong ambilkan ibu sendok 4 buah ya” nah lho si anak bingung, 4 itu segimana ya??

    Sama dgn membaca, Aji hafal alfabet dari A-Z dan setiap bertemu dgn buku, dia sibuk mencari huruf2 yg dia kenal dari awal sampai halaman terakhir. Sementara anak yg belum bisa baca bahkan blum kenal alfabet dengan lancarnya menceritakan setiap gambar yg ada di dlm buku tersebut: (berdasarkan gambar yg dia lihat di dalam buku) “ibu mau pergi ke pasar membawa keranjang, ibu ke pasar mengendarai sepeda, sampe di pasar ibu beli sayur2an. (Halaman selanjutnya) di pasar ibu bertemu dengan temannya” dan seterusnya sampai halaman terakhir.

    Menurut bapak ibu, mana di kedua hal di atas yg lebih mewakili berhitung dan membaca yg sesuai dgn esensinya masing2?

    Konsep membaca dan berhitung yg sesuai dgn perkembangan otak anak usia di bawah 7 tahun adalah membaca gambar dan simbol (misalkan gambar di dalam buku, poster, gambar bergerak, majalah, logo perush spt lambang M pada mcd atau logo pada supermarket carrefour, lambang merk mobil ttt dsb). Belum pada bentukan alfabet yg jumlahnya lebih dari 20 alfabet adalah satu bentukan yg masih abstrak utk mrk. Kalaupun mereka hafal mrk tidak paham artinya.

    Saya pernah mengunjungi negara2 tertentu dan sekalian mengunjungi beberapa sekolah TK dan SD utk pembelajaran. Di Australia, yg dipelajari disekolah oleh anak2 usia 10 tahun adalah belajar menyeberang, belajar bagaimana mengantri, bagaimana cara berkirim surat, atau simply bagaimana menggunakan fasilitas umum, dan pelajaran2 itu masuk ke dalam kurikulum. (Kalau di indo sudah pasti sudah pasti belajar KPK dan faktor, tata surya dsb)

    Saya mencoba tes salah satu dari mereka utk membaca buku sungguh unik ada yg jarinya teruus menunjuk tulisan sambil bercerita. Tapi anehnya banyak dari mereka yg menunjuk satu kata misal: ‘ball’ dan mrk baca “ball” ketika saya tunjuk ‘book’ mrk baca “book”. Tp ketika diminta spell mmm, kalo gak garuk2 kepala ya senyum2.

    Saya kemudian bertanya pada gurunya bagaiman anak2 bisa membaca kata tanpa tau huruf2nya? Kemudian gurunya menjawab: Jason belum hafal alfabet tp dia sering melihat poster yg ada gambar bola dengan tulisan ‘ball’ dibawahnya jadi setiap dia bertemu bentukan kata “ball” dia akan tau bahwa itu tulisan utk “ball”

    Ibu2 bapak2 inti dari cerita di atas adalah anak akan siap menerima sesuatu di kepalanya ketika mereka siap. Seperti belajar berjalan. Tidak semua bayi harus jalan di usia 9 bln, ada yg dia usia 10, 11 bln, setahun atau lebih. Tidak ada bedanya ibu/ bpk. Semua hanya masalah kesiapan si anak sendiri. No matter how hard you push them, they will do it when they are ready. Saya menstimulasi anak berjalan dari usia 9 bulan awal tp tetap saja dia baru bisa jalan di usia 15 bulan. But that didn’t make any difference, dia tetap tumbuh seperti semestinya. Memang kadang2 org tua suka gemes pengen anak bisa cepet ini cepat itu. Saya mengerti sekali krn saya jg org tua. Tp trnyata itu hanya ego kita sebagai org tua. Belum tentu anaknya siap.

    Satu negara lagi yg membuat saya takjub ketika berkunjung. Finlandia. Negara tersebut dikenal sbg negara nomor 1 di bidang pendidikannya. Dan ibu/ bpk, negara terdepan di bidang pendidikan saja menetapkan usia 8 tahun utk bisa membaca. Tp tidak ada satu anak pun yg tertinggal pendidikan atau belajarnya.

    Saya jg ingin share artikel yg saya harap bisa membantu pemahaman bpk/ibu dalam hal calistung pada anak.

    http://yani.widianto.com/2012/03/13/mengapa-anak-tk-tak-boleh-diajari-calistung/

    Terima kasih

  52. asolihinskb berkata:

    Mengajari anak membaca dan menulis di usia TK dan PAUD, sama dengan menjolimi anak, kita merampas hak-hak mereka untuk tumbuh dan berkembang dengan sewajarnya, dalam dunia mereka yang terpenting adalah bermain belajar, terimakasih..salam kenal.Pak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *