Minggu, 24 Februari 2020
Just another WordPress site
Turtle Back or Six Pack?

Pagi ini saya mematut-matut diri di kaca dan tiba-tiba merasa asing dengan wajah dan tubuh yang saya lihat di kaca. Tiba-tiba saya merasa asing dengan diri saya sendiri. Is it me…?! Kok kayak bukan saya ya…?! Seperti bukan diri saya yang ada dalam benak saya. Sungguh berbeda dengan apa yang saya harapkan saya lihat di kaca. Kerut di wajah dan utamanya kantung mata yang semakin tebal rasanya seperti tiba-tiba saja ada tanpa saya ketahui sebelumnya. Tentu saja tidak. Kantung mata itu telah ada di sana beberapa waktu lamanya tapi saya masih belum bisa menerimanya. Ia seperti tamu tak diundang yang saya pikir akan segera pergi setelah beberapa hari istirahat penuh. Tapi rupanya ia tidak kunjung pergi dan berniat untuk tinggal disitu tanpa pernah minta ijin saya. Tentu saja saya tidak akan pernah mengijinkannya seandainya ia minta ijin. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa jika ia memutuskan untuk tinggal di sana dan saya hanya bisa memandangnya dengan masygul. I actually wanted to stay young all the time before. Of course I cannot.

Saya kemudian memandang tubuh saya di kaca dengan cermat. Saya terkejut melihat tubuh saya dengan perasaan tidak percaya. Rasanya itu bukan tubuh saya, terutama bagian perut yang menonjol. Rasanya tidak bisa saya percaya bahwa perut saya mengalami kemajuan yang begitu pesat… ukurannya! Saya masih ingat ketika pertama kali saya membeli celana blue jeans di masa muda saya.. Ukurannya masih nomor 27. Dan saya nampak begitu slim and fit saat itu. Butuh waktu cukup lama untuk naik satu nomor waktu itu. Saya bertahan di nomor 28 cukup lama dan merasa senang bahwa saya tidak nampak sangat kurus di nomor tersebut dibandingkan sebelumnya. Ukuran celana saya kemudian terus naik pelan-pelan tapi pasti.

Tapi sekarang saya benar-benar berubah sehingga rasanya saya seperti tak mengenal tubuh yang sedang saya ‘pakai’ ini. Sejak menikah berat badan dan ukuran celana saya naik sedikit demi sedikit dan setelah menikah selama 20 tahun tiba-tiba bumm…! Kemarin saya kembali membeli sebuah celana jins dan ternyata nomornya sudah naik enam angka…! Gila…! Itu pun rasanya bakal harus dikoreksi ulang jika saya tidak bisa menghentikan laju ‘inflasi’ ukuran perut saya.

Saya sering bergurau dengan istri saya (yang juga sama-sama mengeluhkan pertumbuhan ukuran perutnya) bahwa pasti ada yang memfitnah saya. Rasanya ketika saya tidur semalam perut saya masih datar dan kencang tapi ketika bangun tiba-tiba ia menggelembung. Sekarang seolah ada kura-kura besar yg bersembunyi di situ. Pasti ada seseorang yang telah menukarkan perutnya yang gendut dengan perut langsing saya ketika saya tidur. Saya tidak terima itu dan orang tersebut akan saya cari dan perut langsing saya akan saya minta kembali. Tapi sampai orang itu bisa saya temukan maka saya harus menerima dan membawa-bawa perut gendut ini ke mana-mana. Saya merasa ‘terfitnah’ dengan perut ini tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Belakangan ini saya memang mengalami kenaikan berat badan yang cukup mencemaskan. Saya selalu tidak percaya dengan angka-angka yang ditunjukkan oleh timbangan badan, baik itu di rumah atau di mana pun saya sempat menimbang badan. Saya selalu mengira timbangannya yang tidak beres karena tidak mungkin berat badan saya meroket dalam waktu singkat. Biasanya berapa banyak pun yang saya makan tidak akan mempengaruhi berat badan saya. Kalau pun naik sedikit ia akan turun lagi pada ukuran normalnya. Tapi kini ternyata para timbangan tersebut bersekongkol untuk memastikan bahwa saya memang semakin berat. Bahkan timbangan digital di Bangkok kemarin menunjukkan angka 67 koma sekian. Haaah….! Yg benar saja…! Rasanya ini puncak berat badan saya selama ini.
Tapi memang tak ada khilaf di timbangan. Yang ada hanyalah penyangkalan diri saya yg tidak mau menerima kenyataan bahwa saya semakin gendut.
Belakangan ini volume perjalanan saya memang meningkat dan seperti biasa kalau saya bepergian maka saya tidak mengontrol makan saya. Embat saja semua yang ada di depan. Semakin banyak saya bertemu dengan seseorang maka semakin banyak meal dan snack yang saya embat. Lagipula saya juga tidak sempat untuk berolahraga jalan kaki atau jogging jika sedang bepergian. Hujan yang selalu turun belakangan ini juga menghalangi saya untuk melakukan exercise jika sedang di rumah. Hujan membuat saya malas untuk keluar rumah dan cuaca yang dingin membuat saya malah tergerak untuk ngemil. Saya cuma membenamkan diri di ruang komputer atau malah membaca sambil tidur-tiduran di kasur. Saya juga tidak segan-segan untuk mencicipi semua hidangan yang ada di meja makan. Jadi kalau berat badan saya naik saya sebetulnya tak perlu terlalu heboh. Pemasukan dan pengeluaran memang tidak berimbang sehingga otomatis lemak tubuh tertimbun.(Lha iya..! Kok tertimbunnya cuma di perut dan tidak mau melangkah ke otot bicep toh..!). Jika pemasukan bertambah sedangkan pengeluaran berkurang maka sisanya akan ngendon di tubuh, utamanya di perut. That simple.

Baca juga:  KONFERENSI GURU INDONESIA 2007

Jadi saya sekarang punya masalah dengan berat badan. Dan saya harus melakukan sesuatu.
Do I care with my appearance? Apakah saya sangat perduli dengan penampilan tubuh? Ya dan tidak. Saya masih bisa ‘menikmati’ rambut, kumis dan cambang saya yang mulai memutih. Rambut saya juga semakin menipis dan kebotakan semakin menggerus kepala saya. Kalau saya menyisir rambut saya maka istri saya biasanya menyindir,:” Apanya yang disisir lha wong sudah habis gitu kok..?!” dan saya tetap menjawab dengan santai :”Ya, sisa-sisanyalah!” I can accept that.
Tapi perut buncit itu soal lain. Itu soal penambahan ukuran celana yang berarti saya tidak bisa lagi mengancingkan celana-celana saya karena terjadi ‘pengkhianatan’ oleh diameter perut saya. Saya juga mengalami kesulitan ketika harus memakai kaus kaki dan sepatu. Tiba-tiba saja saya tidak bisa membungkukkan badan dengan bebas karena terganjal oleh kura-kura di perut saya. Selain itu sekarang saya merasa lebih mudah lelah dan kehabisan nafas jika berjalan cepat atau mendaki. Hal ini tentu tidak bisa saya biarkan berlarut-larut.
Saya ingat benar bahwa beberapa waktu yang lalu saya terpaksa mengeluarkan celana-celana saya yang berukuran 31 dan 32 dan memberikannnya kepada keluarga yang mau menerimanya. Saya sudah menyimpannya cukup lama dan berharap suatu ketika saya bangun tidur dan tada…!.tiba-tiba ukuran perut saya kembali ke nomor 31 atau 32. But it never happens. Saya telah menunggu cukup lama dan merasa kecewa bahwa perut saya tak mau kembali pada ukurannya semula. Saya sebetulnya sudah bermurah hati untuk menerima ukuran 32 tapi kini ia melaju lagi terus dan terus tanpa perduli bahwa saya tidak pernah mengijinkannya. Jadi dengan berat hati celana-celana yang sebetulnya masih baru itu saya pindah tangankan. Dalam hati saya berjanji untuk membelikan celana jins baru jika perut saya mau kembali ke ukuran 32. Saya menjanjikannya hadiah utk kembali ke ukuran semula. Jika ia mau…

Baca juga:  YUDI

Tapi setelah memikirkan ini agak lama saya merasa tertantang. Tidak seharusnya saya meratap atau sekedar mengkhayalkan agar tubuh saya kembali langsing seperti sedia kala. Berat tubuh ideal tidak akan kembali dengan berkhayal dan berharap belaka. Saya harus merebutnya kembali dari siapa pun yang pernah merenggutnya dari saya. (Whaaat…?!)Tak ada gunanya berharap jika tidak ingin melakukan sesuatu. Jika saya ingin ukuran tubuh saya kembali langsing maka saya harus melakukan sesuatu untuk mengembalikannya seperti semula. Saya tahu bahwa ini sebenarnya hanya masalah disiplin. Pikiranlah yg mengontrol berat badan. Jika saya mau dan benar-benar termotivasi maka saya akan bisa melakukan pelangsingan dan peningkatan stamina tubuh. Kapan saja saya mau. Cara bisa dicari jika saya sudah menetapkan keinginan. It starts in your mind. We need a real commitment and not only interested in doing it.
Jadi saya akan mencari motivasi untuk melakukan upaya pelangsingan dan peningkatan stamina tubuh. Motivasinya tentu bukan untuk mendapatkan perhatian dari para wanita. Setahu saya para wanita tidak perduli seberapa gendut perut Anda selama rekening Anda jauh lebih gendut. Perut boleh gendut tapi rekening di bank haruslah lebih gendut. Motivasi saya haruslah untuk hidup lebih sehat dan stamina lebih prima. Dengan demikian berarti saya lebih mensyukuri hidup yg diberikan oleh Tuhan.
Jadi pagi ini juga saya putuskan utk mulai melakukan program diet. Selain itu saya juga akan melakukan sit-up secara rutin. Target saya adalah sit-up sebanyak ukuran celana saya setiap hari. Tentu akan saya mulai dengan membaginya dua kali dalam sehari agar perut saya tidak kejang setelahnya. Selain itu saya akan mulai jogging lagi dengan disiplin. Kalau istri saya tidak mau menemani ya saya akan lakukan sendiri. Kalau pagi hujan maka saya akan lakukan sore hari. Pokoknya saya akan serius utk berolahraga. Hanya dengan begitulah saya akan memperoleh kembali bentuk tubuh dan stamina tubuh yg saya inginkan. Itu resolusi yg saya tetapkan.

Baca juga:  MEMBANGUN BUDAYA LITERASI DI KEPULAUAN SELAYAR

Jadi kalau suatu saat Anda melihat saya nampak lebih langsing, segar dan fit maka itu adalah hasil dari keputusan saya hari ini. Lagipula saya sudah membelikan hadiah bagi diri saya, yaitu sebuah kaos bertuliskan : SIX PACK dan di bawahnya tertulis ‘(coming soon)’.

Surabaya, 31 Maret 2013

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *