Senin, 14 Juli 2020
Just another WordPress site
PEMBERANI (Bagian 3)

Seekor singa tentu ingin agar anak-anaknya menjadi singa juga. Dia tentu tidak ingin anak-anaknya menjadi kucing, ikan piranha, terwelu, atau kalkun. Begitu juga ayah saya…

Karena beliau adalah orang yang sangat berani ngedap-ngedapi melawan siapa saja maka tentu beliau juga ingin agar anak-anaknya jadi pemberani seperti beliau. Utamanya tentu beliau berharap agar saya sebagai anak laki-laki pertama dalam keluarga juga bersikap berani berkelahi dan berani mati seperti beliau.

Jadi beliau selalu bilang bahwa saya harus berani berkelahi melawan siapa pun. Saya tidak boleh takut melawan siapa pun. Siapa pun itu… Siktalah, Dad…! 🙄

Suatu ketika ayah saya melihat saya dibuli oleh anak tetangga saya (kalau tidak salah namanya Saiful). Anak ini badannya dua kali lebih besar daripada saya dan tentu saja saya tidak berani melawannya. Begitu melihat saya mengalah dibuli oleh Saiful ini maka beranglah ayah saya. Mosok anak Singa dikerjain sama Gorilla kok diam saja?

Saya lalu dipanggil dan diminta untuk melawan Saiful. “Lawan dia…!”

“Tapi urusan kami sudah selesai kok, Pak.” Kata saya menghindar.

“Tidak. Kamu panggil dia dan lawan dia untuk berkelahi.” Kata ayah saya geram.

“Whaaat…?!” Kan urusan sudah selesai. Apa lagi…?! Lagipula badan Saiful dua kali lebih besar daripada saya.

“Tidak perduli…! Kamu tantang dia sekarang juga untuk berkelahi. Bapak akan lihat kamu berkelahi.”
OMG…! Koyo ngene rasane dadhi anake Singo… 😞

Karena dipaksa oleh ayah saya maka saya tantanglah si Saiful untuk berkelahi. Si Saiful sampai tidak percaya saya yang biasanya dibuli tanpa daya tiba-tiba menantangnya berkelahi. “Are you insane…?! What the hell is going on with you…?!” mungkin begitu pikirnya.
Begitulah…! Akhirnya kami pun berkelahi. Saya pun berkelahi dengan seadanya.Tujuannya hanya agar sekedar menyenangkan hati ayah saya yang menonton dari kejauhan. Saya tidak sempat mengeluarkan jurus-jurus silat yang saya pelajari dari Kho Ping Ho karena saya hanya belajar silat secara tidak langsung dan hanya dalam angan-angan saya. Saiful juga berkelahi dengan seadanya karena ia memang tidak perlu mengeluarkan semua kekuatannya. Lha wong saya hanya separoh tubuhnya dan kalau ia merentangkan tangannya maka saya tidak akan dapat menyentuh tubuhnya. Yang penting kami kelihatan berkelahi dengan sungguh-sungguh sampai kami merasa cukup berkelahinya. Ayah saya juga puas bahwa pada akhirnya si anak singa berani berkelahi melawan Gorilla. 😎
Jadi begitulah ayah saya mendidik saya. Pokoknya harus berani dan pantang menghindar meski harus menghadapi lawan yang segarang apa pun.

Baca juga:  SCARY KHILAFAH (BAGIAN 3)

Sayang sekali bahwa saya punya pendapat yang berbeda…. 😞

Menurut saya seekor singa berharap anak-anaknya menjadi singa semua, yang laki-laki menjadi singa jantan dan yang perempuan jadi singa betina, hanya berlaku di dunia fauna. Padahal pelajaran di sekolah itu bukan hanya Biologi. Ada banyak pelajaran lainnya. Di dunia manusia hal tersebut tidak berlaku karena manusia punya kehendak sedangkan binatang mah gak punya cita-cita. Tidak pernah kita dengar ada ikan lumba-lumba yang bercita-cita jadi dinosaurus, gajah, atau srigala. Tapi di dunia manusia anaknya dokter boleh punya cita-cita jadi artis, pengusaha, atau anggota DPR. Anak singa boleh jadi angsa yang cantik, cendrawasih yang anggun, atau ular yang berbisa. 😎

Karena pada dasarnya saya bukan seekor singa (mungkin waktu itu hanya seekor kucing Angora yang cinta damai) maka saya juga tetap tidak pernah mau berkelahi. Sebisa-bisanya konflik yang mengarah pada perkelahian fisik akan saya hindari. You want this…?! Oke, take it. I might get another one later… Jadi jagoan dan ditakuti karena kesangarannya bukanlah jiwa saya. Itu mah almarhum adik saya, Alim Akbar Jaya, yang memang suka berkelahi. Di mana pun ia bersekolah selalu saja ia berkelahi dan jadi jagoan sekolah. Saya bahkan pernah melihat dia membawa badik atau celurit di tas sekolahnya. Pancen gendeng arek iki…! 🙁
Saya memang anak singa, yaitu ayah saya, tapi kan saya juga anaknya ibu saya yang seekor angsa yang sungguh halus budinya dan penuh welas asih. Saya mah mending jadi anak yang menyenangkan ketimbang jadi jagoan kampung. Untuk menyelesaikan konflik kan ada banyak caranya dan tidak harus diselesaikan dengan cara berkelahi.
“But you are a lion, Son. Fight like a lion. Gerrrr…!”
“No Daddy, I’d prefer become a swan. Can I please…?!” 🙏🙁

Suatu ketika di tahun Mbah Harto sedang sangat berkuasa semua pegawai negeri dipaksa untuk menjadi anggota Golkar. Semua anggota Golkar ya harus mencoblos Golkar dalam Pemilu yang penuh dengan rekayasa. Saat itu saya sudah menyelesaikan kuliah saya sambil mengajar dan saya sudah golongan II/b sebagai PNS. Semua guru diwajibkan untuk menjadi anggota Golkar dan disodori surat permohonan untuk menjadi anggota Golkar. Jadi kita yang MEMOHON untuk menjadi anggota Golkar. Tapi kalau tidak MEMOHON awas lu…!
Waktu itu saya sudah jengkel dengan gaya premannya Golkar. Saya sudah punya pendirian bahwa guru itu semestinya tidak boleh menjadi partisan dan tidak perlu ikut memilih partai politik mana pun yang ikut kontestasi kekuasaan. Guru itu seharusnya bersikap sebagai pinandito yang tidak memihak terhadap partai apa pun dan hanya berbakti pada negara, bukan pada partai pemerintah yang berkuasa. Tapi you know Mbah Hartolah… Apa yang beliau mau harus jadi. Semua PNS waktu itu harus jadi anggota Golkar dan nyoblos Golkar.
Entah apa yang merasuki saya waktu itu tapi saya menolak untuk mengisi formulir permohonan menjadi anggota Golkar tersebut. Saya didesak oleh sekolah di mana saya mengajar waktu itu (SMAN 13 Surabaya) untuk mengisi tapi saya nglewes saja. Akhirnya dilaporkan ke Depdikbud dan saya dipanggil untuk disidang oleh pejabat Kanwil Depdikbud di Gentengkali.

Baca juga:  KEKACAUAN KONSEP PROGRAM SBI : SEKOLAH BERMUTU ATAU SEKOLAH KHUSUS?

Di sana saya dipaksa untuk masuk Golkar dan saya tetap menolak. Saya ditanya kenapa tidak mau dan saya jawab bahwa guru tidak boleh partisan. Saya dituduh tidak melaksanakan tugas sebagai PNS dan saya jawab masuk Golkar itu bukan tugas guru. Dia bilang Golkar itu bukan partai politik tapi Golongan. Jadi guru boleh masuk Golkar. Saya jawab kalau bukan partai politik kenapa ikut pemilu? Dan dia blangkemen. Saya dituduh tidak melaksanakan perintah atasan saya jawab silakan atasan saya membuat SURAT PERINTAH atau semacam SURAT TUGAS untuk masuk Golkar dan nanti baru saya lakukan. Tentu saja mereka tidak mau masuk jebakan batman tersebut. Bermacam-macam pertanyaan dan tuduhan dari pejabat tersebut saya jawab dengan mudah dan enteng saja. Wistalah…! Kalau cuma adu argumen soal ini laiknya saya ini jadi Saiful yang besarnya dua kali ketimbang Satria. Dengan mudah saya mentahkan semua argumenmu, Bro. 😂

Akhirnya Pak Pejabat kehilangan kesabaran dan dengan marah menuding saya sambil bilang bahwa saya ini tidak punya terima kasih pada Golkar. Hidup ikut Golkar, makan ikut Golkar, gaji dari Golkar tapi tidak berterima kasih, demikian katanya dengan mata melotot berapi-api sambil menggebrak meja.
Eh, lha kok saya muntap mendengar tudingannya tersebut. Saya lalu menaikkan suara saya dan pasang mata api juga. “Saya tidak bekerja untuk Golkar. Saya bekerja untuk negara…!” seru saya dengan oktaf yang sama tingginya dengan Pak Pejabat Dikbud sambil berdiri mengebrak meja juga. Tentu saja Pak Pejabat kaget. Kok tiba-tiba saya mengaum…?!
Seorang staf Depdikbud yang hadir langsung loncat untuk menenangkan saya. “Tidak boleh melawan atasan seperti itu…” katanya berusaha untuk menenangkan saya.
“Dia bukan atasan saya…!” jawab saya tetap ngegas. 😡

Baca juga:  TANYA JAWAB TENTANG UJIAN NASIONAL

Pokoknya hari itu saya jadi singa. Tapi akibatnya adalah saya diskors tidak boleh ngajar lagi dan ditendang dari SMAN 13 ke kantor Dikbud Kecamatan Rungkut jobless. Istilahnya saya ‘dibina’, belum dibinasakan. Memang tidak dikeluarkan dari status PNS saya tapi tetap saja itu killing my career. Saya sangat suka mengajar dan kalau disuruh jadi pegawai dikbud yang tugasnya ngurusi administrasi ya prei mawon, bro.

Itu adalah hari ketika saya menjadi Singa. Hari itu saya baru bisa merasakan dan memahami bagaimana sebuah keberanian tiba-tiba timbul dan kita melawan tidak peduli siapa pun yang kita hadapi.
Apakah ayah saya tahu hal ini? Tidak. Saya tidak pernah membawa masalah apa pun ke rumah. Sebesar apa pun masalah saya di luar tidak akan pernah saya ceritakan pada siapa pun di rumah. My problem is my problem. Nobody should interfere. I decide everything by myself. Itu sebabnya Mama saya selalu bilang bahwa saya adalah satu-satunya anaknya yang tidak pernah memberinya masalah.

Tapi akhirnya ayah saya juga tahu bahwa saya diskors dan dikandangkan di kantor Dikbud Kecamatan dari teman-temannya. Kan beliau bekerja di Depdikbud Gentengkali di mana saya disidang. Tapi saya memang tidak bilang dan tidak mampir ke ruang ayah saya bekerja. Selesai disidang ya saya pulang.
Darimana ayah saya tahu? Ternyata teman-temanya bilang bahwa “like father, like son”, Bapak karo anake podo ae. Tentu saja beliau bingung. Apa urusannya dengan anaknya? Setelah itu barulah diceritakan bahwa saya dipanggil karena menolak masuk Golkar dan melawan juga.
Ayah saya ternyata juga tidak mau dipaksa masuk Golkar dan memilih melawan. Beliau adalah satu-satunya PNS di Jawa Timur yang tidak mau masuk Golkar. Tapi alasan beliau lebih ke alasan agama. Apa detilnya saya tidak pernah tanya. Akhirnya beliau juga diskors diturunkan jabatannya. Tak lama kemudian ayah saya minta pensiun dini. Beberapa waktu kemudian saya juga menulis surat mengundurkan diri sebagai PNS.

Gak onok singo-singoan maneh… Bubar…! 😡

Surabaya, 19 Februari 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *