Rabu, 24 September 2020
Just another WordPress site
THINK LIKE A FREAK – Berpikir Tidak Biasa untuk Hasil yang Luar Biasa

Tendangan penalti terbaik dan paling besar kemungkinannya untuk berhasil adalah menuju lurus langsung ke kiper. Ini berdasarkan data statistik. Berdasarkan data penjaga gawang akan bergerak melompat ke kiri 57% dan ke kanan 41%, atau tetap berdiri di tengah hanya 2% (2 kali dari 100 tendangan penalti). Tapi amat sangat jarang pemain sepak bola yang mau melakukan tendangan langsung ke tengah. Apakah mereka tidak tahu statistik tentang ini? Tentu saja mereka tahu. Mereka itu pemain sepakbola dan tahu benar soal ini. Tapi mengapa mereka tidak mau melakukannya? Ada sebabnya dan Anda bisa membacanya di buku “Think Like a Freak”.

Ada hal yang membuat saya terhenyak dan merasa seperti dipukul. Ada fakta pesan pelayanan masyarakat yang semestinya dirancang untuk menggerakkan orang ke arah yang diinginkan masyarakat dengan menyatakan banyaknya orang yang berprilaku yang TIDAK DIINGINKAN. Dan ini ternyata justru MENDORONG masyarakat untuk melakukannya. Contohnya, pelayanan masyarakat tentang larangan untuk mengemudi di saat mengemudi dengan menyatakan “Begitu BANYAK ORANG MABUK dan mengemudi – Kita harus menghentikan ini”, “Kehamilan remaja SEMAKIN MARAK di sekolah-sekolah – Kita harus melakukan sesuatu untuk menghentikannya.” “Penipuan pajak MERAJALELA oleh sebab itu kita harus mengingkatkan sanksi”, dan pesan sejenisnya. Ternyata pesan semacam ini justru MENDORONG masyarakat untuk melakukannya (mabuk dan mengemudi, hamil di waktu remaja, menipu pajak)…!

Bagaimana bisa…?! Meski pun ini sangat manusiawi tapi ternyata ini strategi yang SALAH KAPRAH karena pesan subteksnya adalah bahwa BANYAK ORANG seperti Anda melakukan hal ini. Itu MELEGITIMASI prilaku yang tidak diinginkan. OMG…! Bayangkan kalau masyarakat kita disuguhi terus menerus dengan berita pemerkosaan, tawuran, siswa mabuk, dll. Bukannya bakal mengurangi kejadian tapi justru seperti mendorong mereka untuk melakukan hal yang sama. 🙁

Baca juga:  YUDI

Apakah Anda berupaya mati-matian untuk membujuk seseorang yang tidak ingin dibujuk? Pikirkan lagi. Pandangan lawan Anda mungkin lebih berdasarkan pada ideology dan pemikiran kelompok dibandingkan fakta dan logika. Tapi jika Anda menunjukkan hal ini di hadapannya, dia tentu akan membantahnya. Kata legenda pemain basket Kareem Abdul Jabbar, “Lebih mudah untuk melompat dari pesawat – mudah-mudahan dengan parasut – daripada mengubah pikiran Anda tentang suatu pendapat.” Daniel Kahneman, psikolog dan guru prilaku, menulis bahwa, “Kita bisa jadi buta pada sesuatu yang jelas, dan kita juga buta pada kebutaan kita sendiri.” Hanya sedikit dari kita yang kebal pada titik kebutaan itu.
Jadi bagaimana kita bisa membangun sebuah argumen yang mungkin benar-benar mengubah sedikit pemikiran? Buku ini punya sedikit advis untuk itu.

Buku tulisan Levitt dan Dubner ini benar-benar maknyus. Tidak salah kalau buku ini menjadi New York Times Bestseller dan mendapatkan banyak pujian. Kalau Anda ingin ‘menyantap’ sebuah buku yang bakal membuat Anda tersedot dalam-dalam maka buku ini layak untuk Anda cari, beli dan baca. Buku yang terdiri atas Sembilan bab ini bercerita tentang bagaimana pendekatan berpikir yang tidak biasa dan bahkan nyleneh justru bisa memecahkan masalah yang bahkan para ahli dan pakar pun terjebak. Buku ini begitu menariknya sehingga saya hampir tidak bisa berhenti membacanya. Maksud saya mau saya baca sedikit-sedikit sampai perjalanan saya ke Jakarta. Tapi begitu pesawat saya mendarat di Juanda dari perjalanan Denpasar buku ini sudah habis. Saya bahkan tidak mengira penerbangan DPS-SUB begitu singkatnya. 🙂

Book reporter.com memuji buku ini dengan menyatakan “Buku yang paling revolusioner. Mengajari kita untuk lebih produktif, kreatif, rasional (ah, kadang gak rasional kok!), dan berpikir seperti Orang Aneh.”
Buku ini menganalisis beberapa masalah yang ketika berusaha dipecahkan oleh para ahli dengan biaya jutaan dolar ternyata gagal, ternyata bisa didekati dengan pendekatan yang aneh dan nyleneh dan berhasil…! Sebagai contoh adalah kisah tentang program PBB untuk mengurangi karbon dioksida yang ternyata justru menambah jumlah karbon dioksida. Artinya PBB membayar pencemar lingkungan jutaan dolar untuk menciptakan polusi tambahan. Fenomena ini disebut “efek kobra” yaitu ketika kita ingin mengurangi jumlah ular kobra yang ada dengan membeli kobra-kobra yang ada (dengan harapan kobra akan habis kita beli) dan ternyata justru semakin banyak kobra yang ada. Itu terjadi karena kita menciptakan ‘demand’akan kobra sehingga ‘supply’pun datang. 🙂 Buku ini bercerita tentang bagaimana menemukan teroris dengan melihat data perbankan, mengapa para penipu dunia maya selalu mengaku dari Nigeria, seorang Jepang yang kurus bisa jadi juara lomba makan hotdog, seorang detektif tukak lambung, dll. Cerita-ceritanya sangat menarik dan menginspirasi. Jangan sampai Anda tidak membacanya. 🙂

Baca juga:  Cocacola dan Yahudi

Surabaya, 14 Agustus 2016

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *