Senin, 22 Juli 2019
Just another WordPress site
RAMADAN BULAN TANTANGAN

“Saya selalu menyambut Ramadan dengan penuh gairah,” kata seorang teman akrab ketika kami bertemu dalam suatu acara buka bersama tahun lalu. “Bagi saya Ramadan adalah Bulan Tantangan. “

Bulan Tantangan? Wah, menarik ini. Saya mendengarkannya dengan penuh perhatian. “In what way?” tanya saya pakai bahasa Inggris. Kadang-kadang yang muncul di kepala saya memang kalimat dalam bahasa Inggris dan untuk teman akrab ini saya tidak perlu menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia.

“Dalam Ramadan saya menantang diri saya untuk jauh lebih baik daripada sebelas bulan lain,” demikian lanjutnya. Ah, itu mah biasa, pikir saya. Kita semua selalu menyatakan demikian sebelum Ramadan dan ketika Ramadan berlalu baru kita sadar bahwa ternyata Ramadan kita tidak lebih baik daripada sebelas bulan yang lain. Seandainya saja…

“Prinsip saya adalah ‘Get Less, Give More’, saya harus bisa menerima lebih sedikit pada Ramadan ini dan  memberikan lebih banyak,” sambungnya.

“Saya lebih suka ‘Get Much, Give More’,” sahut saya sambil tertawa. Bukankah lebih baik kalau kita mendapat rejeki banyak dan kemudian bersedekah lebih banyak lagi? Demikian pikir saya.

“Dengan ‘Get Less, Give More’ artinya kita mengonsumsi lebih sedikit tapi menghasilkan perbuatan baik lebih banyak. Dalam Ramadan saya benar-benar ingin berpuasa dengan mengurangi jumlah dan jenis makanan yang saya konsumsi. Saya mengambil porsi lebih sedikit daripada biasanya dan berupaya benar agar tidak menambah porsi lebih banyak betapa pun enaknya makanan tersebut.  Untuk mengetahui apakah saya sudah melaksanakannya dengan baik maka saya biasanya menimbang berat tubuh saya sebelum dan sesudah berpuasa. Kalau timbangan saya tetap saja itu artinya pemasukan dan pengeluaran sama saja. Dan itu artinya saya gagal berpuasa,” sambungnya sambil tertawa.

Saya setuju dengannya dan saya juga sudah melakukan hal yang sama. Setiap kali Ramadan timbangan badan saya selalu susut sedikit. Saya bergembira dalam hati karena ternyata saya juga sudah ‘Get Less, Give More’. Saya lalu teringat betapa Ramadan ini biasanya justru menjadi bulan penuh kuliner di mana orang justru pingin makan yang berbeda dan berlebih daripada bulan biasanya. Kalau biasanya tidak makan kolak tapi kalau Ramadan menuntut harus ada kolak, kurma, ote-ote, sirup markisa, dawet, es cao, lemper, berbagai gorengan untuk buka babak pertama. Salat Maghrib dulu sambil menurunkan makanan di perut. Setelah itu baru main course berupa rawon, coto, pecel lele, bebek Palupi, empal Mak Nyik, dan ditutup dengan dessert berupa kue lapis kukus, banana cake, atau nagasari. Sungguh top rasanya puasa hari itu kalau sudah lengkap seperti itu. Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban, Maka nikmat Tuhanmu yang  manakah yang kamu dustakan?  Sedangkan engkau mengembat makanan dan minuman begitu berlimpah di bulan puasa? Dimana-mana orang mengadakan buka puasa bersama dan bahkan hotel-hotel berlomba untuk menampilkan menu makanan yang paling variatif dan paling menarik dengan harga yang menantang dompet kita. Saya membayangkan alangkah sulitnya berpuasa bagi para pejabat dan selebriti yang undangan bukbernya hampir memenuhi seluruh hari di bulan Ramadan. Diterima salah, tidak diterima sayang. Tapi bukankah justru itu tantangannya? Herannya orang-orang itu kok selalu mengundang buka bersama di bulan puasa sih? Kok bukan bulan-bulan lainnya gitu loh…!

Baca juga:  Jangan Tinggalkan Kami

 

“Dalam Ramadan ini saya juga berupaya untuk bersedekah lebih banyak daripada sebelas bulan lainnya meski pun penghasilan saya tidak bertambah sedangkan pengeluaran biasanya otomatis bertambah. Selalu saja ada permintaan bonus THR bagi sekuriti, tukang sampah, takjil di masjid, bukber bersama anak yatim dan dhuafa, dll,” tambahnya.  “Benar-benar tantangan, “ sahut saya sambil tertawa. Terus terang saya sendiri merasakan betapa beratnya tantangan untuk bersikap lebih pemurah ketika kita sendiri membutuhkan . Sifat dasar kita yang pelit menjerit dan berusaha untuk menghalangi kita bersedekah lebih banyak di saat kita sendiri membutuhkan. Berkali-kali saya harus menekan rasa pelit saya dengan keras ketika menyadari bahwa tabungan saya terkuras cepat sedangkan permintaan bantuan dari orang-orang seolah tidak pernah mau tahu. Saya bahkan ngeri mau ngecek jumlah saldo tabungan karena itu pasti akan membuat rasa pelit saya akan menjadi-jadi dan punya alasan untuk dituruti maunya.

“Mengatasi rasa pelit adalah tantangan besar. Tapi Ramadan memang luar biasa,” katanya sambil tersenyum. “Seringkali saya terima uang dari honor rapat atau apa begitu, eh! belum sampai di rumah sudah ada teman atau orang yang tiba-tiba datang pada kita untuk minta bantuan atau mau meminjamnya. Kadang saya heran kok orang-orang ini tahu banget kalau saya akan dapat duit ya? Aseeem…!” dan ia tertawa lebar. Rasanya kok mirip dengan saya ya, pikir saya sambil tersenyum dalam hati.

“Kadang saya jengkel dan rasa pelit saya datang. Permintaan bantuan tersebut kadang langsung saya tolak. Saya berpikir kok enak kamu minta uang saya. Mbok pikir aku gak butuh duit tah? Tapi setelah itu saya langsung menyesal dan minta ampun sama Tuhan. Ya, Gusti Allah, aku kok jadi begini. Dia tentu lebih butuh uang ini ketimbang saya dan sebenarnya Engkau hanya ingin menguji saya. Uang ini sebenarnya bukan untuk saya tapi untuk dia. Tapi Engkau ingin agar uang itu lewat saya dulu supaya saya bisa berlatih melawan rasa pelitku. Ampuni dosaku, ya Allah! Setelah itu orang itu saya telpon balik dan saya bilang ternyata aku barusan dapat uang dan ia silakan datang ke rumah untuk mengambilnya. Setelah ia mengambil uang tersebut  saya langsung merasakan kelegaan yang luar biasa. Masya Allah mak plong rasanya hati saya telah mampu melawan rasa pelit saya tersebut,” tuturnya dengan wajah berseri-seri.

Baca juga:  BURUNG-BURUNG CAKRAWALA

 

Saya selalu merasa mendapat pelajaran berharga dari teman baik saya ini. Bertahun-tahun yang lalu ia pernah memberi saya ide untuk memberi hadiah parsel pada teman-teman dekat. “Rejekimu kan lebih banyak daripada aku. Mbok ya kamu itu memberi parsel pada teman-temanmu setiap lebaran,”katanya waktu itu. “Mbok pikir aku iki perusahaan tah?” jawabku waktu itu sambil tertawa. Soalnya yang biasa memberi parsel itu ya perusahaan pada klien atau pada pejabat.Saya sendiri sering mendapat parsel lebaran pada Ramadan. Lha aku ini perusahaan bukan pebisnis bukan. Mosok memberi parsel pada orang-orang. Demikian pikir saya waktu itu.

“Emang kenapa kalau dibalik? Kamu kan sering dapat parsel. Jadi sesekali bagikan parsel dong bagi teman-teman. Berpikirlah seperti sebuah perusahaan yang ingin menjalin hubungan silaturrahim dengan para kliennya. Kalau diniati untuk sedekah kan pahalanya kembali pada kita,” sahutnya. Iya juga ya, pikir saya. Itu ide yang menarik dan unik. I like it.Sejak itu saya kemudian melakukan idenya dan dengan  gembira selalu menunggu saat-saat Ramadan di mana saya bisa membagikan parsel sekadarnya untuk teman-teman. Memikirkan apa isi parselnya, di mana memperolehnya, berapa budget yang tersedia untuk masing-masing parsel, bagaimana menghiasnya, kapan mengirimkannya, dll menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan bagi saya dan istri. Istri saya malah lebih bergairah kalau soal begini ini. Ia akan ‘hunting’ kemana-mana untuk mencari apa parsel yang menarik untuk tahun ini. Kadang saya mengeluh karena ia membeli paket parsel yang harganya membuat saya mendelik. Ketika saya protes ia bilang bahwa tahun lalu harganya ya segitu itu. Saya selalu berpikir harga yang lebih rendah sedangkan istri saya sebaliknya. Mungkin karena yang akan membayar toh saya juga nantinya. Dasar pelit saya ini.

Baca juga:  Aku Beriman maka Aku Bertanya (PART II)

 

“Tantangan apa lagi yang kamu lakukan di bulan puasa ini?” tanya saya padanya.

 

“ Simple things. Saya berpuasa gossip dan ngrasani. Saya menolak untuk membicarakan orang yang kira-kira kalau orang tersebut mendengarnya maka ia tidak akan suka. Meski saya suka mendengar isu-isu baru tapi kalau sudah masuk ke ghibah maka saya berhenti. Saya katakan pada diri saya “Saya berpuasa” dan tidak mau melanjutkan pembicaraan. Sebenarnya saya juga membatasi untuk bertemu dengan teman-teman atau ngobrol dan akan lebih fokus pada ibadah personal seperti mengaji, membaca buku agama, taraweh, dan semacamnya. Saya biasanya bisa khatam dua kali selama Ramadan. Kalau kebanyakan tugas di luar kota atau bertemu dengan teman pasti target itu tidak akan tercapai. Kalau taraweh di masjid tidak bisa karena tugas atau pekerjaan lain maka saya akan ganti dengan salat malam. Pokoknya pada Ramadan ini salat malam harus terpenuhi. Saya bahkan membatasi acara bukber seperti ini. Kalau cuma acara reuni dalam bentuk bukber saya tidak datang. Kuatirnya saya nggladrah guyon macam-macam. Saya kalau ketemu teman lama itu kadang lupa usia, “ Ia tertawa. “Ramadan adalah bulan spesial yang dikaruniakan oleh Tuhan bagi kita agar kita benar-benar bisa menjadi somebody new after,” sambungnya.

“To become somebody new, a much better person after Ramadan, “ sahut saya. “Saya setuju 100%.” Saya melirik jam tangan saya. Sudah hampir waktunya tarawih. Saya segera pamit. “Sampai bertemu setelah Ramadan dengan menjadi pribadi yang jauh lebih baik ya…! ”  Saya memeluknya dengan penuh rasa sayang dan saya pun pamit pulang.

 

Surabaya, 8 Juni 2018

 

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *