Senin, 10 Desember 2018
Just another WordPress site
JALAN-JALAN KE JEPANG (Bagian 3) : The Most Beautiful Mountain I’ve Ever Seen

HARI KEEMPAT, MINGGU 16 NOP 2014

HAKONE

Tujuan wisata kami pada hari ke empat adalah Hakone Yamoto. Hakone adalah bagian dari Fuji-Hakone-Izu National Park yang letaknya kurang lebih 100 km dari Tokyo. Kali ini kami tidak naik minibus seperti biasanya tapi kami akan naik berbagai jenis transportasi. Pertama-tama adalah jalan kaki ke stasiun kereta api Odakyu Machida yang hanya berjarak 5 menit dari hotel kami. Jam 8 pagi kami semua sudah selesai sarapan dan siap hitting the road. Begitu keluar dari hotel kami langsung diterpa oleh angin dingin 7′ Celsius. Mak nyes….! Petugas AC kota Tokyo pasti lupa mematikan AC seluruh kota pagi ini. 🙂 Suhu sedingin ini mampu menembus celana jins yg tebal. Tapi kami sudah siap dengan longjohn, jaket, sweater, topi, syal, dll. Kami sudah siap menghadapinya.
Jalanan sudah ramai dan ratusan orang berjalan cepat di sepanjang jalan menuju dan dari stasiun kereta Odakyu Machida seolah diburu oleh sesuatu. Siapa juga yg tahan jalan pelan-pelan di suhu yg menggigit seperti ini…?!

Kereta ke Hakone Yamoto berangkat jam 7:30 persis. Untuk perjalanan ini kami menggunakan Hakone Free Pass yang bisa digunakan utk semua transportasi selama di Hakone. Perjalanan dari Stasiun Odakyu Machida ke Hakone Yamoto akan memakan waktu waktu 55 menit persis. Di Jepang mah segalanya serba persis. Gak ada tawar-tawaran. Lucunya, kereta api kami bernama Romancecar, mobil cinta yg lari di atas rel. 😀

Tiba di Hakone Yamoto kami ganti naik kereta lain ke Hakone Touzan. Kali ini kami harus berebut tempat duduk karena penuh dan sebagian besar dari kami terpaksa berdiri. Kereta ini pendek dan berjalan lambat karena perjalanan terus menanjak mendaki pegunungan. Baru kali ini saya tahu ada kereta mendaki gunung. Karena tingginya pegunungan maka kereta harus berjalan zigzag dengan dua lokomotif muka dan belakang yg bergantian menarik gerbong. Kereta juga berhenti di beberapa stasiun dan tiba di tempat 40 menit kemudian.

Tujuan pertama adalah Hakone Open Air Museum (Hakone Choukoku no Mori Bijutsukan) yang merupakan musium terbuka Jepang yg dibuka pada tahun 1969. Musium ini punya lebih dari 1000 koleksi berbagai karya seni para seniman kelas dunia seperti Picasso, Henry Moore, Churyo Sato dll.
Pablo Picasso adalah tokoh seni lukis aliran Kubisme, yaitu aliran yang membentuk obyek seninya dalam bentuk abstrak atau bentuk-bentuk geometri untuk mendapatkan sensasi tertentu. Karena bentuknya kadang abstrak ya sulit juga bagi kita yang tidak paham untuk mendapatkan sensasinya. Picasso mendapat tempat yg paling terhormat di Picasso Pavilion yang terdiri dari dua lantai dengan 300 lebih karyanya baik itu lukisan mau pun keramik. Saya baru tahu kalau Picasso bukan hanya melukis. Banyak karya-karya keramiknya yang mengherankan saya. Maksudnya, lha wong gitu saja kok ya disebut karya seni. Saya sempatkan untuk membeli buku kumpulan karya Picasso untuk menunjukkan pada anak saya bahwa karya seni dari seniman top dunia tidak selalu indah dan bisa seperti lukisan asal-asalan anak umur lima tahun. Jadi tidak perlu takut dalam berkarya. 😀

Dari musium kami naik kereta lagi ke Gora dan dari Gora kami naik kereta gantung (cable car) ke Souzan. Meski pun relnya hanya satu jalur tapi ada dua kereta dalam satu jalur tersebut, satu naik dan satu turun. Bagaimana caranya, kan mereka harus bergantian? Nah, itulah cerdasnya orang Jepang. Dengan teknik tertentu kereta tersebut bisa berpapasan dan masing-masing masuk ke jalur yg satu tersebut. Jadi di tengah dibuat dua jalur rel sambungan di mana masing-masing kereta masuk ke jalur masing-masing dan nantinya baru masuk ke jalur utama. Artinya, kedua kereta harus bertemu di rel sambungan pada saat yg bersamaan agar bisa masuk ke rel utama.
Dari Souzan kami naik Ropeway ke Owakudani di mana terdapat sumber air panas dari erupsi Gunung Hakone ribuan tahun lalu.

Di stasiun Owakudani kami mencicipi Kuro-Tamago atau telur rebus hitam yang konon berkhasiat membuat kita kembali muda. Nah ini dia…! Telur mentah yang awalnya kulitnya putih di masukkan dalam kolam sulfur dan setelah matang kulitnya berubah jadi hitam. Satu telor bisa membuat kita kembali muda tujuh tahun, katanya sih. Jadi kalau saya makan delapan telor saya bisa jadi bayi lagi. Bahaya juga…! Siapa yg bakal mengadopsi saya di Jepang nantinya. 😀 Karena sangat berkhasiat maka rebusan telur di Owakudani ini cukup mahal. Satu biji telur sekitar 35 ribu rupiah. Mungkin yang mahal adalah ongkos ngecat hitamnya. Wakwakwak…!

Dari Owakudani kami melanjutkan perjalanan ke Danau Ashi, masih dengan ropeway. Kereta Gantung kami menuju ke Stasiun Togendai di mana sudah menunggu kapal pesiar yang didesain seperti kapal bajak laut untuk menyebrang ke Hakone-Machi. Ashinoko atau Danau Ashi katanya adalah danau yang terbentuk akibat letusan gunung Hakone ribuan tahun yang lalu. Dengan menaiki Kapal Bajak Laut kami menyeberangi Danau Ashi yang indah dan sangat jernih dari Togendai ke Hakone-Machi.

Dari Hakone-Machi kami naik bis ke stasiun Odawara. Pemandangan sepanjang perjalanan turun ke Odawara sungguh indah. Jalanan mulus dan semua kendaraan berjalan tertib. Tak ada satu pun kendaraan yg mencoba menyerobot kendaraan di depannya. Mereka juga menjaga jarak dengan kendaraan di depannya. Luar biasa tertibnya orang Jepang ini. Kapan ya bangsaku bisa setertib orang Jepang…?! (Keluh)

Baca juga:  DISORIENTASI

Dari Odawara Station kami naik Shinkansen, kereta super cepat, menuju Shin-yokohama dengan route Kodama 64. Naik Shinkansen adalah cita-cita saya sejak lama. Sejak pertama kali membaca tentang Shinkansen saya sudah ingin merasakan bagaimana hebohnya naik ‘kereta peluru’ yg katanya kecepatannya bisa mencapai 300 km/jam. Lebih kencang daripada mobil balap terkencang. Begitu naik sampai di stasiun kami langsung mendengar suara yg keras mendesing seperti bunyi pesawat jet. Itulah Shinkansen yg lewat dengan kepala lokonya mirip kepala ikan lumba-lumba. Begitu kencangnya sampai kami semua melongo karena baru sekali itu kami melihat kereta api yg bisa melaju begitu kencang. Wow…! Kami semuanya terbelalak. Bagaimana ya rasanya kalau di dalam? Tetapi ketika kami naik di dalam kereta kami tidak merasakan kencangnya kereta. Di dalam perjalanan terasa tenang dan bahkan lebih tenang daripada naik Sancaka jurusan Surabaya-Madiun. Ya jelaslah! Lha wong naik pesawat terbang yang 3X lipat kecepatan Shinkansen saja kita gak merasakan kecepatannya kok! Dasar katrok…!
Perjalanan kami naik Shinkansen sampai Yokohama hanya 16 menit. Dari Yokohama kami naik kereta JR yg penuh berdesak-desakan ke Stasiun Odakyu Machida selama 20-an menit.

Sebelum balik ke hotel kami mampir dulu utk makan malam di Restoran Sukiya di Machida. Menu malam ini adalah Udon atau beef bowl yang sungguh lezat.

Hari ini sungguh melelahkan tapi juga sekaligus menyenangkan…!

HARI KE LIMA, 17 NOPEMBER 2014

Hari ini jadwal kami sebenarnya ke Gunung Fuji. Tapi oleh teman-teman jadwalnya diubah, entah mengapa. Jadi kami akan ke Kamakura dulu dan besok baru ke Gunung Fuji. Kami juga akan berangkat lebih siang karena tujuan wisatanya hanya satu dan setelah itu belanja. Belanja…?! Yang ini mah seolah tidak ada habisnya. Padahal di Gunung Fuji nanti ada Gotemba Factory Outlet.

Kamakura adalah salah satu kota di Prefektur Kanagawa yang punya banyak kuil. Tujuan kami adalah Kuil Kotokuin yang terkenal dengan Buddha Agung (Amita-Buddha Daibutsu atau Great Buddha) yang dibangun pada tahun 1252. Di Kuil ini kita bisa melihat patung Buddha dari perunggu setinggi 13,35 meter yang tengah duduk bersila dengan tangan meditasi.
Kami membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan dari Machida, Tokyo. Kamakura termasuk pedesaan sehingga suasananya cukup berbeda dengan Tokyo yang dipenuh oleh gedung-gedung bertingkat dan pencakar langit. Alam di Kamakura berada di antara perbukitan dan hutan yang tampak masih asri. Suasananya adalah seperti kota kecil, sunyi, dan damai. Mak nyes rasanya melihat suasana yg begitu indah itu.

Rata-rata rumah penduduk di Kamakura berukuran kecil dan bertingkat. Meski demikian model rumahnya modern dan nampak nyaman. Saya suka dengan rumah kuno dengan bentuk atap tradisional Jepang. Rata-rata rumah hanya memiliki halaman yang sempit atau bahkan tak memiliki halaman. Bahkan garasinya begitu sempit sehingga kami bertanya-tanya bagaimana mereka keluar setelah mobilnya masuk garasi. Hal ini membuat beberapa penduduk yg punya tanah luas menyewakan lahannya sebagai lahan parkir jam-jaman. Yang menjaga pun nampaknya pemiliknya yang sudah tua.
Kuil Kotokuin tidak terlalu besar tapi di tengahnya berdiri patung Budha setinggi 13,35 meter dengan berat 93 ton. Patung ini menjadi patung Buddha monumental terbesar kedua di Jepang (yakni setelah patung Buddha di Todaiji, Nara). Saya sudah sering melihat patung Budha seperti ini tapi patung ini menurut saya sangat impresif.

Patung Buddha Agung ini duduk dengan posisi teratai dan dengan tangan membentuk Dhyani Mudra, pola yang melambangkan konsentrasi/meditasi. Dengan pemandangan bukit di belakangnya, patung Budha ukuran raksasa ini memberikan sebuah pemandangan yang sungguh menakjubkan. Ekspresi wajahnya sangat khusuk dan damai dan membuat saya seperti tersedot oleh kedalamannya. Saya seperti bisa ikut merasakan kedamaian, ketenangan, dan kedalaman meditasi yg diekspresikan oleh patung Budha ini. Saya sungguh kagum dengan pembuat patung ini. Sungguh sebuah karya seni spiritual yg spektakular.

Kami tidak lama berada di kuil ini dan selanjutnya menuju ke Aqua City di Odaiba. Ini adalah kompleks hiburan dan perbelanjaan yg sangat besar dan luas. Di sinilah tempat Tokyo Madame Tussaud Museum yg menampilkan patung-patung tokoh-tokoh terkenal dalam ukuran yg sama dengan orangnya sendiri. Selain itu ada Marine Park yg desainnya dirancang seperti dek kapal yg sangat besar dan lantainya dari kayu ulin. Pasti dari Kalimantan kayunya…!
Di tempat ini ada toko yg menjual ‘everything ¥ 100’ alias toko obral yg menjual berbagai macam barang dengan harga murah. Namanya toko Daiso dan terdiri atas beberapa kompartemen. Inilah surga belanja bagi kami…! :-D. Di sini istri saya berbelanja habis-habisan alias membuat semua uang Yen kami habis tak tersisa. Semua mau dibeli olehnya…
Kata Igarashi, pemandu wisata kami, tempat ini semakin terkenal bahkan bagi orang Jepang sendiri. Dulunya memang hanya utk turis dan orang Tokyo sendiri malu masuk dan berbelanja di toko obral tersebut. Tapi lama-lama orang Tokyo tergiur juga oleh murahnya harga di toko ini dan ikut-ikutan belanja di situ juga.

Kami makan siang di komplek Odaiba juga. Menunya…?! Nasi Campur Surabaya…! Rupanya ada restoran Indonesia yg namanya SuraBaya ditempat ini. Rasa sup sotonya seenak soto Lamongan di Indonesia. Lumayan utk menghibur perut yg kangen dengan masakan Indonesia.

Untuk makan malam kami mendapat menu yang istimewa di resto Kouzan. Resto ini khusus menjual menu sate ayam khas Jepang yg sangat enak. Ada beberapa macam sate yg dihidangkan dan semuanya ‘very oishi’ alias sangat lezat. Kalau saja resto ini ada di Indonesia pasti akan jadi resto favorit saya.

Baca juga:  JALAN-JALAN KE FILIPINA BAGIAN 3 : TUKANG BECAK FASIH BERBAHASA INGGRIS

Satu hal yg bisa saya simpulkan soal makanan Jepang yang saya nikmati selama ini adalah mereka masuk dalam dua kategori : ‘Oishi’ dan ‘Very Oishi’. 🙂

Sampai jumpa lagi besok.

HARI KE ENAM : Selasa, 18 Nopember 2014

Hari ini adalah hari terakhir dari tur kami. Hari ini kami akan ke Oshino Hakkai, sebuah desa tradisional, sambil menikmati pemandangan Gunung Fuji (Fujiyama).

GOTEMBA PREMIUM OUTLET

Sebelum sampai ke Oshino Hakkai kami mampir dulu ke pusat perbelanjaan pakaian khusus bermerk, namanya Gotemba Premium Outlet.
Gotemba Premium Outlet sangat luas dan ramai pengunjungnya. Saya sampai heran kok bisanya di kaki Gunung Fuji ini ada komplek pertokoan yg begitu luas yang menjual hampir semua produk bermerek terkenal internasional. Semua merek legendaris, baik itu fashion, sport, hingga barang elektronik ada di satu lokasi. Lebih dari 200 merk ada di kompleks ini sehingga kecil kemungkinan ada outlet merk internasional yang tidak buka di sini. Boleh dikata The Gotemba Premium Outlets (GPO) adalah kompleks pertokoan terbesar dan mungkin juga paling eksklusif di Negeri Sakura. Barang-barang di GPO terjamin kualitas dan keasliannya. Merk apa yang Anda cari? Prada, Dolce & Gabbana, Dunhill, Hugo Boss, Zegna, MacKintosh, Etro, Armani, G-Shock, Tumi, Salvatore Ferragamo, Alexander Wang, Ralph Lauren, TODS, Tasaki, Swatch, Kanematsu, Calvin Klein, Brooks Brothers, Dior, Bally, Coach Men’s, Marni, Chloe, Brioni, sebut saja… Asal jangan tanya merk Yongki Komaladi, Nail dan Batik Keris aja karena itu merk Indonesia. 🙂
Tapi kami tidak beli apa-apa (meski istri saya merengek utk membeli jaket rajutan seharga sekitar ¥ 5000. Itu sudah diskon lho!) karena harga barang di sini jelas muahal (namanya juga barang ori bukan kw) dan lagipula Yen kami sudah habis kemarin. Selain itu koleksi yg dipamerkan di toko ini adalah koleksi musim dingin. Besok toh kami sudah akan balik ke Indonesia yang hawanya sumuk. Olaopo…!

GUNUNG FUJI
Gunung Fuji memiliki ketinggian 3.776,24 meter atau 12.389 kaki dari atas permukaan laut. Gunung ini terletak di dekat lautan Pasifik dan di tengah Pulau Honshu di sebelah barat Kota Tokyo. Gunung Fuji berdiri diantara perbatasan Prefektur Shizuoka dan Yamanashi. Terdapat tiga kota kecil disekitar Gunung Fuji, yaitu Kota Gotemba di sebelah selatan, Kota Fujiyoshida di sebelah utara, dan Kota Fujinomiya di sebelah barat daya. Gunung Fuji merupakan salah satu dari tiga gunung suci di Jepang, bersama dengan Gunung Tate dan Gunung Haku. Tapi Gunung Fujilah yg menjadi salah satu simbol negara Jepang yang mendunia. Gunung tertinggi di Jepang ini memiliki kerucut yang sempurna. Puncak gunung ini tertutup salju beberapa bulan dalam setahun dan kami beruntung bisa melihat saljunya yg indah seperti es krim yg meleleh itu. Gunung Fuji sangat terkenal di dunia dan di Jepang sering digambarkan dalam seni, foto-foto, lagu, dan tempat kunjungan utama para pelancong dan pendaki. Gunung Fuji sudah didaftarkan sebagai situs sejarah dan warisan dunia di World Heritage List.

Menurut sejarah, Gunung Fuji sudah pernah meletus sebanyak 16 kali selama 1300 tahun terakhir dan mudah-mudahan tidak akan meletus lagi. Soalnya gunung ini masih aktif. Paling tidak, ketika kami ke sana gunung ini jangan meletus dululah! 🙂

Pagi ini cuaca sangat cerah dan Gunung Fuji nampak sangat jelas dari jauh. Ketika jalanan mengarah lurus ke arahnya maka Gunung Fuji seolah menjadi wallpaper di hadapan kami. Sungguh…sungguh indah dan mengagumkan…! Subhanallah…! This surely is the most beautiful mountain I’ve ever seen. Alhamdulillah, Tuhan telah memberi kami kenikmatan yg luar biasa dengan menunjukkan ciptaannya yang luar biasa ini pada kami. Kalau dulu saya melihat gambar Gunung Fuji di foto dan buku-buku sekarang saya bisa melihat langsung gunungnya di tempat saya berdiri. Fantastik…!

OSHINO HAKKAI
Kami menikmati pemandangan Gunung Fuji dari sebuah daerah bernama Oshino Hakkai, sebuah desa kecil di daerah
Fuji Five Lake region. Lokasinya antara Danau Kawaguchiko dan Danau Yamanakako.
Oshino Hakkai memiliki 8 kolam air alam pegunungan yg berasal dari sumber Gunung Fuji. Air kolam ini sangat jernih dan murni sehingga bisa diminum langsung dan juga menyehatkan karena mengandung mineral (air keran di hotel juga bisa langsung diminum tapi tidak mengandung mineral seperti air kolam di Oshino Hakai). Kolamnya cukup dalam dan banyak ikannya. Tapi ikan itu memang dipelihara utk tujuan turisme dan bukan untuk dikonsumsi. Di kolam yang lebih besar ikannya juga lebih besar dan ada bebeknya yg warna kepala dan lehernya sangat indah. Ini pasti bebek tercantik di dunia…!

Di desa tersebut ada beberapa rumah yang dijadikan semacam musium rumah tradisional Jepang. Rumahnya terbuat dari kayu dan beratapkan rumbai. Di dalam rumah ada beberapa kamar sebagaimana layaknya rumah tempat tinggal. Ada juga dokumen-dokumen kertas kuno berisi tentang berbagai perihal yang mereka catat sejak dulu. Jadi orang Jepang memang sudah membaca dan menuliskan pengetahuannya sejak jaman kuno (makanya pintar!). Selain itu, di rumah kayu yg di dalamnya bertingkat itu ada bermacam-macam peralatan bertani, barang rumah tangga, pedang dan baju samurai lengkap. Jangan-jangan ini rumah salah satu anak buah ‘The Last Samurai’ yang diperankan oleh Ken Watanabe…! Saya beruntung nih bisa berkunjung ke desa ‘The Last Samurai’. Sensasinya kayak Tom Cruise datang ke desanya Ken Watanabe.

Baca juga:  JOKOWI VERSUS ERDOGAN?

Di desa yang cantik dan damai inilah kami menikmati pemandangan puncak Gunung Fuji yang semula tertutup kabut tapi kemudian nampak jelas. Sekedar untuk diketahui, tidak mudah melihat Gunung Fuji karena peluang kita untuk melihat puncak gunung adalah fifty-fifty karena puncaknya selalu di tutupi kabut. Kami memang sedang bernasib baik saat itu.

KAWAGUCHIKO

Setelah dari Oshino Hakkai kami kemudian berkeliling ke Danau Kawaguchi. Danau ini berlokasi di Fujikawaguchiko, di Selatan Yamanashi Prefecture dekat Gunung Fuji. Ini adalah danau kedua terbesar dari the Fuji Five Lakes dan yang paling rendah lokasinya. Danau ini berada di ketinggian sekitar 800 meter dan jarang bersalju di musim dingin.
Daerah ini sangat terkenal bagi turisme karena lokasinya yang sangat bagus untuk pemandangan Gunung Fuji. Jadi kalau kita menginap di hotel di sini kita bisa mandi air hangat sambil melihat pemandangan Danau Kawaguchi dengan latar belakang Gunung Fuji yang sangat jelas. Pemandangannya fantastik. Top place to enjoy the view…
Oleh sebab itu daerah ini sangat berkembang infrastrukturnya untuk turisme dan juga merupakan daerah penghubung utama bagi mereka yang ingin mendaki Gunung Fuji pada musim pendakian (Juli dan Agustus). Ada sekitar lima ribuan orang yang antri untuk mendaki gunung ini SETIAP HARI pada bulan-bulan itu…! Daerah ini pada tahun 2013 telah dimasukkan sebagai World Heritage List sebagai bagian dari the Fujisan Cultural Site.

Begitulah keseluruhan perjalanan kami ke Jepang selama 7 (tujuh) hari. Hari terakhir kami bangun pagi dan jalan kaki ke Machida Station untuk naik bis ke Bandara Haneda. Jadwal kami adalah Haneda – Ngurah Rai Denpasar dengan Garuda pada jam 11:45.

Catatan Tambahan :
– Kurs Yen waktu saya berangkat adalah Rp. 106,- di Central Kuta, Denpasar. Agar cepat tahu berapa rupiah harga barang dalam Yen saya pakai teknik khusus. Umpamanya ¥ 2,860 atau ¥ 390 itu berapa dalam rupiah? Caranya, saya anggap saja 1 Yen adalah 100 Rupiah. Jadi kalau ¥ 2,860 saya tinggal hilangkan angka paling belakang 2,860 jadi 286. Berarti harganya 286 ribu rupiah. ¥ 390 sama dg 39 ribu rupiah. Dengan demikian saya bisa dengan cepat menghitung (ketimbang menambahkan dua nol di belakangnya).
– Penduduk Jepang sangat ramah dan santun. Selama tujuh hari kami berkeliling tidak pernah saya melihat orang berwajah sangar atau bertampang dan berlagak preman (orang ngamen juga gak ada). Mereka selalu ‘mundhuk-mundhuk’ alias selalu membungkukkan badan sambil ‘berhaik-haik’ jika melayani siapa pun. Tidak pernah mengatakan ‘tidak’. Bahkan semua petugas bandara dan imigrasinya sopan dan santun. Berbeda dg petugas bandara dan imigrasi lain yg biasanya ketus dan tanpa senyum sama sekali. Dua orang pemandu wisata kami, Igarashi-san dan Nakaji-san, sangat baik dan sopan. Kami benar-benar diladeni dengan sebaik-baiknya (top service) sampai sungkan rasanya. Kami bahkan ditraktir kue Tokyo Banana yg legendaris itu untuk kami coba rasanya.
– Di sini kita tidak perlu kuatir akan saluran internet karena kita bisa menyewa alat Wifi portable yg bisa dibawa ke mana-mana. Tapi kita perlu bawa colokan yg gepeng sebagai penghubung kabel gadget kita karena semua saluran listrik mereka pakai yang gepeng tersebut.
– Tingkat kelahiran bayi di Jepang menurun sampai 1,1 bayi per keluarga sedangkan angka harapan hidup meningkat. Laki-laki 78 tahun dan perempuan 82 tahun. Nampaknya para pasangan muda malas punya anak. Dan ini adalah masalah bagi pemerintah Jepang. Artinya semakin banyak orang tua yg harus diurus sedangkan generasi muda yang akan mengurusnya nanti akan semakin sedikit.
– Jepang adalah perpaduan antara modernitas dan tradisi yg dikemas dengan keindahan sampai detil-detilnya. Seolah tak ada yg luput dari perhatian mereka. Semua hal dirancang dengan perencanaan yg sangat sempurna sampai pada hal yg sekecil-kecilnya. Kemasan semua produk didesain dengan sangat praktis tapi sekaligus indah (form and function)
– Sama dengan di negara lain di mana kita bisa menarik uang dari ATM bank luar negeri, di Jepang juga bisa. Tapi minimal ¥ 10,000. Saya sempat mencoba ATM lain tidak bisa tapi Nakaji-san mencarikan ATM lain yang bisa (superb service of him).
– Apa agamanya orang Jepang? Orang Jepang hampir seluruhnya tidak beragama. Jadi jangan tanya masjid atau musholla terdekat di sini (apalagi mau pinjam sarung dan kopiah). Saya dan istri saja sholat sambil duduk di kendaraan selama dalam perjalanan (untunglah Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang). Tapi budi pekerti dan prilaku orang Jepang nampaknya lebih baik daripada kebanyakan orang beragama di negara kita. Yang jelas mereka tidak suka coret-coret tembok, apalagi kencing sembarangan.
– Orang Jepang jarang yang bisa bahasa Inggris. Bahasa Inggris tidak sakti di sini. Kalau kita bicara dalam bahasa Inggris maka mereka akan minta maaf sambil menyilangkan jari untuk menyatakan tidak mengerti. Jadi kalau bahasa Inggris Anda nanggung-nanggung sebaiknya pakai bahasa Jawa saja. Toh mereka juga tidak akan paham.

Wis ngono ae. Pesawatku sudah mau berangkat nih! Kalau pingin tahu lebih banyak ya baca buku atau…….datang sendiri aja ke Jepang! 🙂

Garuda, GA 887 Haneda-Ngurah Rai
Rabu, 19 Nopember 2014

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *