Selasa, 25 Juni 2019
Just another WordPress site
DOA ULAMA VS DOA BENCES

Cak Nanang Ahmad Rizali dalam postingnya di FB kemarin memperbandingkan mana doa yang lebih diterima oleh Tuhan, apakah doa para ulama yang komat kamit atau doa para bences? Saya pegang bences. Maksud saya, saya yakin doanya para bences lebih manjur. Lho kok bisa…?! Nah, ini…!

Kalau Anda hanya mengandalkan penglihatan ragawi semata maka memang agak sulit memahami mengapa doa para bences lebih mangkus dan sangkil ketimbang ulama, apalagi ulama abal-abal yang sekarang ini banyak bertebaran di dunia permedsosan. Penglihatan lahir itu banyak menipu. Itulah pentingnya penglihatan bathin. Anda butuh menengok ke dalam untuk memahami hal ini. Lengkapnya adalah “Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih. Suci lahir dan di dalam batin. Tengoklah ke dalam sebelum bicara. Singkirkan debu yang masih melekat.. Uhuhuhu… Adalah Dia di atas segalanya..” Wis… ojok diterusno nyanyine…

Mari saya jelaskan mengapa doa bences bisa jauh lebih maqbul ketimbang doa ulama top sekali pun. Untuk memahami penjelasan saya Anda tidak perlu telanjang. Tolong pakai lagi baju Anda. Baca saja penjelasan saya pelan-pelan.

Begini lho…! Ada dua kunci mengapa doa para bences itu bisa lebih maqbul ketimbang doa para ulama. Anda harus paham bahwa Tuhan itu benar-benar adil dan penuh kasih sayang pada semua mahlukNya. Pertama, Tuhan itu sangat suka pada umatnya yang bertaubat dan bahkan pernah berjanji akan mengabulkan doa orang-orang yang teraniaya. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat…”demikian sebuah ayat dalam Alquran. Nah, sekarang siapa di antara mereka yang punya kemungkinan bertobat, ulama atau bences? Jelas benceslah…! Lha wong ulama sekarang pada udah merasa punya kunci sorga sendiri-sendiri. “Emang ane berdosa apa kok mesti bertobat? Ente kaleee yang mesti bertobat…!” Saya yakin kalau saya bertanya siapa yang harus bertobat para ulama atau para bences maka 100% kalian akan menjawab para bences. Soalnya di mata kalian para bences itu hidupnya berkubang dalam dosa dan lucknut. Ngaku aja…!

Baca juga:  SATU PERTANYAAN, KEK!

Kedua, kita perlu benar-benar waspada pada doa para bences. Mengapa…?! Karena Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda, “Hendaklah kamu waspada terhadap doa orang yang dizalimi sekalipun dia adalah orang kafir. Maka sesungguhnya tidak ada penghalang diantaranya untuk diterima oleh Allah.” (HR Ahmad).

Nah, sekarang ane mau tanya sama ente. Siapa yang lebih teraniaya, para ulama atau para bences? Jangan percaya pada isu ulama dikriminalisasi. Para what so called ulama yang dijebloskan ke tahanan itu justru karena melakukan tindakan kriminal dengan melakukan pelanggaran hukum. Sedangkan para bences itu selama hidupnya hampir selalu teraniaya.

Bayangkan, Cak… Bences itu menjadi demikian bukan karena mereka menghendakinya. Begitu lahir mereka sudah memiliki kecenderungan berbeda dengan gendernya. Kata teman saya mereka adalah para wanita yang terperangkap dalam tubuh laki-laki. Dan itu semua adalah kehendak ilahi robbi. Bukan kehendak mereka.

Jadi bayangkan kalau para bences ini berkumpul kemudian berdoa seperti ini…

“Ya, Tuhan yang telah menciptakan kami dalam keadaan begini. Kami memang tidaklah sesoleh para ulama yang berjubah dan bersorban putih tersebut. Justru hidup kami penuh berlumur noda dan dosa. Tapi kami adalah sama-sama mahlukMu. Kami percaya bahwa sesungguhnya Engkau sungguh adil dan penuh kasih sayang kepada semua umatMu. Kami memang hampir tidak pernah bersujud untuk memohon padaMu. Tapi kami tidak pernah menghujatMu atas keadaan kami yang begini. Kami berusaha untuk bersabar menerima segala cobaanMu ini di dunia ini. Kami percaya bahwa semua ketentuanMu tentulah memiliki alasan dan kami bersabar menerima ketentuanMu ini, ya Tuhan! Sepanjang hidup kami selalu menderita karena keadaan kami yang terperangkap dalam kehidupan yang tidak normal ini. Hampir setiap hari kami menerima hinaan, cercaan, tuduhan, makian, penolakan, pengusiran, dari umatMu yang soleh-soleh tersebut. Tapi kami tidak menghujatMu karenanya, ya Tuhan. Memang beginilah nasib yang harus kami terima. Bahkan jika kami mau datang ke masjid kami bingung harus ke saf laki-laki atau saf perempuan. Raga kami laki-laki tapi jiwa kami sepenuhnya adalah perempuan, ya Tuhan. Dan itu bukan kehendak kami tapi adalah kehendakMu yang mulia, ya Tuhan.

Baca juga:  Sandiwara

Kami sungguh merasa teraniaya oleh situasi kami ini. Kami selalu merasa teraniaya oleh sikap umatMu yang merasa dirinya lebih soleh itu, ya Tuhan. Mereka menganggap kami seperti bukan manusia dan bahkan selalu ingin mengenyahkan kami dari muka bumi.

Kini kami datang bersimpuh untuk memohon padaMu , ya Tuhan. Kami memang sangat jarang memohon padaMu ya Tuhan. Oleh sebab itu perkenankanlah doa kami ini, ya Tuhan sebagaimana Engkau pernah berjanji untuk mengabulkan doa orang-orang yang teraniaya…”

Kalau para bences sudah menengadahkan tangan mereka dan berdoa seperti ini maka sebaiknya peno lari sejauh-jauhnya. Jangan sampai peno terkena dampak dari bergetarnya Arsy karena doa yang mereka panjatkan ke langit.

Itu sebabnya ane gak pernah berani mengolok-olok dan menghina para bences. They have lived miserably enough all their life. Sungguh kualat mencit saya yang selalu dilimpahi dengan segala berkah, rahmat, dan karunia dalam hidup saya ini kalau berani macam-macam pada kalangan bences ini. Sudah selayaknya kita yang dikarunia hidup normal ini berempati pada mereka yang terbelah antara raga dan jiwanya dan tidak tahu harus bagaimana. Mereka, bagaimana pun, adalah mahluk Tuhan yang perlu kita kasihi juga.

Wis, iku ae wejanganku isuk iki… J

Surabaya, 15 April 2019
Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *