Ada hal yang mengerikan terjadi di Inggris. Terjadi penangkapan ‘teroris’ besar-besaran dalam setahun ini. Anehnya, banyak di antara para ‘teroris’ itu adalah para lansia dan penyandang disabilitas.
Hampir separuh seluruh penangkapan terkait terorisme di Inggris sejak 9/11 terjadi hanya dalam satu tahun terakhir. Dari 6.539 penangkapan sejak 2001, sebanyak 3.021 terjadi hingga Maret 2026. Setelah Palestine Action dilarang pada Juli tahun lalu, penangkapan melonjak 1.434 persen. Pemerintah Inggris memang memasukkan kelompok Palestine Action ke dalam daftar organisasi teroris terlarang di bawah Terrorism Act 2000. Palestine Action adalah kelompok protes langsung pertama yang dilarang menggunakan kewenangan hukum antiterorisme Inggris. Kini, siapa pun yang menunjukkan dukungan kepadanya dapat berhadapan dengan hukum di Inggris. Sejak itu lembaga hak asasi Inggris mencatat lebih dari 3.500 orang telah ditangkap akibat membawa poster dukungan terhadap Palestine Action.
Sebagai respons dan Kampanye Pembangkangan Sipil, kelompok aktivis bernama Defend Our Juries mengorganisasi aksi unjuk rasa massal. Ribuan demonstran sengaja memegang papan bertuliskan “I oppose genocide. I support Palestine Action” (Saya menentang genosida. Saya mendukung Palestine Action) untuk menantang undang-undang tersebut secara damai.
Pertanyaannya : apakah Inggris tiba-tiba dibanjiri teroris—atau pemerintahnya sedang memperluas arti “terorisme” sedemikian rupa sehingga bahkan para lansia dan penyandang disabilitas bisa ditangkap dengan tuduhan sebagai ‘teroris’?
Sebab sebagian dari mereka yang ditangkap bukan pelaku bom, bukan penyerang bersenjata, dan bukan orang yang melakukan kekerasan. Mereka hanya menunjukkan dukungan kepada Palestine Action. Bahkan banyak orang lanjut usia dan penyandang disabilitas yang ditangkap karena membawa poster bertuliskan: “Saya menentang genosida. Saya mendukung Palestine Action.” Jadi biar pun warga Inggris yang lansia dan penyandang disabilitas bisa ditangkap dengan tuduhan melakukan kegiatan ‘terorisme’ hanya karena berempati pada perjuangan warga Palestina dan mengutuk genosida yang dilakukan oleh Israel.
Berdasarkan data Kepolisian Metropolitan London dan laporan lembaga Defend Our Juries, diperkirakan ada lebih dari 1.300 hingga 1.500 lansia berusia di atas 60 tahun yang ikut ditahan sejak undang-undang pelarangan tersebut. Tiba-tiba ribuan lansia berusia di atas 60 tahun menjadi ‘teroris’ di Inggris…!
Ruth Ehrlich dari Liberty menyebut lonjakan ini sebagai tanda bahwa hukum antiterorisme Inggris tidak lagi sesuai dengan tujuannya.
Kelompok Defend Our Juries bahkan menuduh pemerintah menggunakan hukum tersebut bukan untuk melindungi publik, melainkan membungkam mereka yang menentang tindakan Israel di Gaza dan melindungi hubungan Inggris dengan Israel serta industri senjatanya. Jadi Inggris faktanya sedang mendukung terjadinya genosida di Gaza dan menuduh yang menentang genosida tersebut sebagai pelaku ‘terorisme’. Sungguh ironis…!
Kelompok Defend Our Juries bahkan menuduh pemerintah Inggris menggunakan hukum antiterorisme bukan untuk melindungi masyarakat, melainkan untuk membungkam mereka yang menentang genosida dan bersimpati pada penderitaan warga Palestina.
Menurut kelompok tersebut, persoalannya bukan semata-mata Palestine Action. Ada kepentingan politik yang jauh lebih besar di baliknya: hubungan Inggris dengan Israel dan industri persenjataan Inggris.
Mereka menuduh bahwa perusahaan-perusahaan senjata yang beroperasi di Inggris memproduksi dan memasok persenjataan yang digunakan Israel dalam melakukan genosidanya pada konflik Gaza. Karena itu, menurut mereka, pelarangan Palestine Action lebih berkaitan dengan melindungi hubungan Inggris-Israel dan kepentingan industri senjata daripada melindungi masyarakat Inggris.
Pernyataan mereka bahkan berujung pada sindiran yang sangat tajam:
Jika pemerintah Inggris benar-benar ingin melarang kelompok yang melakukan kekerasan terhadap warga sipil, mengapa IDF tidak menjadi organisasi pertama dalam daftar mereka?
Jadi sebenarnya undang-undang itu bertujuan untuk ANTI TERORISME ATAU ANTI PALESTINA DAN PRO GENOSIDA? 🥴
Surabaya, 3 September 2026
Satria Dharma