Jumat, 22 Nopember 2019
Just another WordPress site
Sandiwara

Pagi-pagi saya sudah ngakak…

Saya sedang dalam penerbangan Garuda ke Balikpapan pagi ini dan dapat koran Kompas gratis. Apa berita hot di halaman depan? Ajun Iptu Labora, polisi berpangkat rendah di Papua yang punya rekening super gendut 1,5 trilyun, yang dihukum 15 tahun penjara, ternyata dibebaskan oleh Ketua LP Sorong. Haaah…! Gendeng…! (bisa Anda bayangkan betapa luar biasanya si Labora ini dalam menggarong harta negara jika rekeningnya saja mencapai 1,5 trilyun?). Menhukham Yasonna Laoly mencak-mencak dan berjanji akan mengusutnya. “Pasti ada jaringan yang melindungi beliau…!” demikian kata Yasonna Laoly. Pak Menhukman memang menggunakan kata ‘beliau’ untuk menyebut si Labora ini.

Ini membuat saya ngakak…?! Tidak.

Bukan itu yang membuat saya ngakak. Saya selalu sedih, prihatin, dan merasa tidak berdaya membaca berita seperti ini. Sudah nasib saya untuk selalu merasa terlibat secara emosional dengan hal-hal semacam ini. Saya tidak bisa bersikap seperti Samsul, teman main saya, yang tidak pernah peduli dengan hal semacam ini. “Ngurusi awak dewe ae wis kangelan (mengurusi diri sendiri saja sudah kesulitan),” demikian katanya sambil tersenyum miring seperti biasanya seolah ini hal yang menggelikan baginya.

Lalu apa yang membuat saya ngakak? Masih di halaman depan ada berita tentang ‘Korupsi Kementrian ESDM’ dimana Sutan Batoegana (remember this funny guy?) akhirnya ditahan karena didakwa menerima suap 200,000 USD dari Rudi Rubiandini. Lho kok ngakak…?! Emang saya senang mereka ditahan karena melakukan tindakan korupsi dan suap menyuap? Tidak. Saya juga sedih. Apalagi mengingat Rudi Rubiandini yang dulunya adalah seorang dosen teladan di ITB tapi setelah jadi dirjen migas lantas terseret oleh godaan uang besar yang begitu powerful. Dan masuklah ia ke penjara. Alangkah mengenaskannya nasib Pak Rudi Rubiandini yang sebelumnya adalah sosok dosen yang terhormat dan dikagumi oleh para mahasiswa ITB yang pernah diajarnya. I feel gloomy.

Baca juga:  MANUSIA TUPOKSI

Lalu apa yg membuat saya ngakak…?!

Ternyata di koran itu diberitakan bahwa Sutan Batoegana yang punya ungkapan populer ‘ngeri-ngeri sedap’ dan ‘masuk itu barang’ ini punya kebiasaan yang cukup unik. Beliau ini punya kebiasaan yang tidak berubah meski telah menjadi tersangka, yaitu mengirimkan dan menyebarkan pesan “Tahajud Call” melalui BBM. Sudah bertahun-tahun Sutan Batoegana ini tak pernah putus menyebar pesan “Tahajud Call” kepada sejumlah kolega yang ada dalam daftar kontak BBM-nya….! Pesan yang dikirim setiap menjelang sepertiga malam itu berisi nasihat-nasihat yang disarikan dari Al-Qur’an atau pun hadist. Rupanya Mr. SB ini sosok yang relijius dan selalu berupaya mengajak teman-temannya untuk taat pada ajaran agama…! Can you imagine…?!

Saya berupaya untuk mencerna ironi ini dan saya tidak bisa menahan ketawa saya…! Saya ngakak di pesawat sampai ditegur istri saya. Huahaha….!

Hanthiiik…..!! Saya sungguh angkat topi pada si beliau Sutan Batoegana ini. Meski seringkali saya juga bermuka dua tapi saya sungguh tidak akan bisa mengikuti jejak si beliau dalam soal ini. Sambil berdakwah dengan istiqomah korupsi tetap kita laksanakan dengan khidmat dan dalam jumlah yang sebesar-besarnya. Membayangkan saja saya sudah tidak mampu. Saya mengumpat berkali-kali dalam hati.
“Kalau membayangkan memang sulit”, kata saya dalam hati, “tapi kalau ada kesempatan kayaknya kamu juga gak bakal lolos deh.” demikian ejek hati kecil pada (hati besar) saya. Betul juga sih! Tapi membayangkan seseorang teman yang rajin mengingatkan tentang kebaikan dan mengutip ayat-ayat dan hadist kemudian tertangkap karena korupsi adalah ironi yang sungguh tak terperikan. Saya pasti akan misuh-misuh ala Surabaya di depannya, “Jan.uk kon, rek! Asyuuu… Ulo… Trenggiling… Aku wis kadung percoyo nang awakmu. Tibakno awakmu yo maling toh…!”. Saya pasti akan percaya pada teman yang mengirimi saya pesan-pesan relijius setiap hari dan akan membayangkan sosoknya sebagai orang yang alim dan tawadduk. Saya pasti akan tertipu. How foolish I am…! Dan saya pun ngakak…

Baca juga:  TUHAN MEMBUKA KEDOK KITA

Tapi setelah itu saya menangis dalam hati. “Wahai Sang Sutradara Agung…! Janganlah kiranya hamba ditempatkan dalam peran yang demikian berat. Hamba tak koat… Sungguh tak koat…!”

Balikpapan, 3 Januari 2015

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *