Selasa, 25 Februari 2020
Just another WordPress site
TERPURUKNYA PERINGKAT LITERASI KITA. SO WHAT…?!

Tiba-tiba semua orang berbicara tentang keterpurukan bangsa kita dalam peringkat literasi dunia. Seolah ini adalah sebuah berita baru. Tidak. Ini sama sekali bukan berita baru. Ini berita yang sudah sangat basi. Kita semua sudah lama tahu betapa rendahnya budaya literasi bangsa kita karena kita rutin ikut berbagai tes international yang menguji kemampuan membaca anak-anak kita,seperti PISA dan PIRLS. Tes PISA yang rutin kita ikuti sejak tahun 2000 jelas sekali menunjukkan betapa konsistennya keterpurukan bangsa kita tersebut. Tapi kita adem ayem saja kok. Tak ada upaya yang benar-benar massif dan terstruktur untuk mengatasinya.

Bahkan sebelum itu Taufik Ismail sudah mengingatkan kita dengan hasil penelitiannya yang kita kenal dengan “Tragedi Nol Buku” pada tahun 1997. . 

Ia meneliti berapa banyak buku dan karyasastra yang harus dibaca oleh anak-anak di 13 negara dan ternyata semua negara mewajibkan siswanya untuk membaca buku sastra KECUALI Indonesia. Tidak ada penjelasan lain mengapa hal ini terjadi selain bahwa ini berarti bangsa Indonesia tidak paham betapa pentingnya KEWAJIBAN MEMBACA tersebut. Bayangkan! Semua negara paham benar betapa pentingnya kemampuan dan ketrampilan membaca bagi bangsa mereka KECUALI Indonesia…!

Menurut beliau keadaan ‘tidak membaca buku’ ini sudah berjalan hampir 60 tahun dan belum juga bisa disembuhkan, alias sudah kronis. Hal ini  telah disampaikan sejak tahun 1997 jadi sudah hampir 20 tahun berlalu tapi tak seorang pun mentri pendidikan yang mengambil kebijakan untuk menghentikan “Tragedi Nol Buku” ini. Kita hanya asyik dan bernafsu menggunjingkannya tapi setelah itu tidak mengambil tindakan apa pun. Ini memang mengherankan karena hampir semua mentri pendidikan kita adalah lulusan luar negeri yang tentunya melihat sendiri betapa getolnya bangsa lain dalam membangun budaya literasi anak-anak mereka. Mengapa itu tidak berimbas pada kebijakan yang mereka ambil ketika mereka menjabat sebagai mentri pendidikan

Yang lebih mengherankan sebenarnya adalah sikap para ulama Islam yang juga seolah tidak paham betapa pentingnya membaca bagi umat Islam dan tidak pernah berupaya untuk menumbuhkan budaya membaca umat. Padahal jelas sekali bahwa MEMBACA adalah wahyu dan perintah Tuhan yang pertama kali disampaikan pada
umat Islam. Begitu pentingnya peran dan posisi membaca ini sehingga ia diturunkan pertama kali pada Nabi Muhammad. Tapi mengapa para ulama kita tida kpernah berupaya sungguh-sungguh untuk membangun budaya membaca umat?  

Dalam tugas saya sebagai ‘Da’i Literasi’ saya sering berkeliling ke berbagai pondok pesantren dan sekolah-sekolah Islam dan melihat sendiri  betapa menyedihkannya budaya membaca anak-anak yang menuntut ilmu di sana. Anak-anak yang bersekolah disekolah berbasis agama Islam lebih sedikit membaca ketimbang rekan-rekannya yang bersekolah di sekolah umum. Ini jelas menunjukkan bahwa bahkan pondok pesantren tidak memahami betapa pentingnya budaya membaca bagi anak-anak mereka. Sekarang ini trend pendidikan Islam justru diarahkan pada budaya menghafal dan mereka berbondong-bondong menjadikan anak-anak mereka sebagai hafidz dan mereka meninggalkan budaya membaca. Beberapa perguruan tinggi justru anehnya memberi penghargaan akademik yang tinggi pada kegiatan menghafal ayat Al-Qur’an ini dengan memberi privilege bagi para penghafal Al-Qur’an untuk masuk ke pertinya.

Baca juga:  TANTANGAN MEMBACA SURABAYA 2015

Ini membuat para pondok pesantren akhirnya semakin getol mendorong santrinya untuk sekedar menghafal Al-Qur’ankarena adanya iming-iming tersebut. Ini memberikan pesan yang kuat dan jelas bahwa bukan pemahaman akan isi Al-Qur’an yang penting tapi cukup dengan menghafalnya. Apakah kalau anak-anak kita mengaji maka mereka sudah termasuk membaca? Tentu saja tidak. Mengaji dan membaca adalah dua hal yang berbeda. Melafalkan huruf, kata, atau pun kalimat bukanlah membaca. Membaca adalah aktifitas yang melibatkan otak. Membaca adalah aktifitas utk mendapatkan makna.

Membaca tanpa makna bukanlah membaca. Membaca ayat-ayat Al-Qur’an tanpa memahami arti atau maknanya BELUM termasuk dalam kategori MEMBACA. Itu baru masuk dalam kategori melafalkan (dan atau melagukan) Al-Qur’an.  

Saya rasa perlu ada sebuah pertemuan para ulama Indonesia untuk membahas kembali makna ‘Iqra’ dan mencari berbagai daya dan upaya untukkembali menumbuhkan budaya literasi membaca dan menulis pada umat Islam. Umat Islam pernah mengalami kejayaan dan perlu mengulangi kembali kejayaan tersebut. Zaman Kejayaan Islam (sek. 750 M – sek. 1258 M) adalah masa ketika para ilmuwan Islam menghasilkan banyak kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri. Kejayaan Islam ini jelas telah menyumbangkan tonggak peradaban yang tinggi pada dunia.

Dulu Islam jaya karena mengembangkan ilmu pengetahuan ketika Eropah masih jahiliyah. Saat ini keadaan terbalik. Umat non-muslimlah yang lebih ‘beriqra’dan mengembangkan ilmu pengetahuan sedangkan umat Islam berbondong-bondong mendorong anak mereka agar sekedar jadi hafidz penghafal Al-Qur’an. Padahal perintah membaca dan berpikir begitu kuat dalam Al-Qur’an sedangkan tak satu pun ayat Al-Qur’an yang menyuruh umat Islam agar menjadi hafidz.

Ketika Central Connecticut State University mengeluarkan hasil penelitiannya tentang budaya literasi bangsa-bangsa pada awal Maret 2016 ternyata Indonesia menempati posisi 60 dari61 negara. Indonesia hanya satu tingkat lebih baik dari Republik Botswana,sebuah negara di Afrika bagian selatan yang bahkan namanya saja sangat jarangkita dengar. Dan kita pun kembali heboh seolah ini adalah hal baru. Rendahnya budaya baca bangsa kita ini adalah berita lama dan sudah sangat basi dan ketika diumumkan lagi oleh lembaga yang berbeda maka itu sebenarnya cuma pengulangan dan penegasan saja. Ini memang tak enak didengar, seperti kata Mendikbud Anies Baswedan, di depan DPR minggu lalu.

Anies menilai perlu ada dorongan minat baca dan daya baca dikalangan masyarakat. Menurutnya meningkatkan dayabeli buku atau menurunkan harga buku, tidak otomatis menaikan minat dan daya baca. Tetapi dibutuhkan pendekatan berbeda untuk menaikkan minat dan daya baca,dan cara yang paling kuat adalah melalui pembiasaan dan pembudayaan. Sebetulnya perhatian Kemdikbud di bawah Anies Baswedan dalam soal budaya literasi ini sudah  jauh lebih baik ketimbang era-era sebelumnya. Anies Baswedan sudah bertekad untuk mulai menumbuhkan budaya membaca melalui GerakanLiterasi Sekolah (GLS) dengan program utamanya yaitu kegiatan membaca buku non-pelajaran selama 15 menit setiap hari. Ia telah mengeluarkan Permendikbud 23/2015 dan juga telah membentuk Satgas Gerakan Literasi Sekolah untuk mendorong kebiasaan membaca ini.

Baca juga:  WISATA SAHASATA (SATU HARI SATU KOTA) : KEBUMEN YANG EKSOTIK

Ini adalah upaya untuk menjadikan membaca sebagai program nasional.  

Bahkan belakangan saya dengar beliau menaikkan status gerakan literasinya menjadi Gerakan Literasi Nasional agar gaungnya lebih luas.Tapi menurut saya apa yang dilakukan ini masih jauh dari cukup untuk mendongkrak minat baca bangsa kita. Mendongkrak minat baca bangsa harus dilakukan dengan berbagai cara secara serentak dan dengan cara yang massif dan terstruktur. Saya melihat bahwa apa yang dilakukan oleh Kemendikbud belumlah optimal. Belum ada upaya sungguh-sungguh untuk mendorong semua sekolah untuk memiliki perpustakaan yang memadai bagi siswanya. Padahal jelas sekali bahwa kita tidak mungkin menghasilkan siswa yang gemar membaca jika di sekolah mereka tidak ada buku dan tidak ada program wajib baca.

Kita tahu bahwa kunci minat baca anak terletak pada ketersediaan materi bacaan yang beragam dan berlimpah untuk memenuhi minat dan kemampuan baca anak yang beragam dan program literasi yang tepat. Sampai saat ini belum ada pembahasan khusus tentang bagaimana agar semua sekolah memiliki perpustakaan dengan koleksi buku yang memadai baik dalam ragammau pun jumlah koleksinya.

Sampai saat ini sebagian besar sekolah di Indonesia beroperasi tanpa memiliki perpustakaan. Bagaimana mungkin kita mengharapkan siswa yang cerdas tanpa membaca buku…?! Jelas sekali bahwa kita tidak mungkin menghasilkan siswa yang gemar membaca jika di sekolah mereka tidak ada buku dan tidak ada program wajib baca.  

Lagi pula upaya penumbuhan budaya literasi bangsa tidak bisa hanya diserahkan kepada Kemendikbud semata. Kuatirnya kita akan menyerahkan urusan budaya literasi ini hanya kepada Kemendikbud semata dan mengira itusudah cukup. Tidak. Semua elemen bangsa harus bergerak untuk membangun budayaliterasi bangsa yang sudah 60 tahun terpuruk ini. Bukan hanya siswa yang harus membaca. Guru dan orang tua juga harus menjadi sosok pertama dan utama dalam upaya menumbuhan budaya baca ini. Lantas program apa yang perlu kita susun agar para guru dan orang tua mau melakukan kegiatan pembiasaan membaca setiap hari?Sungguh janggal jika guru dan orang tua menyuruh siswa atau anaknya membaca tapi dirinya sendiri tidak melakukannya.

Kita perlu belajar dari bangsa-bangsa lain, baik negara-negara maju maupun negara yang juga sama terpuruknya dalam budaya literasi seperti  Venezuela. Venezuela adalah Negara dengan mutu pendidikan yang sama rendahnya dengan Indonesia tapi bertekad untuk meningkatkan mutu pendidikannya melalui program membaca. Venezuela sejak jamannya Hugo Chaves sangat memperhatikan dunia pendidikan. Bukan hanya mendorong pendidikan gratis dan berkualitas untuk memastikan seluruh rakyat Venezuelabisa mengakses pendidikan. Tetapi juga memassalkan pengetahuan melalui produksi massal buku-buku gratis. Jutaan buku-buku gratis dicetak untuk disebarkan kepada seluruh anak negeri.

Baca juga:  Gerakan Literasi Sekolah di Subang

Termasuk buku Don Quixote karya Miguel de Cervantes, Les Miserableskarya Victor Hugo, dan DasCapital karya Marx dan Engels. Setiap tahunnya, pemerintah Venezuela mencetak 30 juta buku dwi-bahasa untuk dibagikan gratis bagi pelajar sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Pemerintah sendiri menargetkan 100juta buku meski pemerintahannya dililit krisis keuangan.

Pertanyaannya: Kapan bangsa Indonesia akan membagikan buku bacaan gratis bagi sekitar 50 juta siswanya? Sampai saat ini tak pernah ada ide, apalagi pembahasan, tentang pembagian buku-buku bacaan bermutu secara gratis bagi siswa. Yang ada justru upaya untuk membangun perpustakaan megah dan mahal bagi anggota DPR dengan dana sebesar 570 milyar rupiah.

Mengapa tidak terpikir oleh para anggota DPR tersebut nasib 50 juta siswa Indonesia yang belajar di sekolah tanpa membaca buku karena tidak adanya buku (dan perpustakaan) di sekolah mereka? Buku adalah gudang pengetahuan utk membangun peradaban. Jadi membaca buku adalah kunci utk membuka gerbang pengetahuan dalam membangun peradaban.

Memiliki kemampuan literasi adalah instrumen bagi warga utk berproses menjadi sebuah bangsa yg berpengetahuan dan berperadaban.

Jadi jika ingin mengetahui seberapa besar komitmen sebuah negara atau pemerintah dalam membangun kejayaan bangsanya melalui pengetahuan dan peradaban maka lihatlah seberapa peduli pemerintah, sistem pendidikan, sekolah, dan orangtua menyediakan BUKU BACAAN bagi anak-anak bangsanya. Jika mau belajar dari negara lain, lihatlah Amerika.

Sebuah lembaga bernama Reading Is Fundamental (RIF) membagikan 15 juta buku gratis SETIAP TAHUN pada anak-anak dari keluarga miskin. Ini adalah sebuah gerakan yang radikal dan revolusioner….! Sejak tahun 1966 mereka telah membagikan 412 juta buku bagi 40 juta siswa. Jika ingin anak-anak miskin membaca ya beri mereka buku-buku gratis untuk mereka baca. dan

Bagaimana dengan negara kita? Tak sepotong buku pun kita berikan pada anak-anak miskin agar terbentuk budaya bacanya. Jangankan membagikan buku bahkan mewajibkan membaca buku pun tidak dilakukan di sekolah-sekolah kita. Kita mengharapkan anak-anak yang cerdas dari hasil pendidikan kita tapi tak pernah memberi anak-anak kita buku. Bukankah itu sebuah ‘wishful thinking’ yang keterlaluan?

Hari ini adalah Hari Buku Sedunia (World Book Day). Mari kita merayakannya dengan mulai membiasakan membaca setiap hari, mengajak anak-anak kita untuk membaca setiap hari, membelikan buku-buku bermutu bukan hanya bagi anak-anak kita tapi bagi anak-anak lain disekolah. Saya ingin mengajak semua orang untuk mulai menyumbang buku bagi almamater masing-masing dengan program Sedekah Buku untuk Almamater.

Mari kita juga mulai membeli dan menyumbangkan buku bacaan bermutu bagi sekolah anak-anak kita. Ada ribuan sekolah di seluruh Indonesia dengan jutaan siswa yg menunggu uluran buku-buku dari kita.

Surabaya,23 April 2016  
Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *