Sabtu, 23 Februari 2020
Just another WordPress site
MAU JADI CICAK ATAU BURUNG PIPIT?

 

Di tengah kegembiraan saya membaca pidato kekalahan Agus Harimurti Yudhoyono yang begitu menyejukkan dan membanggakan saya mendapat kiriman berita dari seorang teman. Kali ini berita yang buruk. Meski dimulai dengan permohonan maaf karena mengganggu jam pagi, berita itu mengajak untuk berjihad di dunia cyber. Berjihad di Dunia Cyber…?! Wow…! Mengapa?  Karena katanya server KPU sedang diserang oleh hacker dari Singapura, Vietnam, dan China. Serangan ini akhirnya membuat server KPU down. Lalu ditambahinya bahwa Australia juga ikut. OMG….! Gendeng arek-arek iki…! Ini tidak bisa dibiar-biarkan.

 

Agar berita itu lebih menambah ‘keimanan’ maka si pembuat berita bertakbir “Allahu Akbar” tiga kali dan menambahi dengan ‘hasbunallah wa ni’mal wakil’. Ia juga mohon doa bagi timnya yang sedang berjuang dan berjihad untuk membackup KPU. Hampir saja saya mengambil baju koko dan sorban dan segera menuju ke komputer tua saya untuk ikut membantu mereka. Untung saya sadar bahwa saya tidak punya sorban dan saya juga sama sekali tidak paham soal ‘hek menghek’. Lha wong kalau memori HP saya penuh saja saya sudah kelabakan apalagi kok soal hacking antar negara macam begini. Mana pahamlah awak ini…! Tapi hati saya menenangkan, “Yang penting ghirrah untuk berjihadnya,  Bung! Niat saja sudah dapat pahala. Apalagi kalau ikut menyebarluaskan ajakan jihad fisabilillah ini. Ingat! Ini masalah hidup dan matinya umat Islam dan siapa yang tidak tergerak hatinya insya Allah hidupnya seperti cecak dalam kisah Nabi Ibrahim. Itu baru kisah nabi Ibrahim. Entah lagi dalam kisah nabi-nabi lain. Mungkin kamu akan jadi King Kong, Tyrannosaurus, atau  apalah begitu….” Begitu kata hati saya.

Tapi untung saya punya hati kecil (selain hati besar). Hati kecil saya mengingatkan, “Sik, Bro. Pikiren sik sing mateng. Sopo ngerti iku berita bohong,” Saya tidak tahu mengapa hati kecil saya ini sering-sering pakai bahasa Jawa Suroboyoan kalau bicara pada saya. Mungkin ia ingin nampak lebih akrab dengan saya jika menggunakan bahasa tersebut. Tapi saya turuti saja apa maunya hati kecil saya ini. Soalnya walau pun dia kecil tapi dia sering menyelamatkan saya dari sikap grusa grusu. Yang bikin saya jengkel hanya kalau dia mengingatkan saya ketika menikmati cantiknya wajah seorang wanita. “Wis, Bro. Cukup sekali aja dan jangan lama-lama lihatnya,”  Siapa yang tidak jengkel kalau begitu.

Baca juga:  KEMENANGAN UMAT ISLAM

 

Akhirnya berita tersebut saya diamkan sambil menunggu konfirmasi apakah serangan terhadap KPU juga datang dari Zimbabwe dan Papua Nugini. Meski pun kita tidak ada masalah politik dengan mereka tapi dalamnya hati siapa tahu?

Eeeeh….! Lha kok malamnya saya dapat berita dari KPU bahwa itu berita bohong. Hampir saja saya misuh coro Suroboyoan, “Mbahmu tuek, kempong, perot…!”

Adalah Sumarsono, Ketua KPU sendiri yang bicara bahwa kabar tersebut bohong dan sangat aneh. Lha gimana caranya hacker dari Singapura, Vietnam, dan China (ditambah Australia) akan bisa mengehek (atau menghek ya yang benar?) server KPU? Secanggih-canggih para hacker dari seluruh dunia berkumpul (jangankan lagi cuma dari empat negara tersebut) untuk berupaya mengehek atau menghek server kecamatan dan kelurahan di Jakarta maka mereka tidak akan mungkin bisa. Impossible dan no way, kata Sumarsono. Apakah para programmer KPU benar-benar programmer sakti mandraguna yang memiliki tingkat kecerdasan yang jauh lebih hebat daripada para hacker dunia bulbul yang berupaya untuk mengganggu pilkada Jakarta?

Ternyata bukan itu jawabannya.  Server Kelurahan dan kecamatan di DKI Jakarta tidak mungkin bisa dibobol karena KPU memang tidak pakai server. Sistem perhitungan angka yang digunakan cuma system informasi perhitungan suara atau ‘Situng’.  Bayangkan betapa kecewanya para hacker top dari Singapura, Vietnam, China, dan Australia ketika mereka sudah susah-susah berupaya menjebol gawang lawan eh ternyata gawangnya belum dipasang. Semprul kok memangnya KPU ini….! Mbok lain kali pakai sempoa aja sekalian biar lebih mantap pertahanannya.

Begitu mendapat berita konfirmasi dari KPU DKI Jakarta ini saya segera mengirim berita balik pada teman saya. “Hati-hati, Bro. Kalau belum yakin kebenarannya sebaiknya jangan ikut menyebarkannya. Siapa tahu itu berita bohong,” demikian tulis saya di WA.

Baca juga:  I STAND OUT AS A MOSLEM

Eh, lha kok dibalas begini, “Terima kasih. Kebenaran hanya dari Allah.” Dan tulisan ‘Allah’nya pakai huruf Hijaiyah lagi. Lha saya bisa komentar apa kalau sudah begitu? Mosok mau saya balas dengan mengatakan, “Tapi kebenaran dari KPU kan perlu kita percayai juga…”

 

Ah, wislah…! Beberapa orang memang tidak mau peduli apakah berita yang ia sebarluaskan itu benar atau tidak, bermanfaat atau tidak, dan mereka selalu berdalih bahwa waspada itu tidak salahnya. Karena menyebarluaskan berita bohong bisa meningkatkan kewaspadaan maka disebarluaskanlah berita tersebut demi peningkatan kewaspadaan umat Islam yang saat ini sedang gencar-gencarnya diserang oleh lawan-lawan yang berdatangan dari berbagai penjuru dunia. Pertanyaannya adalah, “Lu mau jadi cicak apa mau jadi burung pipit?”

Boleh nggak ane jadi Jaguar…?!

 

Surabaya, 17 Pebruari 2016

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *