Rabu, 24 September 2020
Just another WordPress site
MENGAJAR KEWIRAUSAHAAN ATAU MENCETAK WIRAUSAHAWAN…?! (Part 4)
What I Wish I Knew When I Was 20: A Crash Course on Making Your Place in the World. Tina Seelig. Amazon.com

What I Wish I Knew When I Was 20: A Crash Course on Making Your Place in the World. Tina Seelig. Amazon.com

Karena tahu saya sekarang mengajar Kewirausahaan maka ketika ketemu di acara Sekolah Sobat Bumi Pertamina Foundation kemarin Dhitta Puti Sarasvati memberi saya sebuah buku berjudul ‘What I Wish I Knew When I Was 20’ yang ditulis oleh Tina Seelig, seorang professor di Stanford University yang juga mengajarkan Entrepreneurship pada mahasiswa Stanford. (Thanks a lot, Puti…!) Stanford University adalah perguruan tinggi tempat kuliahnya Larry Page dan Sergey Brin, penemu Google. Buku tersebut berisi tulisannya tentang bagaimana mengajarkan entrepreneurship pada mahasiswanya dengan cara yang radikal tapi mampu membuat mahasiswanya memahami konsep tentang entrepreneurship secara luar biasa. Begitu hebatnya metode yang digunakannya dalam sebuah program Entrepreneurship Boot Camp yang dirancang untuk memberikan pelatihan kewirausahaan dalam seminggu itu sehingga pada akhir acara seorang siswanya menyatakan,”I know now that there isn’t anything I can’t do.” Mahasiswi ini telah memeras otaknya untuk memecahkan masalah yang diberikan oleh pengajarnya dan mampu memberikan jawaban atau solusi cerdas yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Pada acara perkemahan kewirausahaan itu setiap tim siswa diberi modal 50 poundsterling dan waktu selama 18 jam untuk menghasilkan keuntungan. Tujuannya adalah untuk mendorong mereka keluar dari zona nyaman mereka dan menghadapi kehidupan nyata. Tentu saja banyak di antara mereka yang hampir menyerah dan ingin kabur dari acara perkemahan tersebut. Tapi mereka akhirnya melakukan sesuatu dan muncul dengan solusi-solusi cerdas.

Dengan mendorong mereka keluar dari zona nyaman membuat mereka melihat permasalahan dengan wawasan yang berbeda samasekali sehingga mereka kemudian mampu memberikan solusi dengan cara yang juga unik dan berbeda. Hal ini kemudian membuat mereka yakin bahwa mereka memiliki jawaban-jawaban dari permasalahan hidup mereka dalam diri mereka. Kepercayaan diri mereka tumbuh dan membuat mereka bangkit menjadi manusia yang mampu melihat peluang dalam setiap pemasalahan. Apa yang lebih hebat daripada membuat mahasiswa kita keluar dari perkuliahan kita dan merasa bahwa ia akan mampu menjawab masalah apa pun di dunia ini…?! Jika kita mampu menanamkan rasa percaya diri dan kemampuan untuk memecahkan masalah pada diri siswa-siswa kita maka sebenarnya itulah tolok ukur keberhasilan seorang guru atau dosen. Menanamkan kepercayaan diri untuk mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi siswa kita kelak di dalam kehidupannya adalah tujuan paling penting yang harus dicapai oleh lembaga pendidikan mana pun. Sekolah atau kampus yang gagal menanamkan rasa percaya diri pada siswanya adalah lembaga pendidikan yang gagal dan tidak layak berdiri dan menerima siswa.

Baca juga:  MENGAJAR KEWIRAUSAHAAN ATAU MENCETAK WIRAUSAHAWAN (Part 3)

Tina Seelig memberikan kuliah pada mahasiswanya di Stanford dengan cara yang radikal. Ia membagi mereka dalam 14 tim dan memberi mereka tugas yang unik dalam sebuah amplop. Dalam amplop tersebut ada uang ‘modal’ sebesar 5 dolar dan tugasnya adalah mencari cara untuk mencari uang sebanyak-banyaknya dalam waktu 2 jam. Mereka dipersilakan untuk memikirkannya sejak Rabu hingga Minggu sore. Minggu sore mereka harus sudah menyerahkan slide tentang apa saja yang telah mereka lakukan dengan uang tersebut dan Senin pagi setiap tim punya waktu 3 menit untuk menjelaskan apa yan telah mereka lakukan untuk menyelesaikan tugas tersebut. Dengan tugas tersebut mereka didorong untuk berpikir secara entrepreneurial dengan mengidentifikasi berbagai kemungkinan dan memanfaatkan keterbatasan sumber yang mereka miliki dengan cara yang kreatif.

Mahasiswa yang ditanyai pertamakali bagaimana cara mereka untuk mendapatkan uang dengan modal 5 dolar biasanya akan menjawab, ‘Pergi ke Las Vegas.’, ‘Beli loterei’, dan sejenisnya dan biasanya muncul dengan jawaban klasik seperti ‘buka usaha cuci mobil’, ‘jual minuman jus’, dan sejenisnya. Ini bagi mereka yang terpaku pada modal 5 dolar tersebut.

Tapi mahasiswa Stanford yang diajar oleh Tina Seelig bisa memunculkan ide-ide kreatif di luar pakem justru dengan tidak memanfaatkan uang modal 5 dolar tersebut. Mereka sadar bahwa berfokus pada modal 5 dolar akan membuat mereka terpaku pada jawaban yang sangat sempit. Jadi mereka keluar dari kotak berpikir tersebut dan ‘membuang’ 5 dolar tersebut dari pikiran mereka dan justru berpikir ‘Apa yang bisa kita lakukan dengan tanpa modal samasekali?’ Dengan pertanyaan yang lebih menantang tapi tidak membelenggu cara berpikir mereka akhirnya mampu menjawab masalah dengan lebih kreatif.

Dengan cara yang kreatif akhirnya para mahasiswa Stanford ini ada yang  berhasil mengembalikan modal 5 dolar tersebut menjadi 600 dolar dan modal yang diberikan pada mereka akhirnya berkembang menjadi 4000%.

Apa saja yang mereka lakukan? Mereka mulai dengan melihat masalah yang ada di lingkungan mereka dan mencoba menjadikannya sebagai peluang. Setiap masalah sebenarnya memang menjanjikan banyak peluang pemecahan jika kita mau memikirkannya. Salah satu tim, contohnya, melihat peluang pada restoran-restoran yang begitu populer sehingga membuat orang-orang antri. Mereka melihat ini sebagai masalah bagi pelanggan yang tidak mau antri dan peluang bagi mereka untuk mendapatkan uang. Jadi mereka mengantri di resto-resto tersebut dan menawarkan pada pelanggan yang mau membayar agar tidak perlu mengantri. Ternyata banyak orang yang tertariki dengan tawaran tersebut. Mending membayar ketimbang mengantri. Ada banyak solusi cerdas yang mereka ciptakan dengan memfokuskan semua kapasitas mereka untuk memecahkan masalah.

Baca juga:  IT'S ABOUT US, NOT ABOUT AHOK

Tapi Tina Seelig merasa tidak nyaman dengan pesan dan kesan bahwa nilai yang hendak disampaikannya adalah dalam bentuk ganjaran finansial. Ia mengutip Guy Kawasaki yang mengatakan “It’s better to make meaning than to make money.” Tujuan yang lebih tinggi adalah menemukan arti dalam hidup dengan memecahkan masalah-masalah yang ada dalam lingkungan kita. Dalam bukunya ‘The Monk and The Riddle’ Guy Kawasaki membandingkan antara seorang ‘missionary’ dengan ‘mercenary’,  misionaris yang berupaya untuk melakukan perubahan dalam hidup dengan tentara bayaran yang tujuannya adalah uang. Jika kita berupaya untuk mencari arti hidup dengan membuat perubahan dalam lingkungan kita maka kita mungkin akan menghasilkan lebih banyak uang ketimbang kita bertujuan untuk mencari uang dalam hidup. Mereka yang hidupnya fokus mencari uang malah bisa-bisa tidak dapat uang dan juga tidak mendapat ‘meaning in life’.

Ia kemudian mengubah tantangannya dengan memberi mereka 10 biji jepitan kertas dan meminta mereka menghasilkan ‘nilai tambah’ dari 10 jepitan kertas tersebut, dan itu tidak harus selalu dalam bentuk finansial. Apa hubungannya dengan jepitan kertas? Rupanya Seelig terinspirasi oleh inisiatif Kyle Mac Donald yang punya ide menukarkan sebiji jepit kertas dengan barang-barang yang lebih berharga sampai akhinya menjadi sebuah rumah. Dia membuka sebuah website dan mulai mengajak siapa saja yang mau menukarkan barangnya dengan barang yang ia miliki yang dimulai dengan jepitan kertas. Dalam jangka waktu setahun jepitan kertas tersebut akhirnya menjadi sebuah rumah…! Jepitan kertasnya ia tukarkan dengan pulpen berbentuk ikan, kemudian ditukarkan menjadi kenop pintu, lalu ditukar lagi jadi kompor, dan seterusnya sehingga menjadi sebuah rumah…! Untuk mengetahui lebih lanjut tentang hal ini sila buka http://www.oneredpaperclip.com. Jadi menurut Seelig ia sudah sangat bermurah hati dengan memberi mereka 10 jepitan kertas.

Baca juga:  JANGAN KELIRU…

Terus terang saya juga tertarik untuk memberi tantangan kepada mahasiswa saya. Dua minggu yang lalu saya memberi mereka tantangan untuk mengadakan Kuliah Umum dengan mengundang para pembicara hebat. Kami sudah diskusikan hal ini dengan para mahasiswa dan mereka sepakat untuk mengundang Purdi Chandra, Pemilik Primagama, untuk berbicara pada tanggal 31/10/12. Untuk pembicara pada tanggal 21 Nopember masih akan dipertimbangkan apakah akan mengundang : Bob Sadino, Ciputra, Jaya Suprana, atau Azrul Ananda. Tapi nampaknya mereka lebih condong ke Azrul Ananda, Direktur Jawa Pos. Saya berharap agar mereka antusias menerima tantangan ini dan bahkan saya sampaikan bahwa ini adalah sebuah kesempatan belajar yang sangat baik bagi mereka untuk berhubungan langsung dengan orang-orang yan memiliki reputasi dan belajar mengelola sebuah kegiatan (event organizer).

Meski demikian nampaknya mereka belum mau keluar dari zona nyaman mereka dan bahkan seminggu ketika saya tanya perkembangannya menjawab bahwa mereka bahkan menemukan nomor kontak Pak Purdi Chandra…! Padahal setelah saya buka Google ternyata saya bisa menemukan nomor kontak Pak Purdi Chandra (meski kemudian ternyata tidak bisa tersambung ke beliau).

Tentu saja saya tidak bisa berharap agar mahasiswa saya akan seantusias dan sekreatif mahasiswa Stanford. Bahkan mungkin mereka akan tercengang kalau saya beri mereka jepitan kertas dan meminta mereka untuk mendapat uang dari itu. Tapi saya yakin bahwa mereka juga bisa menemukan kapasitas terbaik mereka jika mereka mau keluar dari zona nyaman mereka dan menggunakan semua potensi yang mereka miliki. Saya akan bersabar menunggu mereka untuk keluar dari zona nyaman dan mulai menantang semua kapasitas pribadi yang mereka miliki.

Problems are abundant but there are more solutions waiting for those who are willing to find inventive solutions, begitu kata Seelig.

Ah…!, kok ya persis  ayat Al-Qur’an yang menyatakan dibalik satu kesulitan ada banyak kemudahan di Surat Al-Insyirah (Alam Nasyroh)…!. Kapan ya Tina Seelig baca Al-Qur’an…?!

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *