Senin, 22 Juli 2019
Just another WordPress site
JALAN-JALAN KE LAOS PART 2: VIENTIANE

Laos adalah sebuah Negara Republik yang dikelilingi oleh daratan dan terletak di bagian utara Semenanjung Indochina. Laos berasal dari kata Lan Xang yang artinya kerajaan gajah. Negara ini adalah satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang tidak memiliki pantai (land-locked country). Laos pernah dijajah oleh Prancis dan memperoleh kemerdekaan pada 22 Oktober 1953 dalam bentuk kerajaan. Sejak 3 Desember 1975 kerajaan Laos berubah menjadi Republik Laos. Laos adalah salah satu negara komunis dengan kepala pemerintahan berupa presiden yang bernama Bounnhang Vorachith dan dibantu oleh Perdana Menteri yang bernama Thongloun Sisoulith.

Laos adalah negara yang subur sehingga banyak menghasilkan tanaman pertanian dan perkebunan seperti padi, kopi, dan tembakau. Selain itu Laos juga memiliki sumber-sumber tambang mineral, seperti timah, tembaga, emas, dan perak. Wilayahnya dipenuhi oleh perbukitan dan pegunungan yang tertutup hutan lebat, sehingga menghasilkan kayu sebagai salah satu komoditasnya. Laos memiliki berbagai macam suku bangsa dengan bahasa nasional, yaitu bahasa Lao. Namun dalam kehidupan sehari-hari masyarakat juga menggunakan bahasa Thai, Inggris, dan Prancis. Laos memiliki banyak bangunan bersejarah, terutama candi.

Laos merupakan salah satu dari lima negara komunis yang ada di dunia. Luas wilayahnya sekitar 236.800 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 6,6 juta jiwa. Bergabung dengan ASEAN sejak tahun 1997, tetapi negara yang tidak punya pantai ini baru membuka diri seluas-luasnya dengan negara lain pada tahun 2004. Langkah pertama yang diambil Laos dalam membuka diri adalah menarik modal asing. Agar investor asing tertarik katanya Pemerintah Laos tidak akan memungut pajak terhadap perusahaan asing untuk lima tahun pertama bisnis di Laos. Ada yang tertarik untuk masuk dan tanamkan modalnya ke Laos? 😄

Mata pencaharian utama penduduk Laos yang adalah pada sektor pertanian. Daerah pertaniannya berada di daerah dataran rendah di tepi sungai Mekong. Sungai Mekong adalah urat nadi perekonomian Laos dan juga dimanfaatkan untuk menghasilkan tenaga hydroelectric. Perekonomian Laos meningkat cukup pesat belakangan ini. GDP-nya termasuk dalam kelompok ‘the fastest growing economies in the world, averaging 8% a year in GDP growth’. Diperkirakan pertumbuhannya akan stabil pada 7% sampai 2019.

TIDAK PERLU VISA

Baca juga:  SMAN 5 SURABAYA : MENJADI SEKOLAH TERBAIK DI INDONESIA (Part 5)

Enaknya jalan-jalan ke negara ASEAN adalah kita tidak perlu visa. Jadi kalau sudah punya paspor kita bisa beli tiket ke negara ASEAN tsb dan langsung berangkat. Urusan imigrasi juga mudah baik keluar atau pun masuk (meski istri saya dilarang bawa sambal botolan oleh imigrasi Terminal 3 waktu mau ke Bangkok kemarin dengan alasan lebih dari 100 ml. Padahal biasanya sih lewat aja. Tapi percuma membantah dan mendebat. Buang saja di tempat sampah. 😄). Saat ini selain negara ASEAN ada beberapa negara lain yang bisa kita datangi tanpa harus mengurus visa seperti Turki, India, Jepang, Maroko, Hongkong, dll.
Laos sendiri adalah negara yang tak memiliki pantai samasekali dan terkurung oleh negara-negara tetangganya. Negara ini baru merdeka pada tahun 1959 dari Prancis tapi mengalami kudeta pada tahun 1975. Pada tahun 1975 kaum Komunis Pathet Lao yang didukung Uni Sovyet dan Vietnam mengambil alih pemerintahan Raja Savang Vatthana yang didukung oleh Amerika dan Prancis. Setelah diambil alih negara ini mengganti namanya menjadi Republik Demokratik Rakyat Laos hingga saat ini.

Laos adalah salah satu dari lima negara komunis yang ada di dunia (artinya komunisme itu menarik bagi bangsa-bangsa dan negara tertentu. Bandingkan dengan sistem khilafah yang meski pun sudah dijajakan setengah abad lamanya masih belum juga menarik perhatian negara atau bangsa mana pun). Luas wilayahnya sekitar 236.800 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 6,6 juta jiwa. Laos sudah bergabung dengan ASEAN sejak tahun 1997, tetapi negara ini baru membuka diri seluas-luasnya dengan negara lain pada tahun 2004. Langkah pertama yang diambil Laos dalam membuka diri adalah menarik modal asing agar ekonomi negaranya bangkit.

Pagi ini kami berangkat dari hotel ke bandara pukul 10:00 dan terkejut ketika sampai di Bandara Don Mueang. Ternyata bandara sangat penuh oleh para turis asing mau pun domestik yang mau ke luar negeri. Entah mau ke mana saja mereka itu. Kami dibantu oleh petugas AirAsia utk booking via mesin. Sayangnya hanya tiket saya yang berhasil sedangkan tiket istri saya tidak keluar karena paspornya tidak terbaca. Kami lalu dibantu oleh petugas AirAsia untuk mencetak tiket bagi istri saya. Akibatnya kami akhirnya duduk terpisah. Saya di 5D sedangkan isteri saya di 25F.

Baca juga:  Rektor Icebreaker (Part 3) : Lebih Bodoh daripada Keledai?

VIENTIANE

Vientiane adalah ibukota Laos dan nama bandaranya adalah Wattay International Airport. Pesawat kami mendarat di Wattay International Airport jam 13:20. Waktunya sama dengan zona waktu Indonesia bagian Barat. Airportnya kecil dan penumpang tidak terlalu banyak. Urusan imigrasi dilakukan dengan efektif dan efisien. Mana petugas yang kosong silakan masuk. Kopor kami tidak diperiksa samasekali dan kami keluar begitu saja. Kami lalu pesan taksi untuk menuju Family Boutique Hotel.
Meski tidak punya mata uang Kip Laos tapi ternyata mereka mau menerima uang Baht kami. Kami bayar dengan Baht dan mereka memberi kembalian dalam Kip. Seperti di Myanmar, Laos tampaknya juga tidak punya uang koin karena semua nominal dalam bentuk uang kertas.

Family Boutique Hotel adalah hotel baru sehingga bersih dan fasilitasnya juga baru. Nice…! 😊

Selesai check-in dan dapat kamar di lantai 5 saya lalu tanya apakah bisa booking bis ke Luang Prabang di hotel ini. Ternyata bisa dan biayanya 200.000 Kip per orang untuk klas Sleeper yang berangkat jam 6:30 malam. Saya segera booking untuk berangkat pada Rabu sore saat itu juga.

Selesai salat Lohor dan Ashar sekaligus kami lalu keluar kamar dan tanya di mana ada money changer dan persewaan motor. Kami perlu uang Kip Laos untuk bayar bis ke Luang Prabang dan juga utk belanja selama di Laos. Kami juga mau coba naik motor selama dua hari ini. Kami diminta utk berjalan lurus saja dan tidak jauh dari hotel ada money changer dan di depannya juga ada persewaan motor.

Ternyata nilai uang Kip lebih tinggi ketimbang rupiah. Kami membeli USD 100 seharga Rp. 13.825,- sedangkan di Laos USD 100 hanya dihargai 827.500 Kip Laos. Artinya 1 Kip Laos nilainya sekitar Rp.1,6,-
Sewa motor juga mahal. Sewa 24 jam biayanya 80.000 Kip atau sekitar Rp.128.000,- Padahal kalau di Bali cukup dengan 50 ribu rupiah. 😊

Dengan motor sewaan yang agak berat stirnya tersebut (maklum motor sewaan dan kurang terawat) kami menyusuri jalan-jalan di Vientiane. Pertama ke Morning Market (yang masih buka hingga sore) dan langsung bertemu dengan penjual kain songket khas Laos. Istri saya jelas tidak bisa berdiam diri melihat hal semacam ini. Tanpa ba…bi…bu..dua lembar songket khas Laos segera berpindah kepemilikan dan ditukar dengan uang Kip yang baru saja kami tukarkan dengan USD tadi. Hampir saja kain ketiga berpindah tangan kalau tidak saya cegah. 😄

Baca juga:  The Wrong and Uneccesary Battle

Secara umum harga barang di Laos lebih mahal dibandingkan dengan di Bangkok atau di Indonesia. Kain songket Laos harganya sekitar 200 ribuan sedangkan kemarin kami memborong Longyi di Myanmar dengan harga hanya 50 ribuan. Mungkin karena segalanya harus diimpor di Laos ini.

Setelah belanja songket kami lalu masuk ke Talat Sao Mall sebelahnya untuk makan. Kami pesan sayuran semacam Tom Yam lagi dan nasi goreng seafood. Alhamdulillah rasanya enak dan bisa kami nikmati.
Dengan naik motor kami lalu ke Patuxai Monument, sebuah monumen gerbang kemenangan yang meniru ‘Arc de Triomphe’ di Paris. Monumen ini dibangun antara tahun 1957 dan 1968. Monumen ini, lucunya, adalah untuk mengenang para pejuang kemerdekaan melawan Prancis itu sendiri. Meski menyerupai Arc de Triomphe di Paris tapi desain monumen ini tipikal Laos dengan mahluk mitologi Kinnari (setengah perempuan dan setengah burung). Kami naik ke atas dengan membayar 3.000 Kip per orang. Kami berfoto-foto dan membeli kaos di toko suvenir yang ada di atas monumen. Yang penting sudah beli oleh-oleh kaos Laos. 😄

Turun dari Monumen Patuxai kami lalu balik ke hotel. Sebelumnya kami mampir dulu di That Dam Stupa sekedar utk mengambil foto.

Kami tidak keluar hotel lagi malam ini karena capek dan kepanasan naik motor keliling kota Vientiane tadi. Lha wong di Surabaya saja saya tidak pernah naik motor di Vientiane kok saya bergaya sok anak muda naik motor ke mana-mana. 😄

Malam ini kami akan tidur cepat dan bangun pagi. Sampai jumpa besok pagi.

Vientiane, 9 April 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *