Selasa, 25 Februari 2020
Just another WordPress site
MENGAJAR KEWIRAUSAHAAN ATAU MENCETAK WIRAUSAHAWAN…?! (Part 1)

Beberapa waktu yang lalu almamater saya mengadakan acara ‘Students-Alumni Meeting’ dan kami para alumni diminta untuk datang memberikan motivasi kepada para mahasiswa agar memiliki perspektif yang lebih luas dalam berkarir kelak. Banyak mahasiswa yang mengira bahwa peluang bagi lulusan bahasa Inggris hanyalah mengajarbahasa Inggris…!

Setelah tahu bahwa saya berkarir sebagai entrepreneur di bidang pendidikan salah seorang dosen saya dulu menyalami saya dan berkata, “Satria, sebenarnya lebih baik kamu yang menjadi dosen Kewirausahaan di sini. Saya ini tidak tahu samasekali dunia entrepreneurship.” Nampaknya sekarang ada mata kuliah Entrepreneurship di jurusan kami dan beliau menjadi salah seorang dosen pengampunya. Jaman saya dulu tidak ada matakuliah ini. Saya tidak menjawab beliau tapi ‘tawaran’ tersebut membuat saya berpikir, “Why not…?”.

Terus terang selama ini saya selalu merasa heran dan tak habis pikir melihat betapa hampir semua teman almamater saya tak pernah berpikir untuk menjadi pemilik lembaga pendidikan dan lebih suka menjadi pengajar saja. Hampir seluruh teman-teman se angkatan saya (dan angkatan lain) berkarir sebagai guru atau dosen dan itu dianggap sebagai ‘the most likeable profession’. Hanya segelintir yang berprofesi sebagai wirausahawan dan setahu saya hanya satu teman saya yang juga punya sekolah sendiri. Itu pun telah dimilikinya sebelum ia berkuliah di IKIP bersama kami. Jadi ia telah sukses sebagai pemiliki sekolah ketika kembali ke kampus untuk kuliah bersama kami saat itu.

Ketika memulai membuka lembaga bimbingan belajar dulu saya juga heran bahwa hampir semua yang memiliki atau membuka lembaga bimbingan belajar bukanlah lulusan IKIP dan bahkan mayoritas adalah anak-anak fakultas kedokteran. Saya sendiri terjun setelah diajak oleh seorang teman dari Fak. Kedokteran Unair hanya karena ia merasa tidak tahu samasekali tentang kurikulum dan mengira tentunya lulusan IKIP-lah yang paling tahu. Oleh sebab itu ia mengajak saya sebagai partnernya. Sejak itulah saya terjun di bidang lembaga pendidikan sampai sekarang (dan saya tidak pernah berhenti bersyukur diajak mengelola bimbingan belajar oleh teman saya tersebut).

Baca juga:  MENGAJAR KEWIRAUSAHAAN ATAU MENCETAK WIRAUSAHAWAN (Part 3)

 

Alhamdulillah, setelah mengalami dan mengerjakan berbagai hal selama ini saat ini saya telah mencapai apa yang diinginkan oleh banyak orang, yaitu financial freedom atau kebebasan finansial. Saat ini saya tidak perlu lagi bekerja pada orang lain untuk mendapatkan penghasilan dan bahkan tidak perlu bekerja untuk mendapatkan penghasilan lagi. Di samping punya pendapatan dalam bisnis yang sudah berjalan baik, istri saya juga nyambi jualan pecel (meneruskan usaha keluarganya). So I can do anything I like in my life without having to earn any money anymore. Bekerja untuk mendapatkan uang bagi saya sudah out-of-date saat ini dan saat ini saya bekerja untuk mendapatkan kegembiraan dan kebahagiaan, emotional, intellectual, and spiritual.  Dan saya sungguh mensyukuri nikmat dan rahmat dari Tuhan ini.

 

Karena tidak punya kewajiban bekerja apapun dan pada siapapun maka saya mengatur sendiri apa yang mau saya kerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Salah satu cara saya untuk membuat hidup lebih bergairah adalah dengan membuat tantangan-tantangan baru yang dapat membuat adrenaline mengalir lebih kencang. Dan salah satunya adalah dengan kembali mengajar di kelas. Jadi tawaran dari dosen saya tersebut saya terima dengan mengajukan diri untuk mengajar di almamatter saya. Dengan demikian maka saya punya kewajiban baru, yaitu belajar (dan mengajar) kembali.

 

So here I am… Mengajar satu kelas mahasiswa semester 7 (tujuh) tentang Kewirausahaan, sebuah bidang studi yang terpikir pun tidak bagi saya untuk saya ajarkan pada orang lain. Lha wong saya nyemplung di dunia edupreneur juga bukan karena disengaja tapi karena diajak teman. Tapi setelah saya perhatikan ternyata kebanyakan kita, khususnya para wirausahawan kelas bawah dan menengah, memang memulai usahanya karena kebetulan atau kepepet. Itu disebut ‘accidental entrepreneur’.

 

Baca juga:  PEOPLE ARE THE SAME WHEREVER YOU GO

Tentu saja saya sadar bahwa lulusan IKIP (atau sekarang disebut LPTK) memang agak sulit untuk diajak berpikir sebagai entrepreneur. Pertama, mereka umumnya datang dari keluarga pekerja dan berasal dari daerah-daerah. Mereka tentu tidak memiliki wawasan tentang bisnis dan mereka yang membuka usaha di daerah masing-masing biasanya hanya sekedar untuk bisa hidup (survival motivation). Jadi wawasan bisnisnya memang rendah. Kedua, kampus IKIP (yang mesti sekarang telah menjadi lebih terbuka dan disebut LPTK) memang tidak pernah didisain untuk menghasilkan para pebisnis. Para mahasiswa di sini memang diarahkan untuk menjadi karyawan (level bawah dan menengah). Indonesia memang membutuhkan banyak karyawan handal. Tapi ketika banyak sarjana menjadi penganggur karena terbatasnya peluang bekerja bagi mereka dan rendahnya kompetensi dan kapabilitas mereka maka pusinglah pemerintah…! Bayangkan jika jumlah pengangguran intelek atau sarjana menganggur ternyata terus membengkak. Padahal mereka ini telah belajar di sekolah selama minimal 16 tahun dan telah lulus sebagai MAHAsiswa…! Kalau malah menjadi pengangguran kan ciloko…! Berdasarkan berita dari media massa pada Februari 2012 ada lebih dari sejuta penganggur terdidik. Itu belum ditambah lulusan diploma yang menganggur. Dalam rentang waktu 2007-2010 saja, tercatat peningkatan 519.900 orang atau naik sekitar 57%. http://indonesia-admin.blogspot.com/2011/02/jutaan-sarjana-jadi-pengangguran-di.html#.UHIR6a5D2So

Jumlah sarjana pengangguran bertambah setiap tahun. Data Biro Pusat Statistik (Agustus, 2010) menunjukkan, sebanyak 8,32 juta penduduk Indonesia berstatus pengangguran. Dari jumlah itu, 24,7 persen adalah lulusan kampus yang berijazah diploma (12,7 persen) dan sarjana (11,92 persen)http://finance.detik.com/read/2010/12/01/131825/1506690/4/bps-sarjana-di-indonesia-paling-banyak-jadi-pengangguran  Hal ini tentu seolah menuding bahwa kampus hanya mencetak lulusan yang berpotensi menganggur.

 

Buru-buru Presiden mendorong semua perguruan tinggi untuk memasukkan materi tentang entrepreneurship pada mahasiswa mereka. Pemerintah bahkan menggelontorkan dana untuk mendorong mahasiswa mulai melakukan praktek bisnis kecil-kecilan dan bahkan mensubsidi mahasiswa di banyak perti jika mau melakukan bisnis sejak mahasiswa. Pemerintah punya skema yang disebut PMW (Program Mahasiswa Wirausaha) yang memberikan bimbingan dan pelatihan bagi mahasiswa yang ingin memulai bisnis kecil-kecilan dan memberikan dana pendamping sampai sebesar 10 juta per proposal.

Baca juga:  PAHLAWAN PENDIDIKAN VIETNAM

Bagaimana upaya kampus-kampus untuk mencetak para pebisnis? Tentu saja bagi jurusan Ekonomi dan Bisnis mereka merancang kurikulum yang cukup baik agar lulusan mereka benar-benar bisa menjadi pebisnis. Tapi bagi jurusan-jurusan lain, seperti Jurusan Pendidikan dan Sastra Inggris seperti almamater saya, tentunya kurikulumnya hanya sekadarnya saja. Cukup 2 SKS dan biasanya diberikan pada semester 7. Dan disitulah saya sekarang menyalurkan ‘kelebihan energi’ saya dengan mengajar setiap hari Rabu.J  Apalagi yang lebih menyenangkan selain berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman kepada para generasi muda dan berupaya untuk menjadikan mereka sebagai individu-individu yang sukses…?!

 

Bersambung….

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *