Sabtu, 20 Oktober 2018
Just another WordPress site
WISATA SAHASATA: BLORA YANG BELUM BERGELORA

Wisata SAHASATA kami berikutnya adalah Kabupaten Blora. Kami memilihnya karena belum pernah ke kota ini sebelumnya. Kami juga tidak tahu apa wisata yang ada di kota ini. Untuk itu kami meminta sopir Grab yang kami sewa di Temanggung untuk mengantarkan kami sampai Semarang. Nanti dari Semarang kami akan naik kereta ke Blora. Ternyata ia mau. Alhamdulillah kami tidak perlu naik bis. 😄 Bahkan ongkos yang ia minta lebih rendah daripada sopir Grab sebelumnya yang dari Kebumen ke Temanggung.

Karena kami akan transit di Semarang maka kami minta sopirnya untuk lewat Gunung Pati. Kami ingin mampir di SMA Semesta di mana anak kami, Tara, bersekolah. Ia tinggal di sekolah berasrama sejak setahun yang lalu dan kami hanya bisa menemuinya setiap dua bulan sekali.

Tara sedang berada di kamar temannya ketika kami tiba dan ia sangat senang kami kunjungi. Kami juga senang bisa bertemu dengannya. Ini seperti bonus saja dari wisata kami karena sebelumnya sama sekali tidak ada rencana untuk menjenguknya. Untungnya kami sempat membelikannya berbagai makanan sebagai oleh-oleh baginya dan teman-temannya. 😊

Karena kereta kami baru akan berangkat setelah Maghrib maka kami habiskan waktu kami sore itu dengan nonton di Paragon XXI Semarang. Filmnya “Johny English” yang diperankan oleh komedian Rowan Atkinson yang terkenal sebagai Mr. Bean tersebut. Kekonyolan demi kekonyolan yang dilakukannya membuat kami tertawa sepanjang pertunjukan filmnya.

Kami tiba di Stasiun Cepu jam 21:30 dan langsung dijemput oleh sopir Hotel Grand Mega di mana kami menginap. Hotel ini juga indah dan saya rekomendasikan. Sayangnya AC kamar kami kurang dingin dan bahkan saya sempat terbangun karena kepanasan dan berkeringat. Tapi servis hotel ini lebih baik ketimbang hotel lain karena menyediakan mobil untuk antar jemput tamu hotel. Kami bahkan diantar jalan-jalan ke pasar Cepu paginya.

Kabupaten Blora yang jaraknya sekitar 127 km dari kota Semarang ini berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur disebelah timur dan selatannya. Karena terletak di perbatasan, Blora sering dianggap masuk dalam Provinsi Jawa Timur. Utamanya Kecamatan Cepu yang memang bersebelahan dengan Padangan yang sudah masuk Jatim itu.

Blora adalah kabupaten yang kaya dengan potensi yang dimilikinya terutama hasil tambang minyak. Tetapi yang terkenal adalah Cepu. Cepu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Blora yang terkenal sejak zaman Belanda karena memiliki cadangan minyak bumi yang sangat besar.

Ditilik dari sejarahnya, Cepu pada masa kolonial Belanda dulu merupakan kota penting karena kandungan minyak dan juga ribuan hektar hutan jati yang dimilikinya. Cepu adalah tempat pendidikan khusus untuk mendalami ilmu tentang minyak dan gas bumi. Di sini terdapat Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas), sebuah instansi pemerintah dibawah Kementrian ESDM yang memberikan pendidikan dan pelatihan bagi mereka yang telah berpengalaman maupun yang belum berpengalaman di dunia perminyakan.

Meski demikian, Blora bukanlah tempat bagi yang ingin berwisata seperti kota-kota lain yang kami kunjungi sebelumnya. Blora belumlah bergelora seperti kota-kota dan kabupaten lain meskipun untuk tahun 2018, ini ditargetkan 200 ribu wisatawan mengunjungi sejumlah lokasi wisata di sini. Entah kami wisatawan no berapa yang berkunjung kemari. 😄
Ketika kami pesan hotel via Traveloka semua hotel yang ditawarkan letaknya di Cepu dan bukan di Bloranya sendiri.

Pemerintah Kabupaten Blora mengandalkan wisata Kampung Samin, juga kuliner sate dan sumur minyak tua peninggalan Belanda untuk menarik wisatawan. Tapi kami kurang tertarik untuk mengunjunginya.
Kabupaten Blora mempunyai kuliner andalan, yaitu Sate Blora. Sate dari Blora terkenal khas dengan bumbu dan cara penyajian yang menggunakan daun jati. Kami sempat menikmati satenya meski bukan di Blora tapi di Cepu dan tidak pakai daun jati. Kami tidak perlu repot-repot mencarinya karena ditraktir sama Mas Erwin, teman di Cepu.

Blora juga dijuluki kota jati karena Blora merupakan penghasil kayu jati terbesar se-Pulau Jawa. Kayu jati dari Blora dikenal memiliki kualitas paling baik di Indonesia, bahkan juga terkenal sampai mancanegara.

Jadi apa wisata yang kami lakukan selama di Cepu, Blora? Kami hanya mengunjungi pasar tradisionalnya dan juga tempat produksi kue Ledre atau nama kerennya Pumpkin Egg Roll. Cara pembuatannya sangat sederhana dan manual. Tempatnya agak jauh dari pasar. Selain itu kami sempat naik dokar keliling kota kayak orang kota yang tidak pernah naik dokar aja. 😄
Satu hal yang berharga yang kami lakukan di Cepu adalah berkunjung ke rumah Ibu Chakim di Padangan yang jaraknya hanya beberapa kilometer saja dari hotel kami. Sudah lama kami tidak mengunjungi beliau dan pertemuan dengan beliau dan anak-anaknya, Mas Erwin dan Mas Bayu, sungguh menyenangkan. Mas Erwinlah yang mengajak kami untuk menikmati Sate Blora yang tersohor itu.

Blora adalah akhir dari perjalanan wisata SAHASATA kami kali ini. Setelah ini kami akan kembali ke Surabaya naik kereta Maharani. Ada beberapa agenda seminar dan workshop yang menunggu saya di bulan Oktober ini.
Sampai jumpa…!

Cepu, 3 Oktober 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *