Sabtu, 23 Agustus 2019
Just another WordPress site
Cocacola dan Yahudi

Yubi, Tara dan Yufi

Pulang dari sekolah tiba-tiba Tara memberi ‘informasi penting’ pada saya yg sedang bekerja di depan komputer.

“Tahu nggak Pak, ternyata Cocacola itu kalau dibalik menjadi ‘La Muhammad, La Mecca’…!”. Whaaaat…?! Saya yg semula mendengarkan sambil mata tetap di monitor langsung menoleh ke padanya dengan pandangan membelalak tak percaya. Sekali lagi saya tercengang dengan ‘pengetahuan’ yg ia dapatkan dari sekolahnya.

“Dari mana kamu tahu…?!” tanya saya menyelidik.

“Ya tahulah…!” jawabnya ringan sambil tersenyum lebar seolah berhasil mengalahkan pengetahuan bapaknya.

“Cocacola itu punyanya Israel…!”

Oh my God…! Anak saya ini rupanya sudah ikut-ikutan menjadi ‘little mujahidin’ yg memusuhi Israel dan memasukkan Cocacola sebagai produk yg juga harus dimusuhi. Sebelum ini ia memberitahu saya bahwa bintang segi enam adalah bintangnya Yahudi yg katanya harus dibenci. Entah siapa teman-teman sekolahnya yg sering memasok ‘materi politik’ semacam ini tapi hal ini sungguh merisaukan saya. Ini sudah termasuk ‘hate and racial content’ yg berbahaya dan saya sungguh tidak ingin anak-anak saya teracuni oleh masalah-masalah politik ‘berbau’ agama seperti ini.

Sudah umum bahwa umat Islam, khususnya Indonesia, membenci negara Israel yg Yahudi karena sejarah konflik masa lampau dengan umat Islam dan juga karena Israel menindas bangsa Palestina sampai saat ini. Palestina dianggap sebagai ‘representasi’ umat Islam. Jadi menindas bangsa Palestina berarti menindas umat Islam dan siapa saja yg menindas umat Islam berarti lawan dari umat Islam di seluruh dunia yg harus dibenci dan dimusuhi. Dan siapa yg tidak ikut membenci Israel dan bangsa Yahudi patut diragukan solidaritas keislamannya, atau bahkan keimanannya. Hiks…!

Jadi tidak aneh jika HAMPIR semua umat Islam membenci dan memusuhi Israel atau bangsa Yahudi dengan alasan agama, meski mungkin selama hidupnya mereka tidak pernah tahu di mana Israel (dan Palestina) dan apalagi bertemu dg orang Yahudi. Tapi begitulah sikap kita sebagai muslim Indonesia. Persepsi kita dibentuk oleh pandangan mayoritas lingkungan di sekitar kita atas setiap hal. Bukan kita yg menentukan sesuatu itu penting atau tidak, benar atau tidak, dll. tapi lingkungan kita yg menentukan. Kita cuma ikut pandangan umum. Tidak perduli jika itu mungkin hanya berdasarkan penafsiran keliru atas teks kitab suci dari sekelompok pemuka agama atau warisan konflik dan sengketa lama yg bahkan tidak ada hubungannya dengan kita.

Baca juga:  BEDA PEMAHAMAN

Tara, anak bungsu saya, memang bersekolah di SDIT sehingga tak mengherankan jika materi-materi politik berbau agama seperti ini bisa muncul di sana. Sekolah berbasis agama umumnya memang lebih sektarian ketimbang sekolah publik. Dan itu meresahkan saya. Tidak semestinya anak seusia Tara ‘belajar’ membenci bangsa mana pun di dunia ini, apalagi jika itu diperolehnya (secara informal) dari sekolahnya yg berlabel Islam. Islam itu tidak mengajarkan umatnya utk membenci umat lain atau bangsa tertentu. Sekolah juga tidak boleh memunculkan sikap rasialis, sektarian dan bermusuhan pada agama atau bangsa tertentu. Konflik yg terekam dalam Kitab Suci adalah catatan sejarah ttg kejadian lampau yg diceritakan utk menjadi pelajaran bagi umat dan bukan justifikasi utk menghakimi atau membenci umat atau bangsa tertentu. Jika lingkungan sekolah menumbuhkan sikap rasialis atau sikap intoleran maka itu jelas berbahaya. Saya sangat risau dengan situasi semacam ini. Sekolah haruslah mengajarkan persamaan umat manusia di mata Tuhan dan pemahaman bahwa Tuhan tidak menciptakan bangsa tertentu utk dikutuk oleh umat Islam. Tuhan tidaklah mungkin menciptakan bangsa agar dibenci oleh umat tertentu. Tuhan tidak menurunkan agama agar manusia menjadi bermusuhan satu sama lain. Agama Islam jelas tidak rasialis dan juga tidak diskriminatif.

Tuduhan bahwa Cocacola itu milik Yahudi dan jika dibalik artinya ‘La Mecca dan La Muhammad’ jelas merupakan suatu tuduhan jahat alias fitnah kepada Cocacola utk mendiskreditkan minuman soda tersebut. Cocacola ini memang sering sekali jadi sasaran fitnah dan hoax yg keterlaluan bohongnya tapi anehnya sering disebarluaskan via milis atau BBM dengan semangat ‘menyebarkan info penting’ dan ‘mencegah bahaya’ oleh orang-orang yg terpelajar sekali pun. Saya heran bahwa orang-orang terpelajar bisa begitu mudahnya mempercayai dan ikut menyebarkan ‘hoax’ yg keterlaluan nyata bohongnya. Saya tidak tahu apakah ini karena Cocacola ‘diasosiasikan’ dengan Yahudi atau Amerika yg kapitalis, imperialis, liberalis yg ‘kafir’ (sehingga perlu utk ‘dimusuhi’) atau dianggap minuman yg tidak sehat (sehingga setara berbahayanya bagi tubuh dengan air keras). Tapi orang-orang dengan mudahnya menyebarkan isu negatif ttg Cocacola tanpa pernah berpikir betapa absurdnya tuduhan tersebut. Di antaranya ya tentang arti Cocacola jika dibalik tersebut.

Baca juga:  Guilin Tur (bagian 4) : Culture Shock dan Jualan Produk

Akhirnya saya meminta Tara duduk di samping saya dan membuka internet

utk mencari informasi ttg Cocacola. Saya ingin Tara membaca sendiri informasi yg benar ttg asal Cocacola yg katanya milik bangsa Yahudi tsb. Ketika saya membuka Google ternyata ada link tentang ‘Cocacola Yahudi’ dan Tara berseru langsung berseru :” Itu dia Cocacola Yahudi…!”. Saya terpaksa menjelaskan bhw tidak semua yg ada di internet itu benar. Banyak informasi ‘sampah’ dan menyesatkan. Oleh sebab itu kita harus pintar mencari informasi yg benar. Saya bukakan Wikipedia dan disitu ada sejarah ttg Cocacola. Saya minta ia utk membaca sendiri informasi ttg Cocacola agar ia tidak lagi mengasosiasikan Cocacola dg Yahudi yang dibenci umat Islam itu. Saya perlu strategi lain utk menjelaskan bhw ia tidak perlu ikut-ikutan membenci bangsa Yahudi, negara Israel, atau pun Amerika. Itu urusan org dewasa yg tidak perlu diikuti oleh anak-anak. It’s really nothing to do with our children. Tapi saya tidak bisa menjelaskannya begitu saja. Bisa-bisa ia malah bingung mana yg harus dipercaya, informasi dari sekolah atau dari ayahnya. Saya perlu waktu khusus utk membahas masalah ini. Saat ini Tara perlu segera masuk kamarnya dan ganti pakaian dan saya perlu menyelesaikan pekerjaan saya secepatnya.

“Jadi Cocacola kalau dibalik menjadi apa Tara?” tanya saya padanya.

“Nggak tahu.” jawabnya sambil mengangkat bahu. Matanya nampak bingung.

“Cocacola itu kalau dibalik menjadi Alokakok.” jawab saya. “Kalau ‘sate kambing’?”

Tara masih bingung dan tak mampu menjawab. Ia cuma mengangkat bahu. Matanya nampak lelah.

“Etas ngimbak…!” Jawab saya sambil kembali menghadap pekerjaan saya di komputer.

“Ooo…bapak ini…! Serunya sambil memukul bahu saya setelah tahu bahwa saya mempermainkannya. Ia pun segera kabur masuk ke kamarnya.

Baca juga:  Satu Buku Setahun dan Dua Buku Tahun Ini

Balikpapan, 5 Maret 2012
Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

0 tanggapan untuk “Cocacola dan Yahudi”

  1. ninoy aja berkata:

    Mas Satria.

    Yang begini tidak selalu diperoleh dari sekolah berbasis agama, sekolah negeri juga sama. Ini pengalaman dengan anak saya sendiri. Banyak pembodohan dan penghilangan nilai-nilai kemanusiaan dalam karakter anak-anak. Misalnya bagaimana dengan dasar kebencian anak-anak diajarkan untuk tidak bisa membedakan antara apa dan siapa itu bangsa Israel, Yahudi dan zionis. Pokoknya Istael=Yahudi=zionis titik, akhirnya lupa bahwa Israel memang, mayoritas Yahudi dan zionis adalah minoritas tapi sangat militan yang menguasai sistem politik dan ekonomi. Kebencian ini juga mengaburkan rasa keimanan kita sebagai muslim dimana kitab suci Taurat sebagai kitab suci Yahudi termasuk dalam 4 kitab suci yang harus kita imani.

    Ini yang membuay saya sangat prihatin, agama lebih banyak dimunculkan dalam identitas politik, isu mayoritas-minoritas, dan yang menyedihkan akhirnya secata sengaja tidak sengaja banyak mengaburkan nilai-nilai utamanya untuk kemanusiaan.

    Pengalaman ini membuat intensitas diskusi kami dengan anak harus ekstra khusus membentengi pemahaman dia akan makna agama. Alhamdulillah, setidaknya dia sudah paham bahwa dia lebih MEMILIH menjadi orang Indonesia yanh beragama Islam dan BUKAN sebagai orang Islam yang tinggal di Indonesia. Dengan demikian dia lebih bertanggung jawab dalam memprioritaskan kemanusiaannya sebagai muslim yang mayoritas yang harus mampu melindungi yang minoritas dan bukan mendahulukan kebencian tanpa sebab untuk kemudian arogansi pada yang berbeda. Anak sayapun sudah mempunyai kesadaran, dengan pilihan sikapnya ini dia juga sedang bertoleransi pada saudaranya sesama muslim dimanapun mereka tinggal sebagai monoritas.

    Saya berharap sampai dia dewasa kelak, karakter ini akan bisa membimbing dia jadi orang yang baik dan sholeh, amin.

    Salam hangat,

    Nia Sjarifudin

    Sent from Yahoo! Mail on Android

  2. herry berkata:

    lalu bgmn menjelaskan perang d gaza? tanah d palestina?

  3. intan berkata:

    Saya kagum dengan bapak dari cara mendidik anak. Semoga bangsa kita tidak ada lagi diskriminasi agama, tetapi semuanya saling menghormati dan menghargai

  4. sari berkata:

    Generasi Muslim Coca Cola….silakan direnungkan.

    http://www.youtube.com/watch?v=KWf3nqzSAl8&feature=related

    Mudah2an Internetnya sudah layak utk memutar youtube.

  5. damai nuraini berkata:

    peace to the world.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *