Rabu, 15 Juli 2020
Just another WordPress site
INDONESIA TANPA INVESTOR ASING

Ya jelas kita tidak akan semakmur sekarang…😊

Kita akan tetap menjadi negara terkebelakang dan tidak akan mampu bersaing dengan negara-negara lain. Dengan wilayahnya yang begitu luas, terlebih lagi dengan kontur negaranya yang berbentuk kepulauan, maka Indonesia jelas sangat membutuhkan banyak modal agar seluruh pelosok mendapatkan pembangunan yang memadai. Tanpa infrastruktur yang memadai maka pembangunan jelas akan terhambat karena alasan akses dan mobilitas.

Jangankan Indonesia, semua negara besar di dunia ini tumbuh dan besar karena investasi asing. Peran investasi asing sangat besar untuk mendukung percepatan pembangunan ekonomi suatu negara. Tanpa investasi asing, mustahil negara seperti China dapat menikmati kemajuan ekonomi dan teknologi yang fenomenal seperti saat ini. Sekedar informasi, China merupakan negara penerima investasi asing terbesar kedua dunia setelah Amerika Serikat. Jadi negara-negara besar itu tumbuh membesar karena peran investasi asing dan mereka akan tetap membutuhkan investasi asing untuk terus meningkatkan perekonomiannya.

Investasi asing memang sangat diperlukan untuk pembiayaan program percepatan pembangunan nasional. Aliran modal asing yang masuk dapat menggerakkan roda perekonomian dan meningkatkan pendapatan negara. Tanpa itu maka kita tidak akan bisa membangun sebagaimana negara-negara miskin yang tidak dilirik dan diminati oleh investor asing.

Ada tokoh-tokoh tertentu yang selalu menghembus-hembuskan bahwa apa yang kita lakukan pada kekayaan alam kita itu salah. Semestinya kekayaan alam seperti minyak, gas, emas, dan berbagai mineral lainnya jangan sampai dikerjakan oleh pihak asing. Biarkan saja ia di dalam bumi sampai anak cucu kita sendiri suatu saat nanti dengan kemampuan dan modalnya sendiri yang akan menggali dan memanfaatkannya kelak. Pemikiran semacam ini tentu saja sangat naif. Hal ini sama dengan menyatakan, “Seandainya Engkong lu kagak jual tanahnya di Sudirman itu maka kita yang akan punya gedung berlantai 30 itu.”

Seandainya Engkong tidak menjual tanahnya maka mereka tidak akan bisa bertahan hidup di Jakarta yang semakin mahal. Kalau tanah di Sudirman kagak dijual maka anak-anaknya tidak akan punya rumah dan tanah di Condet. Cucunya Engkong tidak akan ada yang bisa jadi tukang insinyur atau pun jadi pengusaha karena kagak ade yang sekolah. Justru dengan menjual tanah di Sudirman itulah Engkong bisa menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya sehingga bisa hidup dengan makmur seperti sekarang. Jangankan lagi bermimpi punya gedung bertingkat 30 seperti di sekitarnya, seandainya tidak dijual tanah tersebut akan terjepit oleh gedung-gedung bertingkat lain dan tidak punya akses karena semua tanah di sekitarnya sudah dibeli oleh orang lain. Jadi pemikiran itu sama sekali tidak bermanfaat karena sama dengan menyesali apa yang terjadi di masa lampau. Itu seolah kita bisa kembali ke masa lampau dan mengulanginya lagi. Pemikiran semacam itu hanya akan membuat rakyat awam merasa sedih, kecewa, marah seolah hartanya dirampok, haknya diambil, dan diperlakukan secara tidak adil oleh pemerintah.

Baca juga:  HOT, FLAT, and CROWDED

Saya mengenal seseorang yang memiliki tanah dan sawah yang luas. Tapi karena anak-anaknya tidak ada yang mau bertani atau bahkan tinggal di desa maka ia tinggal berdua saja dengan istrinya mengolah sawah sekuatnya. Tanahnya yang luas terbengkalai saja karena mereka juga tidak tahu mau diapakan tanah tersebut. Anak-anaknya seringkali mengusulkan agar menjual saja sebagian dari sawah dan tanahnya yang begitu luas tapi tidak tergarap agar mereka bisa hidup lebih nyaman dan hartanya tersebut bermanfaat baginya. Ada banyak keperluan hidup mereka dan anak-anak mereka yang meski tinggal di kota tapi hidup seadanya juga yang bisa dipenuhi jika ia mau menjual tanahnya. Tapi katanya eman-eman… 😎

Akhirnya tanahnya tersebut tidak bermanfaat sama sekali baik bagi dirinya mau pun bagi anak-anaknya yang tinggal di kota lain. Tanah dan sawah yang semula adalah assets (kekayaan) akhirnya menjadi liabilities (tanggungan) karena harus dibayar pajaknya setiap tahun tanpa bisa menghasilkan apa pun bagi pemiliknya. Kalau pun nanti mereka meninggal anak-anaknya mungkin juga tidak ada yang akan mau menempati dan mengurusi rumah dan tanahnya yang luas tersebut. Mereka telah memiliki kehidupan di kota lain. Seandainya saja tanah tersebut bisa dikelola dengan mengajak pemodal untuk memanfaatkannya maka tentu tanah tersebut akan memberi keuntungan bagi pemilik dan keluarganya.

Sebetulnya memiliki tanah dan kekayaan alam yang terpendam begitu saja tanpa bisa dimanfaatkan baik bagi pemiliknya atau pun bagi orang lain sama saja dengan memikul beban amanah yang tidak perlu. Sungguh percuma memiliki harta yang tidak termanfaatkan. Alasan agar biar para cucu dan keturunannya yang akan memanfaatkan kekayaan tersebut juga absurd karena kita tidak pernah tahu apa kehidupan yang akan dilalui oleh para cucu dan keturunannya kelak. Kita hidup di saat ini sehingga semestinya semua potensi kekayaan yang ada pada kita bisa dimanfaatkan bagi kehidupan kita, anak-anak yang tinggal dengan kita, atau orang lain. Dengan demikian maka asset yang kita miliki akan bermanfaat bagi kita dan keluarga yang ada saat ini. Kalau kita tidak mampu mengolah tanah dan sawah yang kita miliki sendiri maka kita bisa menyewakan atau mengajak orang lain untuk bekerja sama memanfaatkan asset yang kita miliki. Membiarkannya saja adalah sebuah kemubaziran yang dibenci oleh Tuhan.

Baca juga:  KELUARGAMU ADALAH MASALAHMU... 😎

Jadi pemikiran yang menentang adanya investor asing masuk ke negara kita untuk memanfaatkan kekayaan alam kita adalah salah. Tidak ada gunanya membiarkan kekayaan alam tetap ada di dalam bumi dan menunggu sampai cucu kita bisa mengelolanya sendiri. Tidak ada yang tahu apakah cucu kita kelak akan bisa mengelola kekayaan alam itu sendiri atau tidak. Adalah lebih baik jika kita mengundang investor asing untuk mengelola kekayaan alam tersebut agar kita juga bisa menikmati kekayaan alam tersebut dengan berbagi bersama investor tersebut. Bagi hasil kekayaan alam yang kita tambang bersama dengan investor tersebut dapat kita pergunakan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi bangsa dan negara. Selain dapat memanfaatkannya untuk kehidupan saat ini kita juga bisa belajar mengelola bersama dengan investor tersebut sehingga suatu saat perusahaan yang semula milik bersama bisa kita miliki lebih besar dan bahkan menjadi milik kita sepenuhnya. Hal ini sudah pernah kita lakukan dan kita sudah punya pengalaman seperti itu.
Dulu perusahaan gas LNG PT Badak di Bontang adalah milik bersama antara Pertamina, VICO, dan JILCO yang mulai didirikan pada tahun 1974. Selama 25 tahun PT Badak berhasil meningkatkan kapasitasnya menjadi 8 train ditambah dengan fasilitas penghasil LPG. Belakangan Pertamina mengakuisisi 15% saham JILCO sehingga saat ini Pertamina memiliki kepemilikan 70% di PT Badak. Tapi pengelolaan sudah sepenuhnya di tangan Pertamina.

Bagaimana seandainya gas yang ada di Muara Badak tersebut tidak kita kelola dan biarkan saja di sana? Ya kita tidak akan semakmur saat ini, tidak akan punya pengalaman mengelola perusahaan gas, dan juga tidak akan punya perusahaan gas. Tanpa modal untuk berinvestasi dan tenaga kerja yang trampil untuk mengelola kekayaan alam maka potensi kekayaan alam yang kita miliki hanya akan jadi potensi saja dan tidak akan pernah menjadi kenyataan. 😄
Apakah mudah mengelola perusahaan pertambangan itu? Tidak sama sekali.

Untuk menguasai sepenuhnya pengelolaan PT Badak NGL Co yang semula dijalankan oleh mayoritas tenaga asing saja pemerintah membutuhkan waktu puluhan tahun. Selama puluhan tahun terjadi peralihan teknologi dan manajemen yang berangsur-angsur. Jadi tidak bisa langsung kita ambil dan kuasai teknologi mau pun manajemennya. Jangankan perusahaan tambang yang rumit, perusahaan kuliner berskala internasional saja susah kok.

Baca juga:  TANTANGAN MEMBACA

Pernah tahu kisah Bambang Rahmadi yang pertama kali membawa franchise McDonald ke Indonesia? Selama 17 tahun ia mengembangkan McDonald sebelum akhirnya ia ditendang (ya, Bambang Rahmadi yang ditendang) keluar dari McD yang ia bawa 17 tahun yang lalu. Bambang Rahmadi kemudian mendirikan kedai ayam gorengnya sendiri bernama Tony Jack’s dengan logo bajak laut bernuansa hitam (McD akhirnya menjadi milik Sosro Group).

Bagaimana nasib perusahaan ayam goreng lokal bernuansa asing bernama Tony Jack ini? Ternyata meski sudah berpengalaman selama 17 tahun mengurusi McDonald sehingga mestinya Bambang Rahmadi menguasai semua tetek bengek dari perusahaan ayam goreng Tony Jacknya tak mampu bersaing dengan McDonald. Kini tak satu pun dari 13 gerai Tony Jack yang hidup.

Apa artinya? Artinya ya tidak semudah itu, wahai Ferguso. 😄 Jangankan mengelola perusahaan emas dan nikel berskala dunia lha wong mengelola rumah makan ayam goreng dan burger berskala nasional aja tidak mudah kok. 😏
Itulah pentingnya investor asing yang akan membawa dana, pengetahuan, teknologi, dan tenaga ahlinya dalam mengelola kekayaan alam negara kita bersama-sama dengan kita agar kita bisa mendapatkan manfaat dari kekayaan alam tersebut dan sekaligus belajar mengelola sebagaimana kita kini mengelola PT Badak NGL Co sepenuhnya. Yang jelas adalah bahwa investor asing ini akan membuka lapangan pekerjaan yang luas bagi rakyat Indonesia. Kalau tidak ada investor asing di Bontang maka tidak akan ada ratusan ribu pekerja langsung dan tidak langsung yang akan bisa bekerja di sana sejak tahun 1974 sampai dengan sekarang. Saya juga tidak akan bisa mencicipi mengajar di sekolah internasional selama enam tahun di sana. Di sekolah itulah cakrawala dan cara pandang saya akan pendidikan yang bertaraf internasional terbuka. Di sekolah itulah saya mencicipi pengalaman dan mereguk pengetahuan bertaraf internasional dalam mengajar dan mendidik yang saya bawa sepanjang hidup saya sebagai guru. 🙏😊

Surabaya, 20 Juni 2020

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *