Sabtu, 22 Februari 2020
Just another WordPress site
Satu Buku Setahun dan Dua Buku Tahun Ini

Karena mempersiapkan materi belajar bagi anak-anak saya akhirnya saya membeli banyak buku pelajaran yg sekiranya relevan dg kebutuhan mereka. Di antaranya adalah buku kumpulan soal-soal UN bagi SMA IPS bagi anak sulung saya, UN SMP untuk Si Tengah, Matematika kelas 4 SD bagi Si Bungsu Tara. Karena saya mantan guru bhs Inggris maka saya juga membeli beberapa buku materi pembelajaran bahasa Inggris SD, SMP dan SMA. Saya sudah lama tidak mengajar bahasa Inggris dan mestinya sudah karatan dan ketinggalan puluhan tahun dengan kurikulum terbaru. Jadi saya perlu mempelajarinya kembali.

Ketika di toko buku saya ambil saja buku-buku yg nampak menarik dan minta istri saya utk membayarnya (ia adalah Mentri Keuangan di rumah). Ketika istri saya mesti membayar ke kasir Gramedia Balikpapan ia terkejut karena mesti membayar hampir 400 ribu. Gramedia Balikpapan ini memang harga bukunya lebih mahal sekitar sepuluh ribuan dibandingkan di Jawa. Istri saya menatap mata saya dengan pandangan setengah bertanya dan setengah protes. Saya membalas dengan pandangan mata kosong. No need to argue. Sesekali kami memang perlu berbelanja buku di kota sendiri meski pun jelas harganya lebih mahal. Tapi dalam hati saya sebenarnya juga ikut jengkel. Baru saja seminggu yg lalu saya memborong buku-buku obral di Gramedia Expo Surabaya dan dapat dua kardus buku dengan harga antara sepuluh dan dua puluh ribu rupiah perbukunya. It’s like winning a toto! Bukunya Thomas Friedman ‘Hot, Flat, and Crowded’ yg hampir 600 halaman hanya 20 ribu rupiah sedangkan buku ‘Brain Power’nya John Dabell yg hanya 360-an halaman harus saya tebus dg harga Rp.82.500,- di Balikpapan! Semprul tenan…!

Jadi begitulah… Setiap pagi selesai mengaji saya buka buku-buku itu dan pelajari isinya. Saya tenggelam dalam keasyikan membaca-baca buku-buku tersebut. Saya merasakan kembali keasyikan saat-saat mempersiapkan materi pembelajaran, menyusun tugas-tugas, latihan soal dan berdiri mengajar di depan siswa. Saya merasa adrenaline saya mengalir mengingat masa-masa tersebut. I feel the sensation again. Saya merasa semangat saya bangkit utk mengajar kembali. Saya memang selalu bersemangat dalam mengajar dan mungkin itu juga dirasakan oleh siswa-siswa saya. Seluruh jiwa dan pikiran saya terfokus pd kelas-kelas yg akan saya ajar dan saya selalu mencari cara yg lebih baik daripada sebelumnya. Itu semacam tantangan rutin bagi saya.

Ingatan saya kemudian mengembara ke masa-masa ketika mengajar di berbagai sekolah seperti SMPN 1 Caruban, SMPN 2 Surabaya, SMAN 12 Sby, SMAN 13 Sby, Bontang Internasional School, dan bahkan bimbingan belajar Mecphiso dan ASG. Setiap sekolah dan kelas punya kekhasannya masing-masing dan saya harus menyesuaikan dg kebutuhan masing-masing. Saya selalu berusaha menyusun sendiri materi-materi pembelajaran dan latihan-latihan soalnya sesuai dg kebutuhan spesifik siswa. Itu seperti para biarawan Shaolin berlatih jurus-jurus Kungfu yg dimilikinya. Setiap hari dilatih agar tidak hilang. Saya sering heran dengan guru yg mengajar persis plek dg buku diktat (tapi sebaliknya mereka juga heran dengan saya yg mau susah payah membuat materi sendiri). Bagi saya kalau cuma mengajarkan apa yg ada di buku itu seperti tentara yg tidak bisa bongkar pasang senjatanya atau pemain NBA yg tidak berlatih tembakan tiga angka dan ngedunk. Pathetic!

Baca juga:  STONES INTO SCHOOLS

Waktu pertama kali mengajar di Bontang International School dua puluh dua tahun yang lalu saya mendapat tantangan yg sangat berat karena harus buat sendiri kurikulum dan materi pembelajarannya. Sekolah tidak punya kurikulum ttg pembelajaran bahasa Indonesia bagi anak-anak ekspatriat yg bekerja di PT Badak NGL Co, perusahaan saya bekerja. Karena tidak punya kurikulumnya maka terserah saya mau mengajar materi apa dan seperti apa pokoknya anak-anak ekspatriat ini mesti belajar bhs Indonesia dari saya setiap hari. Itu ketentuan dari kementrian pendidikan bagi semua sekolah internasional yg ada di Indonesia. Jadi saya harus membuat sendiri (tepatnya mengira-ngira) materi pelajaran bahasa Indonesia seperti apa yg mesti saya berikan bagi mereka sesuai dg tingkatannya. Repotnya siswa yg datang itu berbeda level, mulai Pre-K (pra TK) sampai G-8 (kls 8) yg dibagi menjadi 2 kelompok, Pre-K s/d G-4 dan G-5 s/d G-8. Jadi materi yg saya berikan haruslah bisa dipakai bersama oleh siswa yg berbeda kelas tersebut. Padahal saya tidak pernah mengajar ekpatriat sebelumnya dan juga belum pernah mengajar siswa TK dan SD. Apalagi siswa yg berbeda tingkatan sekaligus dalam satu kelas! It was double, or could be triple, trouble.
Sekedar informasi, mengajar anak-anak ekspatriat itu berbeda dengan anak-anak Indonesia. Mereka sangat ekspresif dan tidak segan-segan memprotes gurunya jika ada yg tidak sesuai menurutnya. Kalau bosan dengan pelajaran ya mereka dengan entengnya bilang “Booooring…..!” Kalau di sekolah Indonesia siswa ini bisa dikampleng gurunya dan diberi cap ‘bocah kurang ajar’ atau minimal ‘ra nduwe udel’. πŸ™‚
Saya benar-benar stress menghadapi ini awalnya dan harus putar otak dan tabrak sana-sini utk bisa mengajar sesuai dg tuntutan yg ada. Semua pengetahuan dan pengalaman mengajar saya selama dua belas tahun sebelumnya tak berguna sama sekali. Tidak kompatibel samasekali dengan situasi dan sistem yang baru. Lha wong sekolah tidak punya materi yg siap pakai utk situasi seperti ini dan saya sendiri belum punya pengalaman menghadapinya. Setiap sekolah internasional harus membuat sendiri kurikulumnya dan antar sekolah internasional jelas berbeda kebutuhannya. Untungnya kepala sekolahnya paham akan kesulitan saya dan tidak menambahi tekanan dengan menyuruh saya bikin soal ujian bahasa Indonesia yang bertaraf internasional, umpamanya. πŸ™‚

Baca juga:  "A Life Less Ordinary"

Ketika saya sudah berhasil menyusun kurikulum pembelajaran untuk setiap tingkatan saya masih harus menemukan cara utk mengajarkannya dengan cara yg menarik bagi mereka. Jelas sekali bahwa mereka tidak akan belajar dg cara yg biasanya saya lakukan pd siswa Indonesia. Mereka hanya mau belajar jika dilakukan sambil bermain. Jadi strateginya harus berbeda. Saya terus memutar otak utk mencari strategi belajar yg tepat utk mereka.
Dan ketika saya menemukan strateginya maka semuanya menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Games itu kuncinya karena every kid loves games. Saya gunakan permainan utk semua siswa di mana mereka bisa tetap belajar dg tingkatan yg berbeda.

Meski mengajar anak-anak itu menyenangkan tapi lama-lama saya bosan juga karena kehilangan tantangan setelah mengajar enam tahun di sana. Ada tantangan lain yg lebih besar yg menggoda dan menarik-narik saya di luar. Saya akhirnya keluar dan mendirikan sekolah sendiri setelah itu. Tapi ini justru membuat saya tidak bisa mengajar lagi karena harus mengurus manajemennya. I surely miss the joy of teaching.

Sekarang boleh dikata saya sudah pensiun tapi saya juga tidak bisa mengajar rutin lagi. Kegiatan saya di luar Balikpapan tidak memungkinkan saya utk memegang satu bidang studi secara penuh. Saya tidak bisa berprilaku seperti para professor di perguruan tinggi yg dengan mudahnya menyerahkan mata kuliahnya kepada para asisten. Kalau saya putuskan mengajar artinya ya saya mau mengajar sendiri dan bukan sekedar mengampu mata kuliah atau bidang studi. Bukan honornya yg penting tapi the joy of teaching itu yg saya cari.

Satu hal yg menarik bagi saya selain mengajar adalah menulis buku materi pembelajaran bagi siswa. Selama ini saya hampir selalu membuat dan menuliskan materi pembelajaran saya sendiri. Saya juga pernah membuat kumpulan soal bahasa Inggris yg saya cetak dan jual di berbagai toko buku sendiri. Sistemnya konsinyasi dan baru dibayar sesuai jumlah buku yg laku sebulan sekali. Dari hal ini saja saya sudah bisa mendapat tambahan penghasilan. Tapi saya tidak tertarik utk terjun sepenuhnya menjadi penulis buku pelajaran.
Ketika saya melihat-lihat buku bahasa Inggris yg ada terpikir bahwa jika saya mau saya bisa membuat buku yg lebih baik. Sebuah buku ttg Reading Comprehension yg saya beli ternyata sangat sederhana dan miskin bacaan. Ini membuat saya tertantang utk membuat yg lebih baik. Kalau buku semacam itu saja laku dijual maka saya pikir buku saya (yang saya bayangkan akan lebih baik) tentu akan lebih layak jual nantinya.

Baca juga:  Hilangnya Kesenangan (dan Nalar) dalam Matematika

‘Tapi itu kan baru di angan-angan.’ kata hati saya,” Kalau cuma di angan-angan sih semua orang juga bisa.” tambahnya memanas-manasi.
“Ayo buktikan kalau kamu bisa…! Jangan cuma OMDO.”
Lama-lama saya terbakar juga disindir sendiri oleh perasaan saya demikian. Setelah saya pertimbangkan akhirnya saya tekadkan hati saya utk berjanji membuat buku Reading Comprehension utk anak-anak SMP dalam jangka waktu dekat ini. Saya memang sudah membuat resolusi utk menerbitkan ‘Satu Buku Setahun’ agar dalam setiap tambahan usia saya bisa menghadiahi diri saya sendiri sebuah buku. ‘One Book A Year’ seems like a wonderful resolution. Tapi tambahan satu buku lagi tahun ini kayaknya boleh juga.
Untuk tahun ini saya sudah berencana menerbitkan kumpulan artikel tulisan saya di blog yg Part 2 menyusul buku saya ‘For the Love of Reading and Writing’ kapan hari dan saya yakin pada ultah saya berikutnya buku itu juga sudah bisa terbit. Tapi itu masih lama dan tidak membuat adrenalin saya mengalir. Sambil tidur-tiduran saya bisa lakukan itu. πŸ™‚ Saya butuh tantangan lain yg bisa membuat saya sulit tidur sore dan selalu bangun pagi dg semangat menyala-nyala. Saya butuh tantangan yang akan membuat saya makan tak nyenyak dan tidur tak kenyang. Pokoknya sebuah tantangan yg akan membuat adrenaline saya muncrat…crat! Dan tantangan membuat buku Reading for Understanding ini langsung membuat saya bersemangat. Jika saya bisa membuat buku Reading Comprehension utk siswa SMP ini maka tentu jangkauan manfaatnya akan lebih luas. And it surely will make me happier in life.

Jadi melalui email ini saya sampaikan janji saya pada Anda bahwa saya akan menerbitkan DUA buku pada tahun ini (could be more). Satu buku utk senang-senang dan satunya buku utk pembelajaran. Ini komitmen saya. Ingatkan saya bulan depan jika ternyata saya tidak kunjung memulai menulisnya.

Balikpapan, 4 Maret 2012.

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *