Selasa, 18 Januari 2022
Satria Dharma's Weblog
YANG BERIMAN VS TAK BERIMAN
Ilustrasi. kaskus.co.id

Ilustrasi. kaskus.co.id

Pada awalnya manusia itu satu umat lalu mereka berselisih. Itu menurut Surat Al-Baqarah Ayat 213. Lalu ada yang beriman dan ada yang tidak beriman. Mengapa ada yang beriman dan ada yang tidak beriman? Karena itu kehendak Tuhan juga. “Kalau Tuhan menghendaki tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Tuhan” (Yunus 99-100). Bagaimana kalau menurut versi orang tidak beriman? Mengapa mereka tidak beriman? Ada banyak alasan mereka untuk itu. Tapi intinya adalah mereka tidak percaya pada adanya Tuhan Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta, dan segala firmanNya itu. Dan itu adalah hak mereka untuk tidak percaya.

Jadi bagaimana dong…?!

Bagaimana apanya…?! Ya silakan saja pilih opsi beriman atau tidak. Bebas aja kok…! Tuhan aja gak memaksa dan tidak menginginkan semua orang beriman padaNya. Jadi orang beriman tidak perlu memaksa siapa pun untuk ikut dengannya sama-sama beriman. “Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya.” (Ar- Raad 31). “Dia menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya, maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.” (Fathir ayat 8) Ngapain ente sedih karena ada orang yang tidak beriman? Jangankan kita, bahkan nabi Muhammad pun diwanti-wanti oleh Allah agar tidak memaksa siapa pun untuk beriman. Beriman atau tidak itu bukan urusan para nabi, termasuk bukan urusan Nabi Muhammad.

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.” (Al Baqarah 272). “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu sukai.” (Al Qashash 56). Tugas para nabi (termasuk Nabi Muhammad) hanyalah menyampaikan risalah saja. “Karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedangkan Kamilah yang menghisab amalan mereka.” (Ar Raad 40). “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan, kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” Al Ghasyiyah ayat 21-22. Nabi Muhammad (dan para nabi yang lain) pun TIDAK DIMINTA untuk menghukum mereka yang ingkar. Berulangkali Tuhan menyampaikan pesan dan wanti-wantinya sbb :

Al- Maidah[5:92] … sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”.

Al- An’am [6:48] “Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan….

Al-A’raaf [7:188] “Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.

Baca juga:  Islam dan Kekerasan

Saba [34:28] Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, …”.

Tugas Rasul hanya menyampaikan risalah dan bukan menghukum yang menolak.

Fathir [35:23] Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan.

An-Naml [27:92] Dan supaya aku membacakan Al Quran (kepada manusia). Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah: “Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan”.

Yasin [36:17] Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas”. Itu Nabi lho…! Kalau bukan nabi ya tidak usah bersikap seperti nabi, apalagi mau melebihi tugas Nabi.

Jadi kalau ada orang yang tidak mau beriman, ya itu bukan urusan kita. Bahkan anak dan istri nabi juga ada yang tidak beriman. Ini anak dan istrinya nabi lho….! Nabi Musa yang dibekali dengan begitu banyak kelebihan dan mukjizat aja gagal kok mengislamkan Firaun. Padahal apa susahnya kalau Tuhan mau membuat Firaun beriman. Jadi kalau saat ini setelah hampir 15 abad berlalu dari turunnya nabi terakhir ada manusia yang tidak mau beriman maka bukankah itu sangat wajar saja adanya. Lha wong yang ketemu langsung dengan nabi saja banyak yang tidak beriman kok. Apalagi kita yang cuma dapat ajakan untuk beriman dari para guru agama dan orang tua kita. Bahkan kalau ada yang beriman maka itu termasuk luar biasa lho…! Kok bisa ya gak pernah ketemu nabi tapi bisa beriman?

Saat ini banyak orang-orang beriman dan tidak beriman saling serang dan saling ejek dengan pendirian mereka. Yang beriman menakut-nakuti yang tidak beriman dengan neraka di hari akhir. Tentu saja hal ini dijadikan ejekan oleh yang tidak beriman. Sorga dan neraka itu kan ciptaan alias ilusi kaum beriman saja. Yang tidak beriman mengejek yang beriman tidak menggunakan akalnya dan sekedar mengekor dogma yang tidak dapat dibuktikan. Tidak ada Sang Pencipta itu. Alam semesta ini tercipta dengan sendirinya. Dan sibuklah mereka berupaya menjelaskan dengan berbagai temuan sains terbaru. Tentu saja hal ini juga dijadikan ejekan oleh kaum beriman. Lihat saja nanti setelah kalian berkalang kubur dan bertemu langsung dengan Tuhan yang kamu dustakan.

Siapa yang benar di antara mereka? Ya bergantung sudut pandang yang digunakan. Masing-masing pihak tentu merasa pihak mereka yang benar sedangkan pihak lain salah.

Baca juga:  NISA SABYAN...?! 😳

Apakah kedua belah pihak ini tidak bisa berdamai dan tidak saling serang lagi? Ya bisa saja. Caranya adalah dengan menerima fakta bahwa di dunia ini manusia memang sudah ditakdirkan untuk berbeda. Satu pihak beriman dan pihak lainnya tidak beriman. Terimalah fakta tersebut. TIDAK PERLU saling benci dan bermusuhan karena perbedaan keyakinan ini.

Tapi semestinya pihak yang berimanlah (dalam hal ini adalah umat Islam) yang lebih bisa menerima fakta. Semestinya umat Islam bisa menerima fakta bahwa memang manusia itu ditakdirkan untuk berbeda dan itu adakah KEHENDAK TUHAN. Bukankah hal ini tertulis dalam kitab suci yang mereka yakini kebenarannya? Jadi untuk apa ngotot ingin menjadikan mereka semua beriman? Lha wong Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir saja tidak diberi amanah untuk menjadikan mereka beriman kok. Tugasnya hanyalah menyampaikan risalah dan peringatan. Jika mereka mau beriman ya Alhamdulillah jika tidak mau ya sudahlah. Gak usah sewot dan ngotot. Nabi aja gak boleh ngotot dan maksa. Lha ente ini siapa?

Umat beriman harus bisa menerima fakta bahwa ada sangat banyak orang yang memilih untuk tidak beriman seperti dirinya. Ada banyak orang yang meski pun mengaku beragama tapi sebenarnya juga tidak beriman. Dan itu adalah kehendak Tuhan. Sama dengan fakta bahwa mereka beriman karena kehendak Tuhan juga. Tidak ada gunanya menakut-nakuti mereka dengan neraka atau mengiming-imingi mereka dengan sorga. Itu hanya berlaku untuk kaum beriman seperti mereka. Umat tak beriman sudah cukup puas dengan kehidupan di dunia ini saja. Hari akhir dan pembalasan tidak ada menurut mereka. Setelah manusia mati ya sudah. Jadi tidak ada gunanya mengiming-imingi mereka dengan sorga atau menakut-nakuti mereka dengan neraka yang tidak mereka percayai keberadaannya.

Apakah mereka yang tidak beriman itu jahat dan tidak bisa berprilaku baik? Salah besar jika mengira demikian. Sama blundernya dengan mengira bahwa semua orang beragama pasti akan berprilaku baik sesuai dengan ajaran agamanya. Berprilaku baik atau tidak adalah pilihan pribadi yang bisa merupakan dorongan ajaran agama bisa juga atas dorongan atau motivasi lain yang tidak ada hubungannya dengan agama atau ajaran tertentu. Orang yang beriman tentu akan berupaya untuk menghindari perbuatan-perbuatan jahat yang dilarang oleh agamanya dan mengikuti kebaikan yang dianjurkan. Orang yang tidak beriman juga bisa melakukan hal yang sama dengan mendasarkan pada norma-norma pribadi dan sosial yang dianutnya.

Jadi marilah kita saling memahami dan berhenti saling mencurigai. Kita bisa melakukan hal-hal baik dan juga bisa melakukan hal-hal keji. Kaum beriman akan menyalahkan setan untuk perbuatan kejinya tapi kaum tak beriman tidak bisa karena setan itu tidak eksis baginya. Jadi mereka akan menyalahkan dirinya sendiri.

Baca juga:  MEMBACA 15 MENIT SETIAP HARI SEBAGAI UPAYA PENUMBUHAN BUDI PEKERTI

Mengapa saya menuliskan ini? Karena sudah selayaknya kita berhenti untuk saling curiga dan saling hujat karena perbedaan ini. Umat beriman (umat Islam utamanya) harus mau menerima fakta bahwa perbedaan ini adalah kehendak Tuhan. Jika Tuhan bisa berkehendak untuk menjadikan seseorang beriman maka ketidakberimanan seseorang yang lain adalah kehendakNya juga. Terimalah fakta itu dan tidak perlu membenci atau memusuhi orang yang tidak beriman. Terimalah mereka dan hormati pilihan mereka karena bahkan Tuhan melimpahkan kasih dan sayangNya pada mereka di dunia ini. Mereka adalah mahluk Tuhan yang sama seperti kaum yang beriman. Mereka yang tidak beriman juga berhak untuk sukses, kaya raya, bahagia, dan sejahtera di dunia ini.

Jika umat beriman sudah bisa menerima dan menghormati pilihan orang yang tidak beriman maka tentunya akan lebih mudah bagi mereka untuk menerima fakta bahwa sesama umat beriman pun punya perbedaan dalam konsep keberimanannya. Sama-sama meyakini adanya Tuhan saja bisa berbeda konsep ketuhanannya. Bahkan yang sama-sama berindukkan pada agama Abrahamikpun juga terpecah antara umat Yahudi, umat Kristen, dan umat Islam. Mereka itu satu induk. Yang beragama Islam pun terpecah-pecah menjadi Sunni, Syiah, Ahmadiyah, dan lain-lain. Bahkan katanya umat Islam terpecah menjadi 73 golongan. Tapi itu juga bukan urusan kita, bahkan bukan urusan Nabi.
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS Al-An’am ayat 159,)
Intinya, tidak usah resek dengan apa pun golongan dan aliran keberagamaan mereka karena itu sepenuhnya urusan Tuhan dengan mereka sendiri.

Apa yang hendak saya sampaikan dengan tulisan panjang ini adalah agar kita tidak terlalu fanatik dengan apa yang kita imani atau percayai sehingga kita menganggap bahwa hanya kitalah orang atau kelompok yang benar sedang yang lain itu salah. Kita bukanlah hakim yang berhak untuk menilai kebenaran yang hakiki.

Wallahu a’lam bissawab.

Surabaya, 12 Desember 2021

Satria Dharma

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *