Jumat, 22 Februari 2020
Just another WordPress site
ENAKAN DULU…

Cucu : Nek, enakan mana sih dulu ama sekarang?
Nenek : Ya enakan dululah, Cu.
Cucu : Kenape, Nek?
Nenek : Dulu uang sepuluh rebu udah bisa dapet susu, gula, beras, margarine, minuman kaleng, rokok…
Cucu : Kalau sekarang, Nek?
Nenek : Susah, Cu. Di mana-mana ada CCTV

Istri : Pa, enakan mana dulu ama sekarang?
Suami : Pakai tanya lagi Mama ini. Ya enakan dululah.
Istri : Kenapa emangnya?
Suami : Dulu kan Papa tidur sama gadis muda. Sekarang tiap malam Papa tidur sama nenek-nenek.

Sekarang kehidupan menjadi jauh lebih mudah bagi saya. Kemajuan teknologi dan informasi membuat segalanya jauh lebih mudah. Hidup saya juga jauh lebih makmur ketimbang jaman saya masih mudah dulu. Kalau mau ke mana-mana saya tinggal buka HP (atau dompet) and everything is there… Tapi dulu saya menganggap segalanya juga mudah dan tanpa beban.

Saya ingat waktu jaman saya masih muda dan diajak oleh teman untuk kemping, naik gunung, atau jalan-jalan ke Jakarta atau bahkan ke luar pulau. Bagi saya ini semua adalah petualangan dan saya selalu senang diajak bertualang. Bagi kami waktu itu pergi ke Jawa Barat atau Jakarta sudah merupakan petualangan yang bikin saya bergairah. Maklumlah karena kami waktu itu termasuk kalangan kaypang alias kaum melarat sehingga bepergian yang membutuhkan biaya sebenarnya sulit untuk dilakukan. Tapi bagi kami waktu itu segalanya ada saja caranya. Kalau mau pergi ke mana-mana tentu saja kami tidak akan naik kendaraan umum yang membutuhkan biaya. Kami ‘nggandhol truk’ numpang di bak truk secara diam-diam atau naik kereta api dengan sembunyi-sembunyi dari kondektur. Kami akan cari cara untuk naik kendaraan secara percume alias gratis sampai tujuan. Untuk tidur atau istirahat secara gratis Indonesia ini sorga. Mengapa? Karena ada banyak masjid dan musholla yang bisa didatangi. Of course it’s an adventure…!

Saya ingat suatu ketika diajak pergi ke Jawa Barat oleh seorang teman kampung dan kami putuskan bahwa kali ini kami akan naik truk secara estafet. Pulangnya saja nanti naik kereta api. Karena kami tidak tahu ke mana truk yang kami tumpangi berhenti maka kami akan cari truk lagi jika truk itu berhenti di sepanjang perjalanan kami. Untuk naiknya kami bisa tongkrongi di lampu merah ke luar kota atau bisa juga di pom bensin di mana truk mengisi bensin. Begitu truk berhenti di lampu merah kami akan lihat plat nomornya. Kami akan cari yang plat nomornya sesuai dengan arah tujuan kami. Begitu dapat kami akan langsung naik. Tentu saja kami naik diam-diam di bak belakangnya tanpa bilang pada sopirnya. Bagi ‘penggandhol truk’ itu adalah hal biasa dan biasanya sopir truk juga tidak terlalu peduli sepanjang tidak ada barang berharga yang dibawanya.

Baca juga:  Untung Jangan Ditolak, Malang tak Perlu Diraih

Karena Jawa Barat itu cukup jauh dari Surabaya maka kami harus berganti-ganti truk berkali-kali yang melelahkan. Kadang truk menuju arah jalan yang tidak kami inginkan dan kami harus melompat turun ketika truk itu masih berjalan. Tentu saja kami berupaya mencari tikungan di mana truk itu akan mengurangi kecepatannya agar kami bisa lompat dengan lebih aman. Untung saya sudah diajari bagaimana cara melompat dari bak truk yang aman. Posisi tubuh harus condong ke depan dan salah satu kaki berada di depan untuk menumpu tubuh yang berayun ke belakang. Saya bisa mendarat di aspal dengan indahnya tanpa harus terseret ke belakang. Ini ‘practical ginkang’ yang saya pelajari dari para senior penggandhol. Saya pernah melihat seorang ‘novice’ bodoh yang melompat asal-asalan ketika truk berjalan lumayan kencang dan ia terjatuh ke belakang dengan kepala terbentur aspal. Aisy…! What a shame…! *:) happy

Suatu kali saya sudah capek mencari-cari truk yang pas dengan tujuan dan memutuskan untuk menggunakan keberanian dan kemampuan yang mungkin tidak dimiliki oleh para ‘penggandhol truk’ lain. Ingat bahwa meski pun secara ekonomi saya termasuk anggota kaypang tapi saya seorang yang terpelajar. Maksudnya saya ini suka baca buku dan banyak akal. Saya beranikan diri saya untuk berbicara dan minta ijin numpang truk pada sopir yang sedang turun rehat ngopi. Setelah basa-basi sebentar dan menemukan sopir truk yang tepat saya kemudian minta ijin padanya bolehkah kiranya patik menumpang di truk tuan sopir yang terhormat. Eh, lha kok sopirnya merasakan kepedihan nasib seorang penggandhol yang sedang berkelana nun jauh dari rumah. Ia mengiyakan dan bahkan mengajak kami duduk di bangku penumpang, Kebetulan ia tidak punya kernet sehingga kami bisa dengan nikmatnya duduk manis di bangku sebelahnya. Sepanjang perjalanan sang sopir baik hati ini bercerita tentang kehidupan dan keluarganya. Kalau sekarang hal tersebut disebut curhat. Saya dengan senang hati mendengarkan kisahnya sambil sesekali menimpalinya. Saya usahakan agar turut larut dalam kisahnya tersebut. Kalau sedih saya tunjukkan tampang simpati dan kalau gembira saya ikut tertawa. I could do that quite well I guess and he seemed to enjoy our company along his trip. Kami lebih menikmati tentunya. Bonusnya adalah kami boleh ikut menikmati rokoknya sepanjang perjalanan. What a life….! *:) happy

Baca juga:  The Magic of Love

Bersambung (kalau masih ada mood).
Surabaya, 8 April 2017

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *