Senin, 23 Juli 2019
Just another WordPress site
ACEH DAN PARA GURU PEJUANG

Ke Sabang, Pulau Weh, Propinsi Aceh lagi…

Dua bulan yang lalu saya ke kota cantik ini bersama istri untuk menikmati panorama indah kota nan paling ujung Timur Indonesia ini. Kali ini saya datang lagi bersama rombongan 50 orang guru yang menjadi perwakilan organisasi profesi guru se Propinsi Aceh. Sungguh senang melihat dan merasakan kegembiraan para guru yang rata-rata masih muda ini ketika menyeberang laut dari Banda Aceh ke Sabang. Meski kapal ferry cepat yang kami tumpangi terhempas-hempas tapi mereka tetap ceria bergurau dengan sesama. Banyak yang baru pertama kali datang ke Sabang dan tentu saja kesempatan pertama ini sangat menyenangkan.

Saya datang atas undangan Koalisi Barisan Guru Bersatu Aceh (Kobar GB Aceh) yang dipimpin oleh Pak Sayuti Aulia. Kobar GB Aceh melakukan perhelatan diklat selama 3 hari di Sabang dan saya diminta untuk menjadi salah satu nara sumber.

Acaranya bertajuk : “Diklat Peningkatan Kemampuan dan Kapasitas Organisasi Guru dan Tatakelola yang Profesional.” Adalah Pak Sayuti sendiri yang menginginkan saya untuk menjadi nara sumber dan beliau tidak keberatan jika saya berbicara tentang pentingnya literasi meski tema diklatnya adalah tentang pembinaan organisasi profesi. :-).

Mengapa demikian? “Organisasi guru perlu memahami pentingnya kemampuan literasi dalam menjalankan tugasnya,” demikian ujarnya. Ternyata beliau menyatakan sangat terkesan dengan presentasi saya waktu di Bireuen dan merasa mendapatkan pencerahan setelahnya. Bahkan sejak itu beliau berupaya untuk mendorong anaknya agar mau banyak membaca dengan memberikan insentif. (Saya bersyukur bahwa apa yang saya sampaikan pada safari literasi saya di lima kabupaten di Aceh baru-baru ini ternyata ada manfaatnya).

Berkat perjuangan Pak Sayutilah maka pemerintah propinsi Aceh bersedia mengucurkan dana pembinaan bagi organisasi-organisasi profesi guru yang diadakan di kota Sabang yang cantik ini.

Acara ini menurut saya unik karena ini menunjukkan bahwa pemerintah propinsi Aceh mengakomodasi dan sekaligus mengapresiasi adanya berbagai organisasi profesi guru di Aceh. Katanya ada cukup banyak organisasi profesi guru baik yang bersifat nasional seperti IGI dan PGRI, tapi juga yg lokal seperti Kobar GB Aceh. Saya belum melihat pemerintah propinsi lain yang mampu melihat dinamika organisasi guru dan bersedia mengakomodasi, dan apalagi bersedia untuk membina mereka, seperti Dinas Pendidikan Prop. Aceh. Ini jelas sebuah kebijakan politik yang berani dan cerdas sekaligus! Saat ini kita melihat bahwa Disdik masih dihegemoni oleh PGRI dan bahkan mereka masih mengklaim bahwa PGRI adalah satu-satunya organisasi guru yang ‘direstui’ oleh pemerintah. Tentu saja itu tidak benar.

Baca juga:  PENGHARGAAN LITERASI: AGAR TIDAK MENJADI PROGRAM HANGAT-HANGAT TAHI AYAM

Meski PGRI adalah organisasi guru paling besar tapi tidak berarti bahwa mereka paling aktif. Di Aceh justru Kobar GB Aceh yang paling aktif dan paling vokal. Adalah Sayuti Aulia tokoh organisasi guru yang paling disegani dan didengarkan aspirasinya oleh pemerintah propinsi mau pun kota/kabupaten.

Kobar GB Aceh mampu bersuara lantang dan bahkan menggerakkan para guru untuk berdemo jika ada penyelewengan atau ada hak-hak guru yang dirampas oleh pejabat di daerah Aceh. Bukan sekali dua kali Kobar GB Aceh membuat jerih para pejabat yang mencoba untuk menindas guru. Kobar GB Aceh sendiri justru berdiri karena Sayuti Aulia tidak tahan lagi melihat betapa para guru hanya dipotong gajinya oleh organisasi guru tanpa pernah tahu peruntukannya dan bagaimana pertanggungjawabannya. Karena tidak puas itulah maka ia mendirikan organisasi gurunya sendiri. Kobar GB bahkan pernah mem-PTUN-kan pemkab yang menzalimi seorang guru yang tidak bersalah. Ketika di pengadilan pemkab dinyatakan bersalah dan harus mengembalikan tugas dan jabatan guru yang dizalimi tersebut.

Meski pemkab naik banding tapi pengadilan lebih tinggi tetap memenangkan guru tersebut dan akhirnya pemkab harus mematuhi keputusan pengadilan. Si guru akhirnya kembali mengajar dan mendapat kembali tunjangannya.

Saya sangat salut dengan orang-orang yang punya nyali besar berani menentang kezaliman meski resiko besar menghadangnya. Kezaliman akan terus muncul di mana-mana dan hanya orang-orang dengan nurani dan nyali besar yang bisa menghadapinya.

Sayuti Aulia sebetulnya bertubuh kecil (lebih kecil daripada saya) tapi nyali dan tekadnya besar. Walikota Sabang, Zulkarnain, dalam sambutannya menceritakan bahwa mereka berkawan sejak lama dan ia tahu benar bahwa jika Sayuti Aulia menginginkan sesuatu maka ia akan memperjuangkannya dengan gigih. Sayuti tidak akan pernah berhenti sampai tujuannya tercapai.

Ketika saya tanya kapan ia mulai memperjuangkan Kobar GB ternyata baru tahun 2005. Itu ketika ia baru pindah dari Sabang ke Banda Aceh dan muak melihat penyelewengan organisasi guru yang diikutinya. Dengan sekertarisnya ia berupaya untuk mengajak guru-guru untuk mendirikan Kobar GB di setiap kota/kabupaten. Tentu saja ia dilecehkan dan dihalang-halangi oleh para pejabat dinas. Tapi Sayuti tidak kenal gentar dan juga tidak kenal lelah. Berkat perjuangannya yang gigih membela kepentingan guru maka saat ini Kobar GB telah berdiri di semua kota dan kabupaten di propinsi Aceh. Bukan hanya itu, saat ini Sayuti memiliki pengaruh yang besar pada para guru di propinsi Aceh sehingga sepak terjangnya benar-benar diperhitungkan oleh para pejabat di propinsi Aceh.

Baca juga:  Berpikir "Gek Ngene Gek Ngono"

Selain Sayuti Aulia, Aceh juga menyimpan banyak pejuang pendidikan yang membuat saya terkagum-kagum. Di antaranya adalah Zainuddin yang menjabat sebagai Ketua PGRI Kab. Bireuen dan M. Jafar, Ketua Kogar GB Bireuen. Mereka berdua adalah mitra yang sangat kompak dalam memperjuangkan hak-hak guru di Bireuen. Dua tokoh ini ternyata sama dinamitnya dengan Sayuti. Zainuddin, yang posturnya sama kecilnya dengan Sayuti, sendiri menganggap dirinya sebagai ‘anak haram’ PGRI. Artinya, sebenarnya ia adalah ketua PGRI yang sebenarnya tidak dikehendaki oleh jajaran pimpinan PGRI yang ada untuk menjabat. Tetapi berkat perjuangan dan strategi para tokoh organisasi guru di Bireuen seperti M. Jafar, maka Zainuddin akhirnya bisa menjadi Ketua PGRI Kab. Bireuen.

Meski berpostur kecil dan selalu tersenyum, Zainuddin adalah sosok guru yang sangat berani dan teguh memegang idealisme. Ketika ia menjadi Kepala Sekolah SMPN4 Bireuen ia diminta utk mengatur jawaban UNAS siswanya oleh Kadisdik. Tapi Zainuddin menolak tindakan yang tidak terpuji tersebut.

Perlawanannya ini membuatnya harus kehilangan jabatannya. Ia hanya menjabat sebagai kepala sekolah selama 9 bulan 10 hari dan mengundurkan diri. Tapi Zainuddin tidak pernah menyesali sikap dan tindakannya tersebut. Baginya memperjuangkan idealisme dan kejujuran adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar. Kalau ada resiko maka itu adalah konsekuensi yang harus dijalaninya.

Pada tahun 2007 Pemkab Bireuen tiba-tiba saja memotong gaji guru sebesar Rp. 250.000/tahun dengan alasan yang dibuat-buat. Hal ini membuat para guru menjadi berang. Mereka meminta agar potongan tersebut dikembalikan pada mereka. Zainuddin dan M. Jafar menggalang solidaritas para guru dengan mengadakan mogok mengajar sehari. Propinsi Aceh menjadi gempar dengan demo mogok guru ini. Meski Jafar dipindah tugasnya jauh dari kota tapi ini tidak menyurutkan semangat mereka untuk memperjuangkan hak para guru. Zainuddin bahkan diancam bunuh karena pejabat yang dilawannya adalah mantan GAM. Zainuddin sempat mengungsi ke rumah temannya selama tiga malam karena ancaman ini. Tapi akhirnya perjuangan mereka membuahkan hasil dan potongan gaji mereka dikembalikan.

Baca juga:  MENGAPA SAYA MEMILIH IGI

Pada Konperensi X PGRI Prop. Aceh baru-baru ini Zainuddin menggemparkan para peserta dengan tuntutannya kepada para pejabat yang menjadi pengurus teras PGRI. Dengan lantang Zainuddin menuntut agar organisasi PGRI dikembalikan pada pemiliknya, yaitu para guru. Sekedar informasi, para pejabat pimpinan PGRI hampir semuanya adalah para pejabat yang bahkan bukan pejabat Disdik. Ada yang kepala dinas lain yg tidak ada hubungannya dengan pendidikan, apalagi dengan guru. Hal ini membuat Zainuddin geram dan berkata lantang pada kongres tersebut, “Kapan PGRI dikembalikan ke pemiliknya? PGRI adalah milik para guru dan bukan organisasi para pejabat. Jika para pejabat ingin memiliki organisasi ya dirikanlah PPRI Persatuan Pejabat Republik Indonesia…!”

Tentu saja gugatannya ini membuat gempar suasana kongres saat itu. Hal ini membuat para guru sadar bahwa selama ini mereka hanya diperalat dan dikooptasi oleh oknum-oknum yang menunggangi organisasi profesi mereka. Mulai muncul kesadaran untuk tampil ke depan dan mengambil alih tampuk kepemimpinan organisasi profesi mereka.

Kisah-kisah perjuangan para guru di Aceh dalam menentang kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan kekuasaan para pejabat sungguh membuat saya terkesan dan terharu sekaligus. Saya harus angkat topi dan mengucapkan salut setinggi-tingginya pada mereka yang dengan gagah berani menentang ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Ternyata masih banyak guru di daerah yang terus berjuang tanpa gembar-gembor apalagi mengharapkan balasan dari perjuangan mereka. Mereka adalah para pemberani yang bersedia menanggung resiko terburuk sekalipun demi memperjuangkan cita-cita.

Mari kita bantu perjuangan mereka agar tujuan kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa kita dapat terwujud. Semoga…!

Berita tautan:

http://seputaraceh.com/read/456/2009/09/30/kobar-gb-dan-pgri-bireuen-kecam-pemindahan-guru
http://m.harianaceh.co/read/2011/08/16/16025/kobar-gb-dan-pgri-desak-bupati-copot-kepala-dpkkd
http://harianandalas.com/kanal-aceh/oknum-dinas-pendidikan-dan-kebudayaan-bireuen-kutip-dana-penyerahan-sk-dirjen-mendikbud

Sabang, 18 Desember 2014

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *