Selasa, 25 Juni 2019
Just another WordPress site
Kuliner Bali : Pia Legong

Kue Pia Legong. triatmono.wordpress.com

Suka kue Pia? Kue Pia adalah kue berbentuk bulat berdiameter 3-4 cm dengan ketebalan sekitar satu cm dan biasanya berisi kacang ijo. Tapi sekarang sudah banyak kue Pia yg berisi coklat dan bahkan keju.
Saya bukan penggemar kue Pia. Saya lebih suka kue-kue tradisonal macam dadar gulung, serabi, wingko, lemet, dll. Makan pia berarti siap-siap membersihkan remah-remahnya yg rontok ke pakaian kita ketika kita gigit. Hal ini tidak terhindarkan karena kulit kue pia yg matang karena dioven dan isi di dalamnya akan langsung berhamburan ketika kita gigit. Biasanya kue pia akan habis dalam dua atau tiga kali gigitan dan gigitan kedua dan ketiga akan membuat kue pia yg sudah terbuka isinya akan lebih sukses berhamburan ke pakaian kita. Lagipula rasa kue pia ya begitu saja. Jadi saya tidak begitu suka makan kue Pia.

Meski demikian ada kue pia yg sangat populer di Bali. Namanya kue Pia Legong dan hanya dijual di satu toko di Bali, tepatnya di sebuah ruko kecil di jalan By Pass menuju bandara Ngurah Rai. Biasanya istri saya selalu menyempatkan diri utk beli kue Pia Legong tsb meski saya selalu uring-uringan karena tidak suka dengan banyaknya barang tentengan yg harus kami bawa naik ke pesawat.
Jika tidak ikut dalam perjalanan saya ke Bali istri saya pun masih ‘tega-teganya’ utk titip utk beli oleh-oleh apa saja meski ia tahu benar betapa tidak sukanya saya bepergian membawa berbagai tentengan. Syukur-syukur kalau titipan tsb masih bisa masuk tas rangsel saya, tapi kalau pesan salak Bali atau bermacam-macam kue kan tidak mungkin saya jejalkan ke rangsel backpack saya.

Waktu pertamakali dulu istri saya ‘mbelani’ beli Pia Legong utk oleh-oleh saya protes karena menurut saya apa sih enaknya kue pia itu. Di Surabaya juga banyak dijual kue pia dan saya tidak pernah tertarik utk menyomotnya. Kalau salak Bali yang juicy masih okelah. Kan termasuk oleh-oleh yg khas. Bawaan oleh-oleh istri saya itu tidak pernah sedikit dan tidak selalu bisa muat di koper. Jadi harus ditenteng. Padahal kalau penerbangan sedang penuh dan penumpangnya kebanyakan pembelanja klas berat (seperti istri saya) maka itu artinya harus rebutan dan cepat-cepatan memasukkan barang tentengan ke kabin. Kalau pas kami masuk pesawat keduluan yg lain maka biasanya kabin tempat barang tentengan sudah penuh dan barang tentengan kami harus dijejalkan di bawah kursi depan kami. Dan tentu saja itu mengganggu posisi kaki selama penerbangan. Makanya saya tidak suka bawa tentengan kalau naik pesawat. Kalau tidak bisa dimasukkan rangsel backpack ya masukkan ke bagasi saja. Saya sendiri lebih suka masuk belakangan agar tidak antri berjejalan masuk pesawat. Kalau bepergian sendirian kadang-kadang saya tunggu panggilan nama saya baru saya naik ke pesawat. Itu artinya penumpang lain sudah duduk dengan manis di kursi masing-masing dan saya bisa masuk pesawat tanpa harus antri lagi. 😀

Baca juga:  BEAUTIFUL MEMORIES AT THE CAMPUS

Bagaimana ceritanya saya tiba-tiba suka kue Pia Legong?
Pagi-pagi pada waktu membaca biasanya istri saya menyediakan kopi dan kue-kue utk camilan di nakas samping kasur tempat saya membaca . Pagi itu ia menyediakan kopi seduh 3 in 1 dan tiga potong kue pia. Berbeda dg kue pia yg lain, kue pia ini dibungkus plastik satu persatu sehingga kita tidak perlu memegangnya dengan tangan telanjang dan remah-remahnya rontok ke plastik bungkusnya sendiri. I love it! Saya pun menggigitnya sambil mata saya tetap tertuju pada buku bacaan saya pagi itu. Begitu kue itu lumer di lidah saya terkejut. Ternyata kue pia ini maknyus rasanya dan tidak seperti yg saya kira sebelumnya. Akhirnya saya menghentikan bacaan saya dan memperhatikan kue pia ini. It does not taste like a regular Pia cake…! Ketika saya tanya kue pia apa itu maka dijawab oleh istri saya itu adalah kue Pia Legong yg saya protes ketika ia membelinya. 😀
Sejak itu saya jadi suka kue Pia Legong dan tidak protes lagi kalau istri saya ‘mbelani’ belanja oleh-oleh kue Pia Legong. Biar susah-susah sedikit waktu menenteng berbagai barang belanjaan yg penting nanti bisa menikmati kue Pia Legong yg maknyus tersebut.

Kali ini istri saya tidak ikut ke Bali karena ia harus ke Makassar utk pekerjaannya. Saya pikir akan aman dan bebas dari tentengan ketika pulang nanti. Tapi ternyata ia mengirim pesan titip kue Pia Legong! Hampir saja saya tolak proposalnya via BBM itu. Tapi setelah membayangkan betapa gembira hatinya kalau ia pulang dari Makassar nanti dan mendapat oleh-oleh kue Pia Legong maka saya turuti keinginannya. Lha wong permintaan istrinya orang lain saja saya turuti mosok permintaan istri sendiri saya tolak begitu saja… 🙂 Setelah check-out pagi-pagi dari Grand Inna Kuta Hotel saya pun meminta Andri, sopir Stikom Bali, mampir ke toko tempat penjualan kue Pia ini sebelum check-in di Ngurah Rai dan berharap menjadi pembeli pertama. Saya tiba sekitar pukul 8:30 dan ternyata toko belum buka. Tokonya buka jam 9 pagi sampai malam jam 8. Akhirnya saya meluncur ke bandara dulu utk check-in penerbangan saya pagi ini dan balik lagi ke toko tersebut sesudahnya.
Ketika saya tiba persis jam 9 di toko tersebut ternyata pembeli sudah antri dan antriannya sudah meluber ke luar toko. Haaah….?! Sampai sebegitunya…?! Sebelumnya saya tidak percaya ketika istri saya bilang pembeli kue pia Legong ini antri dan saya pikir ia terlalu berlebihan memuji kue ini. Sekarang saya melihat dan mengalaminya sendiri, antri hanya utk beli kue Pia…!
Ketika giliran saya sampai saya baru tahu bhw Pia Legong ini hanya terdiri atas tiga macam isi, yaitu kacang ijo, coklat dan keju. Satu kotak harganya 70 ribu dan ketika saya minta 2 kotak coklat dan 2 kotak keju ternyata tidak boleh. Setiap pembeli hanya boleh beli satu kotak keju sedangkan yg coklat boleh lebih dari satu. Haaah….?! Bahkan membeli pun dibatasi…?! Gila…!! Apa kue pia ini mendapat subsidi dari pemerintah pusat sehingga untuk beli pun dibatasi jumlahnya…?! Kok kayak jaman susahnya Uni Sovyet saja sehingga beli kebutuhan hidup pun dibatasi. 😀
Akhirnya saya beli 3 kotak coklat dan 1 kotak keju. Antrian di belakang saya semakin panjang dan para calon pembeli di belakang saya nampak gelisah dan tidak sabar melihat saya membeli dengan lamban. Mungkin mereka mengira saya sedang mencoba utk mengambil ‘hak’ pembelian kue Pia Legong keju lebih dari satu kotak.

Baca juga:  PR ANAK DAN BANTUAN ORTU

Dalam perjalanan pulang saya masih merasa takjub mengetahui betapa populer dan larisnya kue Pia Legong ini. “Atase mung jajan Pia wae lho…!” kata saya dalam hati. Tapi ternyata bisa begitu populer dan laris. Saya membayangkan betapa banyak jenis makanan dan kue nusantara yg bisa dijadikan oleh-oleh khas sebuah daerah dan jika benar-benar enak maka tentu akan laris manis seperti Pia Legong ini. Entah berapa ratus kotak Pia Legong terjual dalam sehari tapi jelas bahwa bisnis kue Pia Legong tersebut adalah sangat menguntungkan.

So next time when you visit Bali do not miss this special cake for oleh-oleh poro sederek di rumah…

Bandara Ngurah Rai, 11 Februari 2013

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

2 tanggapan untuk “Kuliner Bali : Pia Legong”

  1. lukman berkata:

    sepertinya rasa pia legong sama dg rasa artikel ini. Enak pol..

  2. Terapung berkata:

    jadi pengen mencicipi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *