Jumat, 17 September 2021
Satria Dharma's Weblog
JANGAN BUNUH OTOT DAN OTAK ANDA. 😊


Pesan ini saya sampaikan khususnya bagi teman-teman saya yang sudah sama-sama pensiunan tapi juga bagi siapa saja anak-anak muda yang diam-diam membunuh otot dan otak mereka tanpa mereka sadari. 🙏

Bagaimana kita bisa membunuh otot dan otak kita sendiri? Dengan tidak menggunakannya maka jelas sekali bahwa kita akan membunuh otot dan otak kita dengan perlahan namun pasti. Otot mau pun otak adalah jaringan tubuh yang memiliki kemampuan untuk berkembang. Jika kita rutin melatihnya ukuran otot akan berkembang. Pada otak kemampuan berpikir kita akan berkembang jika kita terus melatihnya. Meski pun usia kita sudah tua tapi jika rutin menggunakan otot dan otak kita maka ia akan tetap stabil dan berfungsi dengan baik. Namun, jika tidak digunakan dalam waktu lama, jaringan otot bisa menyusut dan kemampuan otak berpikir juga akan melemah. Saat otot terlalu lama tidak digunakan, kemungkinan terjadi atrofi otot yaitu penyusutan pada jaringan otot. Tentu saja, hal ini dapat mengganggu fungsi otot dan sistem gerak tubuh secara keseluruhan. Atrofi memicu terjadinya kelemahan otot, bahkan tak jarang pasien mengalami disabilitas karenanya.

Ketika jaringan otot melemah maka biasanya jaringan lemak akan menempati dan memenuhi tubuh kita. Meningkatnya berat badan dan lingkar perut adalah tanda yang sangat jelas ketika lemak telah menggantikan perkembangan otot kita. Ketika neuron otak kita semakin melemah karena jarang digunakan maka kepikunan akan menggantikannya. Ketidakmampuan berkonsentrasi dalam jangka waktu lama jelas merupakan tanda-tanda matinya neuron-neuron dalam otak kita karena sudah lama tidak digunakan. Jangan biarkan ini terjadi pada diri kita.

Jadi, sekali lagi, tolong jangan bunuh otot dan otak Anda hanya karena Anda sudah pensiun. Otot dan otak kita harus tetap kita latih agar tetap fit dan optimal kerjanya. Berhenti bekerja bukanlah alasan untuk membunuh kapasitas kemampuan otot mau pun otak kita.

Baca juga:  Sekolah Islam, Olahraga, dan Seni Budaya

Bagaimana agar otot dan otak kita tetap bekerja dan tetap dalam kondisi fit? Berolahragalah secara rutin setiap hari atau lakukan pekerjaan fisik yang menguras tenaga agar otot Anda tetap bekerja. Untuk membuat otak Anda tetap bekerja adalah dengan membaca secara rutin. Jangan hentikan membaca koran, baik yang fisik mau pun yang digital. Kalau membaca bukunya Jared Diamond, John Medina, dan Yuval Noah Harari terlalu membosankan tidak apa-apa membaca bukunya Andrea Hirata, Tere Liye, atau bahkan komik Mahabharatanya RA Kosasih (asal jangan bukunya Enny Arrow). Cari buku apa saja yang membuat Anda senang untuk membacanya. Komiknya Ganes Th “Si Buta dari Goa Hantu” juga bisa menyehatkan otak Anda. 🙏😁

Selain membaca, gunakan WAG kita untuk membicarakan dan menganalisa berbagai topik dengan anggota grup, dan bukan sekedar say ‘Hi’atau asssalamu alaikum – wa alaikum salam dan hahahihi yang tidak membuat otak tergerak untuk berpikir. Sungguh sayang jika berbagai media sosial yang kita ikuti tidak kita manfaatkan untuk membuat otak kita bekerja. Justru saat pensiun inilah kita bisa menggunakan banyak waktu kita untuk berolahraga dan membaca. Di masa pandemi ini saya bahkan berolahraga jalan kaki pagi dan sore masing-masing satu jam dan bisa menempuh belasan ribu langkah sehari. Dulu saya tidak melakukan ini dengan alasan bekerja. Pandemi juga bukan alasan bagi kita untuk tidak keluar ke lapangan atau menyusuri jalan di komplek perumahan kita untuk sekedar berolahraga. Tak perlu bertemu orang di jalanan jika kita ingin berolahraga. Masker bisa kita turunkan jika kita menyusuri jalan yang sepi dan kita tidak berpapasan dengan siapa pun. Kalau berpapasan atau melewati orang naikkan lagi masker kita. Tetap jaga prokes sambil berolahraga.

Baca juga:  CINTA UNTUK PEREMPUAN YANG TIDAK SEMPURNA

Seorang teman pensiunan mengagetkan saya dengan melakukan hal yang luar biasa. Pada hari ulang tahunnya yang ke 63 tahun ia tidak berpesta atau memotong kue tart tapi melakukan jogging sejauh 31 km dalam waktu 4 jam. Sungguh mengagumkan…! Ini baru acara ultah yang berkesan dan fenomenal. Saya sendiri tidak sanggup melakukan itu dan jogging sudah lama saya ganti dengan jalan kaki. Itu pun maksimal 1,5 jam sekali jalan dan sudah gempor rasanya. Tapi teman saya ini masih mampu jogging selama 4 jam dan mencapai 31 km. Tampaknya ia sudah lama rutin melakukan jogging sebelum pensiun dan tetap menjaga agar tubuhnya tetap bugar. Sungguh luar biasa…! 🙏

Orang yang rutin berolahraga memiliki kecenderungan untuk hidup lebih sehat dan berusia lebih panjang. Berolahraga juga dapat meningkatkan kemampuan kognisi otak Anda karena dapat melancarkan aliran darah ke otak. Aliran darah yang lancar ke otak akan membantu pembentukan memori dan pertumbuhan sel-sel baru.

Berolahraga juga dapat meningkatkan kemampuan kognisi otak kita karena dapat melancarkan aliran darah ke otak. Aliran darah yang lancar ke otak akan membantu pembentukan memori dan pertumbuhan sel-sel baru. Jika kita malas bergerak, otak kita akan kekurangan suplai oksigen. Otak juga tidak optimal dalam membuang racunnya. Tidak heran kalau negara yang isinya orang pemalas, rata-rata manusianya tidak normal. Manusia yang semasa mudanya aktif, masa tuanya akan lebih cerah. Sebaliknya, orang yang mudanya hanya duduk-duduk santai, masa tuanya akan lebih suram dan menyedihkan. Anak-anak yang jogging selama 30 menit dua atau tiga kali seminggu selama 12 minggu akan meningkat kinerja kognitifnya secara signifikan dibandingkan kinerja sebelum menjalani program jogging. Orang yang giat berolahraga mengungguli mereka yang tidak aktif bergerak dalam tes-tes yang mengukur memori jangka panjang, penalaran, perhatian, pemecahan masalah, bahkan tugas-tugas yang sering disebut sebagai intellegensia cair. Intinya, olahraga meningkatkan berbagai kemampuan yang begitu bernilai bagi otak kita.

Baca juga:  MARI MENABUNG UNTUK KESEHATAN 🙏😊

Jadi tunggu apa lagi…?! Siapkan sepatu dan baju olahraga Anda dan melangkahlah keluar. Hit the road, Jack! 😁 Tak usah seambisius saya dan cukup berjalan pelan selama 20 menit saja setiap hari. Kalau tidak bisa setiap hari paling tidak ya tiga kali seminggu. Kita bahkan masih bisa berolahraga sore hari dalam keadaan puasa. Coba saja. 🙏

Surabaya, 7 Agustus 2021
Satria Dharma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *