Senin, 12 Nopember 2019
Just another WordPress site
JALAN-JALAN KE BALKAN (Bagian 2)

Semenanjung Balkan adalah sekelompok negara di Eropa yang disatukan oleh sebuah semenanjung yang menakjubkan. Balkan memiliki luas wilayah dan budaya yang berbeda, tetapi dipersatukan oleh sejarah (dan kemudian dipecah oleh egoisme kesukuan dan agama)

Balkan adalah daerah yang sangat indah. Negara-negara di sini punya sejarah yang sangat menarik sekaligus kelam. Sejarah kelam inilah kemudian yang memunculkan istilah ‘balkanisasi’, yang berkonotasi sebagai upaya pemisahan dan perpecahan dari sebuah negara kesatuan. Balkanisasi kemudian juga menjadi istilah umum yang sering digunakan untuk menyebut kebangkitan ‘etno-nasionalisme’ yang mencabik negara yang terdiri dari banyak kelompok etnis dan agama. Ada juga yang menyebut fenomena ini sebagai ‘etno-tribalisme’ paduan antara pemisahan etnisitas dengan sektarianisme antaragama.

Kata “Balkan” berasal dari bahasa Turki yang berarti “gunung”. Artinya pengaruh Turki sangat kuat di daerah ini dulu ketika terbentuk oleh kekaisaran Ottoman (Kekhilafahan Ustmaniyah).

Sejarah suku–suku Balkan sudah ada sejak 3000 tahun yang lalu. Mereka terdiri dari berbagai negara dan bahasa seperti bahasa Latin, bahasa Yunani, bahasa Slavia, bahasa Hongaria dan berakhir setelah Kekaisaran Ottoman yang menjadi penguasa utama wilayah Semenanjung Balkan untuk jangka waktu yang lama.

Sebelum kekaisaran Ottoman wilayah ini dikuasai kekaisaran Romawi. Pemisahan Kekaisaran Romawi membagi wilayah Balkan menjadi Katolik Roma dan Ortodoks Bizantium. Setelah itu masukkah Kekaisaran Ottoman, yang menandai pengaruh Islam selama lima abad yang memisahkan Balkan antara penduduk yang beragama Kristen dan Muslim. Era kekuasaan Turki memang membuat banyak bangsa Slav, yang merupakan masyarakat asli Makedonia, berbondong-bondong masuk Islam ratusan tahun silam.

Suku-suku di Balkan tersebut kemudiam memutuskan untuk bergabung menjadi satu negara, yaitu Yugoslavia, dengan harapan dapat menyelamatkan diri dari penindasan karena perbedaan agama. Yugoslavia sendiri berdiri sejak tahun 1918 sampai dengan tahun 2003. Negara ini berdiri sebagai hasil Deklarasi Corfu pada 20 Juli 1917. Yugoslavia terdiri dari enam negara federasi (bagian) dan dua provinsi otonom, yaitu: Bosnia dan Herzegovina, Kroasia, Makedonia, Sloveni, Serbia, Vojvodina dan Kosovo.

Republik Yugoslavia dipersatukan oleh Presiden yang kuat yaitu Josif Broz Tito. Josif Tito adalah sahabat dekat Presiden Soekarno. Lima sahabat Soekarno, Tito, Nehru PM India, Naser Presiden Mesir, Nkrumah Presiden Ghana kemudian bersepakat mendirikan Gerakan Non Blok, Non Alliance Movement.

Ketika Tito meninggal pada tahun 1980, terjadi persaingan dari para penerusnya yang akhirnya menjadikan perpecahan. Akhirnya disepakati Yugoslavia memilih pemimpin kolektif. Dengan pemimpin bersama, Delapan orang tokoh dari berbagai etnis. Tapi ternyata kepemimpinan kolektif ini tidak solid, semuanya ingin mengedepankan kepentingan etnisnya masing masing.

Baca juga:  KENAPA ORANG INDONESIA LUAR BIASA SEDIKIT (ALIAS TIDAK) MEMBACA BUKU?

Terjadilah perpecahan, Kroasia dan Slovenia menyatakan merdeka. Hal ini kemudian memyulut terjadinya perang saudara yang berdarah dan memilukan. Bangsa Indonesia harus belajar dari sejarah bangsa Slavia yang tercerai berai karena egoisme pemimpin suku dan agama ini. Jangan sampai terjadi balkanisasi seperti yang terjadi di bekas negara Yugoslavia yang dulunya sangat kuat kemudian hancur menjadi negara kecil-kecil dengan sejarah kekejaman yang memilukan.

Melalui serangkaian perundingan dan misi damai, terjadilah negara Balkan baru seperti saat ini.
Perang etnis-agama sejak 1991-1995 di Semenanjung Balkan berhasil diakhiri melalui Persetujuan Perdamaian Dayton (Ohio, AS) pada 21 November 1995. Tetapi perang kemudian berpindah ke wilayah Kosovo sepanjang 1998-1999 dan pasukan Serbia yang menindas Bosnia menyerah setelah militer NATO membom ibukota Beograd. Terbukalah kemerdekaan Kosovo dari Serbia pada 17 Februari 2008. Sang tokoh Presiden Serbia, Slobodan Milosevic, pembantai etnis Bosnia , meninggal di penjara ketika sedang menjalani proses pengadilan Internasional di Den Haag Belanda.

VENESIA

Kami mendarat di bandara Istambul untuk transit pada pukul 4 pagi waktu Istambul atau pukul 8 WIB. Ada beda waktu 4 jam antara Istambul dan Jakarta. Perjalanan kami tampaknya lebih cepat satu jam daripada yang diperkirakan. Dalam 11 jam kami sudah sampai di Istambul dari perkiraan 12 jam perjalanan. Turkish Airlines yang kami tumpangi cukup nyaman dan makanannya cukup enak. Tapi kalau pramugarinya saya lebih suka pada pramugari Lion.

Kami transit di bandara Istambul sekitar tujuh jam karena pesawat Turkish Airlines yang akan membawa kami ke Venice baru akan berangkat pada jam 11:40. Jadi kami nongkrong minum kopi di salah satu cafe di bandara. Kami tidak keluar dan berkeliling saja di bandara Istambul selama enam jam tersebut. Lumayan bosan deh! Saya pikir semestinya pemerintah Turki atau travel bisa mengatur agar ada city tour gratis bagi pelancong yang transit minimal enam jam seperti yang dilakukan oleh bandara Changi, Singapura. Tapi mungkin apa yang dilakukan oleh Singapura masih terlalu rumit bagi negara lain. 😊

Perjalanan dari Istambul ke Venesia makan waktu sekitar 2,5 jam. Tapi tidak terasa karena ada hiburan video dan makanannya juga enak. Perbedaan waktu antara Istambul dan Venesia adalah 1 jam sedangkan Jakarta Venesia adalah 5 jam. Jadi ketika di Jakarta sudah jam 10 pagi di Venesia baru mau masuk Subuh.

Venesia ternyata tidak terlalu dingin seperti yang saya kuatirkan. Cuacanya bahkan sejuk menyenangkan dan sore hari baru agak menggigit. Diperkirakan cuaca antara ± 10ᵒ – 16ᵒC. Jelas lebih dingin ketimbang suhu kamarku yang ber-AC.
Kami ke Venesia dulu dan tidak langsung ke Balkan karena untuk ke negara Balkan harus menggunakan visa Schengen yang multi-entry dan untuk itu kami harus masuk ke salah satu negara Eropa. Itali dipilih karena negara terdekat dan Venesia adalah kota terdekat untuk masuk ke negara Balkan.

Baca juga:  BAGAIMANA NEGARA LAIN MENUMBUHKAN BUDAYA LITERASI BANGSANYA?

Tujuan pertama kami di Venesia adalah San Marco.

Venesia saat ini boleh dikata sudah jadi kota turisme belaka. Penduduknya semakin lama semakin sedikit entah mengapa. Jadi begitu sampai di Venesia yang kita temui di mana-mana adalah turis, turis, dan turis. Ada empat kapal cruise besar yang nangkring di pelabuhan Venesia. Edian…! 😊

Venesia yang dulu terkenal sebagai kota peedagangan (ingat kisah ‘The Merchant of Venice’?) kini lebih dikenal oleh para turis sebagai Kota Air yang menjadi salah satu kota yang romantis di Italia. Bayangkan betapa romantisnya jika bisa naik gondola menyusuri kota tua Venesia bersama kekasih tercinta. Apalagi sambil diiringi lagu “Ani” dari Rhoma Irama atau “Siksa Kubur”nya Ida Laila. Dijamin disorientasi… 😀

Kami menyebrang ke Venice Island dengan water taxi melintasi rumah-rumah kuno yang usianya entah sudah berapa ratus tahun. Katanya rumahnya Marcopolo ada di sekitar rumah-rumah yang kami lewati. Setibanya di sana kami berjalan kaki mengunjungi Piazza San Marco alun alun di tengah Venice Island, kami juga mengunjungi pabrik gelas Murano yang sangat terkenal dengan kerajinan gelasnya. Harganya dalam rupiah berderet jumlah nolnya. Tapi ternyata kami di rumah punya koleksi gelasnya peninggalan dari almarhumah mertua. Entah kapan beliau membelinya dulu. 😊

Kami menyusuri kanal mirip gang-gang kota dengan Gondola yang bayar 20 Euro/perorang dan gondolanya diisi 6 orang. Sekali keliling gang-gang kota gondolanya dapat 1,6 juta rupiah padahal hanya setengah jam lebih. Bayangkan kalau mereka setiap hari ngetrip 20 kali. Mestinya tukang perahu di Venesia ini sugih-sugih dibandingkan para dokter BPJS yang tarip pasiennya per orang gak sampai 10 ribu rupiah. 😀

Kami mampir untuk photo stop di Doge’s Palace dan City orientation untuk melihat San Marco Square, San Marco Cathedral, Bell Tower dan Bridge Of Sighs. Kami ternyata bermalam di Hotel Marcopolo di Bedbank Venice Mestre (Delfino Venice Mestre + Ambasciatori Venice Mestre). Wah, keturutan juga nginap di rumahnya Marcopolo yang sangat legendaris itu. 😀

SLOVENIA : BLED DAN LJUBLJANA

Perjalanan kami berikutnya adalah enam jam jalan darat masuk ke Slovenia, negara Balkan paling Barat.
Dari Venice hari ini kami akan menuju Ljubljana ibukota Slovenia yang berjarak sekitar 6 jam perjalanan (Venice – Bled 280 km atau 5 jam dan dari Bled ke Ljubljana jaraknya 54 km atau 1 jam. Pagi ini jalanan berkabut tebal. Tapi untungnya semakin siang kabut pun menghilang.

Baca juga:  JALAN JALAN KE BALKAN (Bagian 3)

Kami mengunjungi Bled Castle yang terletak di kaki pegunungan Julian Alps yang membentang mulai dari sisi Timur Laut Italia sampai ke Slovenia. Bled Castle sungguh menakjubkan, karena terletak di atas tebing kapur setinggi sekitar 120 meter, tepat di sisi utara danau Bled. Bled Castle tercatat sebagai istana tertua di Slovenia, dibangun pada tahun 1011. Jadi kira-kira seusia dengan Candi Borobudur. Bayangkan…! 😊

Karena sudah berusia lebih dari 1000 tahun dan mengalami perpindahan pemilik seratus kali lebih, maka banyak sekali terjadi perubahan arsitektur serta percampurbauran gaya interiornya. Perombakan yang terjadi pada abad pertengahan membawa istana ini lebih kuat menampilkan corak Renaissance. Komplek istana terdiri dari dua level, terhubungkan oleh tangga. Panorama Bled menakjubkan ditilik dari istana ini. Kami makan siang di kastil indah ini dengan menu tenderloin yang terlalu besar porsinya untuk saya.

Hari ini kami city tour melewati Dragon Bridge, Nicholas Church, Triple Bridge, Robba Fountain dan photo stop di City Hall. Karena tidak ada masjid dan mushalla di sekitar maka saya masuk ke Gereja St. Nichols dan cari tempat di salah satu altarnya yang bersih untuk shalat. Waktu salat Dhuhur dan Ashar saya jamak. Alhamdulillah saya sudah pernah shalat di gereja. 😀

Kami bermalam di Hotel Lev Ljubljana yang setara dengan hotel bintang lima. Sungguh enak kalau dapat hotel seperti ini terus nantinya. Cuaca hampir sama, yaitu sekitar : ± 10ᵒ – 19ᵒC dan terasa nyaman.

Slovenia adalah negara kecil dengan jumlah penduduk hanya dua juta saja. Meski demikian penduduknya ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Penampilan mereka juga lebih keren dan wanitanya tampak anggun meski jika berjalan sangat cepat. Tidak seperti orang Indonesia yang klemar-klemer. 😀

Tampang dan penampilan mereka lebih keren ketimbang orang Italia. Tidak salah jika Donald Trump sampai kesengsem sama orang Slovenia. Melania Trump itu aslinya orang Slovenia. Ada teman saya yang ngawur bilang bahwa Melania itu aslinya orang Nganjuk. Mana ada prejengan orang Nganjuk seperti Melania Trump. Sambil bergurau kami bilang bahwa di Slovenia ini kami dilayani oleh pelayan yang kalau di Indonesia minimal jadi pemain sinetron saking gantengnya. 😀

Sekian dulu…

Ljubljana, 15 Oktober 2019

Foto-foto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *