JALAN-JALAN KE PAKISTAN
DAY 7 (24 April 2024)
Satu-satunya lokasi yang kami datangi hari ini adalah Glacier View Point di Hopper, Nagar. Kami sekalian makan siang di sini. Nagar adalah rumah bagi beberapa lembah hijau paling subur, desa-desa yang hangat dan ramah, serta tiga gletser paling mengagumkan. Gletser ini sangat unik karena katanya bergerak sekitar 4-6 inci setiap hari. Jadi tiap hari posisi batu-batuan di atasnya tidak pernah sama. Lembah Hopar (atau Hopper) adalah bagian dari Lembah Nagar di Pakistan utara. Jaraknya sekitar 10 km dari Nagar Khas, kota utama Lembah Nagar. Hopper Valley adalah sekelompok desa di sekitar tikungan Gletser Bualtar. Di seberang Hopper, Bualtar putih bergabung dengan Gletser Barpu. Ini adalah base camp untuk perjalanan ke puncak tinggi yang tertutup gletser yang disebut Hispar Muztagh.
Sekedar info, Pakistan adalah rumah bagi gunung tertinggi kedua K2, Tirich Mir tertinggi ketiga dan tiga pegunungan tertinggi di dunia (Hindukush, Karakoram dan Himalaya). Kalau mau lihat gunung yang menggetarkan hati maka datanglah ke Pakistan.
Tujuan kami berikutnya adalah Chillas yang berjarak 5 jam perjalanan. Kami baru meninggalkan Glacier View Point pada jam 15:00. Terlalu banyak waktu yang kami habiskan di tempat ini.
Setelah berangkat tiba-tiba ada usulan agar kita tidak berhenti di Chillas tapi langsung menuju Islamabad. Perhitungannya adalah agar kami punya waktu untuk melihat-lihat Kota Islamabad. Toh di Chillas kami cuma tidur dan pagi sekali sudah berangkat lagi ke Islamabad. Mending langsung ke Islamabad saja. Tapi setelah dihitung-hitung kami baru akan sampai di Islamabad sekitar jam 07 pagi. Artinya kami akan berada di bis selama 20 jam dan baru akan tiba hari berikutnya. Kami juga tidak akan bisa langsung masuk hotel atau apartemen yang sudah kami pesan karena datang terlalu pagi. Artinya akan ada extra charge. Ada yang bersedia ada juga yang keberatan untuk itu.
Setelah berdebat panjang dan lebar akhirnya diputuskan kami akan tetap menginap di Chillas. Toh hotel telah dibayar berikut makan malamnya. Diputuskan agar kami berangkat lebih pagi agar bisa tiba di Islamabad lebih awal. Kami akan bangun jam 4 pagi, laku jam 4:30 sudah siap di bis, dan jam 5:00 kami sudah berangkat ke Islamabad. Kami juga memutuskan bahwa kami tidak akan menunggu sarapan dan minta disediakan roti dan dua butir telur rebus untuk kami makan di dalam perjalanan.
Di tengah perjalanan kami dihentikan oleh polisi di pos penjagaan lagi seperti biasa. Saya pikir pemeriksaan biasa tapi ternyata polisinya ikut mengawal kami dan ikut di bis kami sampai di pos Chillas. Ternyata turis memang harus dikawal dan dianggap sebagai tamu penting. Tapi kami menganggapnya sebagai gangguan yang menjengkelkan karena menyita banyak waktu kami untuk berhenti pada setiap pos penjagaan.
Kami tiba di hotel yang sama di Chillas, Fairy Meadows Cottage, pada sekitar jam 10 malam. Makan malam segera disiapkan tapi saya sedang tidak berselera makan jadi saya memilih langsung tidur saja. Saya lebih membutuhkan istirahat bagi tubuh saya ketimbang makan malam. Di Chillas tidak ada jaringan internet, apalagi WiFi, jadi kami tidak bisa buka medsos. Selama perjalanan kami jaringan internet memang sulit karena daerahnya terpencil sehingga beli kuota internet roaming dari Telkomsel percuma saja. Jangankan Telkomsel, provider lokal pun tidak berdaya. Pantasan tour leader kami tidak menganjurkan kami untuk beli paket kartu lokal karena tidak ada gunanya.
DAY 8 (Kamis, 25 April 2024)
Salah satu fakta yang mencengangkan saya tentang Pakistan adalah bahwa Pakistan is the only Muslim nuclear power country in the world. Entah apa pentingnya punya senjata nuklir dengan kondisi negara yang menurut saya masih jauh tertinggal dibandingkan Indonesia. Apa gak sebaiknya konsentrasi mereka lebih ditujukan untuk memakmurkan rakyatnya dulu? 😎
Saya jadi ingat protes seorang teman bule ketika diberitahu bahwa warga Palembang adalah pembuat kapal selam terbesar di dunia. “Why submarines…?!” tanyanya. “Because we love to eat it together with empek-empek.” Ndasmu kono…! Sing muni ‘submarines’ iku yo sopo… 😂
Pagi jam 04 saya membangunkan teman-teman di kamar masing-masing. Seperti yang telah disepakati kami sudah berada di bis masing-masing dengan koper kami pada jam 04:30. Petugas hotel saya bangunkan juga karena kami butuh air panas sebagai bekal. Untungnya telor sudah direbus semalam dan roti juga sudah disediakan. Setelah telur dan roti kami bagi-bagikan pada setiap orang dan koper dinaikkan di bis maka kami pun berangkat. Saya lihat jam saya ternyata jam 5:12. Not bad. Kami cukup tertib waktu dan hanya lambat karena pengangkatan bagasi di mobil. Artinya sebenarnya kami ini bisa tertib dengan waktu jika sudah ada kesepakatan dan ada yang mengingatkan.
Sepanjang perjalanan dari Chillas ke Islamabad pemandangan yang ada adalah gunung batu, bukit, lembah, dan sungai yang indah meski pun tandus. Saya dan istri bertanya-tanya kambing dan domba makan apa ya kalau tidak ada rerumputan. Jawabannya adalah makan prata dan kari seperti yang dimakan oleh pemiliknya. 😁 Jalanan berkelok-kelok di samping tebing curam antara gunung dan jurang rasanya bikin ngeri. Persis seperti perjalanan kami tahun lalu ke Kashmir dan Ladakh. Di mana-mana jalanan juga banyak yang longsor dan sangat menghambat perjalanan. Di sini manusia tidak perkasa di hadapan alam. Masih butuh waktu panjang bagi rakyat Pakistan untuk bisa menguasai teknologi dan menundukkan alam pegunungan yang luar biasa besar ini untuk menjadikan mereka makmur seperti saudara mereka di kota. Sementara ini mereka harus hidup dengan fasilitas seadanya dan bertahan pada kondisi yang ada.
Meski demikian, jalan beraspal tertinggi di dunia, keajaiban dunia kedelapan (jalan raya persahabatan Tiongkok-Pakistan atau Jalan Raya Karakoram) ada di Pakistan!
Satu hal yang paling menjengkelkan adalah terlalu seringnya bis kami berhenti untuk pemeriksaan di pos penjagaan polisi yang disebut “Foreigner Registration Point” yang bisa memakan waktu sekitar 5 s/d 10 menit setiap pos. Rasanya setiap setengah jam ada pos ini. Jadi setiap ada pos TL kami harus memberikan kopi daftar peserta tour lengkap dengan data. Pantas saja mereka membawa banyak kopian daftar tersebut.
Kami tiba di Islamabad sekitar jam 9 Malam dan sudah terlalu lelah untuk makan malam. Bahkan tawaran barbeque pun sudah tidak menarik lagi dan kami ingin segera masuk ke hotel dan beristirahat. Lha kami sudah berangkat dari Chillas sejak jam 5 pagi dan baru masuk hotel jam 10 malam. Itu artinya kami melakukan perjalanan darat selama 17 jam. Sungguh tangguh kami ini. 😁
Syukurlah bahwa apartemen Royal Galaxy Residence yang kami tempat sangat nyaman dan ada fasilitas air panasnya. Mandi air hangat sungguh bisa merontokkan rasa capek-capek. 😁
DAY 9 (Jum’at, 26 April 2024)
Satu hal yang membuat saya teringat dan kagum pada Pakistan adalah kisah tentang seseorang warganya yang bernama Abdul Sattar Edhi yang membuat layanan ambulans sukarela terbesar di dunia. Kisahnya mendunia dan kata-katanya yang paling menohok adalah ketika ia ditanya mengapa ia juga memberikan pelayanan ambulans gratis bagi non-muslim. Jawabnya adalah “Karena ambulans saya lebih muslim daripada kalian.” Edhi kadang disebut “The Mother (Father) Teresa of Pakistan”.
Sila baca kisahnya yang menggetarkan di sini.
https://www.paramadina-pusad.or.id/belajar-pada-abdul…/
Selain Abdul Sattar Edhi, salah satu sosok yang sangat terkenal dari Pakistan adalah Malala Yousafzai. Malala Yousafzai menjadi simbol internasional perjuangan untuk pendidikan anak perempuan setelah dia ditembak pada tahun 2012 karena menentang pembatasan Taliban terhadap pendidikan perempuan di negara asalnya, Pakistan.
Malala Yousafzai dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada 2014, orang termuda yang memperoleh hadiah Nobel. Usianya masih 17 tahun saat itu.
Pagi jam 5 kami sudah harus turun ke bis (mereka menyebutnya coaster) sambil membawa koper dan barang bawaan masing-masing. Menurunkan bagasi dari kamar ke tempat parkir dan menaikkan ke coaster butuh banyak waktu karena banyaknya bagasi dan barang bawaan masing-masing. Lagipula jam sekian lift belum dioperasikan jadi harus kami turunkan lewat tanggal. Untungnya kami hanya di lantai 2.
Saya masih sempat bikin kopi dengan pemanas air pinjam dari Kakak Pembina. Rasanya kalau sudah ngopi pagi maka nothing can go wrong. 😁 Pagi ini kami harus menuju ke perbatasan menyeberang dari Pakistan menuju balik ke India. Saya lihat di Google map ternyata butuh waktu sekitar 4,5 jam (376 km) untuk sampai Lahore. Tapi kami akan masuk tol sehingga bisa lebih cepat.
Perjalanan kami menuju Lahore lewat tol sangat lancar kecuali kami harus mengikuti ‘protokol’ di jalanan tol turunan yang berbahaya dan harus mengikuti mobil patroli polisi. Dengan demikian dijamin mobil akan selamat. Tapi setelah saya perhatikan ini hanya akal-akalan agar mobil yang mengikuti patroli polisi di tol ini memberikan ‘salam tempel’ pada petugas patroli. Dari sini saya paham bahwa gaji petugas polisi di Pakistan masih kecil sehingga mereka diminta untuk ‘aktif dan kreatif’ untuk menciptakan sumber ekonomi tambahan bagi kehidupan mereka. We’ve been there, done that. 😎
Dari Lahore kami akan menyeberang ke India lewat Wahga Border lagi seperti waktu kami tiba dan akan langsung menuju ke bandara Amritsar. Kami punya jadwal penerbangan ke Singapura pada jam 6 sore nanti. Kami sudah siap dengan segala kerepotan menyeberang perbatasan dua negara yang ‘benci tapi rindu’ tersebut. Penerbangan Amritsar ke Singapura butuh sekitar 6 jam lagi. Sekitar Subuh besok kami akan tiba di Singapura dan dari Singapura kami akan terbang ke kota masing-masing. Ada yang ke Jakarta, ada yang ke Surabaya, Denpasar, Medan, dll.
Saat ini kami sudah selesai check in di bandara Amritsar dengan segala kehebohannya. Pesawat kami masih empat jam lagi jadwalnya. Malah saya dengar pesawat kami ke Singapore dengan Scoot ditunda dua jam. Yo wislah… Yang penting segalanya sudah aman. 😁
Sekian dulu kisah saya jalan-jalan ke Pakistan.
Semoga menginspirasi Anda untuk datang ke mari juga suatu ketika.
Amritsar, 26 April 2024.
Satria Dharma















