Senin, 10 Desember 2018
Just another WordPress site
JALAN-JALAN KE JEPANG (Bagian 2) : SUSHI, YAKINIKU, UDON, RAMEN, DLL

HARI PERTAMA
Pesawat kami berangkat dari Ngurah Rai ke Haneda pada pukul 1 pagi. Dengan kecepatan 959 km/jam pada ketinggian 30.000 kaki perjalanan ke Tokyo memakan waktu sekitar 6,5 jam. Waktu di Tokyo satu jam lebih awal drpd Bali. Jadi sama dg di Papua.
Keluar dari bandara kami langsung disambut oleh dua orang staf travel di Jepang. Kopor-kopor kami langsung dikirim ke hotel dan dengan kendaraan semacam L-300 kami langsung dibawa ke Tsukiji Fish Market yg berjarak sekitar 20 menit perjalanan.

TSUKIJI MARKET
Pasar Tsukiji (Tsukiji Shijō) adalah pusat penjualan grosir besar ikan, buah-buahan, dan sayuran di pusat kota Tokyo. Tempat ini paling terkenal di antara lebih dari sepuluh pasar grosir yang menangani distribusi ikan dan daging di Tokyo. Tsukiji dikenal sebagai salah satu pasar ikan terbesar di dunia dengan omzet lebih dari 2000 ton produk laut per harinya. Tsukiji adalah the world’s largest and busiest fish market.
Sayangnya kami hanya berkeliling sebentar di luar pasar tanpa masuk dan melihat proses pelelangan ikan yg atraktif tsb. Tapi kami sempat mencicipi makanan yg dijual di sepanjang jalan, dan langsung ke Asakusa.

ASAKUSA
Asakusa adalah salah satu pusat kota tua di Tokyo dengan Sensoji Temple sebagai pusatnya. Sensoji adalah sebuah kuil Budha yang dibangun pada abad ke 7. Asakusa yang merupakan tempat wisata di daerah Taito ini merupakan tempat paling favorit di Jepang yang selalu ramai oleh wisatawan baik dalam negeri maupun manca negara sepanjang tahunnya. Katanya Asakusa setiap tahunnya dikunjungi sekitar 30 juta orang. Kami berjalan berdesak-desakan di sepanjang jalan Nakamise yg sempit diapit oleh berderet toko oleh-oleh yg menarik.

Asakusa

Asakusa

TOKYO SKYTREE
Tokyo Skytree, yang sebelumnya disebut New Tokyo Tower adalah menara tertinggi di dunia. Tingginya mencapai ketinggian akhir 634 m melampaui Menara Canton di Guangzhou. Sebagai bangunan ia merupakan bangunan tertinggi nomor dua di dunia setelah Burj Khalifa (829,84 m).

Kami naik ke Tembo Deck dengan ketinggian 350 m melalui lift super cepat yg bisa melambungkan kami hanya dalam waktu 50 detik. Begitu cepatnya sampai terasa sakit di gendang telinga. Begitu sampai di atas kita bisa mengelilingi bangunan menikmati keindahan dan liku- liku kota Tokyo dari atas menara Skytree.

Hachiko

Hachiko

Tokyo Skytree mampunyai bentuk tripod pada bagian bawah. Pada ketinggian 350 meter bentuknya silinder. Ada dua dek utk melihat, yang pertama ada di ketinggian 350 meter dengan kapastitas hingga 2000 orang. Dek kedua ada pada ketinggian 450 meter dan bisa menampung sebanyak 900 orang. Tapi kami hanya naik pada dek pertama. Itu pun sudah berdesak-desakan karena begitu banyaknya pengunjung. Untungnya tiket naik ke Skytree ini sudah dibelikan sehari sebelumnya oleh travel kami. Kalau tidak maka kami mungkin tidak bisa naik hari itu.
Pemandangan kota Tokyo dari Skytree sungguh mengesankan. Gedung-gedung tinggi tumbuh dengan rapi dan indah dalam jumlah begitu banyak. Samasekali tidak ada daerah yg nampak kotor, kumuh, atau tidak terawat. Semuanya bersih, modern, tertib, dan tertata baik.

Baca juga:  TERIMA KASIH SUDAH MENGINGATKAN UNTUK MEMBACA

Kapan ya Indonesia bisa semaju Jepang…?!

Selesai menikmati pemandangan kota Tokyo dari menara tertinggi di dunia kami langsung ke hotel Ellcy di Machida utk istirahat. Tapi sebelumnya kami mampir ke resto khas Jepang utk makan malam. Kalau tadi siang menunya adalah Sushi (daging mentah segar) maka menu makan malam adalah Yakiniku (daging panggang). Ada di antara kami yg tidak menikmati Sushi pada makan siang tadi tapi semua menikmati Yakiniku sehingga kami makan sampai benar-benar puas.
Berbagai macam potongan daging terus dihidangkan sampai kami menyatakan berhenti karena sudah kekenyangan.

HARI KEDUA

FUKUOKA
Hotel Ellcy di mana kami menginap cukup jauh baik dari pusat kota mau pun bandara jadi kami diminta untuk siap di lobi pada jam 5:45 pagi utk jemputan ke bandara (berarti jam 3:45 di Surabaya). Meski demikian kami semua berhasil tiba di lobi utk check-out pada jam 5:45. Perfect timing! Kami memang harus berangkat sepagi itu karena jalanan menuju bandara Haneda sangat padat.

Fukuoka berjarak perjalanan 1,5 jam penerbangan dari Haneda. Kira-kira sama dengan penerbangan dari Surabaya ke Jakarta. Karena terlalu pagi maka kami tidak sempat sarapan di hotel. Tapi kami dibawakan nasi bungkus Jepang yg enak dan sekaligus unik oleh Igarashi, pemandu wisata kami.
Fukuoka adalah ibukota Prefektur Fukuoka dan terletak di pesisir utara pulau Kyushu di Jepang, seberang Selat Korea dari kota Busan di Korea Selatan.
Fukuoka adalah kota terpadat di Kyushu dan merupakan pusat ekonomi dan kebudayaan Kyushu sejak dulu.

Dengan jumlah penduduk hampir 1,5 juta jiwa, Fukuoka adalah kota terbesar di bagian Barat Jepang. Bandara Fukuoka merupakan bandara tersibuk di Jepang setelah Bandara Haneda di Tokyo. Katanya, Fukuoka juga memiliki jumlah mahasiswa asing terbesar nomor 2 di Jepang. Fasilitasnya sangat lengkap dengan biaya hidup yang lebih murah daripada Tokyo. Ini membuat Fukuoka disukai oleh mahasiswa asing yg ingin belajar di Jepang.

Sebelum ke Kyushu Sangyo University kami mampir dulu untuk menyusuri sungai Yanagawa dg menggunakan perahu. Sungai Yanagawa airnya cetek dan dipenuhi dg rumput atau tumbuhan sungai yg berdaun panjang-panjang. Tapi airnya sangat jernih dan dingin. Sayang sekali tidak ada ikannya. Siang itu ada banyak turis yg ikut menikmati pemandangan pedesaan di sepanjang sungai yg kami lewati. Desanya begitu rapi, bersih, indah, tapi sangat sepi seolah rumah-rumah itu tak berpenghuni.
Perahu itu dikendarai oleh nelayan tua berpakaian asli Jepang yg menggunakan galah panjang. Ia terus bercerita menggunakan bahasa Jepang sepanjang perjalanan dan diselingi menyanyi lagu-lagu Jepang kuno meski tak satu pun di antara kami yg paham apa yg ia katakan. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dan kami turun di daerah lain bukan tempat asal kami berangkat. Di sana Igarashi sudah menunggu kami dengan kotak makan siang dengan menu karage yg juga lezat.

Baca juga:  MENGUNJUNGI INDIA Part 5 : TAJ MAHAL, How Beautiful and Grand Your Love?

KYUSHU SANGYO UNIVERSITY
Setelah menyusuri sungai Yanagawa kami menuju Kyushu Sangyo University (KSU), kampus tujuan studi banding kami. Di KSU kami disambut dan diajak berkeliling oleh Professor Bernady O. Apduhan PhD, orang Filipina yg jadi dosen di kampus tersebut. Hampir saja saya kira beliau orang Indonesia karena wajahnya memang mirip orang Indonesia.

Kampus KSU berdiri di atas tanah seluas 4,5 hektar dan terdiri atas 12 bangunan gedung berbagai tingkat. Beberapa bertingkat 6 dan lainnya lebih rendah. Selain itu ada lapangan sepakbola dan baseball yg sangat bagus dan terawat. Ada juga workshop utk praktek mahasiwa seni dan theater yg bisa menampung 600 orang. Semuanya serba modern dan praktis.

KSU dengan slogan Kiku (Listening)Shiru (Understanding) Ugoku (Taking action)memiliki 7 fakultas utk program sarjana dan 5 program pasca. Kampusnya nampak sangat bersih dan indah. Meski demikian mahasiswanya hanya 10.807 org dengan 587 dosen dan staf. Ada 563 mahasiswa asing yg kuliah di KSU tapi 90% dari China dan tak satu pun dari Indonesia. Dengan biaya kuliah berkisar antara 70 s/d 100 juta setahun mungkin kuliah di KSU dirasa terlalu mahal bagi mahasiswa kita.

Setelah saling mendengarkan aspirasi masing-masing yang dilanjut dg ‘campus tour’ sekitar satu jam lebih kami pun kembali ke kota. Hari sudah senja ketika kami sampai ke Tenjin, pusat kota Fukuoka.
Kami makan malam di sebuah resto dengan menu buffet. Sebelum memilih-milih hidangan kami ditunjuki mana menu yg mengandung babi utk kami hindari. Setelah makan kami jalan-jalan di mall Iwataya utk studi banding lain. Kali ini kami membandingkan isi dagangan di mall Fukuoka. Kami sangat terkesan dg makanan dan kue-kue yg mereka jual di supermarketnya. Semua kue mereka dibentuk dan dikemas sangat cantik sehingga rasanya sayang utk dimakan. Hehehe…!
Kami menginap di Hotel Routeinn dan tidak jadi di Hotel AZ yg unik. Rupanya hotel AZ penuh karena sedang ada konser besar di Fukuoka saat ini.

Baca juga:  Korean Ginseng

HARI KETIGA
Kami bangun agak siang karena pesawat kami kembali ke Tokyo juga tidak terlalu pagi. Perjalanan dari hotel ke bandara Fukuoka sekitar satu jam melalui jalan yg lebar dan mulus. Pagi yg cerah dan pemandangan suasana pedesaan yg indah kami temui sepanjang perjalanan.

Sama seperti kemarin kami menggunakan penerbangan ANA, saingan JAL, kembali ke Tokyo. Proses check-in dilakukan secara elektronik pada mesin hanya dengan menempelkan bar-code tiket. Dari mesin keluar tiket utk boarding yg berupa kertas kecil spt kuitansi kalau belanja di mini market. Sangat praktis dan sederhana.
Penerbangan Haneda-Fukuoka pp sangat sibuk dan ANA punya sekitar 15 kali penerbangan setiap hari. Belum lagi penerbangan JAL yang juga sama sibuknya. Pesawat ANA adalah Boeing 787 dengan 9 baris kursi setiap barisnya. Dan nampaknya semua kursi terisi.
Jarak Fukuoka – Haneda adalah sekitar 900 km yg ditempuh melalui ketinggian 40 ribu kaki oleh pesawat kami dalam waktu 1 jam 40 menit. Tiba di Haneda Airport tengah hari dan kami langsung menuju Aimachi utk makan siang. Kali ini kami akan menikmati Ramen alias mi khas Jepang.
Untungnya kami punya pemandu wisata yg bisa mencarikan makanan halal. Uniknya Resto Tomo, resto halal food yg kami kunjungi sangat kecil, hanya cukup utk 7 orang. Itu pun resto dg model bar bangku panjang. Jadi kami harus menunggu pelanggan lain selesai baru masuk. Tapi ramennya sungguh lezat apalagi kami campur dengan sambal botol rasa teri yang kami bawa dari tanah air. 🙂

AKIHABARA
Selesai makan kami lalu menuju ke Akihabara yg merupakan kawasan perbelanjaan yang terletak di sekitar Stasiun Akihabara. Akihabara sering disingkat sebagai Akiba.

Akihabara merupakan pusat perbelanjaan untuk barang elektronik yg menjual berbagai macam perlengkapan handphone, ipod, pernak-pernik komputer seperti mouse, flashdisk, headphone, dan sejenisnya. Di toko lain dijual berbagai macam kamera, baik kamera saku maupun kamera professional. Ada banyak toko-toko besar di Akihabara yg terdiri dari bangunan-bangunan bertingkat tapi kami hanya berkeliling sebentar. Suasananya sangat ramai utamanya di setiap perempatan. Begitu lampu hijau utk menyeberang menyala langsung ratusan penyeberang jalan menghambur utk menyeberang jalan. Suasananya sungguh riuh.

Dari Akihabara kami menuju ke Shibuya Station utk melihat patung Hachiko. Hachiko adalah seekor anjing yg melegenda karena kesetiaannya pada tuannya. Ceritanya bahkan difilmkan dengan Richard Gere sebagai pemain utamanya.

Setelah berkeliling melewati Shinjuku kami pun balik ke Machida. Sebelum masuk ke hotel kami mampir dulu utk makan malam dg menu masakan Jepang lagi. Pokoke makanan Jepang everytime…

Sekian dulu perjalanan kami kali ini. Sayonara….!

Tokyo, 15 Nopember 2014

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *