Agustus 11, 2022

0 thoughts on “MALAS ADALAH MUSUH UTAMA SAYA

  1. aslmkm, salam kenal pak Dharma..
    saya ingin berbagi cerita masa kecil..
    kala SD, qoddarullah, sayalah pendongkrak prestasi dan pamor sekolah masa itu, tetapi itu berawal dari beberapa guru2 yg selalu menekankan latihan dan latihan ketika persiapan EBTANAS..dan kami, saya beserta teman2 meresponnya dengan baca, baca dan latihan..dan terus latihan soal-soal ebtanas..
    hasilnya adalah NEM 41,49 saya dapat (EBTANAS SDN th 1993 JATENG)sebelumnya sekolah kami hanya sampai pada NEM 30 atau 31, saat itu total mata pelajaran yg diujikan adalah 5, jadi rata2 nilai adalah 8,2. Sayangnya, hingga sekarang rata 8 tidak dapat di raih kembali.

    Setuju sekali bahwa malas latihan adalah musuh utama..

    TV, ah ya.. TV adalah monster mengerikan jika tidak dilingkari berangus, perlu edukasi yg tepat tentang TV kepada masyarakat, bukan malah dijadikan media pilkada atau pilpress 😀

    Ngelamar istri sendirian ya pak? ah, kita sama. 8 tahun yg lalu saya mendatangi calon mertua saya seorang diri dng modal keyakinan dan kejujuran, kala itu usia saya belum genap 20 tahun..

    salam kenal pak..
    saya perlu banyak belajar dari anda, insyallah saya akan sering berkunjung ke sini..

  2. Sekelompok guru dari sekolah RSBI di luar jawa berkunjung ke sebuah sekolah internasional di Jakarta. Dalam kunjungan yang kira-kira 2 jam, mereka diberi pengarahan tentang sekolah tsb yang berafiliasi ke negara lain. PResentasinya lebih mirip video klip iklan sekolah bagus. Tidak banyak pertanyaan yang cukup bernas dari para tamu, misalnya berkaitan dengan kurikulum dan metode pembelajaran yang dapat ditiru. Umumnya pertanyaan dari tamu adalah tentang financial reward sebesar apa yang diberikan kepada guru dan darimana pendanaanya. UUD, nggak jauh-jauh dari seputar duit. Bahkan ditengah-tengah presentasi kepala sekolah tuan rumah, salah satu tamu ada yang tertidur, persis seperti kelakuan anggota DPR. Kunjungan singkat ini lebihbanyak dihabiskan dengan berfoto-ria di sekolah internasional yang lebih mirip mal ini. Studi banding katanya. Tapi saya tidak melihat satupun dari guru-guru yang berkunjung ke sekolah itu mencatat. Mereka tidak membawa pulpen atau agenda atau buku catatan lainnya.

    Satu hal yan mungkin jadi sebuah pelajaran bagi mereka adalah ketika salah satu guru tamu bertanya apakah guru-guru di sekolah internasional itu mendapatkan insentif tambahan untuk bekerja hingga sabtu, bahkan minggu, melakukan tugas-tugas di luar mengajar, dan siap dihubungi 7 hari seminggu 24 jam sehari kalau berkaitan dengan kepentingan murid. Jawaban kepala sekolah internasional ini cukup mengejutkan para tamu, “Tidak ada insentif tambahan untuk itu semua. Karena Allah swt yang akan memberikan imbalannya. Bagi kami yang bekerja di sini, mengajar adalah ibadah. Betul kami memang digaji, tapi selebihnya adalah ibadah.”

    Saya sebagai tamu yang juga hadir di situ, merasa malu karena di sekolah kami setiap tindakan mestilah ada uangnya. Bahkan untuk menghadiri rapat-rapat resmi yang diadakan di sekolah pada jam sekolah, ada bayarannya.

  3. Saya suangat setuju dngan bahaya TV Pak..!! Menurut saya ndak banyak manfaatnya untuk anak2 kecuali acara catatan si unyil dan si bolang.
    Anak2 kalo sdh asyik nonton TV, kita jadi mahluk asing bagi mereka. Susah berinteraksi. Kita juga jadi susah memahami maunya anak. Tiba2 mereka sudah SD, tiba2 ndak terasa sudah SMP, lalu SMA.
    Kita sudah kadung menggantungkan cita2 yang tinggi pada mereka, berharap hidup mereka ‘lurus-lurus’ saja ehh…ternyata ada banyak hal yang kita tidak tahu apa keinginan anak.
    Jika keinginan anak tidak sesuai standart kita, kita akan menentangnya habis2an. Misalnya nih kita adalah ilmuwan, sementara anak laki2 kita ternyata menyukai dunia masak memasak, waduh…!!apa kata dunia ??? TIDAK NAK kau harus sekolah di INI karena bagus,bergengsi,..bla…bla.. Sementara si anak mengeluh “OH Tuhan aku sungguh membenci pelajaran matematika….” Lalu bisa ditebak anak jadi ogah2an sekolah, mencari teman penghibur hati and you can guest, what next kan?
    TV..memang awalnya dari TV, semua jadi terlena.
    Jadi mari kita salahkan TV he…he…

    mari kita beranikan diri untuk memberikan tanggungjawab pada anak untuk pilihan hidupnya. Yang penting SON, DO YOUR BEST !!!!

  4. Assalamualaikum..
    wah tadinya saya hanya brosing doa anak sholeh, eh akhirnya kebuka suatu bacaan tentang malas adalah musuh utama saya..bagus banget. itu membuat saya intropeksi diri. terimakasih, walaupun saya tidak izin untuk membacanya, terimakasih kepada pembuta tulisan ini.

    salam,
    tedy_apr.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.