Sabtu, 05 April 2020
Just another WordPress site
KONSEKUEN

Makna konsekuen di KBBI adalah: sesuai dengan apa yang telah dikatakan atau diperbuat; berwatak teguh, tidak menyimpang dari apa yang sudah diputuskan. Dan ini adalah salah satu sifat menonjol ayah saya yang lain selain keberaniannya. Kalau beliau sudah menyatakan sesuatu maka beliau akan memegang kata-katanya tersebut meski ia sebenarnya tidak suka.

Ketika kelas 3 SMP saya mulai merokok. Saya dipengaruhi oleh seorang teman yang neneknya punya los di pasar. Hampir setiap hari ia ke Pasar Wonokromo untuk mengunjungi los pasar neneknya tersebut. Seringkali ia mengajak saya untuk ikut bersamanya mendatangi neneknya tersebut. Tujuannya datang ke sana adalah untuk minta uang neneknya. Ia seolah punya jatah uang harian dari neneknya karena selalu diberi uang setibanya di sana. Selain itu ia juga mengambil rokok yang dijual di los neneknya tersebut. Tentu saja tanpa diketahui oleh neneknya. Ia lalu mengajak saya untuk mulai belajar merokok.
Pada mulanya saya batuk-batuk dan tidak menikmati merokok. Tapi lama-lama saya bisa menikmatinya juga. Bukan hanya itu, semakin lama dan semakin sering saya menikmati rokok gratisan (dan colongan) itu saya menjadi semakin ketagihan. Kalau biasanya saya agak ogah-ogahan diajak ikut ke pasar maka belakangan saya malah bersemangat untuk ikut teman saya tersebut. Minimal saya dapat rokok beberapa batang yang akan saya konsumsi bersama teman-teman sepermainan yang juga sudah mulai ketagihan merokok. Celakanya, ketika saya sudah ketagihan merokok teman saya yang biasa memasok saya rokok sudah tidak mau lagi memasok atau berbagi rokok yang ia peroleh dari neneknya. Mungkin ia sudah ketahuan kalau sering mengambil rokok dari los neneknya dan mendapat pengawasan yang ketat sehingga ia sendiri pun sudah kesulitan untuk mendapat rokok. KPK sudah bertindak dan OTT semakin sering dilakukan. 😀

Begitu di SMA saya benar-benar sudah ketagihan merokok dan selalu berupaya untuk bisa mendapatkan rokok atau tembakau untuk kami linting sendiri jadi rokok. Jadi kalau tidak punya cukup uang untuk beli rokok sebatang dua batang untuk dinikmati bersama maka kami punya ide untuk beli tembakau dan kertas shagnya. Tembakau lalu kami linting sendiri dan nikmati bersama-sama. Kadang-kadang kami juga pakai klobot. Meski tidak senikmat rokok yang bermerk paling tidak kami masih bisa menikmati asap tembakau sambil berkhayal jadi jagoan-jagoan yang menjadi iklan rokok. Pokoknya kalau sudah merokok itu rasanya sudah macho banget deh. 😎

Baca juga:  Sekolah Pemimpin, Mencetak Pemimpin dari Siswa Miskin di Balikpapan (1)

Tentu saja ayah saya sangat melarang saya merokok. Beliau tidak akan segan-segan untuk menempeleng saya kalau tahu saya merokok. Oleh sebab itu saya hanya merokok di luar rumah dan berusaha menyembunyikan kegiatan merokok saya tersebut. Jika saya baru merokok tentu bau tembakaunya akan melekat di tubuh saya, utamanya dari bau mulut. Saya akan sangat berhati-hati agar tidak pernah ketahuan habis merokok. Saya tentu tidak ingin ditempeleng oleh ayah saya. Oleh sebab itu untuk menyamarkan bau tembakau tersebut saya biasanya mengambil beberapa daun jeruk, yang kebetulan pohonnya tumbuh di depan rumah, dan melumatnya lalu mengoles-oleskannya di mulut dan tubuh saya. Alih-alih berbau rokok saya akan berbau bumbu pecel tentunya. 😂 Yang penting ayah saya tidak membaui tembakau pada tubuh saya.
Suatu kali ketika saya baru saja merokok dan mau masuk rumah. Tiba-tiba ayah saya memanggil saya. Beliau sedang memperbaiki sesuatu dan butuh bantuan. Saya diminta untuk memegang kayu yang akan digergajinya. Tentu saja saya langsung datang dan membantu ayah saya. Ketika saya sudah memegang kayu yang akan digergajinya kuat-kuat tiba-tiba ayah saya menempeleng saya. Saya kaget setengah mati…! Ada apa ini…?! Apa yang salah dengan cara saya memegang kayu tersebut…?! Mengapa saya ditempeleng…?!
Belum selesai kekagetan saya tersebut ayah saya langsung membentak saya dengan marah, “Kamu merokok lagi…?!” 😡

Anjiiier…! Saya langsung sadar kesalahan saya. Semestinya tadi saya mengolesi tubuh dan mulut saya dengan gerusan daun jeruk dulu sebelum menemui beliau. Tapi ini tadi kan buru-buru. Mana saya ingat…?! Dari sini saya mendapat pelajaran Bahasa Indonesia contoh tentang pepatah yang sangat sesuai. ‘Sepandai-pandainya tupai melompat, sesekali akan jatuh juga’ . Sepandai-pandainya saya menutupi kegiatan merokok sesekali saya khilaf juga. Makane tah ojok sering-sering khilaf. Khilaf kok dibolan-baleni… 😀
Saya tentu saja diam saja ditempeleng begitu oleh ayah saya. Sakitnya sih tidak seberapa, tapi menyesalnya itu lho…! Bukan. Saya tidak menyesal karena merokok. Saya menyesal karena ceroboh saat itu. Padahal saya selalu mewanti-wanti diri saya agar selalu eling lan waspodo. Tapi kok ya kejlungup juga. Kirik tenan…! 🙄

“Jangan sekali-sekali kamu merokok kalau belum bisa cari uang sendiri…!” demikian bentaknya pada saya. Saya diam saja menikmati panasnya pipi saya dan rasa menyesal karena ceroboh. Saya semula tidak terlalu memperhatikan kata-kata beliau ini. Tapi tiba-tiba alarm di otak saya menyala setelah berupaya mencerna pesan beliau ini. Jadi ini syaratnya kalau saya mau merokok di depan ayah saya. Saya harus bisa cari uang sendiri. Baiklah, Kakak…! Eh, Bapak…! 🙏😎

Baca juga:  MENGAJAR KEWIRAUSAHAAN ATAU MENCETAK WIRAUSAHAWAN...?! (Part 1)

Setelah lulus SMA saya putuskan untuk tidak kuliah di UNAIR atau UGM yang saya incar. Perekonomian ayah saya masih tidak memungkinkan untuk membiayai kuliah saya.. Memberi makan dan menyekolahkan sebelas anak itu sungguh Abbot Costello, saudara-saudara. Lha wong banyak orang yang punya anak satu saja sambat gak bisa menyekolahkan. Jadi saya putuskan untuk kuliah sambil dapat uang. Bagaimana caranya? Kok kebetulan saat itu ada program pemerintah untuk memenuhi kebutuhan guru-guru SMP yang sangat kekurangan di Indonesia. Namanya PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama), yang kuliahnya hanya setahun dan nantinya akan dijadikan guru SMP di tempatkan di berbagai daerah. Enaknya program ini memberikan TID (Tunjangan Ikatan Dinas) yang lumayan besar untuk ukuran bujangan (miskin pula) seperti saya. Ujiannya hanya bidang studi yang ingin kita masuki. Kalau mau jadi guru Matematika ya ujiannya hanya Matematika, Bahasa Inggris ya bahasa Inggris saja, IPA ya IPA, dst. Saya ingin ambil jurusan Bahasa Inggris. Tentu saja saya ngakak begitu tahu ujiannya hanya bahasa Inggris. Wistalah…! Kalau cuma Bahasa Inggris tesnya saya yakin bakal lolos. Bukannya jumawa (ada sih sedikit) tapi kemampuan bahasa Inggris saya itu di atas rata-rata sejak SMA. Kami di SMA dapat buku bahasa Inggris dengan judul “Students Book” yang sangat tebal dan merupakan bantuan dari Bank Dunia. Buku tersebut sangat bagus dan mudah dipelajari sehingga saya dengan mudah mampu memelajarinya sendiri tanpa harus mendengarkan penjelasan guru. Ya, saya memang suka belajar autodidak. Selain buku “Students Book” ada juga buku Suplemen dan latihan soal-soalnya. Suplemennya berupa buku tersendiri yang hanya berisi cerita-cerita dalam bahasa Inggris. Saya sangat suka membacanya. Lha wong saya memang sangat suka membaca. Ganes Th, Kho Ping Ho, SH Mintarja, dan Karl May aja sudah kuanggap Suhu waktu itu saking senangnya saya membaca buku-buku mereka. Intinya, saya bisa menguasai bahasa Inggris tingkat SMA berkat buku-buku bantuan bank Dunia itu tanpa perlu ikut les dan harus mendengar penjelasan dari guru (saya punya seorang guru bahasa Inggris yang pintar di SMA. Namanya Pak Sumadi tapi kami sebut Mr. Smith).

Baca juga:  TANTANGAN MEMBACA SURABAYA 2015

Singkat kata singkat cerita, saya ikut tes dan diterima di program PGSLPYD (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama yang Disempurnakan) pada tahun 1977. Meski bosan dengan perkuliahannya yang menurut saya hanya mengulang pelajaran SMA dan sering bolos kuliah, saya tidak pernah bosan menunggu turunnya TID yang waktu itu besarnya Rp. 15.000,- . Biaya kuliah regular waktu itu hanya Rp. 12.500/semester kalau tidak salah. Jadi bayangkan besarnya uang yang saya terima setiap bulan (sebenarnya sering dirapel juga).
Waktu terima rapelan pertama, yaitu tiga bulan pertama, saya merasa seperti seorang jutawan. Oh my God…! I felt so rich that I thought I could buy the world. 😏
Apa hal yang saya lakukan? Salah satunya adalah membeli satu bungkus rokok dan korek. Masuk ke rumah, duduk dengan nyaman di ruang keluarga, lalu melakukan aksi merokok dengan gaya as cool as I thought. Saya pastikan Ayah saya ada di situ…

Begitu saya menyulut rokok, Ayah saya langsung mendelik. Beliau ikut tersulut melihat saya begitu atraktif merokok di depannya. Ini seolah menantang beliau. Mukanya memerah. He was furious, of course… Ia hampir saya melompat untuk menghajar saya tapi saya lalu berseru pada beliau, “Eit…! Saya sudah bisa cari uang sendiri. Ini uang bea siswaku.” Kemarahan beliau langsung turun. Beliau tentu saja masih ingat kata-katanya sendiri. Dan sebagai seseorang yang konsekuen maka tentu saja beliau tidak akan menjilat ludahnya sendiri. As I was saying, ayah saya ini orangnya konsekuen. Meski beliau tidak setuju pada kebiasaan saya merokok tapi janji adalah janji. 😀

Sejak itu Indonesia memperoleh kemerdekaannya. Maksud saya, kemerdekaan merokok telah saya peroleh berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya bisa menikmati hidup bergaya yang bebas, maka Satria Dharma menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Surabaya, embuh tanggal piro tahunnya 1977.

Satria – Dharma

Sekian kisahnya poro sederek… 🙏😊

Surabaya, 23 Februari 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *