Selasa, 18 Januari 2022
Satria Dharma's Weblog
TOLERANSI KOK GITU…


Ada orang-orang atau ustad-ustad tertentu yang mengaku dirinya sebagai umat Islam yang toleran tapi kemudian menunjukkan sikap yang sebaliknya. Orang-orang seperti ini lain di hati lain di bibir. Dalam terminologi agama disebut…. Ah tak usahlah. Nanti semakin bertengkar kita. 😁

Apa contohnya? Yaitu para ustad yang sembari menepuk dadanya sebagai umat yang toleran tapi sekaligus melarang umat Islam lain mengucapkan selamat natal. Mereka percaya bahwa mengucapkan selamat natal kepada saudara umat Nasrani akan membuat umat Islam ambrol akidahnya dan auto-kafir. Oleh sebab itu mereka dengan gagah dan garang melarang umat Islam untuk melakukan hal tersebut. Padahal mereka juga tentunya tahu bahwa pendapat mereka itu BERBEDA dan bahkan BERTENTANGAN dengan pandangan para ulama lain yang membolehkan dan bahkan mengucapkan selamat natal kepada umat Nasrani. Sangat banyak ulama-ulama baik yang berskala lokal mau pun internasional yang MEMBOLEHKAN dan bahkan melakukannya sekaligus. Di antara para ulama yang melakukannya adalah : Prof. Quraish Shihab, Buya Hamka, Prof Syafii Maarif, Prof Din Syamsudin, Imam Besar Al- Azhar Mesir Sheikh Ali Jumuah, ahli tafsir pendiri Minhaj Alquran International Pakistan Sheikh Dr. Muhammad Tahir Ul Qadri, ulama besar Prof. Dr. Yusuf Qardhawi, dll.

Sedangkan yang melarang diantaranya : Ustad Abdul Shomad, Aa Gym, Syekh Al-‘Utsaimin, Rizieq Shihab, Adi Hidayat, Buya Yahya, dll.

Pertanyaannya adalah mengapa Anda melarang umat Islam lain yang menganggap mengucapkan selamat natal adalah kebaikan? Jika Anda menganggap bahwa hal tersebut akan merusak akidah Anda ya sudah JANGAN LAKUKAN. Dengan menuding-nuding bahwa mereka yang melakukan tersebut rusak akidahnya maka itu sama dengan Anda menuding-nuding bahwa para ulama besar yang membolehkannya sebagai umat Islam yang telah rusak akidahnya. Ada seorang ustad yang namanya tidak usah saya sebutkan yang dengan gagahnya bilang “Tidak perduli dia ulama besar sekali pun tapi kalau dia mengucapkan selamat natal maka dia sudah melakukan keharaman dan jatuh dalam kekafiran.” Sakjane dia itu apa seorang waliyullah atau seseorang yang ditunjuk oleh Allah untuk menentukan derajat akidah seseorang? Kok sok banget begitu. 🙄 Orang model begini akan langsung saya tinggalkan jika dia berbicara di depan saya. Kalau sok kaya atau sok pintar saya masih bisa ngempet tidak berkomentar tapi kalau orang yang sok paling beriman seperti ini ya saya mending ngacir sesegera mungkin.

Baca juga:  PENIPU

Jika Anda mengaku toleran maka cukup sampaikan sikap Anda soal ucapan selamat natal ini dengan menyatakan bahwa Anda tidak bersedia mengucapkan selamat natal dengan alasan bahwa itu bertentangan dengan akidah Anda. Orang tentu akan paham dan menerima sikap itu. Tapi jika Anda dengan gencar melarang-larang umat Islam lain untuk mengucapkan selamat natal padahal Anda tahu bahwa banyak ulama besar yang membolehkan lantas di mana letak sikap toleran Anda? Lha wong terhadap para ulama yang membolehkan saja Anda tidak toleran dan tidak bersikap rendah hati. Anda bahkan dengan frontal menyerang mereka yang mengucapkan selamat natal padahal urusan akidah mereka sama sekali bukan urusan Anda. Mbok yao urusono akidahmu dewe. 😠

Mereka yang membolehkan ucapan selamat natal sama sekali TIDAK MEMAKSAKAN PENDAPATNYA. Mereka HANYA menyatakan pendapatnya berdasarkan keilmuan mereka terhadap perkara agama yang telah mereka pelajari seumur hidup mereka. Mereka juga tahu bahwa ada beberapa ulama yang melarang tapi mereka tidak menyerangnya. Mereka adalah orang-orang yang TOLERAN terhadap perbedaan. 🙏

Lalu jika Anda melarang-larang orang lain untuk mengucapkan selamat natal dan mengecam mereka, apakah Anda masih punya malu untuk menyatakan diri sebagai orang yang toleran…?! 😳

Tidak usah berdalih bahwa umat Nasrani juga tidak meminta umat Islam untuk mengucapkan selamat natal. Ini adalah masalah yang ada pada umat Islam sendiri, yaitu antara yang membolehkan dan melarang. Ini bukan soal umat Nasrani yang meminta atau tidak. Selama ini kita juga tidak meminta mereka untuk mengucapkan selamat iedhul fitri tapi mereka juga melakukannya dengan penuh penghormatan. Dan kita menghargai sikap baik mereka tersebut. Jadi sudah selayaknya jika kita melakukan hal baik yang sama tanpa harus diminta. Bukankah kita selama ini mengaku sebagai umat yang adil dan rahmatan lil alamin? 🤔

Baca juga:  Tuesdays with Morrie

Surabaya, 18 Desember 2021

Satria Dharma

NB: Kalau mau tahu bagaimana natalan di Timur Tengah sila baca artikel ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *