Seorang perempuan tua yang selalu duduk di trotoar seberang kantor pos Jalan Jaffa Yerusalem menjual jimat dan mantra. Jimat dan mantra itu berbentuk gulungan potongan-potongan kertas yang diikat dengan benang warna-warni. Orang kadang ada yang membeli bukan karena ingin mendapatkan keberuntungan dari jimat dan mantra tersebut tapi karena kasihan belaka pada perempuan tua itu.
Suatu ketika perempuan tua itu berhasil meyakinkan seorang penyair bahwa nomor telpon yang tertera dalam potongan kertas yang ia jual adalah nomor telpon Tuhan. Penyair ini karena penasaran lalu mencoba untuk menghubungi nomor yang tertera di kertas tersebut. Ia menelpon beberapa kali tapi tidak ada yang mengangkat. Ketika ia bertemu lagi dengan perempuan tua itu ia lalu menceritakan kegagalannya tersebut. Si perempuan tua tersenyum manis dan berkata, “Tidakkah itu persis seperti Tuhan? Ia yang tidak pernah ada di sana di saat kau mencariNya.” 😎
Ini adalah salah satu kisah menarik yang ada dalam buku “Agnostik. Sebuah Manifesto Penuh Gairah” tulisan Lesley Hazleton. Kisah ini dengan satir mengejek orang-orang yang percaya bahwa Tuhan akan ada ketika dibutuhkan. Lesley Hazleton adalah seorang psikolog Yahudi sekuler kelahiran Inggris yang kemudian menjadi jurnalis dan penulis. Keingintahuannya tentang iman dan agama mendorongnya untuk menulis biografi Muhammad, Maria dan Izebel dan meneliti minatnya sendiri dalam buku-buku tentang agnostisisme dan mobil. Ia meninggal pada tanggal 29 April 2024 di rumahnya, rumah perahu di Seattle pada usia 78 tahun. Ia menentang keinginan untuk hidup selamanya. “Kita membutuhkan akhir dalam hidup ini. Hidup selamanya adalah mimpi buruk….Kemampuan untuk mati adalah bagian integral dari apa yang menjadikan kita manusia.”
Apakah Anda pernah memohon dengan sangat kepada Tuhan tetapi Tuhan tidak mengabulkannya? Bukankah Tuhan sendiri yang mengatakan “Mintalah maka niscaya akan aku perkenankan.”? Biasanya kita berkata bahwa Tuhan tetap mengabulkan doa kita tapi dalam bentuk lain. Tuhan mengalihkan permintaan kita karena Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan. Kita memberi alasan agar kita tidak kecewa pada Tuhan.
Meski pun sangat banyak orang yang kecewa pada Tuhan tapi setiap hari, setiap saat, jutaan bahkan milyaran orang tetap percaya pada Tuhan dengan mendatangi rumahNya dan berdoa dengan sungguh-sungguh agar Tuhan mengabulkan permintaan mereka. Mereka adalah orang-orang yang percaya dan mengimani adanya Tuhan yang mahamengabulkan doa dan permintaan. Sebaliknya, ada orang-orang yang menolak untuk percaya pada adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Para theis percaya dan yakin pada keberadaan Tuhan sedangkan atheis menolak untuk percaya pada keberadaan Tuhan.
Lalu di mana posisi Agnostik?
Agnostik atau Agnostisisme merupakan suatu pandangan bahwa ada atau tidaknya Tuhan atau hal-hal supranatural adalah suatu yang tidak diketahui atau tidak dapat diketahui. Definisi lain yang diberikan adalah pandangan bahwa “alasan yang dimiliki manusia tidak mampu memberikan dasar rasional yang cukup untuk membenarkan keyakinan bahwa Tuhan itu ada atau keyakinan bahwa Tuhan itu tidak ada.” Seorang agnostik adalah “seseorang yang percaya tidak ada yang diketahui atau dapat diketahui tentang keberadaan atau sifat Tuhan…seseorang yang tidak mengaku beriman atau tidak percaya kepada Tuhan.” Singkatnya seorang agnostik itu adalah orang yang berada di posisi ‘tidak tahu’ dan bukan orang yang yakin bahwa Tuhan itu ada atau Tuhan itu tidak ada. Dia berada di tengah antara ‘percaya’ dan ‘menolak’.
Dalam Agnostic: A Spirited Manifesto, penulis Leslie Hazleton berbagi pemikirannya tentang apa artinya menjadi seorang agnostik dalam masyarakat saat ini. Dia menyatakan bahwa ada persepsi bahwa orang agnostik menghindari memikirkan masalah tentang keberadaan Tuhan atau bahwa menjadi seorang agnostik berarti “tidak mau repot berupaya untuk menjawab pertanyaan” ketika dihadapkan dengan pertanyaan tentang iman. “Memiliki keyakinan pada ketidakpastian adalah definisi yang sempurna dari agnostik”. Mengotak atik segala sesuatu yang tak diketahui adalah sebuah petualangan dan menjadikan kegiatan itu sebagai sumber kehidupan.
“Agnostic” dirangkum dari blog Hazleton, The Accidental Theologist, di mana dia menulis tentang “agama, politik, dan keberadaan” dari sudut pandang seorang agnostik, dan dalam beberapa hal bukunya mencerminkan asal-usulnya. Setiap bab merupakan penjelasan singkat dan lengkap mengenai sebuah topik teologis yang direnungkan Hazleton secara mendetail. Ia menggabungkan bacaannya yang ekstensif mengenai topik tersebut berdasarkan pengalaman pribadi, dan kesimpulannya. Misalnya, dalam bab tentang Tuhan yang berjudul “Kata Tiga Huruf”, dia memulai dengan bagaimana dia belajar tentang Tuhan sebagai seorang gadis muda Yahudi yang dididik di sekolah biara Inggris. Dia membahas bagaimana selama berabad-abad berbagai budaya telah mengembangkan konsep tentang makhluk yang mahakuasa, khususnya bagaimana masyarakat Yahudi-Kristen modern telah mengantropomorfisasi Tuhan, menyebut keilahian sebagai “Dia”. Hazleton menyatakan bahwa kebanyakan orang tidak pandai dalam abstraksi dan oleh karena itu perlu “mengkonkretkan” – membuat metafora untuk mengkonseptualisasikan hal-hal yang tidak dapat kita pikirkan. “Mencoba menjadikan hal yang tidak dapat diketahui menjadi dapat diketahui,” katanya, “kita mereduksinya menjadi apa yang paling kita ketahui. Dalam hal itu kita kemudian menjadikan Tuhan sebagai mirip manusia.”
Hazleton tidak berusaha menyerang yang theis atau pun atheis. Ia hanya berusaha untuk menjelaskan sudut pandang agnostik dan bukan berusaha untuk mengubah keyakinan orang yang beragama atau mengejek orang yang beriman. Namun, ia mengecam keyakinan orang-orang yang sangat yakin akan segi-segi keberadaan yang pada hakikatnya tidak dapat diketahui (Tuhan, Surga, jiwa seseorang, dll.). Ia mengecam orang-orang Kristen Evangelis seperti Rick Warren dan juga orang yang mengaku ateis dengan sok yakin seperti Richard Dawkins dan Christopher Hitchens.
Menurut Hazleton, Agnostic dimaksudkan untuk menjadi “bertualang dengan pikiran yang terus menerus”, dan dia menjelaskannya dalam buku ini dengan sangat baik. Argumennya yang penuh pertimbangan dan penjelasannya mengenai konsep-konsep teologis dari sudut pandang agnostik pasti akan memberikan banyak hal kepada pembaca untuk dipikirkan. Pemikirannya akan menginspirasi banyak pembaca bukunya, baik di kalangan orang-orang beriman mau pun mereka yang tetap menyimpan keraguan. “Tanpa kesediaan untuk kehilangan arah dan tersesat, Anda mungkin takkan melakukan kesalahan, tapi Anda pun takkan menemukan hal-hal baru, demikian kata Hazleton,. “Perjalanan menjadi semata rutinitas”. Tidak ada greget, tidak ada gairah. 😁
Mengapa banyak orang ‘beriman’ yang merasa kepercayaannya diserang ketika mereka melihat orang yang memiliki kepercayaan yang berbeda dengannya? Mereka merasa bahwa kepercayaan orang lain yang berbeda dengan kerpecayaan dirinya adalah semacam ancaman terhadap apa yang ia percayai. “Aku benar sedangkan Anda salah, dan kesalahan Anda adalah ancaman bagi identitasku atau bahkan bagi eksistensiku.”
Samuel Johnson menyatakannya dengan elegan, “Setiap orang yang menyerang keyakinanku, pada tingkat tertentu menyusutkan kepercayaan diriku pada keyakinanku itu, sehingga itu membuatku tidak nyaman dan gelisah, dan aku marah pada orang yang membuatku demikian.”
Keyakinan pada dasarnya suatu keadaan yang tidak aman. Bila Anda mengetahui sesuatu karena itu memang fakta, Anda tentu tidak perlu lagi memercayainya atau meyakininya. Anda hanya butuh kepercayaan atau keyakinan ketika Anda merasa tidak yakin. Maka dengan demikian, kepercayaan atau keyakinan bukanlah produk pengetahuan, melainkan hasil dari ketidakpastian. Jadi di dalamnya tersimpan kemungkinan ketidakpercayaan. “Saya berdiri teguh dalam agnostisisme saya,” tulis Hazleton,” “karena inti dari agnostisisme saya bukan sekadar tidak mengetahui, namun sesuatu yang jauh lebih menantang dan jauh lebih menarik: sebuah oxymoron luar biasa yang melekat dalam konsep ketidaktahuan. .”
Balikpapan, 8 September 2024
Satria Dharma
Saya muslim
Saya melakukan the journey Religion dari muslim ke katolik ke muslim ke kristen ke Hindu belajar spiritualitas Budhism ke muslim
Sekarang saya muslim dengan minoritas muslim yaitu Islam Syi’ah bukan Sunni
Tapi saat ini saat keadaan jiwa ku terguncang,hidup dengan ketidak pastian ekonomi, menyesali masa lalu ,tidak bisa berdamai dengan diri menjadikan ku semakin timpang dengan agama ,aku bnyak baca buku keislaman,bukan iman yg bertambah malahan aku merasakan overdosis di dalam agama dan mengalami kejumudan dalam beragama
Dengan adanya ide AGNOSTIK aku mau membebaskan diri ku dari corak bergama yg terlalu teologis dan kaku