Selasa, 18 September 2019
Just another WordPress site
MEMBIAYAI ZOMBIE MASUK KE PERKAMPUNGAN KITA

Sebelum Subuh sebuah pesan masuk melalui Messenger menyapa saya.

“Assalamu alaikum, Pak Satria. Masih ingat saya? Saya dulu sempat mengontak Bapak untuk menjadi pembicara Seminar Literasi. Terkait tulisan Bapak mengenai HTI baru saya tahu tentang HTI itu. Terlambat nggih…

Kemarin saya sempat wawancara beasiswa dari Kemenag dan saya benar-benar dilucuti karena pewawancara harus yakin saya bukan HTI. Hiks…! Dan saya baru sadar beberapa hari setelah wawancara.

Saya kepikiran terus kenapa Kemenag menanyakan Pancasila dan sistem Syariah…. Saya jadi bengong kurang paham karena selama ini tidak terlalu peduli dengan berita tentang HTI. Mungkin poin hasil wawancara saya kurang memuaskan. Saya baru ngeh setelah membaca postingan dari Bapak terkait HTI. Saya punya beberapa teman HTI tapi belum pernah berinteraksi serius apalagi berdebat seperti Bapak jadi kurang paham.

Setelah membaca postingan-postingan Bapak tentang HTI saya baru sadar dan paham tentang apa itu HTI. Matur nuwun ilmunya. Khas Pak Satria Dharma yang selalu berbagi ilmu dan inspirasi. Matur nuwun doanya agar saya bisa lolos beasiswa Kemenag tersebut.”

Di salah satu grup WA ada teman yang protes.

“Kenapa keras betul sama teman yang HTI? Mereka itu rata-rata orang yang baik dan tidak mengganggu kita secara pribadi. Saya punya banyak teman HTI dan belum pernah ada yang mengganggu saya.”

Saya semula heran dengan tanggapan ini dan menjawab bahwa saya sama sekali tidak bermusuhan dengan pribadi-pribadi. Saya juga punya banyak teman simpatisan dan anggota HTI dan saya tidak punya masalah pribadi dengan mereka. Mereka juga adalah orang-orang yang baik, teman seperjuangan dalam bidang pendidikan, pribadi yang menyenangkan, muslim yang saleh, dlsb. Yang saya tentang adalah ideologi mereka yang akan mengganti dasar negara kita dengan sistem khilafah yang sesat dan menyesatkan itu. It’s nothing personal. Tapi upaya mereka untuk merongrong kesetiaan umat Islam pada bangsa dan Negara Indonesia adalah sebuah pengkhianatan. Kalau Anda mau berkhianat pada istri Anda it’s your own business. Tapi kalau Anda mengajak umat Islam berkhianat pada bangsa dan negara Indonesia maka saya akan menghadapi Anda secara langsung dan terang-terangan (Btw, saya sudah menghadapi orang-orang HTI sejak tahun 2003 di Balikpapan). Jika Anda bilang bahwa menegakkan khilafah adalah sebuah jihad maka menentang berdirinya sistem khilafah di Indonesia adalah jihad saya. Di sini kita berhadapan. Bagaimana mungkin saya akan berdiam diri jika ada orang yang dengan terang-terangan menyerang dan mau merobohkan bangsa dan negara saya?

Baca juga:  HTI YANG DISAYANG DAN YANG DITENDANG (PART 2)

Ada juga teman yang berkomentar, “Sebaiknya urusan bubar membubarkan ormas diserahkan saja kepada pihak yang berwenang dan tidak perlu dibangun pembenaran atas pemihakan2 atau penolakan2 terhadap gerakan ormas tertentu.”

Saya baru sadar mengapa orang-orang tidak menyadari betapa berbahayanya ideologi Hizbut Tahrir tersebut. Itu karena mereka mengukurnya dari diri pribadi. Ukuran mereka adalah jika tidak mengganggu diri mereka pribadi maka tidak apa-apa dan jangan diganggu. Cara berpikir seperti ini sungguh berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita tidak memiliki kepedulian dan kesetiaan pada bangsa dan negara. Saya jadi iri pada rakyat Amerika Serikat dan Vietnam yang begitu cinta pada bangsa dan negaranya padahal tidak punya ulama yang mengingatkan bahwa cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Saya merasa bahwa kita telah gagal dalam mendidik bangsa kita untuk cinta dan setia pada bangsa dan negara. Kita bahkan membiarkan adanya segelintir umat Islam dan warga kita sendiri merongrong dan menggerogoti kesetiaan dan kecintaan umat Islam pada bangsa dan negaranya dan kita tidak melihat itu sebagai sebuah pengkhianatan yang tidak boleh dibiarkan.
Bayangkan…! Ketika berbagai bangsa dan negara lain telah dengan secara tegas membubarkan organisasi Hizbut Tahrir di negara mereka, baik itu negara Islam atau pun bukan, dan bahkan dengan tegas menangkapi anggotanya tanpa perlu bikin Perppu segala, sebagian dari kita malah ada yang membelanya.Di negara-negara lain HT dibubarkan dan dilarang dan anggotanya ditangkapi dan dijebloskan ke penjara dengan alasan keamanan dan tidak ada gejolak tapi di negara kita pemerintah justru dituding menjadi diktator padahal belum ada satu pun anggota HTI yang ditangkap. What’s going on with you, guys?

Baca juga:  KEGENTINGAN NEGARA’ ALA UMAR RA

Saya sungguh menghargai upaya Kemenag untuk melindungi kepentingan bangsa dan negara dengan berupaya agar tidak memberi beasiswa pada anggota atau pun simpatisan HTI. Itu tindakan yang sangat tepat. Alangkah konyolnya kita jika kita memberi beasiswa pada calon master dan doktor yang justru nantinya akan menjadi pengkhianat bangsa. Itu sama dengan membiayai zombie untuk masuk ke perkampungan kita sendiri.

Di pagi ini saya termenung dan berpikir alangkah sedihnya para pendiri bangsa kita ini yang telah berjuang mendirikan bangsa dan Negara Indonesia dengan menyerahkan harta dan jiwanya jika melihat bahwa ada segelintir warga yang justru mau mengkhianati perjuangan mereka. Kemerdekaan bangsa dan Negara Indonesia adalah sebuah nikmat yang sungguh tiada taranya dan telah kita ikrarkan dalam pembukaan Undang-undang. Tapi kini segelintir orang akan mengingkari nikmat tersebut dan akan menggantinya dengan sebuah ideologi sesat bikinan ulama asing yang bahkan di negaranya sendiri pun sistem yang ditawarkannya itu ditolak dan bahkan dilarang untuk berdiri.

Surabaya, 21 Juli 2017

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Satu tanggapan untuk “MEMBIAYAI ZOMBIE MASUK KE PERKAMPUNGAN KITA”

  1. […] Lha wong teman-teman saya yang sebenarnya guru-guru pintar saja bisa terjebak dan tertipu mentah-mentah. Hanya karena HTI menggunakan jargon-jargon dan tameng Islam maka tujuan mereka yang jelas-jelas bathil itu lantas lenyap dan tidak terlihat di mata mereka. Lha mosok mereka tidak paham apa sebenarnya tujuan dakwah Islam itu sehingga mereka memasukkan zombie ke rumah mereka hanya karena zombie tersebut pakai gamis dan surban. https://satriadharma.com/2017/07/22/membiayai-zombie-masuk-ke-perkampungan-kita/ […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *