Selasa, 25 Februari 2020
Just another WordPress site
TWENTY YEARS OF JOY AND HAPPINESS
Foto bersama istri. Dok. Pribadi. Flickr.

Foto bersama istri. Dok. Pribadi. Flickr.

Beberapa hari ini saya menghadapi beberapa masalah yang menguras waktu dan energi saya sehingga membuat saya bertanya-tanya mengapa saya bisa tercebur ke situasi tersebut. Beberapa urusan yang semestinya menjadi urusan saya justru tidak saya tangani. Saya menghadapi masalah yang sebenarnya bukan masalah saya dan berada di luar kontrol saya. Ini situasi yang tidak saya sukai karena membuat saya tidak bisa menyelesaikan masalah dengan CARA saya. Rasanya seperti tergantung dalam situasi yang tidak jelas. Saya berupaya untuk bisa menyelesaikan masalah ini dengan cara saya tapi tidak bisa.

Akhirnya pagi ini saya putuskan untuk melepaskan masalah itu dan berupaya mengosongkan diri saya.  I let all my cares and worries go.

Dan tiba-tiba saya merasa sebuah perasaan damai yang sangat sejuk menerpa saya.  Saya menghirup udara dalam-dalam ke paru-paru saya dan berseru dalam hati,”Oh my God…! I really love this feeling.”

Ini adalah perasaan yang langka. It’s more than ecstacy. Ini adalah perasaan yang berbeda dengan hari-hari biasa ketika kita merasa harus melakukan ini dan itu, merasa cemas dengan ini dan itu, punya masalah ini dan itu, punya konflik dengan si ini dan si itu. Ini adalah perasaan damai seolah hidup kita begitu penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan sehingga kita merasa heran mengapa sebelum ini kita merasa memiliki masalah dalam hidup. Ini adalah perasaan damai yang mampu membuat semua masalah yang pernah kita alami dalam hidup menjadi hilang seolah tidak pernah terjadi. I am feeling so great and fulfilled seolah dikelilingi hanya oleh rasa puas dan bahagia dengan hidup.  Ini adalah perasaan ketika kita merasa tidak memiliki masalah dan kerisauan samasekali akan hidup. Ini adalah perasaan damai ketika kita merasa bahwa Tuhan begitu menyayangi kita sehingga tak satu pun duka dan derita pernah kita alami selama hidup ini.

Ya Tuhan…..! Alangkah indahnya perasaan ini…!

I wish I could have this feeling all the time.

I wish I could have this feeling as long as possible.

Or at least … I wish I could have this kind of feeling when it’s time to leave the world.

Tadi malam saya ngobrol dengan istri saya sambil beradu hidung di tempat tidur sejak sesudah sholat Isya’. Istri saya mengingatkan bahwa besok adalah hari ultah penikahan kami yang kedua puluh. Dua puluh tahun…?! Rasanya kok baru saja ya…?! Dan kami pun tertawa berdera-derai. Tentu saja usia pernikahan kami sudah dua puluh tahun lha wong anak sulung kami saja sudah berusia 19 tahun. Ia bahkan sudah kuliah saat ini. Tapi kemesraan dan kehidupan kami berdua begitu indah sehingga waktu terasa melintas dengan cepat dan ‘bum…!’ tiba-tiba saja kami sudah hidup bersama selama 20 tahun. “Whaat…?! Twenty years already…?!”

Kehidupan pernikahan kami memang penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Kami tidak pernah mengalami ‘turbulence’ atau ‘storm’ dalam kehidupan pernikahan kami. Sesekali saya masih melirik wanita-wanita cantik yang bersliweran di mall meski tangan saya tetap menggandeng istri saya (supaya tidak lepas berbelanja). Tapi…that’s all. Tuhan melindungi kami dari masalah-masalah besar dalam perkawinan.

Baca juga:  Mengeluh atau Mengubah Keadaan?

Tentu saja sesekali kami juga bertengkar untuk hal-hal remeh sehingga membuat anak kami heran mengapa kami harus bertengkar untuk hal tersebut. Kalau mengingat ini saya selalu tertawa geli. Suatu ketika kami bertengkar di mobil ketika kami menjemput Yufi, anak kedua kami, di Malang. Kami bertengkar tentang sesuatu yang remeh sehingga Yufi tidak tahan dan nyletuk,”Gitu aja kok diributin sih…?!” dan kami pun akhirnya berhenti bertengkar dan tertawa ngakak bertiga. Setelah kami pikir-pikir kami baru sadar. “Lha iya ya….! Lha wong gitu aja kok dijadikan masalah dan dipertengkarkan…!” Kalau Yufi tidak mengingatkan mungkin pertengkaran kami masih akan berlanjut ……..untuk hal yang begitu remeh!

Tadi malam saya mencium hidung istri saya dan berkata,”Yang…! Maafkan aku kalau sering marah padamu untuk hal-hal yang tidak perlu. Saya pikir-pikir untuk apa ya saya harus marah untuk hal-hal remeh. Besok ultah pernikahan kita yang keduapuluh dan saya mau sampaikan bahwa saya samasekali tidak punya keluhan apa pun terhadapmu.You have done your part as a wife so beautifully and so perfectly that I have no complaints or regrets whatsoever. You’re just perfect. Saya saja yang lebay selama ini.  Hadiah apa yang kamu harapkan dari saya besok…?!“

Istri saya hanya tertawa mendengar itu. She knows very well that I love her so much. “Segenggam berlian…!” jawabnya dan giliran saya yang tertawa. “Berlian cap Maspion tah…?!” Istri saya bukan termasuk wanita yang suka mengumpulkan perhiasan dan bahkan tidak pernah membeli perhiasan untuk dirinya. Kalau pun ia membeli asesori maka itu bukanlah asesori yang mahal. Membeli berlian tidak masuk dalam daftar keinginannya.

Baca juga:  SIDAK BB

Dari situ saya kemudian mulai bicara serius soal hidup damai. Saya sampaikan bahwa hidup damai haruslah dimulai dengan diri sendiri. Kita harus pertamakali berdamai dengan diri kita sendiri. Kita harus selalu berupaya untuk merelakan apa-apa yang tidak bisa kita capai dan selalu bersyukur pada apa yang kita miliki dan peroleh. Mungkin kita punya banyak keinginan baik besar mau pun kecil dan sering merasa kecewa karena tidak mampu mencapai keinginan tersebut. Dalam hidup ini kita mungkin pernah merasa sakit, kecewa, dan menderita oleh satu dan lain hal. Kita bisa sakit, kecewa, dan bahkan mendendam pada orang-orang tertentu yang melintas dalam hidup kita. Itu adalah beban yang mengganjal hidup kita dan kita harus melepaskan beban itu. Kita tidak akan pernah merasakan damai jika masih ada rasa benci, marah, kecewa, tersakiti, tertekan, cemas, dll yang kita simpan dalam hati kita. Kita harus selalu berupaya untuk berdamai dengan diri kita dengan membuang semua rasa negatif tersebut. Tentu saja ini sulit tapi jika kita terus menerus melakukannya maka kita akan mendapatkan kemajuan dalam olah jiwa tersebut. Sholat lima waktu sebetulnya adalah ‘praktek olah jiwa’ untuk mencapai kedamaian tersebut.

Saya tahu bahwa istri saya sudah mencapai tahapan damai dengan dirinya. She already feels fulfilled. Ia telah merasa puas dan bahagia dengan hidupnya. Ia selalu menyatakan bahwa hidupnya berbahagia dan kadang heran mengapa Tuhan begitu baik terhadapnya sehingga mengaruniainya kehidupan yang begitu membahagiakan. Syukurlah kalau begitu…

Dari situ kami harus melangkah keluar. Kami harus mulai berdamai dengan anak-anak. Kami harus merasa rela dengan APAPUN situasi dan kondisi anak-anak. Tentu saja kami punya banyak tuntutan dan harapan pada anak-anak dan kadang-kadang tuntutan dan harapan yang tidak tercapai membuat kami merasa kecewa pada mereka. Tapi jika kita telah merelakan semuanya pada Tuhan Sang Pemilik Segala maka kita akan merasa bahwa kekecewaan tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Setelah berdamai dengan anak-anak maka kami harus berdamai dengan saudara-saudara dan sanak famili. Tak boleh ada konflik atau perasaan kecewa yang terpendam atau pun terbuka. Kami harus berupaya agar tak ada satu pun saudara atau sanak famili yang merasa tersakiti atau dikecewakan oleh kami. Jika ada saudara yang merasa demikian maka kami harus berupaya untuk merangkul, menyayangi, dan menyembuhkan perasaan tersebut. Itu adalah laiknya utang yang harus dibayar.

Baca juga:  Bangkok Tour (Part 2) : Shop till you drop

Mengapa saya harus menyampaikan ini pada istri saya? Karena saya tahu bahwa selama perjalanan hidup tentu saya telah banyak melukai dan menyakiti perasaan saudara-saudara dan sanak famili saya. Dengan sikap frontal dan ketajaman kata-kata saya tentu telah banyak orang yang telah tersakiti oleh sikap tersebut. Saya sendiri menganggap diri saya sebagai  ‘a fighter’ yang selalu memperjuangkan sesuatu. Dan itu tentu punya konsekuensi-konsekuensi psikologis dengan banyak orang. But even a warrior needs some kind of peace. Otherwise he will never see nirvana at the end of his fight.

Tentu saja istri saya yang lembut itu juga punya masalah dengan satu atau dua keluarga, sanak famili, teman, atau karyawannya. Siapa saja yang telah menentukan sikap tentu akan memiliki kemungkinan bermasalah dengan orang yang tidak suka dengan sikap tersebut. Itu konsekuensi hidup yang harus kita terima. Dalam hidup ini kita harus mengambil sikap dan berupaya untuk mempertahankan sikap tersebut sebagai prinsip hidup yang harus dipertahankan meski berhadapan dengan orang-orang terdekat sekali pun. Tapi itu tidak berarti bahwa kita tidak bisa berdamai atau hidup damai dengan orang-orang tersebut. Kadang-kadang masalah yang kita hadapi hanyalah masalah komunikasi. Komunikasi memang sebuah pengetahuan dan ketrampilan khusus yang harus kita kembangkan terus menerus di abad 21 ini untuk mengurangi konflik yang tidak perlu. Seringkali konflik yang kita alami adalah karena masalah komunikasi semata.

Jadi kami pun berkomitmen untuk memperbaiki hubungan kami dengan saudara-saudara atau sanak famili yang mungkin punya ganjelan dengan kami. Kami harus dapat menjangkau dan meraih hati mereka. Kami harus dapat menyembuhkan yang sakit dan mendinginkan yang panas. Kami harus memperbaiki yang rusak dan menegakkan yang jatuh. Kami harus memuaskan yang kecewa dan melapangkan yang sempit. Kami harus mencapai situasi damai dengan siapa saja.

Pada usia pernikahan kami yang kedua puluh pada hari ini tekad inilah yang kami lakukan sebagai sebuah Resolusi Pernikahan ke Dua Puluh. Mohon doa restunya semoga kami bisa melaksanakan ini semua dengan sebaik-baiknya.

Surabaya, 28 Nopember 2012

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *