Minggu, 06 Desember 2020
Just another WordPress site
SITI GALAUWATI BERANAK TIGA

Kadangkala kita kehilangan kekuasaan tepat di jantung kekuasaan kita. Seperti yang saya alami di rumah saya sendiri…

Semua anggota keluarga saya suka dengan binatang peliharaan, kecuali saya. Mereka suka sekali memelihara kucing. Yubi bahkan pernah membeli seekor anjing kecil jenis poodle yang sangat lucu dan dimasukkannya ke kamarnya. Tentu saja saya berang. Meski semula binatang piaraan tersebut janjinya hanya akan berada di luar rumah dalam kandang tapi tentu saja itu janji kosong seperti janjinya para politisi. Pada kenyataannya binatang piaraan tersebut akhirnya akan menjadi bagian dari keluarga yang akan mendapatkan perlakuan sebagaimana layaknya anggota keluarga yang lain. Mereka hanya tidak masuk dalam daftar Kartu Keluarga dan diikutkan BPJS saja.

Berkali-kali saya sampaikan bahwa saya tidak suka ada binatang peliharaan masuk rumah. Kalau pun TERPAKSA kami harus memelihara seekor anjing lucu atau kucing jenaka maka mereka harus tinggal di luar rumah. Di dalam pagar oke tapi tidak di dalam rumah. Belikan kandang dan bikin senyaman mungkin bagi mereka. Mereka sepakat, pada mulanya….

Tapi saya dikepung oleh persekongkolan antara istri dan anak-anak saya yang lama-lama membiarkan mereka masuk sedikit demi sedikit. Akhirnya para kucing menjengkelkan tersebut akan naik ke kasur mereka masing-masing. Sungguh anjay dan kucay mereka itu…!

Lalu kucing-kucing tersebut akan mulai masuk ke kamar saya mencoba merayu saya agar ikut menyukai mereka. No way, Jose…!

Mereka akan menggelendot di kaki saya dan mengikuti saya ke mana pun saya pergi. Kalau saya berusaha untuk menunjukkan wajah tidak suka mereka akan balik menatap saya dengan pandangan innocent yang dibuat-buat. Kalian pikir saya tidak mengenali wajah palsu dengan tatapan yang sok imut semacam itu? Jangan harap, Ferguso…!

Baca juga:  GUNS, GERMS, & STEEL : Rangkuman Riwayat Masyarakat Manusia

Kalau anak-anak saya memberi mereka nama-nama eksotik seperti Kimmy dan Mochi maka saya menggantinya dengan nama Wagi (Wagimin) dan Siti Galauwati.

Dan kini Si Siti Galauwati beranak tiga dan resmi tinggal di kamar anak lanang saya. Semula memang beranak di ruang TV tapi seperti jamaknya kelakuan emak kucing ia akan memindah-mindahkan anaknya berkali-kali. Kini ia resmi dapat tempat tinggal yang nyaman bersama anak-anaknya yang tampaknya sangat imut itu. Tentu saja semua anak binatang itu tampak imut (kecuali anak ular, kata adik saya yang sangat takut pada ular). Sampai hari ini anak-anak saya tidak tahu siapa ayah anak-anak kucing ini karena Si Siti Galauwati ini agak bebas pergaulannya dengan kucing-kucing jalanan kompleks kami tinggal. Tapi jelas ia melakukan perbuatannya tersebut di dalam pagar rumah kami ketika kami tidak ada. Sungguh kucay…!

Hal ini membuat saya berpikir bahwa kekuasaan itu sifatnya nisbi. Lha wong saya sebagai kepala keluarga di rumah saya sendiri saja ternyata tidak bisa mempertahankan kekuasaan. Saya masih harus berkompromi dan mengalah dengan penghuni rumah yang notabene adalah anak-anak dan istri saya sendiri. Padahal mereka itu tinggal dan makan di rumah yang saya beli sendiri tanpa ada urunan dari mereka. Gitu kok urusan binatang peliharaan saja saya tidak berkuasa di rumah saya sendiri….!

Tobat aku Mbokde…!

Surabaya, 13 September 2020

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *