November 28, 2022

0 thoughts on “KEBERADAAN TUHAN DALAM TEORI SAINS : PERLUKAH?

  1. IMHO, engga gitu-gitu amat pak, ga usah geli juga kepada yg menolak teori Evolusi, mereka ga bodoh2 amat dan ga sedang dibodohi kok he..he..

    Bisnis terbesar di dunia ini ya mencari/mendekati kebenaran, upaya2 science itu untuk menjawab keingintahuan manusia terhadap pola-pola yang mengarah kepada sesuatu, Science materi skr memakai kebenaran satu nol (1 0) pembuktian materi atau tidak sama sekali,

    Menariknya ada dua poin yg berkembang: pertama, sayangnya ternyata pintu menemukan kebenaran itu tak cukup terjangkau dengan science, misalnya memahami ‘roh’ so ada pintu lain yg disebut iman tea, mau mengkuantifikasi (mematerikan/mensciencekan) iman? sok mangga para scientits mencobanya,

    Kedua bahwa perkembangan science itu sendiri sampai kepada fuzzy logic, ternyata oh ternyata, para scientist itu sendiri menemukan bahwa kebenaran itu tidak mutlak satu nol, benar spt artikel bapak, bahwa dalam science itu saling memfalsifikasi mah biasa aza jadi jangan terlalu fanatik sama teori tertentu ha..ha..

    Akibatnya, para scientist mulai menerima adanya range kebenaran antara 1 – 0, akibatnya eh mereka pada mengakui ga semua ditimbang dg kacamata materi ya… salah satu contoh kecil efeknya, pengobatan Timur (akupuntur, bekam) diterima di dunia medis barat. Secara kaidah materialisme dia tertolak, tapi secara khasiat kok manjur ya, jadi pake pembuktian khasiat dulu, kerangka teori materialismenya bisa dipinggirkan.

    Intinya mah, para scientist skr ditampar agar lebih rendah hati, Science bukan segala-galanya ternyata, klo masih keukeuh tidak memasukkan unsur pengatur pola yg Maha Pengatur ya silahkan he..he. kita lihat saja, perkembangan teori saling memfalsifikasi, science jg saling memfalsifikasi 😀

    wass,
    Ibu Didin
    Ibu RT, praktisi IT, student

  2. Anda tidak menjawab pertanyaan saya juga. 🙂
    Saya ulangi lagi pernyataan saya agar tidak melenceng.
    “‘Teori evolusi menolak keberadaan Pencipta, penciptaan dan adanya perancangan sengaja di balik keberadaan alam semesta dan kehidupan ini. Dalam kacamata teori evolusi, dunia seisinya adalah mutlak bersifat materi semata. Keberadaannya bukan karena ada Tuhan yang menciptakan, namun muncul menjadi ada dengan sendirinya, tanpa tujuan dan tanpa makna keberadaan.’ di Hidayatullah.com saya jadi ketawa geli.
    Setahu saya teori evolusi itu SAMA SEKALI tidak bicara tentang Sang Pencipta dan Penciptaan. Jadi bagaimana mungkin dikatakan bahwa teori ini MENOLAK keberadaan Pencipta, penciptaan, etc? Jika Anda mempelajari teori saintifik apa saja sejak jaman dahulu sampai sekarang maka tentu akan tahu bahwa TAK PERNAH ADA saintis yang akan mengikutsertakan Sang Pencipta dalam menuliskan teorinya. Bahkan ilmuwan Islam macam Ibnu Sina (wafat thn 1037) ilmuwan ensiklopedi, dokter, psikolog, penulis kaidah kedokteran modern (dipakai sebagai referensi ilmu kedokteran barat), menulis buku tentang fungsi organ tubuh, meneliti penyakit yang ditimbulkan efek fikiran, Ibnu Rusydi (wafat thn 1198) dikenal oleh Barat dengan nama Averusy; ahli fisika, ahli bahasa, ahli filsafat Yunani kuno, Fakhruddin Razi ((wafat thn 1290); matematika, fisika, tabib/dokter, filosof, penulis ensiklopedia ilmu pengetahuan modern), Al Khwarizmi (w.thn 850); menemukan logaritma (berasal dari nama Al Khwarizmi) dan aljabar (Al Jabr), ilmu bumi dengan menyatakan bumi itu bulat sebelum Galileo dengan bukunya Kitab Surah al Ardh, tentulah tidak akan mengikutsertakan Allah dalam teori yang mereka susun. Dalam rumus logaritmanya AlKhawarizm tentu tidak akan menyatakan keberadaan Sang Pencipta di dalamnya.”
    Apakah Anda juga termasuk yang menyatakan bahwa ‘Teori evolusi MENOLAK keberadaan Tuhan (karena tidak mencantumkan peran Tuhan didalamnya)’?
    Salam
    Satria

  3. pak SD, apa yg anda harapkan adalah misalnya dalam lemma X diawali dengan Tuhan YME membuat a,b,c,d atau misalnya ekivalensi Einstein: E = mc kuadrat itu menjadi E = tangan Tuhan mc kuadrat? begitukah? what a letter lijk!
    Sedang Einstein sendiri berdasarkan pengkajiannya terhadap teori-teorinya menyatakan: GOD doesn’t play dice!
    atau memang artikelnya sedagn bicara dalam konteks berpikir literal? klo begitu yo wis dong 😀

  4. Lha yang tidak letterlijk itu bagaimana? Coba pikir baik-baik, apakah benar kita harus menyertakan Tuhan dalam teori sains? Apa ada saintis (termasuk saintis muslim) yang menyertakan Tuhan dalam teorinya? Bahkan Einstein yang Anda sebut TIDAK PERNAH menyebutkan Tuhan dalam teorinya. Ia bicara tentang Tuhan dalam konteks lain dan bukan dalam teori E=MC kuadrat!
    Salam
    Satria

  5. td eror posting:
    IMHO science itu kan salah satu tool, perangkat, alat untuk menemukan kebenaran, kata orang sciene menguak mistery besar di jagad raya, yg kemudian sebagian scientist menerjemahkan the biggest mistery itu menemukan Tuhan, dan salah satunya Einstein menyatakan prinsip keteraturan di alam (yg bisa dipelajari) sebagai ‘sunatullah’ Tuhan, Tuhan ga ngasal bikin nie alam.

    Klo membaca artikel Pak SD, menafikkan science sebagai alat mencari kebenaran/Tuhan, jadi scienced itu ga ada hubungannya sama Tuhan loh..yeahhh sebagian scientist jg bilang begitu, malah science kan skr dijadikan panglima untuk mengeliminasi peran Tuhan, krn klo wilayah Tuhan itu ga empirik, ga science dan ga sexy he..he..

    jadi ini kayaknya mau mengatakan ga ada loh bukti empirik unsur Tuhan dalam Science, atau ini sama saja mendelegitimasi kesimpulan2 perenungan dalam scientist yg diakui dunia terhadap kesimpulan akhirnya, akan apa yang dia capek2 kerjakan di lab, di kotretan kertas, hingga dia menemukan, wah ini memang ada Tuhan yg bikin semua begini 😀

    al faqiiir,
    Ibu Didin

  6. Saya pertajam lagi pendapat saya ya. Untuk bisa mengungkapkan misteri jagad raya ini Anda tidak perlu harus beriman. Untuk beriman pun And atidak perlu harus mengungkapkan misteri jagad raya. Itu dua hal yang terpisah. Tapi banyak orang yang kemudian menjadi beriman setelah berhasil mengungkapkan misteri jagad raya (Einstein, umpamanya).
    Saintis muslim telah beriman sebelum mereka memulai upayanya menguak misteri jagad raya. Dan ini mungkin membuat mereka semakin beriman. Tapi ada banyak saintis yang meski berhasil menguak misteri alam yang tetap tidak percaya pada keberadaan Sang Pencipta.
    Jadi apa kesimpulannya? Ya itu tadi! 🙂
    Salam
    Satria

  7. saya beranggapan bahwa keberadaan tuhan tidak harus di buktikan dengan teori apapun karna pada hakikatnya kita memang harus yakin dan percaya sepenuhnya kepada tuhan kita sebagai wujud syukur ita kepada tuhan. subhanallah………………….

  8. Saya hanya koment sdikt sj… semua yg terjadi di alam semesta ini adalah hasil sebab akibat (kausalitas).. jika kita kaji lebih jauh ternyta sebuah akibat itu ada penyebab, lalu kita bertanya siapakah penyebab pertama dari semua itu??? pasti itu TUHAN ALLAH SWT

  9. kita kaji lebih jauh ternyta sebuah akibat itu ada penyebab, lalu kita bertanya siapakah penyebab pertama dari semua itu??? pasti itu TUHAN ALLAH SWT
    ==========================

    disana berbahayanya jika persepsi bermain dalam ranah sains:

    apakah penyebab pertama itu PASTI tuhan?????

    mana bukti empirisnya??????

    jika bermain persepsi saya pun bisa bilang bahwa first cause adalah ENERGI. karena saya menetapkan melalui persepsi saya kata energi sebagai first cause, tentu saya tak perlu pusing pusing mencari darimana energi berasal bukan???……^_^

    sebaliknya jika anda berargumen energi pasti juga ada yang menciptakan dan tuhan adalah pencipta energi, saya pun bisa berargumen kalau begitu tuhan juga ada yang menciptakan dong,,,,,,^_^

    harap dicatat saya bukan ateis, tapi saya berpikir begitulah kalau akal dipaksakan sendiri mencari tuhan, sekuat apapun kita membuat premis selalu ada ruang untuk membantahnya. karenanya hati lah yang menetapkan adanya tuhan, dan akal fungsinya mempertajam hati tidak bisa hati mempertajam akal…………

    salam

  10. Apapun bidang keilmuannya, -semua bidang sains-, adalah sebuah produk kerja akal fikiran manusia yang selalu berusaha memahami apa yang sudah ada (terciptakan). Sedangkan akal itu sendiri adalah salah satu wujud (manifestasi) KeMahaKuasaan dari yang maha menggerakkan akal (Tuhan). Jadi sains itu sendiri; – dengan perbedaan pendapat dan persepsinya-, manifestasi kelemahan (dhoif) manusia yang merasa berakal dan justru menunjukkan keMaha Kuasaan Tuhan. Lalu, bagaimana sains mampu membahasakan Tuhan?? sedangkan sains itu sendiri masih labil dan dinamis dan tidak akan pernah usai sampai dunia berakhir. jd, karena sains adalah produk akal. dan akal adalah ciptaan Tuhan maka, bisa dimaklumi kalau sains dalam theorinya tidak pernah mampu membahasakan Tuhan, karena Tuhan wajib memiliki sifat ” Tidak pernah sama dengan mahluk ciptaanNya”.

  11. anda bertanya kenapa hanya teori evolusi yang harus menyertakan tuhan?
    sebenarnya anda tahu tidak tentang teori evolusi?

    teori evolusi mempercayai seluruh mahluk hidup berasal dari nenek moyang yang sama yaitu mahluk bersel satu. lalu berkembang menjadi berbagai macam mahluk hidup termasuk manusia yang sebelumnya reptil kemudian menjadi mamalia monyet berubah secara bertahap menjadi manusia modern.

    memang secara tegas teori ini menyangkal dan menyerang keberadaan tuhan. semua terjadi dengan sendirinya tanpa

  12. disambung

    teori evolusi menganggap seluruh proses dialam dunia ini terjadi dengan sendirinya tanpa adanya ID Intelligent Design.

    hingga saat ini bukan hanya harun yahya yang mendebat teori evolusi

    saya malah geli membaca artikel anda ini.

  13. When I initially commented I clicked on the Notify me any time new comments are added checkbox and now each and every time a comment is added I receive 4 email messages with the same comment.

  14. Lha apa teori ‘Big Bang’ menyatakan bahwa ada Tuhan dibalik terjadinya peristiwa tersebut? Kan ndak juga toh…?!
    Apakah kita sebagai manusia yang beriman lantas perlu mendebat teori tersebut karena tidak menyertakan peranan Tuhan dalam peristiwa ‘Big Bang’ tersebut…?!

  15. Dalam semua teori sains memang tidak ada kata Tuhan dalam penjelasan mekanismenya Pak Satria, tidak di bigbang tidak pula di teori evolusi. Masalah dalam sains dan agama muncul ketika orang tidak mendalami keduanya secara berimbang kemudian berusaha melakukan komparasi. Fahami dulu teori evolusi sampai ke tingkat pemahaman sel dan DNA demikian pula fahami fisika sampai pada level kuantum dan fisika energi tinggi baru kemudian menarik kesimpulan. Kalau tidak ulasan yang dilakukan hanya akan jadi produk pemikiran prematur yang potensi untuk sesat dan menyesatkan.

  16. Saya sepakat dengan dengan Pak Satria. Iman dan science adalah dua faculty yang berbeda dan tidak bisa dicampur adukkan.

    Hanya saja sedikit mengkoreksi kalimat Pak Satria: “Tapi banyak orang yang kemudian menjadi beriman setelah berhasil mengungkapkan misteri jagad raya (Einstein, umpamanya).”

    Einstein tidak beriman kepada Tuhan Personal seperti diimani oleh penganut “agama samawi”. Tuhan bagi Einstein bukan “sosok” yang ikut campur dalam sistem jagad raya. Bukan sosok yang ikut campur dalam nasib dan apa yang diperbuat manusia..Bukan sosok yang menjawab doa, memberi pahala atau menghukum manusia. Tuhan bagi Einstein lebih dekat kepada “Tuhan” nya filosofer Spinoza..

    Kata Einstein : “I believe in Spinoza’s God, who reveals Himself in the lawful harmony of the world, not in a God who concerns Himself with the fate and the doings of mankind…

    Tuhan bagi Einstein adalah harmoni dan beauty alam semesta..Tuhan adalah impersonal..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *