Rabu, 21 Maret 2019
Just another WordPress site
CATATAN HAJI NANANG
Buku Catatan Haji Nanang. Sumber: dok. pribadi

Buku Catatan Haji Nanang. Sumber: dok. pribadi

Campuran doa keras, rintihan doa dan zikir merdu, sayup-sayup terdengar dari perempuan-perempuan berkerudung hitam. Dalam desakan dan tarikan istri saya, ditengah kepungan hawa pengap panas, saya berpikir,”Buat apa saya melaksanakan hal ini jika bukan karena perintah-Nya.”

Ya, buat apa kita bersusah payah melaksanakan ibadah haji (dan umrah) dengan segala kesulitan dan penderitaannya jika bukan karena perintah Tuhan? Faktanya setiap musim haji jutaan manusia bersedia bersusah payah datang ke Tanah Suci dan melaksanakan segala ritual haji yang berat, dan bahkan bisa membuat jiwa mereka melayang, karena adanya keimanan di dada mereka untuk melaksanakan perintahNya. Banyak orang yang hidup pas-pasan bahkan bersedia menabungkan penghasilan mereka serupiah demi serupiah selama belasan bahkan puluhan tahun. Mereka bahkan mengabaikan kebutuhan hidup mereka yang lain demi bisa menikmati berat dan sulitnya ibadah haji tersebut. Iman adalah alasan di balik tindakan ‘irasional’ tersebut. Itulah salah satu catatan kesan yang dituliskan oleh Ahmad ‘Nanang’ Rizali dalam memoar catatan hajinya yang berjudul “Sampaikan Salamku kepada Rasulullah SAW”.

Buku kecil setebal 166 halaman ini sungguh menarik dan membuat saya tidak bisa melepaskannya membaca sampai tuntas. Saya sendiri dua kali berhaji, sekali ketika masih bujangan dan sekali bersama istri, dan saya juga menuliskan diary pada kali pertama saya datang ke Tanah Suci. Tapi apa yang dituliskan oleh Haji Nanang ini sungguh memikat. Saya jelas tak akan sanggup menulis serinci dan semenarik ini. Ia menuliskan segala hal dengan rinci dan kesan-kesannya ia tuliskan dengan ekspresif, termasuk ketika ia ‘mengomel’ pada hal-hal yang menurutnya tidak benar. Oh ya, ada banyak hal-hal yang menjengkelkan yang akan kita alami dan lihat ketika melaksanakan ibadah haji dan kita akan selalu diminta untuk bersabar menyikapinya.

Kesabaran itu aktif. Sabar termasuk memprotes ketidakbenaran yang terjadi di depan kita dengan cara yang makruf, santun, dan tanpa kemarahan. Proses berhaji tidak boleh membiarkan kesewenangan, justru peserta haji lebih punya tanggung jawab untuk melaksanakan kebenaran.” demikian kata Haji Nanang. Saya sepakat dengannya karena begitulah kami bersikap dalam kehidupan sehari-hari sebagai partner dalam berbagai kegiatan dan pekerjaan. Tapi urusan makruf, santun, dan tanpa kemarahan dalam memprotes saya rasa Haji Nanang jauh lebih terlatih daripada saya yang seringkali bersikap brangasan dan berprinsip ‘Lu jual gua beli’. Meski demikian kalau soal nyindir Haji Nanang bisa lebih nylekit meski dengan cara bergurau. Salah satunya adalah soal penghijauan kota.

Baca juga:  SUAMI TAKUT ISTRI?

Ketika berada di Jeddah yang menurutnya sangat kering dan hanya memiliki sedikit nuansa hijau ia lalu membandingkannya dengan Bali yang sangat hijau dan eksotik (Gak salah nih cari perbandingannya…?!) . Ia lalu teringat akan sebuah hadist, “yang tingkat kesahihannya entahlah” demikian katanya. Disebutkan bahwa “Kiamat tak akan datang jika kota Mekkah belum hijau dengan pepohonan dan air mengalir di antaranya”.

“Bayangkan jika kota Mekah sudah seperti Bogor, barulah “Jleger…!!!” Kiamat tiba.” demikan tulisnya.

Setelah itu ia baru menyindir dengan gayanya yang khas.

“Mungkin karena ingin menunda kiamat, warga Arab enggan menghijaukan kotanya. Apa mungkin Walikota Depok juga sepemahaman dengan pengamal sunah Kanjeng Rasul itu, sehingga Depok semakin gersang?”

Ya pingin ngakak ya pingin misuhi baca sindirannya ini…. Rasanya pingin saya menasehatinya, “Nek gak trimo kotamu gersang pindaho nang Suroboyo ae, Cak. Suroboyo gak wedi kiamat.

Bagi Anda, baik yang sudah pernah berhaji atau pun belum, saya anjurkan untuk membaca buku ini. Buku ini sungguh menarik dan dapat memberikan pemahaman dan pencerahan tentang prosesi haji yang mungkin perlu kita pahami. Jangankan untuk yang muslim lha wong temannya yang Katholik macam Danang dan kang Moko Daryatmoko aja dia sebut dalam bukunya ini. Kalau Anda membeli buku ini maka Anda sudah ikut membantu program Gerakan Nasional Pembrantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka) yang ia inisiasi. Semua hasil penjualan buku ini akan disumbangkan untuk gerakan tersebut. Jadi belilah dan ikutlah menjadi bagian dari gerakan mulianya Haji Nanang ini.

Surabaya, 12 Maret 2019

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *