Minggu, 16 Desember 2019
Just another WordPress site
TRAVELING DENGAN KAPAL PESIAR COSTA VICTORIA

Waktunya jalan-jalan lagi…!

Selama seminggu ini kami akan traveling lagi ke Singapura, Phuket Thailand, Penang Malaysia, dan setelah itu mengunjungi Si Tengah, Yufi, yang sedang kuliah di Kuala Lumpur. Tapi kali ini kami akan melakukan perjalanan dengan gaya pensiunan, yaitu dengan naik kapal pesiar. Bepergian dengan kapal pesiar memang benar-benar gaya old people karena sama sekali tidak membutuhkan adrenaline. Beda dengan bepergian ala backpacker yang butuh jiwa petualang dan fisik yang prima. Traveling naik kapal pesiar itu cocoknya memang untuk pensiunan macam saya yang staminanya sudah tinggal beberapa setrip.

Sebetulnya saya dan istri sudah lama pingin mencoba menikmati bepergian dengan kapal pesiar tapi baru kali ini kami bisa memenuhi keinginan kami. Kebetulan waktu kami mengunjungi Tara di Semarang ada Travel Fair yang menawarkan paket cruise murah. Ya, langsung kami bayarlah…!

Seperti juga penerbangan, ada banyak jenis kapal pesiar dengan rute dan jadwal yang sudah mereka tetapkan. Ada Costa, ada Royal Caribbean, ada Sapphire Princess, Mau yang empat hari, delapan hari, dua belas hari, tujuan Asia, Eropa, Amerika, dll. Kami memilih rute dan hari terpendek, yaitu empat hari dan di negara tetangga saja. Sebetulnya semua tujuan cruise ini sudah pernah kami datangi tapi tujuannya kan memang bukan untuk mendatangi lokasi wisatanya tapi sekedar ingin merasakan kapal pesiarnya. Untuk perjalanan ini kami ikut yang Costa Cruise, perusahaan jaringan kapal pesiar dari Italia dan bermarkas besar di Genoa. Ini perusahaan kapal pesiar terbesar di Eropa. Tapi untuk trip kami ini basisnya adalah di Singapura. Jadi kami harus naik dari Singapura dan juga akan berakhir di Singapura. Agar perjalanan dengan kapal pesiar ini lebih menyenangkan maka kami memilih kabin yang atas (premium) agar kami memperoleh pemandangan laut di jendela kami. Tarip untuk sea view ini jelas lebih mahal ketimbang di dek yang non-sea view. Tapi tidak apa-apa. Lha wong belum tentu kami akan pernah naik kapal pesiar lagi kali lain. 

Tiket dan luggage tag sudah kami terima dan nantinya kami akan berada di Cabin 12211. Artinya kami akan berada di kabin lantai 12 kamar 211. Sekedar informasi, Costa Cruise yang akan kami naiki nantinya adalah Costa Victoria yang dibuat pada tahun 1996 dengan berat 75.200 ton dan mampu membawa penumpang sebanyak 2.394 belum termasuk awak dan staf pelayanan lain yang bisa mencapai seribu orang lebih. Jadi ini perjalanan pesiar dengan ribuan orang sekaligus.

Ada pun jadwal kami nantinya adalah sbb :
Sabtu. 4 Nopember 2017

Berangkat dari Surabaya ke Singapura naik penerbangan Scoot. Kalau Anda tidak tahu penerbangan apa itu berarti sama dengan saya sebelumnya.  Scoot Airlines ini kalau tidak salah adalah metamorphose dari Tiger Air. Scoot Pte Ltd. adalah maskapai penerbangan harga murah jarak jauh yang memiliki basis di Singapura.. Maskapai penerbangan ini mengoperasikan penerbangan jarak menengah dan jauh dari rute Singapura, dimulai dari Australia dan China, menggunakan pesawat Boeing 777 yang diperoleh dari perusahaan induknya, Singapore Airlines. Ia menawarkan diskon besar-besaran untuk promosinya agar penumpang mengenalnya. Scoot Airlines ini jalurnya ke luar negeri semua tapi dia punya jalur Surabaya – Singapura. Tiket yang kami beli harganya hanya di bawah 700 ribu per orang. Murah banget…!

Setelah mendarat di Changi nantinya kami harus menuju ke Harbourfront Port, pelabuhan di mana Costa Cruise berlabuh. Singapura punya dua pelabuhan yang terpisah, yaitu Harbourfront di VivoCity dan Marina Bay Cruise Centre yang terletak di ujung selatan Kota Singapura. Saya belum putuskan apakah kami nantinya akan naik MRT atau langsung naik taksi ke Harborfront. Kadang-kadang (eh, sering ding!) saya mempertimbangkan biaya yang harus saya keluarkan. Naik MRT jelas lebih murah ketimbang naik taksi. Maklumlah, bagaimana pun, darah Kaypang saya masih lumayan kental.

Naik MRT bawa-bawa koper, meski pun berukuran kabin, tentulah sedikit merepotkan. Jadi pilihannya adalah pingin sedikit repot tapi keluar uang sedikit atau pingin nyaman tapi agak mahal. Biasanya saya mengambil keputusan setelah berada di tempat.

Berdasarkan jadwal kami sudah bisa naik ke kapal Costa jam 18:00 meski pun Costa baru akan berangkat pada jam 22:00. Saya juga belum putuskan apakah kami akan langsung ke Harbourfront setiba kami di Changi atau mau jalan-jalan dulu. Kami akan mendarat di Changi dari Surabaya pada jam 13: 10. Jadi masih banyak waktu sebelum kami bisa naik ke kapal.

 

COSTA VICTORIA CRUISE

DAY 1 – SINGAPORE

Pesawat kami mendarat di Changi Airport tepat waktu. Sebelum turun saya segera memutar jam saya sejam lebih maju karena Singapore itu mengikuti waktu WITA. Jadi kalau di Surabaya baru jam 12 di Singapore sudah jam 13:00. Karena kami tidak terburu-buru maka kami menuju ke mushalla dulu dan salat Dhuhur dan Ashar dijamak. Mushalla cukup ramai karena ada rombongan umrah dari Bandung yang transit di Changi. Setelah salat barulah kami turun menuju imigrasi utk pemeriksaan paspor. Tidak seperti yang kami perkirakan ternyata antrian tidak panjang dan pemeriksaan paspornya sangat cepat dan efisien. Bahkan lebih cepat ketimbang jika kita masuk ke Indonesia. Kami bahkan tidak ditanyai apa-apa. Begitu melihat formulir isian saya lengkap paspor distempel dan saya melenggang. Istri saya juga demikian. Koper kabin kami juga tidak diperiksa ketika keluar bandara.

Keluar dari bandara kami segera cari makan. Sebenarnya ada banyak resto dan kafe di dalam mau pun di ruang tunggu bandara. Tapi kami sengaja mencari kantin karyawan yang harganya lebih murah. Maklumlah darah Kaypang kami masih kental. Maunya yang serba murah.  Setelah bertanya akhirnya diarahkan ke Three M yang terletak di parkiran lantai 3. Saya memilih Tom Yum Fried Rice sedangkan istri saya memilih menu sejenis Bee Hoon yang ternyata hambar. (Makan murah kok mau enak. Piye to, Le!)

Selesai makan kami turun ke basement utk naik bis ke kota. Kami naik bis no 36 yang menuju ke Orchard. Biayanya S$ 5 berdua. Di Orchard kami turun dan ganti naik taksi menuju Harbourfront Port dengan biaya hanya S$ 10.30. Dengan demikian kami mengirit sedikit biaya taksi.

Kami tiba di Cruise Center jam 5 sore dan saya pikir kami belum bisa masuk. Ternyata kantor Cruise Center sudah penuh dengan orang yang mengantri. Kami ikut mengantri utk memasukkan bagasi. Setelah itu kami diberi antrian nomor 10 utk check in dan diminta utk naik ke lantai 2. Begitu kami naik ternyata sudah ratusan orang mengantri utk check in. Ada beberapa rombongan dari Indonesia. Karena kami dapat nomor antrian 10 maka kami mungkin baru dapat giliran satu jam lagi untuk bisa check in kata petugasnya.

Semula saya kira bepergian dengan kapal pesiar hanya diminati oleh orang-orang tua seperti saya. Ternyata ada banyak rombongan keluarga dan anak muda juga.  Suasana antrian sangat ramai dan sesak. I hate being in the busy crowd actually dan berharap bisa segera naik ke kabin kami dan beristirahat. Sejak dari Aceh saya kena flu dan batuk. Tapi baru kemarin saya hajar dengan Mixagrip dan belum ada tanda akan sembuh.

Ketika antrian kami dipersilakan check-in kami segera maju dan mengantri. Yang diperiksa adalah tiket dan formulir kesehatan yang sudah diberikan via email sebelumnya serta paspor. Selesai diperiksa kami langsung diminta utk naik ke kapal. Kami difoto oleh petugas dengan mencocokkan paspor kami. Kami naik melalui kabin 6 dan dari sana kami naik lift ke lantai 12 di mana kamar kami berada. Kamar kami telah dibuka dan koper kami telah berada di kamar.

Baca juga:  JALAN-JALAN KE FILIPINA. BAGIAN 1 : KAMUSTA KA?

Kamar kami meski kecil kalau dibandingkan dengan kamar hotel tapi nyaman.

Segera setelah merapikan pakaian di lemari kami lalu turun ke lantai 11 utk makan malam. Ternyata resto sudah penuh dengan penumpang lain yang makan malam. Menunya buffet dan kami mengambil salad, lamb, chicken, sebagai menu kami. Setelah menutup dengan dessert sepotong kue dan sedikit kopi kami lalu kembali ke kamar. Waktunya istirahat.

Eh, ternyata belum…!

Kami masih ada acara penting bagi semua penumpang, yaitu latihan emergency training. Jadi kami harus jalan kaki turun ke lantai 6 (tidak boleh pakai lift) sambil membawa pelampung. Semua penumpang harus ikut tanpa kecuali dan tidak boleh mengambil foto. Setelah dibariskan selama sekitar 10 menit kami pun dibubarkan tanpa ada instruksi lain. Hanya begitu saja latihannya.

Oke, now is time for sleeping…

 

DAY 2 – SUNDAY, 5 NOV 2017 – OPEN SEA

Seharian ini kami akan berada di lautan. Hari ini cuaca agak berawan tapi lautan sangat tenang. Letak kamar kami sungguh strategis karena terletak di kabin paling atas sehingga tidak terhalang apa pun. Kamar kami memiliki jendela selebar kamar penuh sehingga ketika kami berbaring menghadap jendela kami langsung berhadapan dengan pemandangan laut luas dengan ombak yang tenang. Sungguh nyaman dan menenangkan rasanya. Apalagi sambil memeluk istri dari belakang dan mencium aroma tubuhnya yang wangi. I feel like in Paradise.

Sungguh tidak rugi kami membayar biaya tambahan utk ‘upgrade’ ke kabin ini dari kamar yang kami pesan sebelumnya. Sebelumnya kami dapat kamar di bawah yg non-sea view. Tapi kemudian kami ditawari untuk up-grade ke kabin premium dengan menambah biaya. Sekarang saya menikmati pemandangan yang indah. Sesekali kami berpapasan dengan kapal-kapal lain dan juga perahu nelayan. “Kok jauh amat mereka cari ikan?” pikir kami. Kami juga berpapasan dengan kapal tanker LNG. Dari jauh saja kami sudah tahu karena hapal dengan bentuk kapalnya. Saya dulu bahkan pernah naik ke kapal tersebut ketika mengantar siswa saya touring ke kapal tersebut waktu mengajar di Bontang International School.

Makanan yang disediakan di kapal cukup berlimpah asal jangan datang melebihi waktu yang disediakan karena mereka akan menutup resto mereka begitu jam pelayanan selesai. Tapi Costa juga menyediakan resto khusus ala carte yang buka terus tapi berbayar. Ada beberapa resto buffet baik di lantai 6 mau pun 11 yang menunya internasional. Karena kami di lantai 12 maka kami selalu makan di lantai 11, meski kami turun juga ke lantai 6 utk melihat-lihat menu mereka. Kita bisa makan sebanyak mungkin kalau mau. Tapi tentu saja kita hanya akan bisa makan sebanyak yang kita sanggup. Istri saya yang sehari-harinya ikut diet Keto Fastosis kali ini sejenak melupakannya. Lha apa enaknya bepergian rekreasi sambil berpuasa?

Hari ini belum ada tur dan acara sepenuhnya ada di kapal. Ada banyak acara yang ditawarkan. Mau berenang atau berendam di jacuzi, olahraga light gym dengan pelatih, belajar dansa Salsa atau Samba dengan pelatih khusus dari Italia, berbelanja barang-barang branded dengan harga khusus di Duty Free Shops, menikmati pijatan massage di Pompei Spa, atau mau berjudi di kasino di Deck 7. Kapal ini tampaknya memang sengaja dirancang untuk orang-orang yang ingin bersenang-senang dan dengan demikian mereka menyedot uang kita sebanyak-banyaknya.

Di Casino saya lihat banyak orang tua laki-laki mau pun perempuan, bahkan yang sudah tremor sekali pun, dengan khusuk mewirid tombol Jackpot. Sekarang mesin Jackpot sudah tidak pakai lengan tarikan tapi pakai tombol. Ini tentu saja memudahkan para kakek dan nenek pejudi utk melampiaskan hasrat berjudinya. Ada beberapa meja roulette yang kebanyakan dipenuhi oleh anak-anak muda. Beberapa lembaran dolar berpindah tangan dalam sekejap berganti dengan chips yang tak lama kemudian diraup oleh sang bandar. Sekarang bandar yang mengoperasikan papan roulette tersebut kebanyakan wanita muda. Mungkin supaya kalau ada penumpang yang kalah banyak tidak jadi marah kalau bandarnya wanita muda.

Bagi anak-anak juga ada tempat utk bersenang-senang dengan berfoto menggunakan seragam kapten kapal. Waktu masuk kapal kami juga difoto dengan latar belakang kapal dan awaknya. Sebetulnya saya ingin menebus foto tersebut. Tapi waktu saya lihat harganya saya langsung ngeper. Harganya 14.90 USD untuk foto ukuran 5R. Gak jadi deh!

Satu-satunya kegiatan yang saya ikuti adalah lomba melemparkan sepatu dengan kaki ke bak sampah yang terbuka bagi siapa saja. Saya berhasil masuk final tapi gagal memperoleh hadiah yang hanya diperuntukkan bagi seorang pemenang saja. Yang menang seorang Kamboja yang menggunakan selop tinggi istrinya karena ia tidak bawa sepatu.

Salah satu hiburan yang saya tonton adalah “Surreal Comedy Show” yang ditampilkan oleh duet La Fracci Angelino dan Janette pada jam 18:00 di Festival Theatre Deck 6 dan 7. Sebetulnya ada acara lain, yaitu ” Carnival of Venice” dan menari bersama awak kapal di Main Hall Deck 5 Boheme pada jam 21:30. Tapi itu sudah masuk jam tidur kami dan kami tidak terlalu antusias utk menonton. Mending bergelung di kasur sambil ngobrol ngalor ngidul dengan istri. Ini kegiatan sehari-hari yang kami tidak pernah bosan melakukannya meski sudah kami lakukan hampir 25 tahun lamanya.

Sebetulnya ada kejadian yang menarik dan menghebohkan yang tidak ingin saya ceritakan di sini. Tapi jika tidak saya ceritakan tentu akan membuat para pembaca penasaran. Jadi setelah menimbang-nimbang resikonya akhirnya saya ceritakan saja deh!

Singkatnya, saya bertaruh di Casino dan memenangkan uang sejumlah puluhan juta…!

Begini ceritanya…

Setelah menonton orang-orang berjudi tiba-tiba muncul keinginan saya untuk mengadu keberuntungan. Orang bilang saya adalah orang yang selalu beruntung. Saya punya lebih banyak saudara daripada hampir semua teman saya. Saya punya istri yang cantik dan anak-anak yang menyenangkan. Pokoknya beruntung teruslah. Apa salahnya kalau sesekali saya mengadu keberuntungan, demikian pikir saya.

Setelah menimbang-nimbang akhirnya saya duduk di salah satu meja roulette dan menarik uang USD 100 dari dompet. Saya sendiri heran darimana ada uang USD 100 di dompet saya. Seingat saya semua uang saya serahkan pada istri. Ini berarti tanda keberuntungan pertama.

Uang saya serahkan ke bandar yang kemudian dengan cepat menukarnya dengan beberapa chips. Semua orang meletakkan chipsnya di angka yang mereka anggap akan keluar. Saya tidak buru-buru tapi mengheningkan cipta lebih dahulu dan memohon kepada Tuhan agar mendapatkan keberuntungan. Saya berdoa. “Ya, Tuhan. Aku tahu bahwa Engkau tidak suka aku berjudi. Bahkan Rhoma Irama sudah mengingatkan bahwa banyak orang yang melarat karena judi. Saya suka lagunya. Tapi sekali ini saja beri aku kelonggaran, ya Tuhan. Beri aku keberuntunganMu. Aku akan mensedekahkan 50% keberuntungannya pada panti asuhan dan anak yatim….

Baik…, 75% jika itu keinginanmu, Tuhan. Tidak apa-apa. Aku rela asal aku menang besar kali ini.”
Begitu selesai berdoa tiba-tiba aku mendapat ilham. Di kepalaku tiba-tiba muncul angka 3 besar dan bersinar. Jelas ini petunjuk bahwa Tuhan merestuiku dan ingin agar aku bersedekah pada anak yatim. Ini pertanda…!

Dengan cepat semua chipsku kuletakkan di angka 3. Ya, semuanya di angka 3. Saya tidak tahu berapa kemenangan yang akan saya peroleh jika beruntung tapi tentunya sangat besar.

Baca juga:  KETINGGALAN PESAWAT

Bandar meletakkan bola dan memutarnya. Bola berputar cepat dan kemudian masuk ke tengah mencari angka keberuntungan. Aku menahan napas… Bola berhenti dan mataku menatap nanar. Angka 3…! Ya, Tuhan, taruhanku beruntung. Semua penonton di sekitarku bertepuk tangan. Aku masih belum percaya pada apa yang kulihat. Sekali bertaruh dengan besar dan ternyata taruhanku tepat. Aku membayangkan besarnya uang yang akan aku terima. Aku menutup mataku dan menggeleng-gelengkan kepalaku. Siapa tahu ini hanya mimpi…

“Ada apa, Yang, kok geleng-geleng kepala? Pusing ya…?!” tanya istriku tiba-tiba sambil memegang lenganku.

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri dan baru sadar bahwa aku cuma berimajinasi tadi. Tuhan rupanya tidak membolehkan aku untuk berjudi. Kalau cuma imajinasi sih silakan saja.

Pesan saya, ikuti nasihat Rhoma Irama: Jangan begadang kalau tiada perlunya.

DAY 3 : MONDAY, NOV 6, 2017
PATONG BEACH – PHUKET

Pagi ini setelah sarapan kami akan berlabuh di Phuket Thailand. Paspor kami akan ditahan di kapal dan sebagai gantinya kami diberi fotokopi paspor dan surat keterangan dari Costa. Dengan demikian ada jaminan bahwa kami akan kembali ke kapal dan tidak dengan seenaknya ngacir cari kerja jadi TKI begitu saja begitu mendarat.

Ketika naik pertama kali di Singapore dan sebelum sampai di Phuket kami telah ditawari oleh Costa berbagai macam tur berdurasi 4 s/d 8 jam. Tur yang ditawarkan ada beberapa pilihan, umpamanya berkeliling pulau 5 jam, wisata sejarah dan belanja produk lokal 4 jam, wisata kota Phuket dan pertunjukan budaya 5 jam, keliling Phuket dan Island Safari 7 jam, tur ke Pulau Phi-Phi 8,5 jam, dll. Sayang sekali bahwa biaya tur tersebut termasuk mahal bagi kami yang pensiunan.  Lha tur termurah ke shopping mall, chocolate, coffee, tea yang hanya 4 jam saja dibandrol USD 49. Kalau pakai rupiah kan berarti lebih dari Rp.650.000,-/orang. Yang termahal adalah kunjungan ke Pulau James Bond dan Pulau Rang Yai yang dibandrol USD 144 atau kalau dirupiahkan hampir 2 jeti/orang. Ra sah..!. Kami putuskan utk jalan -jalan sendiri dan tidak ikut turnya Costa. Ngirit is our way.

Phuket adalah pulau terbesar dalam jajaran pulau-pulai eksotis lain di Thailand. Ada Pulau Phi Phi, Pulau Raya, Pulau Khai, Untuk turun ke Phuket kami harus naik kapal tender boat karena Costa Victoria tidak merapat dan berlabuh di pelabuhan. Dermaga Phuket di Pantai Patong tidak cukup besar sehingga Costa harus berhenti sekitar 500 meter dari dermaga. Oleh sebab itu para penumpang dinaikkan kapal tender yang akan menjemput dan mengantarkan penumpang dari kapal dan ke dermaga. Untuk turun kapal kami kami cukup bawa fotokopi paspor dan kartu Costa. Karena data kami sudah ada maka kartu cukup dipindai dan data langsung keluar.

Setiba di dermaga kami langsung jalan-jalan menyusuri pantai Patong yang sudah dipenuhi oleh turis yang berjemur di bibir pantai. Kami sendiri tidak punya niatan sedikit pun untuk berjemur karena kami sudah memiliki warna kulit yang ideal. Gak kayak para turis yang kurang beruntung karena warna kulitnya pucat itu.

Oleh sebab itu kami meneruskan perjalanan menyusuri jalan di sepanjang pantai yang penuh dengan biro travel, toko-toko souvenir dan restoran. Kami menemukan apa yang kami cari, yaitu gerobak penjual buah-buahan. Kami selalu suka dengan mangga dan jambu Thailand yang makannya dicocol pakai bumbu ulekan sambal dan garam. Hmm…very yummy…!  Sambil terus berjalan berbelok ke jalan Bang La kami menikmati mangga dengan rasa campuran manis, asin, dan pedas tsb. Satu yang selalu dicari istri saya, yaitu mall atau plaza. Apalagi kalau bukan utk berbelanja.

Harga barang-barang di Thailand terkenal murah karena kurs Baht tidak terlalu tinggi. Belakangan ini nilai Baht lebih tinggi. Terakhir kali kami ke sini nilai kursnya sekitar Rp. 350,-/Baht. Tapi tadi kami tukar di money changer harganya bervariasi dan lebih tinggi. Ada yang sampai Rp. 500,- lebih dan ada yang hanya Rp. 445,-. Kalau ambil uang di ATM malah lebih mahal, yaitu Rp. 510,-/Baht. Belum lagi biaya ambil di ATM sebesar 220 Baht sekali tarik. Jadi sebaiknya jangan tarik Baht dari ATM. Selain mahal biayanya juga tinggi. Kami tadi blunder. Nariknya cuma 1000 Baht dengan kurs Rp. 510,- kena biaya 220 Baht lagi.

Seperti yang saya duga, istri saya selalu tertarik utk belanja meski pun kami sudah sepakat bahwa tujuan kami adalah traveling dan bukan utk belanja. Tapi mau bagaimana lagi lha wong belanja itu hobi istri saya.

Sebuah selimut imut, sebuah tas punggung khas Thai, sebuah celana, baju kaos panjang, dan dua buah dompet Naraya berpindah pemilik dan akan ngawula ke istri saya di Indonesia. Sebaliknya uang Baht yang kami tarik dari ATM dan tukar dengan rupiah kembali ke negaranya. Biarlah… Di Indonesia uang tersebut tidak laku kok!

Pukul 15:30 kami kembali ke dermaga dan naik ke kapal tender boat yang sudah menunggu. Begitu penumpang cukup banyak kami langsung diantar balik ke kapal Costa yang menunggu dengan anggunnya di Teluk Phuket.

Kami makan malam pada pukul 18:00 dan mencoba makan di Sinfonia Resto di Deck 6. Di sini menunya ala carte dan kami dilayani dengan menu lengkap pakai daftar menu yang saya tidak paham isinya. Bahasanya sih keren tapi biasanya yang muncul itu njeketek saja. Umpamanya, mixed vegetables served with peanut sauce etc…etc… yang ternyata adalah Pecel…! Orang Madiun akan bilang, “Mayar…!” Gitu-gitu mah ane udah paham.

Tapi makan malam, eh, sorry! dinner ding… dilayani oleh pelayan India pakai seragam putih dan dasi kupu-kupu pakai bahasa Inggris rasanya keren juga deh. Kami langsung merasa seperti Tuan dan Nyonya Residen yang sedang diladeni oleh seorang inlander.  Kami lalu memilih menu mulai dari salad, soup, main course, sampai dessertnya. Penumpang juga bisa memesan red or white wine jika berkenan. Kami memesan udang dan lamb utk main course. Tapi begitu udangnya datang kami jadi bingung bagaimana makannya. Garpu dan pisau tidak bisa dipakai membuka kulit udang galah yang keras. Akhirnya kami menyerah dan menggunakan kedua tangan kami utk membuka dan memakannya. Peduli amat sama tamu lainnya. Lha wong sebenernya kami ini juga inlander kok!

Kami mendapat dessert es krim dan kami merasa sangat kenyang setelahnya. Kami makan lebih banyak daripada biasanya kali ini.

Malam ini ada pertunjukan bagi para penumpang, yaitu show “I Have a Dream” di Festival Theatre Deck 6 dan 7 pada jam 20:15. Selain itu ada Seminar Kesehatan tentang sakit punggung, pinggang, atau lutut di Deck 6 Traviata. Tapi perut kami yang kekenyangan membuat kami pingin segera balik ke kamar dan beristirahat. Setelah salat Maghrib dan Isya di jamak kami langsung berpelukan kembali di kasur yang terasa sungguh nyaman. Kami mengadakan acara adu hidung saja.

Kapal Costa telah berbalik arah kembali menuju jalan yang semula ia lalui. Besok pagi kami akan berlabuh di Penang, Malaysia. Sampai berjumpa besok di Penang.

 

DAY 4 : TUESDAY, NOV 7, 2017
PENANG

Penang adalah sebuah negara bagian Malaysia yang terletak di pesisir barat laut Semenanjung Malaysia. Penang berada di pulau kecil yang terpisah dari dataran Malaysia yang cukup ramai dengan banyak gedung-gedung pencakar langit. Meski terpisah dari daratan Malaysia ada dua jembatan yang menghubungkannya sehingga orang bisa naik kendaraan darat dari dan ke daratan Malaysia. Penang ini terkenal terkenal karena rumah sakit dan pelayanan kesehatannya yang punya reputasi baik. Banyak orang-orang Indonesia yang lebih suka berobat ke Penang daripada ke Jakarta. Biaya hidup dan rumah sakit di Penang relatif rumah dan bersaing dengan Jakarta, dan tentu saja jauh lebih murah ketimbang Singapore. Itulah sebabnya Penang dikenal sebagai “Silicon Valley of East” untuk industrinya dan merupakan salah satu pusat kekuatan ekonomi paling vital dari Malaysia.

Baca juga:  Mengunjungi India (Part 4) : The Exotic (and Awakening) Delhi

Kapal kami tiba di Penang dan berlabuh di Swettenham Pier dekat Fort Cornwallis sebelum jam 08:00. Tapi sampai jam 08:40 belum juga mendapat clearance dari pelabuhan. Daripada menunggu di lobi kami kembali ke kamar saja dulu. Toh kami tidak akan ikut turnya Costa. Kami sudah beberapa kali datang ke Penang dan sudah keliling ke hampir semua tempat rasanya. Untuk di Penang ini Costa menawarkan 5 alternatif tujuan tur yaitu: Typically Penang, Georgetown and Suburbs, Round the Island, Chocolate, Coffee, Tea, and Shopping Mall, Heritage Tour with Local Product Shopping. Paling murah biaya yang ditawarkan adalah ke Shopping Mall tersebut dengan biaya sebesar USD 49. Dengan kurs Rp. 13.600,- berarti biayanya hampir 700 ribu/orang.

Setahun yang lalu kami beberapa kali pergi ke Penang untuk mengantarkan dan menemani almarhum adik saya, Alim Akbar Jaya, berobat ke RS Spesialis Kanker di sini. Kami bersaudara beramai-ramai mengantarkan dan menemaninya berobat. Adik saya kena kanker paru-paru dan sudah dirawat di beberapa RS, termasuk Husada Utama di Surabaya. Di RS Mount Elizabeth Onkology Penang adik saya harus datang beberapa kali ke untuk dikemoterapi. Dan kami saudara-saudaranya selalu mengantarkan dan menemaninya bergiliran. Tapi karena kankernya sudah masuk stadium 3 akhirnya adik saya tak tertolong dan meninggal di rumahnya di Balikpapan. Saya berada di sampingnya ketika ia menghembuskan napasnya yang terakhir kali bersama dokter yang merawatnya yang datang ke rumahnya waktu itu. Saya yakin adik saya meninggalkan dunia dengan ikhlas karena telah berwasiat dan mensedekahkan banyak hartanya sebelumnya. Ia hanya punya seorang putra dan istrinya dikelilingi adik-adiknya dan kami sepuluh orang saudara-saudaranya. Ketika kami menemani adik berobat itulah kami juga menyempatkan untuk berekreasi ke hampir semua tempat rekreasi yang ada di Pulau Penang ini. Karena kami jalan sendiri dan naik bis umum maka tentu saja biayanya sangat murah.

Di Penang kami turun dan jalan kaki menyusuri jalanan dan kemudian berhenti di sebuah pemberhentian bis. Sekarang Georgetown, ibukota Penang, memiliki sebuah fasilitas bis gratis bagi siapa saja, yaitu Penang Free CAT (Central Area Transit) yang trayeknya menuju KOMTAR Bus Station pp. Kami naik bis tersebut ke KOMTAR dan masuk ke Prangin Mall. Disitu kami tertarik pada tas kulit yang murah dan akhirnya berbelanja juga. Selain itu kami juga beli kaos oleh-oleh berukuran 3XL bagi adik ipar. Sebelum jam 13:00 kami sudah kembali ke kapal dan masih sempat makan siang di Resto lantai 11.

Tur di Penang ini tidak selama di Phuket. Kami hanya diberi waktu sampai jam 13:30. Jam 14:10 kapal sudah lepas labuh dan berangkat menuju Singapore. Seperti yang saya duga ada beberapa penumpang yang ketinggalan kapal. Mungkin mereka mengira bahwa kapal akan berangkat jam 18:00 seperti di Phuket kemarin. Saya tidak tahu bagaimana nasib mereka karena paspor mereka kan ditahan di kapal.

Acara hari ini pada jam 15:00 adalah Travel Talk utk menjelaskan apa yang harus dilakukan penumpang sebelum meninggalkan kapal besok pagi di Singapura. Paspor baru akan dikembalikan nanti malam. Pada pukul 18:45 ada pertunjukan “Sapori D’Italia” di Festival Theater Deck 6 Traviata. Di Deck 5 Boheme akan ada pesta Selamat Tinggal dan Comment Form Lucky Draw pada jam 21:30. Bagi yang suka mengadu keberuntungan mungkin bisa mencoba bermain Super Jackpot Bingo di Deck 6 Traviata. Untuk Bingo ini tampaknya anak-anak juga boleh bermain. Tapi kami mungkin akan melewatkannya dan memilih beristirahat di kamar.

Besok siang jam 14:00 kami akan sampai di Singapura dan akan langsung meneruskan perjalanan ke Kuala Lumpur lewat Bandara Changi.

LAST DAY OF COSTA VICTORIA CRUISE

Costa diperkirakan akan sandar di pelabuhan HarbourFront Port jam 14:00. Sementara itu kami sudah ‘diusir’ utk check-out dari kabin kami karena kamar akan dibersihkan untuk penumpang baru yang akan naik setelah kami turun. Pokoknya efisienlah…!
Setelah kapal merapat dan sandar penumpang akan diatur waktu turunnya agar tidak berdesakan. Kami kebetulan dapat jadwal agak belakangan, yaitu jam 15:35. Jadi kami harus ‘roaming’ sampai waktu kami turun nanti. Lha wong udah gak bisa masuk ke kamar lagi.

Dari sini kami akan lanjut ke Changi utk terbang ke KL menjenguk Si Tengah, Yufi, yang kuliah di HELP University. Untungnya kami beli tiket yang malam karena ternyata untuk turun waktunya diatur agar tidak berdesakan. Hampir saja saya beli tiket dengan waktu yang mepet dari waktu sandarnya kapal. Kami kebetulan dapat jadwal jam 15:45 sedangkan perjalanan ke Changi butuh waktu sekitar 1 jam. Jadi kami akan punya cukup waktu di Changi nanti. Sementara itu kami akan ‘roaming’ sampai waktu turunnya kami dari Costa nanti.

Untungnya kami bawa buku bacaan masing-masing. Istri saya bawa bukunya Harper Lee “Go Set a Watchman” yang merupakan buku pertama yang ia tulis sebelum menulis “To Kill A Mockingbird” yang fenomenal tersebut. Saya sendiri membawa bukunya Glenn Greenwald “No Place to Hide” yang masuk dalam kategori New YorK Times Bestseller. Buku ini tentang Edward Snowden, seorang pakar keamanan komputer NSA yang membongkar kecurangan dan pelanggaran UU tentang pengintaian masif yang dilakukan AS dan sekutunya. Buku ini membongkar rahasia yang sangat penting dan tersembunyi dari Dinas Rahasia NSA (National Security Agency) yang sangat digdaya tersebut. The Guardian menulis bahwa “Sepanjang sejarah Amerika, tak ada kebocoran yang lebih penting daripada bahan-bahan NSA yang dirilis oleh Edward Snowden – bahkan Pentagon Papers yang bocor empat puluh tahun silam.”

Ini adalah buku yang sangat mengasyikkan, informatif, and mind blowing…!

CATATAN:

Ternyata sebaiknya kita tidak perlu menitipkan bagasi kita untuk diurus oleh crew. Kita bisa membawa sendiri koper kita dan kita bisa langsung turun tanpa perlu menunggu koper lagi. Kalau menunggu koper maka akan lama karena diatur berdasarkan urutan. Kami sendiri bisa langsung turun tapi karena koper kecil kami ikut dibagasikan maka kami menunggu sampai koper kami turun.

Sesampai di kantor Cruise Center kita bisa naik taksi atau MRT ke mana pun kita mau pergi. Kami harus ke Changi Airport dan bawa koper jadi mesti naik taksi. Karena kami turun dengan para penumpang Costa Victoria maka antrian untuk taksi panjang sekali padahal taksinya datang satu persatu. Akhirnya kami putuskan untuk masuk ke mall di Vivo City dan naik taksi dari mall tersebut. Antriannya hanya sebentar dan kami bisa langsung ke bandara.

Jika Anda kali lain mau naik cruise dan harus ke bandara langsung sebaiknya beri waktu antara turun Anda dari cruise ke bandara sebanyak 4 jam agar tidak buru-buru.

Oke, selamat menikmati laporan perjalanan kami. Semoga Anda berkesempatan untuk naik kapal pesiar juga suatu kali.

Singapore, 10 Nopember 2017

 

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *