Jumat, 17 September 2021
Satria Dharma's Weblog
MENDOAKAN VIRUS

Seorang teman mengirim video dan berita tentang 11 ribu mahasiswa di Wuhan yang mengikuti upacara wisuda akbar pada Minggu 13 Juni 2021 kemarin tanpa menggunakan masker dan menjaga jarak sosial. Wuhan adalah kota asal virus Corona yang menjadi pandemi dunia tapi kini mereka benar-benar telah bebas dari virus tersebut. Mereka berhasil mengalahkan pandemi ini. Bravo…! 👍

Tak lama kemudian seorang teman mengirim berita 90 warga RT 02 dan 03 RW 11, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, terkonfirmasi positif Covid-19. Klaster ini diduga muncul akibat warga melakukan perjalanan setelah larangan mudik dicabut. Mereka tampaknya meremehkan ganasnya virus ini dan mengira kalau larangan mudik sudah dicabut maka virusnya yang mudik entah ke mana. 🙄

Sementara itu di WAG lain seorang teman mengirim doa untuk mengusir Corona. Doanya sangat khidmat dan teman saya minta agar doa tersebut disebarluaskan. Perasaan saya seperti nano-nano, bermacam-macam rasanya. 😔

Saya merasa bahwa kita memang tidak pernah belajar apa yang disebut dengan sunnatullah.

Saya jadi ingat sebuah cerita dalam bukunya Ustad Jonih Rahmat “Buku tentang Kebaikan” Judulnya “Gempa Bumi dan Tsunami: Bencana Alam atau Azab Tuhan?”

Menurut para ahli geologi, siapa pun yg tinggal di sepanjang pantai Barat Sumatra, pantai Selatan Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, Filipina, Jepang akan berpotensi mengalami gempa. Jadi meski pun yg tinggal disana adalah orang-orang beriman belaka maka tetap saja daerah tersebut akan kena gempa.

Beda dengan Kalimantan. Meski pun penduduknya tidak kenal agama, tidak pernah shalat, dll mereka akan aman dari gempa. Lha wong Kalimantan bukan daerah gempa…!

Lha kalau gempa itu berhubungan dengan dosa dan kemaksiatan maka mestinya Dolly dan Las Vegas sudah diratakan dengan tanah sejak dulu. Nggih nopo mboten…?!

Baca juga:  1000 BUKU SEBELUM BERSEKOLAH

“Bisakah gempa dicegah?” Tanya seorang hadirin pada ustad Jonih dalam ceramahnya.

“Tidak bisa,” jawab Ustad Jonih.

Tapi tiba-tiba seorang hadirin berteriak dari belakang dengan keras, “Bisa!”

“Dengan doa!” tambahnya dengan lantang.

(Bagaimana menurut Anda? Apakah kita bisa mencegah gempa (atau mengusir virus corona dengan doa bersama atau istighotsah kubro selama 40 hari, umpamanya? Ini masalah keyakinan lho…! Bukankah tidak ada yang tidak mungkin bagi ALLAH SWT)

Ustad Jonih ini termasuk ustad yg cerdas jadi ia kemudian memberi contoh.

“Begini…,” jawab Ustad Jonih, “…dimana saklar listrik masjid ini?”

“Matikanlah lampu masjid ini lalu semua hadirin, atau kalau perlu, masjid ini dipenuhi kyai, berdoa bersama-sama agar lampu hidup kembali. Kira-kira hidup nggak lampunya?”

Tentu saja para hadirin bengong disodok pertanyaan begitu.

“Kalau kemudian datang seorang yg gak pernah shalat, kerjanya cuma mabuk-mabukan dan hal bejat lainnya kemudian menyalakan saklar lampu, kira-kira hidup nggak lampunya?”

“Itulah yg disebut SUNNATULLAH. Begitu juga dengan gempa bumi.” demikian ustad Jonih mengakhiri.

Apakah menurut Anda virus Corona bisa diusir dari Indonesia dengan doa semua umat Islam bersama-sama? Kalau doa bisa mengusir virus Corona maka sebaiknya Arab Saudi membiarkan jamaah haji dari seluruh dunia datang dan ajak jutaan jamaah haji ini menggempur langit dan arasynya dengan doa paling khusyuk yang bisa mereka lakukan. Mosok langit dan arasnya tidak bergetar oleh khusyuknya doa jamaah haji dari seluruh dunia. 😏

Jangankan kita semua, bahkan Nabi Muhammad pun menghadapi wabah dengan sunnatullah. Bukan dengan doa. Itu sebabnya Nabi mengatakan “Kalau kalian mendengar ada wabah thaun di suatu negeri, janganlah kalian memasuki negeri tersebut. Namun, bila wabah thaun itu menyebar di negeri kalian, janganlah kalian keluar dari negeri kalian menghindar dari penyakit itu.” Di hadist lain Rasulullah Saw bersabda, “Larilah dari orang kena penyakit menular seperti engkau lari dari singa”.

Baca juga:  PAHLAWAN PENDIDIKAN VIETNAM

Tindakan Nabi melarang umatnya masuk ke lokasi wabah adalah bentuk pencegahan yang memang dianjurkan oleh Allah, yakni mencegah diri kita dari tertular di lingkungan yang membawa derita. Nabi tidak meminta umatnya untuk berkumpul di lokasi wabah tersebut berada dan berdoa bersama untuk mengusir wabah tersebut. Tidak. Ada sunnatullah yang harus kita pahami cara kerjanya dengan ilmu pengetahuan.

Penduduk Wuhan sudah jelas tidak berdoa agar virus minggat dari sana. Tapi mereka melakukan sunnatullah dengan melakukan protokol pencegahan penularan lebih lanjut, melakukan vaksinasi, dan terus menerus melaksanakan segala upaya yang diperlukan untuk mencegah dan menghentikan penularan virus Corona. Dan tentu saja mereka berhasil. Kita yang tidak percaya pada sunnatullah dan mengira doa dapat menghalau virus masih akan tetap menghadapi pandemi ini sampai kita mau mempercayai sunnatullah. 😔

Surabaya, 21 Juni 2021
Satria Dharma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *