Jumat, 08 Agustus 2020
Just another WordPress site
GAIRAH LITERASI DI BULAN DESEMBER

Dua hari berturut-turut saya mengikuti kegiatan literasi. Pertama di PPPG Unesa pada hari Sabtu 13 Desember 2014 dan besoknya, Minggu, 14 Desember 2014, di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogya. Berikut ini laporan saya.

 

GERAKAN LITERASI PENDIDIKAN DI UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA (UNESA)

Acara di Unesa dihelat oleh Direktur PPPG Unesa Prof. Dr. Luthfiyah Nurlaela, M.Pd dengan format Talk Show Literasi bertema “Gerakan Literasi Pendidikan menuju Indonesia Maju” di gedung Wiyata Mandala Unesa. Acara heboh ini menghadirkan Prof. Budi Darma, Sang Empu Sastra; Arini Pakistyaningsih SH,MM, Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Kota Surabaya;  dan Nur Wahid, Pimpinan Redaksi Jawa Pos. Acara ini dihadiri dan dibuka langsung oleh rektor Prof. Dr. Warsono MS, dengan ditemani oleh PR1 Dr. Yuni Sri Rahayu M.Si, dan PR4 Prof. Dr. Djodjok Soepardjo M.Litt. Selain mereka hadir juga teman-teman seperti Sirikit Syah, Eko Prasetyo, Lies Amin, Dukut Imam Widodo, Suhartoko, M. Khoiri, dll. Ini seperti acara reuni saja laiknya.

Pada sambutan acara ini Prof Warsono langsung menyatakan kessediaannya untuk menjadikan Unesa sebagai Pusat Pengembangan Literasi Nasionalyang nantinya akan ditangani secara resmi dan academically. Bu Arini bahkan sudah berbicara langsung dengan Prof. Warsono dan Prof Warsono sudah menyetujui utk menjadikan Unesa sebagai pendukung utama program Surabaya Kota Literasi. Ini jelas dukungan nyata pada program Surabaya Kota Literasi. Alhamdulillah…! Mak plong rasanya hati saya…!  Inilah yang saya tunggu-tunggu sejak lama, yaitu turun tangannya sebuah perguruan tinggi untuk benar-benar langsung menangani program pengembangan literasi di sekolah dan di masyarakat. Ini momen turunnya menara gading ke dunia nyata. 🙂

Tanpa menyia-nyiakan waktu saya segera  ngobrol dengan Mas Djodjok yang sekarang jadi PR 4 (beliau teman akrab sejak jaman saya masih mahasiswa) dan Mas Slamet Setiawan, Kajur Bahasa Inggris.
Ada rencana besar yang kami diskusikan. Kami ingin agar Unesa nanti yg mempelopori Gerakan Literasi Sekolah dan mengadakan MOU dengan Pemkot Surabaya. Jadi kami berharap mahasiswa FBS yang akan menjadi Mahasiswa Penggerak Literasi di Surabaya. Kami akan berupaya melatih mahasiswa, memagangkan mereka ke sekolah-sekolah di Surabaya yang sudah ditangani oleh Baperpusip, dan kemudian menerjunkannya ke sekolah-sekolah yang belum mendapatkan tenaga bantu perpustakaan di Surabaya sebagai penggerak literasi. Dengan demikian diharapkan semua sekolah di Surabaya akan memiliki seorang petugas pembantu perpustakaan yang memiliki tugas khusus untuk menggerakkan literasi membaca dan menulsi di sekolah. Ini program yang sudah kami diskusikan dengan Bu Arini Pakistyaningsih jauh sebelumnya.
Kebetulan Mas Djodjok ini punya hubungan baik dengan banyak pejabat di Jepang. Maklumlah karena beliau menyelesaikan program Master dan Doktornya di Nagoya University.  Beliau adalah Professor di bidang Japanese Language and Literature. http://www.luthfiyah.com/2013/06/gairah-hidup-prof-djodjok-soepardjo.html  Beliau ada rencana mau ke Jepang pada Januari nanti. Beliau mau mencoba mengajak pemerintah Jepang utk membantu Surabaya dalam mengembangkan program literasinya. Apa bentuknya? Yaitu dengan mengenalkan karya-karya sastra Jepang atau cerita anak-anak klasik Jepang utk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan kemudian dicetak utk dibagikan gratis pada sekolah-sekolah di Indonesia. Asyik kan…?! :-).  Pemerintah Jepang bisa mengenalkan budaya dan kekayaan khazanah literasi mereka dan siswa kita mendapatkan buku-buku bacaan bermutu secara gratis. Mari kita mendoakan agar Pak Purek IV Unesa ini mampu menggerakkan hati pejabat pemerintahan Jepang utk membantu perkembangan literasi di kota Surabaya.
Kalau Pemerintah Jepang bersedia maka kita bisa melangkah ke kedutaan negara-negara lain… Isn’t it nice…?!

Baca juga:  Ketiban Sampur Friendship Force Ribeirao Preto Brazil

 

SEMINAR NASIONAL DI UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

Sepulang dari Unesa saya langsung ke bandara untuk naik pesawat ke Jogya. Saya akan menjadi pembicara di acara Seminar Nasional di Universitas Ahmad Dahlan besoknya.

Kegiatan di Jogya bertajuk Seminar Nasional : Optimalisasi Pendidikan dalam Membangun Karakter Anak untuk Menyongsong Generasi Emas Indonesia. Ini kerja hebat dari 2 prodi di UAD Jogya yaitu Prodi Bimbingan Konseling (BK) dan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Saya sudah pernah tampil di UAD beberapa waktu yang lalu ketika diundang oleh Mbak Novi Chandra dari PIB (Perkumpulan Indonesia Belajar).http://www.indonesia-belajar.org/  Waktu itu saya berbicara pada para guru yang diundang khusus untuk acara tersebut. Jumlah pesertanya waktu itu hanya sekitar 50-an orang saja. Jadi ketika saya diundang lagi oleh Mbak Tanti (Tri Sutanti), salah seorang dosen BK di UAD, maka saya pikir saya akan berbicara di depan para guru lagi. Biasanya kalau berbicara di depan guru maksimal pesertanya adalah sekitar 200-an orang (apalagi kalau khusus untuk guru Bimbingan Konseling, pikir saya).

Ketika saya sampaikan bahwa saya akan cari transportasi paling murah untuk ke Jogya (maksud saya naik kereta Sancaka) oleh Mbak Tanti dipesan agar tidak perlu cari yang murah. Yang biasa saja (gak pakai telor). Toh panitianya akan mengganti biaya transportasi saya. Wow…! Demikian kata hati saya. Kali ini saya tidak perlu mengeluarkan biaya sendiri.  Bicara tentang literasi saja sudah sebuah kesenangan. Apalagi kalau ini dibiayai. Ini seperti orang yang suka mancing ke laut dengan mengeluarkan biaya sendiri lantas ditawari mancing ke laut Arafuru dibiayai pula!

Begitu saya mendarat di bandara Adi Sucipto (yang kecil dan penuh sesak. Thanks God bandara ini akan segera digantikan oleh bandara yang jauh lebih besar di daerah Kulon Progo pada tahun 2016 nanti) kami sudah langsung disambut oleh senyum manis Mbak Tanti dan Mas Irfan. Kami…?! Ya. Istri saya juga datang ke Jogya tapi dari Jakarta. Istri saya bahkan sudah mendarat lebih dahulu, dan menunggu saya sekitar 1 jam. Ia baru saja ‘melaksanakan tugas sebagai wong tuwo’, yaitu menunggui adiknya yang melahirkan anak ke tiganya di Jakarta.

Baca juga:  WISATA SAHASATA: TEMANGGUNG YANG BERSIH DAN DAMAI

Ketika di mobil jemputan saya bertanya siapa kira-kira audiens saya dan apakah ada pembicara lain selain saya.  Ternyata ada dua pembicara lain selain saya dan kami akan dipanel. Tentu saja saya lebih suka jadi pembicara tunggal karena topiknya akan sangat fokus pada materi saya. Selain saya nantinya juga akan hadir Dr. Ipah Saripah MPd, Dosen Prodi BK UPI Bandung, dan Prof. Dr. H. Sutrisno M.Ag, Ketua Majlis DIKTI PP Muhammadiyah. Semula saya kira Mbak Ifa Hanifah Misbach dari Psikologi UPI tapi ternyata setelah bertemu beliau adalah dosen lain (meski sama-sama dari UPI). Ketika saya tanya siapa audiens kami dijawab oleh Mbak Tanti bahwa audiensnya adalah para mahasiswa UAD dan mahasiswa undangan lain. Ooo.. jadi bukan guru toh!Oke…no problem. I like speaking to students. Ketika saya tanya berapa banyak jumlahnya lalu dijawab sekitar 1800 orang. Haah…! Nggak salah dengar nih saya? 1800 orang…?! Ternyata Seminar Nasional ini adalah gawean dua prodi dan pesetanya adalah mahasiswa dari dua prodi tersebut (bayangkan banyaknya mahasiswanya UAD ini. Sungguh di luar dugaan saya). Saya mulai cemas. It must be the biggest audience I have so far.  Untuk peserta sebesar itu maka kejernihan dan kekuatan sistem suara panggung harus benar-benar bagus. Kalau cuma kencang tapi suaranya memantul dan menggema maka akan mengganggu penampilan pembicara.

Peserta terbesar dari presentasi saya sebelum ini adalah pada waktu berbicara pada beberapa acara wisuda. Tapi berbicara pada waktu wisuda itu berbeda dengan presentasi literasi saya. Presentasi pada wisuda lebih bersifatr satu arah. You speak and they listen. Pada presentasi literasi saya membutuhkan interaksi yang konstan dengan peserta karena banyak hal yang benar-benar ingin saya tanamkan pada mereka. It’s a two-way communication. Lagipula materi saya butuh minimal 1 jam belum termasuk tanya jawab dan diskusi. Tapi que sera sera… Saya akan tampil semaksimal mungkin.

Baca juga:  JALAN-JALAN KE JEPANG (BAGIAN 1) : NIHON E YOKOSO

Karena besarnya jumlah audiens maka pelaksanaan Semnas ini tidak bisa dilakukan di kampus UAD (mereka punya 4 kampus). Semnas ini dilaksanakan di JEC (Jogyakarta Expo Center) yang sangat besar. Dengan jumlah audiens sebanyak 1800 lebih pun ruangan hal utama masih nampak longgar. Alhamdulillah ketika kami tampil para mahasiswa ini mendengarkan kami dengan tertib dan tenang meski sistem suaranya memantul dan menggema (it still surprises me.Pada banyak acara biasanya banyak peserta di barisan belakang yang ngomong sendiri dalam acara seminar yang serius). Mereka benar-benar memperhatikan setiap dari kami dan pertanyaan datang dari semua sudut sehingga sulit memilih siapa yang perlu diberi kesempatan. Respon pada materi saya juga cukup banyak. Mereka cukup terkejut dengan info “Tragedi Nol Buku’ yang sudah bertahun-tahun berlangsung tanpa adanya upaya serius untuk mengubahnya. Seperti di mana-mana mereka juga menjawab ‘Tidak’ ketika saya tanya apakah Jibril membawa teks ketika meminta Nabi Muhammad membaca ketika di Goa Hira’.

In general acara ini sangat sukses. Saya sungguh kagum dengan UAD yang bisa mengembangkan kampusnya dengan begitu pesat dan punya dosen-dosen muda yang begitu enerjik seperti Mbak Tanti dan Mas Irfan.  Saya juga gembira bisa berkenalan dengan Dr. Muchlas M.T., Wakil Rektor I UAD, danDr. Abdul Fadlil, M.T. Wakil Rektor 3, yang begitu enerjik dan rendah hati. Dalam hati saya berencana untuk mengajak teman-teman dari STIKOM Bali untuk berkunjung ke kampus ini dan belajar tentang pengembangan kampus suatu saat nanti.

 

Kemana lagi saya setelah ini?

Saya sudah ditunggu oleh Pemprov. Aceh untuk berpresentasi pada para pengurus organisasi guru di Hotel Point Resort Kota Sabang pada tanggal 18 Desember ini.  Tapi besok pagi saya sudah akan terbang.  Meskipun acara ini bertajuk “Diklat Peningkatan Kemampuan dan Kapasitas Organisasi Guru dan Tatakelola Organisasi yang Profesional” tapi saya akan tetap membawakan topik tentang pentingnya literasi membaca dan menulis.  Pokoke literasi. Gelem gak gelem yo literasi….

 

Surabaya, 15 Desember 2014

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *