Sabtu, 22 Februari 2020
Just another WordPress site
Sekolah Rimba

“Orang-orang yg cuma terus bermimpi tanpa mewujudkannya adalah orang-orang egois”

Saya mendapat kiriman buku yg istimewa kemarin. Judulnya “Sokola Rimba” penulisnya Butet Manurung yg terkenal itu. Pengirim bukunya adalah Puti yg sekarang juga mulai terkenal meski sangat rendah hati itu. Buku ini memang versi tulis ulang dari buku dengan judul yg sama yg diterbitkan pada th 1997. Buku ini diterbitkan ulang dan juga diterbitkan dalam versi bahasa Inggris dengan judul “Jungle School”. Hebatnya adalah buku kiriman dari Puti itu ditandatangani langsung oleh Butet Manurung dengan kata-kata : Buat Satria Dharma. Saya tercengang dan merasa terbuai. Tentu saja Butet tidak kenal saya dan kami tidak pernah bertemu. Tapi jelas bahwa Puti berhasil menemui Butet Manurung sendiri dan memintakan tandatangan di buku yg dihadiahkannya kepadaku itu. Ah, Puti! Betapa baiknya kamu pada orang yg kadang menyebalkan seperti aku. I really feel touched by this attention.

Sebetulnya fokus saya pada Ramadhan ini hanyalah mengaji dan mengaji. Tinggal tiga juz lagi maka saya akan mengkhatamkan Al-Qur’an yg kedua kalinya di bulan Ramadhan ini. I feel absorbed by the holy Ramadhan dan sungguh malas membaca buku-buku lain (meski saya sudah menamatkan lagi membaca buku “Untuk Apa Berpuasa”nya Agus Mustafa). Beberapa waktu lau saya tertarik membeli buku “Benarkah Adam Manusia Pertama” karya Ir. Agus Haryo Sudarmojo tapi hanya mampu menyelesaikan 2/3 buku dan setelah itu balik ke Al-Qur’an lagi.

Saya juga mendapat kiriman buku dari Sekar berjudul “Bersepeda Membelah Pegunungan Andes” yang ditulis oleh Bambang “Paimo” Hertadi Mas. Buku ini mendapat rating 3.64 of 5 stars di Goodreads. Buku ini berkisah ttg pengalaman Mas Paimo, dengan sepeda yang sebagian komponen dibeli dari pasar loak, melakukan penjelajahan bersepeda sejauh 6.000 kilometer dari La Paz, ibu kota Bolivia, hingga ke ujung terselatan Benua Amerika, Punta Arenas (Cile). Sendirian pula…! Lihat wajah orangnya pada kaver bukunya saja sudah nampak tipe orang nekat dan keras hati. Saya pikir koncoku Nanang itu sudah cukup gila bersepeda lintas Kalsel-Kalteng dan ditambahi pesisir Madura. Tapi ternyata Mas Paimo ini jauh lebih gila. Mengkorok bulu kudukku membayangkan kegilaan Mas Paimo ini. Sepedahan aja kok ya sampai ke Gunung Andes di belahan dunia sana. Hampir saja kuembat buku itu untuk kubaca tapi targetku khatam dua kali dalam Ramadhan ini tidak bisa kutawar.

Baca juga:  MEMBACA 15 MENIT SETIAP HARI SEBAGAI UPAYA PENUMBUHAN BUDI PEKERTI

Dan datanglah buku kiriman Puti ini….

Saya tidak tahan utk melihat-lihat nyicipi membaca sedikit kata pengantarnya.
Dan saya pun langsung terpesona oleh tutur kata Butet Manurung ini. Kata-katanya itu bak mutiara yg berkilau-kilau membuat saya terbetot utk terus membaca. Tanpa sadar saya sudah tiba di Bagian I Hari-hari Pertama di Rimba…!
Cara Butet bercerita sungguh hidup dan menarik sehingga seolah kita ikut titip mata dan hati bersamanya. Butet juga sangat jenaka (meski juga sangat serius) sehingga saya merasa memperoleh teman sepandangan dalam melihat hidup dengan cara yg sama. I love this book at my first reading time.

Bayangkan…
Butet memulai kisahnya benar-benar dari awal ketika ia berangkat naik bis dari Jakarta ke Kota Bangko, Jambi. (Saya belum pernah ke Jambi selama hidup saya. May be one day I should go there). Ia naik bis ALS yg diplesetkannya menjadi Antar Langsung Surga karena kencangnya laju bis sehingga membuat penumpang merasa seakan selangkah lagi sampai surga! (Dan saya mulai ngakak dalam hati).
Ia benar-benar culun waktu itu sehingga harus bertanya berkali-kali kapan tiba di Kota Bangko, walau pun sudah diberitahu bahwa perjalanan adalah sekitar 22 sampai 26 jam. Karena bosan ditanyai apakah masih jauh akhirnya sopirnya menjawab, “Bukan jauh lagi, Mbak, besok baru sampai sana!!”
Waktu sampai di Bangko ia terseok-seok mengangkat dua ranselnya. Sepatu kerennya terselip dan yg sebelah kiri tidak ketemu meski ia sudah nungging-nungging di kolong kursi. Sopir dan kondektur bis marah-marah karena ia terlalu lama tidak turun. Begitu turun tanpa sepatu sebelah kirinya Butet menggerutu,”Uh, dasar Batak, kasar banget. Masak diturunin sembarangan begini.”. Dan saya ngakak lagi membacanya. She surely has a big sense of humor.

Baca juga:  SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL : APA YANG KITA CARI?

Begitulah…
Butet memulai petualangannya sebagai seorang anthropolog yg menjadi fasilitator pendidikan di hutan sampai akhirnya benar-benar tenggelam jadi guru membaca dan menulis bagi anak-anak rimba.

Buku ini mendapat banyak pujian. Anis Baswedan, Arief Rachman, Dino Patti Jalal, Iwan Fals, Mari Pangestu, Kak Seto, adalah beberapa nama yg memberikan pujian pada buku ini.

“Butet memberikan kita satu wawasan indah tentang Indonesia. Buku ini merupakan kisah yg menyentuh ttg respek, keteguhan hati, dan cinta terhadap anak-anak. Saya tidak sabar ingin melihat adaptasi filmnya yg menakjubkan.” demikian kata Riri Riza seorang sutradara film Indonesia terkemuka. Filmnya sudah mulai diproduksi dan diharapkan akan beredar akhir tahun 2013 ini.

Surabaya, Agustus 2013

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

2 tanggapan untuk “Sekolah Rimba”

  1. nurdin berkata:

    mengetahui dari resensi pak satria ini saja saya jadi pengen baca juga buku ini…

  2. Sunandar berkata:

    Mari saya antarkan ke jambi mas, sudah bisa naik pesawat terbang sekarang, naik Bus Lorena juga ada, saya ndak pernah naik ALS, bakal disusun seperti pindang di pasar Pabean.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *