Sabtu, 23 Agustus 2019
Just another WordPress site
AMBON

AMBON MANISE…
PARE PAITE…
BLIMBING KECUTE…
BATU ATOSE… (opo maneh yo…?!) 😄

Sebutkan nama dua orang yang paling terkenal di Ambon dalam sepuluh detik. Kalau benar Anda nanti saya traktir makan papeda.

– Utha Likumahua dan Daniel Sahuleka…?! Net not… Try again…

– Glenn Fredly dan Brury Marantika…?! Net not. Try harder…

– Doyok Wattimena dan Sule Manuhutu…?! Ngawur pol. 😛

Yang benar adalah Pattimura dan Christina Marta Tiahahu dan mereka bukanlah penyanyi. Mereka adalah para pahlawan nasional yang patungnya bisa kita temukan di kota Ambon. Patung Pattimura berdiri gagah menghadap kantor walikota sedangkan patung Christina Marta Tiahahu menghadap pusat kota. Mungkin Pattimura itu keturunan raja karena katanya nama Patti menjadi tanda bahwa dirinya seorang raja atau keturunan raja. Kami sungguh beruntung karena sopir travel yang mengantarkan kami keliling kota Ambon bernama Patti, Pattisela lengkapnya. Diantar kemana-mana oleh keturunan raja Ambon rasanya keren juga. 😄

Kota Ambon adalah Ibukota Propinsi Maluku yang terletak di Pulau Ambon. Pulau Ambon hanya satu di antara ratusan pulau besar dan kecil yang terserak di Propinsi Maluku ini. Sungguh banyak pulau di Maluku ini. Pulau Seram jauh lebih besar dan Pulau Buru juga lebih besar dari Pulau Ambon. Kota Ambon sendiri sudah terasa padat penduduk dan pemukimannya. Jauh lebih padat daripada Ternate.

Kota Ambon hujan sejak pagi ketika kami siap-siap untuk keliling pulau. Padahal kami sudah menyewa mobil untuk keliling seharian. Tapi ini tidak menghentikan kami untuk exploring the island. Jangankan hujan air, sedangkan hujan uang pun kami tidak gentar. 😄

Berikut ini tempat-tempat yang kami kunjungi di Ambon hari ini :

– GONG PERDAMAIAN DUNIA yang ada di di Taman Pelita, pusat Kota.
Waktu kami tiba pintu belum dibuka dan kami berputar mencari pintu lain. Tapi tidak ada. Untunglah ketika kami mau balik petugasnya datang. Gong ini diameternya mencapai dua meter dan penuh dengan gambar bendera berbagai negara yang ada di dunia dan simbol berbagai agama. Gong ini adalah simbol perdamaian dunia. Tujuan dari dibangunnya Gong Perdamaian Dunia adalah simbol perdamaian supaya tidak ada lagi perang, konflik SARA dan terorisme. As we know, Ambon pernah diguncang konflik SARA di tahun 1999 yang sempat menghancurkan kota ini. Bahkan traumanya masih membekas sampai kini.
Gong ini terletak tepat di pusat kegiatan kota Ambon. Monumen Gong Perdamaian Dunia ini diresmikan pada tanggal 25 November 2009 oleh Presiden SBY.

Baca juga:  UNAS YANG MOKONG DAN NDABLEK

– MUSEUM SIWALIMA yang ada di Taman Makmur. Museum Siwalima terdiri dari dua bangunan utama yaitu museum etnografi dan museum kelautan. Di museum kelautan ada koleksi kerangka ikan Paus raksasa. Tempat wisata ini berada 5 km dari pusat kota. Jangan mengharap banyak dari koleksi yang ada di museum ini. Apalagi bagi kami yang sudah banyak melihat museum di luar negeri. 😊

– PANTAI PINTU KOTA di Desa Louw yang berjarak sekitar 33 km dari pusat Kota Ambon. Pantai ini menjadi ikon sekaligus tempat wisata di Ambon yang banyak dikunjungi meski tidak punya hamparan pasir untuk berjemur. Sebaliknya pantai ini dipenuhi oleh batuan karang dengan ombak yang besar.
Yang menarik dari pantai ini adalah adanya sebuah tebing karang raksasa yang menjorok ke laut dengan lubang besar menyerupai sebuah pintu. Makanya disebut Pantai Pintu Kota.
Hujan sejak pagi membuat tak seorang pun datang ke pantai ini. Untungnya mobil sewaan kami ada payungnya sehingga kami bisa turun dan berfoto-foto berdua saja. Pantai Pintu Kota seolah milik kami berdua saja. 😄

– BENTENG AMSTERDAM. Hujan masih terus turun ketika kami sampai di Leihitu, lokasi benteng ini. Benteng ini adalah salah satu peninggalan penjajah di Ambon yang dibangun pada tahun 1512. Benteng Amsterdam bentuknya seperti gedung persegi empat yang terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama dulunya menjadi tempat tidur para prajurit. Lantai kedua digunakan sebagai ruang pertemuan dan lantai ketiga adalah pos pemantau. Selain dari lantai tiga bangunan utama, masih ada sebuah menara yang juga digunakan untuk memantau keadaan sekitar. Seperti di Pantai Pintu Kota, kami juga satu-satunya pengunjung di benteng ini.

Baca juga:  ROCKY GERUNG DAN DEFINISI HOAXNYA

– GEREJA IMMANUEL
Sambil menuju ke Masjid Mapauwe kami mampir ke Gereja Immanuel, sebuah situs gereja tua yang dibangun oleh Belanda. Gereja ini tidak dipakai lagi karena penduduk Nasrani sudah tidak tinggal di Leihitu dan mereka pindah ke daerah Nasrani. Gereja kecil yang bersih ini masih menggunakan lonceng yang katanya didatangkan dari Belanda.

– MASJID MAPAUWE. Mesjid ini adalah mesjid tertua di Ambon dan letaknya juga di Leihitu. Jadi dekat dengan Benteng Amsterdam. Masjid Wapauwe dibangun pada tahun 1414 di Wawane, kemudian dipindahkan warga ke Tehala yang berjarak 6 km dari lokasi awal. Pada tahun 1614, masjid berpindah sendiri ke Desa Atetu atau Kaitetu yang merupakan lokasi masjid saat ini. Menurut warga masjid tiba-tiba berpindah tempat ketika menjelang subuh. Keunikan dari masjid ini adalah tidak pakai paku di bangunannya yang terbuat dari pelepah sagu ini. Selain itu, masjid ini katanya juga masih menyimpan sebuah Al Quran tulisan tangan dan timbangan beras kuno untuk zakat fitrah. Bangunan Masjid Wapauwe pada awalnya hanya berkuran 10 x 10 meter dan tidak ada serambi, namun saat ini sudah ditambahkan serambi dan tempat wudhu. Kami menyempatkan untuk salat jamak dhuhur dan ashar sekaligus di sini.

– PANTAI LIANG. Tempat wisata di Ambon ini memiliki hamparan pasir putih dipadu dengan air jernih kebiruan. Pada tahun 1991, dinobatkan oleh PBB sebagai pantai terindah di Indonesia. Pantai ini letaknya di desa Liang yang ada di kecamatan Salatuhu, kabupaten Maluku tengah, Maluku. I wonder why UN once considered this as the best beach in Indonesia. 😄

– PANTAI NATSEPA. Pantai ini hanya bisa Anda lihat tapi tidak bisa Anda sentuh pasirnya karena sepanjang pantai telah diblokir oleh warung-warung. Jadi kita hanya bisa melihat pantai dari warung-warung tersebut. Apa yang terkenal dari pantai ini? Rujaknya…! 😄 Rujak manisnya memang enak meski porsinya adalah mangkok dan bukan piring.

Baca juga:  Sekolah Bertaraf Internasional : Quo Vadiz?

IKAN BAKAR.
Sebelum balik ke hotel menjelang Maghrib kami mampir dulu di Resto 88 untuk menikmati ikan bakar. Ikannya ternyata besar-besar ukurannya. Kami pesan satu ekor berdua pun tidak habis. 😄 Tapi untuk rasa kami lebih cocok dengan Resto Sari Rasa.

Demikianlah perjalanan kami yang sungguh menyenangkan di Ambon seharian ini meski hujan tiada henti. Kami doakan agar Anda juga sempat mengunjungi Propinsi Maluku suatu saat kelak. Untuk saya sendiri dengan sampainya saya di Ambon sebagai ibukota Propinsi Maluku maka itu berarti saya telah mengunjungi semua propinsi yang ada di Indonesia. Completely 34 provinces in Indonesia…! Isn’t it quite interesting to have visited all the provinces in Indonesia? 😄

Ambon, 4 Juli 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *